SETELAH MATI KARENA KANKER STADIUM 4, AKU TERBANGUN DI TUBUH IBU MERTUA CEO—DAN MULAI MEMBALAS SEMUA DERITA ANAKKU (₱ PESO FILIPINA)

Saat aku didiagnosis kanker stadium 4, putriku, Isabel, menikah dengan seorang CEO kaya bernama Anton.
Aku mengira hidupnya akhirnya akan bahagia.

Tapi hanya setahun kemudian, “cinta pertama” Anton kembali—seorang wanita bernama Lianne.

Karena tekanan mereka, Isabel jatuh ke depresi berat.
Bahkan saat hamil 7 bulan, ia dipaksa minum alkohol di sebuah pesta oleh Lianne.

Aku meninggal di rumah sakit karena amarah dan patah hati.

Namun saat membuka mata kembali…

Aku terbangun di tubuh ibu Anton.


1

Suasana VIP room di sebuah bar mewah di Makati mendadak hening.

Aku menendang pintu hingga terbuka keras.

Semua mata langsung tertuju padaku.

Di sofa, putriku Isabel—7 bulan hamil—dipaksa beberapa pria untuk minum alkohol. Gaunnya basah oleh tumpahan whiskey.

Darahku langsung mendidih.

“Lepaskan dia.”

Seorang pria menoleh ke Lianne.

Lianne berjalan mendekat dengan senyum tenang.

“Tante, Isabel kalah permainan. Ini cuma hukuman kecil.”

PLAACK!

Tangan kananku menampar wajahnya keras.

“Siapa yang kamu panggil Tante?!”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Isabel adalah istri sah Anton, menantu resmi keluarga ini. Kamu itu siapa?”

Wajah Lianne memerah, tapi dia masih berpura-pura lemah.

“Dia yang mau ikut permainan…”

“Minum sedikit saja, tidak akan membahayakan bayi…”

Aku menatapnya dingin.

“Sedikit?”

Aku melirik perutnya.

“Kamu juga hamil, kan?”

Aku menunjuk gelas di meja.

“Minum itu. Sekarang.”


2

Aku membawa Isabel kembali ke mansion keluarga Villareal (₱ 50,000,000 properti elite di Makati).

Namun aku terkejut saat pelayan justru membawanya ke ujung lorong—ke ruang gudang.

Ruangan itu gelap, lembab, tempat barang lama disimpan.

Di sana… Isabel tidur.

Di kasur lipat kecil.

Dengan selimut tipis yang bahkan aku sendiri yang dulu merajutnya.

“Istri sah tidur di gudang?”

Pelayan hanya berkata pelan:

“Ini… kamar Ma’am Isabel, Madam.”

Darahku naik ke kepala.

“Siapkan kamar terbesar di lantai dua. Sekarang.”


3

Lianne muncul saat barang-barangnya dikeluarkan dari kamar mewah.

“Siapa yang berani mengusir aku?!”

Dia menatapku.

Lalu berpura-pura lembut sambil memegang perutnya.

“Tante… saya hamil anak Anton…”

Aku menatapnya dingin.

“Isabel juga hamil.”

“Dan anaknya adalah pewaris sah keluarga ini.”

Lianne tertawa.

“Isabel? Dia hanya dipakai Anton karena kasihan pada ibunya yang sakit kanker dulu.”

Kata “kanker” membuat dadaku bergetar.

Jadi begitu…

Putriku selama ini hanya “alat transaksi”.

Aku mengepalkan tangan.

“Mulai hari ini, tidak ada satu pun keputusan di rumah ini yang ditentukan tanpa aku.”


4

Pintu terbuka.

Anton masuk.

“Ma, apa yang terjadi?”

Lianne langsung menangis di pelukannya.

“Dia mengusir aku…”

Anton menatapku dingin.

“Ma, jangan berlebihan.”

Aku tertawa pelan.

“Berlebihan?”

Aku menunjuk ke arah gudang.

“Itu tempat istrimu yang hamil 7 bulan kamu taruh.”

Anton diam.

Lalu berkata pelan:

“Kalau dia tidak suka, dia bisa pindah kamar lain. Kenapa harus kamar Lianne?”

Aku melangkah maju.

“Karena dia istrimu.”

“Dan dia yang akan melahirkan pewaris ₱ Villareal Group.”

Anton terdiam.

Lianne memegang tangan Anton.

