“SETELAH PERCERAIAN KAMI RESMI DIKABULKAN, SUAMIKU TERTAWA DAN BERKATA, ‘KAMU TIDAK AKAN MENDAPATKAN SATU RUPIAH PUN! AKU MENYEWA PENGACARA TERHEBAT DI KOTA INI!’ IBUNYA MENYINDIR, ‘PEREMPUAN MALANG—BAHKAN TAK MAMPU MEMBERI KAMI PEWARIS.’ AKU TIDAK MEMBANTAH. AKU HANYA MENYERAHKAN SALINAN PERJANJIAN PRANIKAH KAMI…”

Kemenangan yang Terlalu Cepat

Namaku Cassandra Wijaya, tiga puluh tahun.

Selama lima tahun terakhir, aku adalah istri dari Marco Santoso.

Dalam lima tahun itu, aku memilih diam.
Menjadi istri yang lembut.
Membiarkannya duduk di kursi direktur perusahaan warisan almarhum ayahku.

Marco selalu mengira dirinya raja.

Dan aku?

Hanya perempuan lemah yang bergantung padanya.

Sore ini, perceraian kami akhirnya resmi disahkan di kantor pengacara mahal miliknya di kawasan Sudirman.

Alasan perceraian kami sederhana.

Aku memergokinya berselingkuh dengan sekretaris pribadinya.

Dan sekarang…
wanita itu sedang hamil empat bulan.

Marco berdiri di ujung meja konferensi panjang sambil tersenyum lebar seolah baru menang jackpot.

Di sampingnya duduk ibunya, Dona Leticia Santoso, wanita sosialita yang sejak awal tidak pernah menyukaiku.

Dan di belakang mereka berdiri Attorney Silva—
pengacara perceraian paling mahal dan paling terkenal di Jakarta.

“Permainan sudah selesai, Cassandra,” kata Marco sambil menyilangkan tangan dengan sombong. “Kamu tidak akan mendapatkan satu rupiah pun dari perusahaan atau properti milikku.”

Dia tertawa kecil.

“Aku menyewa pengacara terbaik di kota ini. Setelah hari ini, kamu keluar tanpa apa-apa.”

Dona Leticia langsung ikut tertawa.

“Bagus!” katanya sinis sambil menatapku dari atas ke bawah. “Perempuan tidak berguna seperti kamu memang pantas dibuang.”

Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Lima tahun menikah tapi tidak bisa memberi cucu untuk keluarga kami. Mandul. Beban. Untung Marco menemukan wanita baru yang benar-benar bisa jadi istri.”

Aku hanya menatap mereka.

Aneh sekali.

Dulu kata-kata seperti itu bisa membuatku menangis semalaman.

Sekarang?

Aku bahkan terlalu lelah untuk marah.

Karena cinta kepada Marco sudah mati jauh sebelum perceraian ini selesai.

Mungkin saat pertama kali aku melihat pesan:
“Baby, jangan lupa vitamin kandungan.”

Atau mungkin saat dia mulai pulang pagi sambil masih memakai parfum wanita lain.

Perlahan aku membuka tas hitamku.

Mengambil sebuah folder cokelat tebal.

Lalu meletakkannya di atas meja mengkilap di depan Marco.

“Apa ini?” tanyanya sambil menyeringai. “Surat memohon belas kasihan?”

“Baca saja,” jawabku tenang. “Atau lebih baik… suruh pengacara terhebatmu yang membacanya.”

Kening Marco langsung berkerut.

Dia membuka folder itu dengan malas.

Namun beberapa detik kemudian…

wajahnya berubah.

Attorney Silva langsung merebut dokumen itu dari tangannya dan mulai membaca cepat.

Ruangan tiba-tiba sunyi.

Sangat sunyi.

Dona Leticia mulai gelisah.

“Ada apa?” tanyanya.

Tak ada yang menjawab.

Karena isi dokumen itu adalah salinan Prenuptial Agreement yang kami tandatangani sehari sebelum menikah.

Perjanjian yang dulu dibaca Marco sambil setengah mabuk karena terlalu sibuk merayakan pesta bachelor-nya.

Dan satu klausul kecil di halaman tujuh berbunyi:

“Apabila pihak suami terbukti melakukan perselingkuhan selama masa pernikahan, maka seluruh hak pengelolaan perusahaan, aset gabungan, saham operasional, dan properti atas nama bersama otomatis kembali sepenuhnya kepada pihak istri.”

Wajah Marco langsung pucat.

“Ini… ini tidak mungkin.”

Aku tersenyum kecil untuk pertama kalinya hari itu.

“Kenapa tidak mungkin?”

Attorney Silva menelan ludah.

“Pak Marco…” katanya pelan. “Dokumen ini sah secara hukum.”

“Apa?!”

Marco langsung berdiri.

“Tidak! Tidak mungkin! Perusahaannya dibangun pakai kerja keras saya!”

Aku menatapnya datar.

“Perusahaan itu milik ayahku sebelum kamu bahkan mampu membeli mobil sendiri.”

Dia terdiam.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu…

kesombongannya retak.

Attorney Silva membuka laptop dengan panik.

“Pak… berdasarkan dokumen saham dan kepemilikan…” suaranya makin pelan, “seluruh aset utama memang atas nama Bu Cassandra.”

“Apa maksudmu seluruh aset?!”

“Rumah di Pondok Indah.”
“Gedung kantor.”
“Empat ruko.”
“Dua apartemen.”
“Dan 78% saham perusahaan.”

