Setelah mata pelajaran terakhir hari itu berakhir, aku keluar dari ruang ujian dengan langkah tenang.

Namun suasana di koridor terasa aneh.

Puluhan pasang mata menatapku.

Tatapan mereka dipenuhi kemarahan dan kebencian.

Di ujung lorong, Tina berdiri bersama Mark dan hampir seluruh siswa kelas IPA.

Begitu melihatku, Tina langsung berlari mendekat dengan mata merah berkaca-kaca.

“Nadia!”

“Apa kau puas sekarang?”

Suara sedihnya langsung menarik perhatian semua orang di sekitar.

Aku hanya mengangkat alis.

“Puas tentang apa?”

Mark melangkah maju.

“Jangan pura-pura tidak tahu!”

“Pak Arif sudah memanggil seluruh kelas ke ruang disiplin. Karena ulahmu, semua orang sekarang sedang diperiksa!”

Aku tertawa kecil.

“Karena ulahku?”

“Kalian yang mengunciku di ruang kelas.”

“Kalian juga yang menyebarkan jawaban palsu dan mencoba menghalangiku mengikuti ujian.”

“Sekarang malah menyalahkanku?”

Suasana langsung menjadi hening.

Namun Tina tiba-tiba menundukkan kepala.

Air matanya jatuh satu per satu.

“Aku hanya ingin membantu semuanya…”

“Aku hanya ingin semua teman sekelas kita masuk Universitas Indonesia, ITB, atau UGM bersama-sama…”

“Aku tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini…”

Beberapa siswa perempuan langsung merasa iba.

“Nadia, tidak bisakah kau berhenti menyerang Tina?”

“Iya, dia juga korban!”

“Kalau saja kau mau mengikuti rencana kami dari awal, tidak akan terjadi semua ini!”

Mendengar kata-kata itu, aku hampir tertawa.

Korban?

Dalam kehidupan sebelumnya, aku juga pernah percaya bahwa Tina adalah korban.

Sampai hari ketika truk besar itu menghancurkan tubuhku di tengah jalan.

Sampai hari ketika seluruh kelas berdiri di samping jasadku dan menyalahkanku atas kegagalan mereka.

Barulah aku sadar.

Orang-orang seperti mereka tidak pernah menganggap diri mereka salah.

Jika berhasil, mereka menganggap itu hasil usaha mereka.

Jika gagal, mereka selalu mencari kambing hitam.

Dan kali ini…

Mereka memilihku lagi.

Sayangnya, aku bukan Nadia yang dulu.

Aku mengeluarkan ponselku.

Lalu membuka rekaman suara.

Suara Tina segera terdengar jelas.

“Kalau Nadia pergi, jawaban kita tidak akan berlaku!”

“Kita harus menahannya di sini!”

“Untuk masa depan semua orang, dia harus berkorban!”

Wajah Tina langsung membeku.

Mark juga berubah pucat.

Kerumunan yang tadinya memihak mereka mulai saling memandang dengan bingung.

Aku menatap Tina sambil tersenyum tipis.

“Kau ingin terus bermain sandiwara?”

“Atau aku putar rekaman yang lain juga?”

Tubuh Tina langsung gemetar.

Untuk pertama kalinya sejak kelahiranku kembali…

Aku melihat rasa takut yang nyata di matanya.

Namun kejutan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Keesokan harinya, tim pengawas ujian nasional datang ke sekolah.

Mereka menerima laporan anonim mengenai kemungkinan adanya kecurangan terorganisir.

Seluruh lembar jawaban siswa kelas IPA diperiksa secara khusus.

Seminggu kemudian…

Hasil investigasi keluar.

Lebih dari tiga puluh siswa memiliki pola jawaban identik.

Termasuk Mark.

Termasuk Tina.

Dan termasuk hampir semua orang yang mempercayai “ramalan” itu.

Yang lebih mengejutkan lagi…

Jawaban yang diberikan Tina ternyata salah hampir delapan puluh persen.

Nilai mereka jatuh bebas.

Banyak yang bahkan gagal mencapai batas minimum untuk universitas negeri favorit.

Hari pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi akhirnya tiba.

Aku diterima di Universitas Indonesia, jurusan impianku.

Sedangkan Tina…

Tidak diterima di satu pun kampus yang ia targetkan.

Mark juga gagal masuk ITB.

Seluruh kelas yang dulu bermimpi menjadi “angkatan terbaik dalam sejarah sekolah” hancur berantakan.

Sore itu, ketika aku sedang membereskan barang-barang sebelum berangkat ke Jakarta, seseorang mengetuk pintu rumahku.

Saat kubuka…

Tina berdiri di sana.

Wajahnya jauh lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu.

Matanya yang dulu penuh percaya diri kini terlihat kosong.

“Nadia…”

“Aku ingin bertanya satu hal.”

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Apa?”

Ia menggigit bibirnya.

Lalu bertanya dengan suara bergetar.

“Kalau waktu itu kau tidak melawan…”

“Kalau kau mengikuti semua yang kukatakan…”

“Apakah semuanya akan berbeda?”

Aku memandangnya cukup lama.

Kemudian tersenyum pelan.

“Tidak.”

“Karena yang menghancurkan masa depan kalian bukan aku.”

“Bukan juga takdir.”

“Melainkan keserakahan kalian sendiri.”