“Aku tidak apa-apa… aku hanya tamu di rumah ini…”

Anton langsung lembut padanya.

“Mulai sekarang kamu tinggal di kamar utama bersamaku.”


5

Malam itu.

Aku duduk di kamar Isabel yang baru.

Dia tidur gelisah.

Aku menggenggam tangannya.

“Ma…”

Isabel mengerang pelan dalam tidur.

“Aku di sini, Nak…”

Saat aku melihat luka di lengannya—bekas memar lama dan baru—dadaku terasa hancur.

Di luar kamar, terdengar tawa Anton dan Lianne dari kamar utama.

Aku menatap gelap malam.

Suaraku pelan, tapi dingin:

“Kalian pikir aku sudah mati, ya?”

Tanganku mengepal.

“Mulai hari ini…”

“aku yang akan mengatur ulang dunia ini.”

Malam itu aku tidak tidur.

Isabel tidur gelisah di sampingku. Napasnya tidak stabil, seperti masih terjebak dalam mimpi buruk yang sama. Aku duduk di tepi ranjang, menggenggam tangannya, tidak melepaskan sedikit pun.

Di luar kamar, tawa Anton dan Lianne masih terdengar dari kamar utama mansion Villareal senilai ₱200.000.000 itu. Suara gelas beradu, musik lembut, dan kehidupan mewah yang dulu dibanggakan Isabel—sekarang terdengar seperti ejekan.

Aku membuka ponsel.

Satu pesan sudah menunggu dari divisi hukum Villareal Group:

“Madam, 62% saham mayoritas telah resmi atas nama Anda. Tinggal tanda tangan terakhir untuk aktivasi penuh kontrol perusahaan.”

Aku menatap layar itu lama.

Lalu tertawa pelan.

Bukan tawa bahagia.

Tapi tawa seseorang yang akhirnya sadar… bahwa dia tidak pernah benar-benar kehilangan apa pun.

“Akhirnya…” bisikku.


PAGI HARINYA

Seluruh mansion Villareal berubah menjadi pusat kekacauan.

Puluhan pengawal berdiri di setiap sudut.

Tiga mobil Rolls-Royce senilai ₱25.000.000 per unit terparkir di halaman depan.

Anton turun dari tangga dengan wajah pucat.

“Ma… apa yang terjadi?”

Aku berdiri di ruang tamu, dikelilingi pengacara dan eksekutif perusahaan.

Aku tidak menatapnya.

“Aku sudah selesai bersabar.”

Lianne turun dari lantai atas dengan senyum sombong.

“Ini rumah Anton! Kalian tidak bisa mengusirku!”

Aku menatapnya.

Dingin.

“Rumah Anton?”

Aku tersenyum kecil.

“Ini rumah yang dibayar dengan uang yang selama ini kamu tidak pernah tahu asalnya.”

Suasana langsung hening.

Seorang direktur menunduk.

“Semua aset Villareal Group… sekarang berada di bawah kendali Madam.”

Wajah Anton langsung kehilangan warna.

“Itu tidak mungkin…”

Aku akhirnya menatapnya.

“Sekarang kamu mengerti?”

“Selama ini kamu pikir kamu yang memegang dunia.”

Aku melangkah pelan.

“Tapi kamu lupa… siapa yang membangunnya.”


AKHIR

Aku menandatangani dokumen terakhir.

Satu tanda tangan.

Dan dalam hitungan detik—

₱85.000.000.000 Villareal Group resmi berpindah kendali.

Anton kehilangan semua jabatan.

Asetnya dibekukan.

Penyelidikan internal dimulai.

Lianne berteriak saat keamanan menyeretnya keluar.

“Kamu tidak bisa melakukan ini!! Anton mencintaiku!!”

Aku tidak menoleh.

“Hati-hati dengan kata ‘cinta’.”

“Karena di dunia ini, cinta tanpa hormat… hanya kebohongan mahal.”


EPILOG

Malam itu, mansion Villareal kembali sunyi.

Tidak ada tawa.

Tidak ada pesta.

Hanya keheningan yang mahal.

Isabel berdiri di sampingku di balkon.

Lampu kota Manila terbentang seperti lautan emas di bawah kami.

“Ma…” suaranya pelan. “Semua sudah selesai?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

Aku menatap jauh ke depan.

“Ini baru permulaan.”

Karena wanita yang pernah diremehkan satu kali…

akan menjadi mimpi buruk paling mahal bagi mereka yang menyakitinya.