Tubuh Tina membeku.

Air mata mengalir perlahan di pipinya.

Namun kali ini, aku tidak merasa iba.

Aku menutup pintu dengan tenang.

Dan meninggalkan masa lalu itu untuk selamanya.

Karena aku akhirnya mengerti satu hal:

Tak ada ramalan yang bisa mengubah masa depan seseorang.

Yang menentukan masa depan hanyalah pilihan yang dibuatnya sendiri.

Lima tahun kemudian.

Aku kembali ke sekolah lamaku sebagai pembicara tamu dalam acara motivasi bagi siswa kelas akhir.

Saat berjalan melewati gerbang sekolah, aku sempat berhenti sejenak.

Angin sore berembus pelan.

Pohon-pohon yang dulu menaungi masa remajaku masih berdiri di tempat yang sama.

Tetapi banyak hal telah berubah.

Dan aku juga telah berubah.

Setelah lulus dari Universitas Indonesia dengan predikat cum laude, aku melanjutkan pendidikan ke luar negeri dengan beasiswa penuh.

Kini aku bekerja sebagai analis riset di sebuah perusahaan teknologi besar di Jakarta dengan gaji lebih dari Rp45 juta per bulan.

Hidupku akhirnya berjalan sesuai dengan impian yang dulu hampir dirampas oleh orang-orang yang mengaku sebagai teman.

Setelah acara selesai, seorang guru lama menghampiriku.

“Nadia, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”

Aku menoleh.

Lalu membeku.

Di ujung koridor berdiri Tina.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Wajah cantiknya telah memudar.

Sorot matanya yang dulu penuh kesombongan kini hanya menyisakan kelelahan.

Pakaiannya sederhana.

Tubuhnya terlihat kurus.

Tidak ada lagi aura gadis paling populer di sekolah.

Tidak ada lagi pengikut.

Tidak ada lagi pemuja.

Hanya seorang perempuan yang terlihat jauh lebih tua daripada usianya.

“Nadia…”

Suaranya bergetar.

“Aku dengar kau sukses.”

Aku tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Keheningan panjang menyelimuti kami.

Akhirnya Tina menundukkan kepala.

“Aku ingin meminta maaf.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Tina benar-benar menyesal.

Bukan karena kalah.

Bukan karena tertangkap.

Tetapi karena akhirnya mengerti.

Air matanya jatuh perlahan.

“Aku selalu berpikir aku istimewa.”

“Aku selalu ingin semua orang mengagumiku.”

“Ketika mereka mulai mempercayai ramalanku, aku ketagihan.”

“Aku suka melihat mereka mengikuti semua perkataanku.”

“Dan ketika kau menolak… aku takut.”

“Aku takut kehilangan semuanya.”

Ia tersenyum pahit.

“Jadi aku menjadikanmu musuh.”

Aku diam mendengarkannya.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop tua dari tasnya.

Amplop itu terlihat sangat familiar.

Itu surat yang pernah ia tinggalkan sebelum menghilang bertahun-tahun lalu.

Surat yang membuat seluruh kelas menyalahkanku.

Ia menyerahkannya kepadaku.

“Aku ingin kau membacanya.”

Aku membuka amplop itu.

Di dalamnya hanya ada satu kalimat.

Tulisan tangannya masih sama.

“Aku bukan peramal. Aku hanya seorang pembohong yang terlalu takut mengakui kesalahannya.”

Tanganku perlahan mengepal.

Bertahun-tahun lalu.

Kalimat sederhana ini bisa saja menyelamatkan hidupku.

Bisa saja mencegah kebencian seluruh kelas.

Bisa saja mengubah segalanya.

Tetapi sekarang semuanya sudah terlambat.

Aku melipat kembali surat itu dan mengembalikannya.

“Kau tidak perlu memberikannya kepadaku.”

Tina menatapku bingung.

Aku tersenyum.

“Karena aku sudah memaafkanmu sejak lama.”

Air mata Tina langsung jatuh semakin deras.

Bukan karena aku memaafkannya.

Tetapi karena ia sadar bahwa aku telah melanjutkan hidupku jauh sebelum ia sempat meminta maaf.

Sementara ia masih terjebak dalam masa lalu.

Saat matahari mulai tenggelam, kami berjalan ke arah yang berbeda.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada drama.

Tidak ada penyesalan yang bisa mengubah masa lalu.

Hanya dua orang yang pernah berdiri di persimpangan yang sama.

Satu memilih kerja keras.

Satu memilih jalan pintas.

Dan waktu telah memberikan jawaban yang paling adil.

Ketika aku masuk ke mobil, ponselku bergetar.

Pesan dari seorang siswi yang menghadiri seminar hari itu.

“Kak Nadia, menurut Kakak apa rahasia kesuksesan?”

Aku tersenyum.

Lalu membalas:

“Tidak ada rahasia.”

“Jangan percayakan masa depanmu kepada ramalan, keberuntungan, atau orang lain.”

“Percayakan pada dirimu sendiri.”

“Karena satu lembar jawaban bisa membantumu lulus ujian.”

“Tetapi hanya karakter yang bisa membawamu melewati kehidupan.”

Aku menekan tombol kirim.

Kemudian memandang langit senja yang berwarna keemasan.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua kehidupan yang kujalani…

Aku benar-benar merasa bebas.