Wajah Dona Leticia langsung memutih.

“Tunggu…” katanya gemetar. “Kalau begitu… Marco dapat apa?”

Aku menatap mereka satu per satu.

Lalu menjawab dengan sangat tenang.

“Mobil sport merah yang dia beli untuk selingkuhannya.”

Marco membanting meja.

“KAMU MENIPU AKU!”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku benar-benar merasa bebas.

“Aku tidak pernah menipumu, Marco,” kataku pelan. “Kamu hanya terlalu sibuk merasa hebat sampai lupa membaca apa yang kamu tanda tangani.”

Dia langsung menunjukku dengan marah.

“Kamu merencanakan ini dari awal?!”

Aku berdiri perlahan.

Kemudian merapikan blazer putihku.

“Tidak,” jawabku dingin. “Aku justru menikahimu karena aku cinta.”

Sunyi.

“Tapi kamu menghancurkan cinta itu sendiri.”

Aku mengambil tas tanganku.

Lalu berhenti sejenak sebelum keluar dari ruangan.

“Oh ya,” kataku tanpa menoleh lagi.

“Selamat atas bayinya.”

Marco tidak menjawab.

Karena di saat itu…

dia akhirnya sadar:

dia tidak baru saja kehilangan istrinya.

Dia kehilangan seluruh hidup mewah yang selama ini dia kira miliknya.

Marco berdiri membeku di tengah ruang konferensi.

Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah…

aku melihat ketakutan di matanya.

“Cassandra, tunggu dulu—”

Tapi aku sudah melangkah menuju pintu.

Dona Leticia langsung bangkit dari kursinya.

“Tidak mungkin!” teriaknya panik. “Marco bilang semua aset itu miliknya!”

Aku berhenti sejenak.

Lalu menoleh perlahan.

“Karena selama lima tahun,” kataku tenang, “kalian terlalu sibuk merendahkanku sampai lupa mencari tahu siapa sebenarnya yang membayar semua kemewahan kalian.”

Sunyi.

Attorney Silva bahkan tidak berani mengangkat kepala lagi.

Sementara Marco mulai terlihat seperti orang yang baru sadar rumahnya sedang terbakar.

“Cass…” suaranya melemah. “Kita bisa bicara baik-baik.”

Aku hampir tertawa.

Lucu sekali.

Saat dia berselingkuh, mempermalukanku, dan menghamili wanita lain…
dia tidak pernah berpikir untuk “bicara baik-baik.”

Tapi sekarang, saat rekening dan aset mulai lepas dari tangannya…

baru dia ingat caranya bicara lembut.

Aku keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.

Namun drama ternyata belum selesai.

Tiga hari kemudian, berita perceraian kami mulai menyebar di kalangan bisnis Jakarta.

Dan lebih cepat lagi…

rumor tentang Marco yang kehilangan seluruh akses perusahaan juga ikut bocor.

Dalam seminggu, orang-orang yang dulu menjilatnya mulai menghilang satu per satu.

Partner bisnis berhenti mengangkat teleponnya.
Kartu kredit perusahaan diblokir.
Mobil operasional ditarik.
Bahkan beberapa staf yang dulu memanggilnya “Boss” mulai pindah kubu.

Karena dunia bisnis tidak setia pada orang.

Dunia bisnis setia pada kekuasaan.

Dan kekuasaan Marco ternyata hanyalah pinjaman dariku.

Malam itu, aku sedang duduk sendirian di balkon penthouse sambil meminum teh hangat ketika ponselku berbunyi.

Nama Marco muncul di layar.

Aku hampir mengabaikannya.

Tapi entah kenapa, aku mengangkat telepon itu.

Di ujung sana…

aku mendengar napas berat.

Lalu suara yang tidak pernah kubayangkan akan keluar dari mulutnya.

“Aku salah.”

Aku diam.

“Cass…” suaranya pecah. “Aku hancurin hidup kita sendiri.”

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Kemudian dia tertawa kecil.

Tertawa pahit.

“Lucu ya,” katanya lirih. “Dulu aku pikir kamu lemah. Ternyata selama ini… kamu cuma terlalu sabar.”

Mataku perlahan menutup.

Dan anehnya…

aku tidak merasa menang.

Karena cinta yang benar-benar mati tidak meninggalkan kebahagiaan.

Hanya rasa lelah.

“Aku pernah benar-benar mencintaimu, Marco,” kataku pelan.

Di ujung sana, dia menangis kecil.

Dan itu jauh lebih menyedihkan daripada semua pertengkaran kami dulu.

“Apa masih ada kesempatan?” tanyanya lirih.

Aku menatap lampu kota Jakarta dari balkon tinggi itu.

Lalu tersenyum tipis.

“Ada.”

Napasnya langsung terdengar lega.

Tapi aku melanjutkan kalimatku:

“Di hidup berikutnya.”

Telepon itu langsung kuputus.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku bisa bernapas tanpa rasa sakit di dada.

Beberapa bulan kemudian, perusahaan kembali stabil di bawah kepemimpinanku.

Aku memecat beberapa orang loyalis Marco.
Mengganti struktur direksi.
Dan mulai membangun ulang semuanya dari awal.

Tanpa suami.
Tanpa penghinaan.
Tanpa rasa takut dianggap tidak cukup sebagai perempuan.

Suatu pagi, sekretarisku masuk ke ruangan membawa undangan.

“Bu Cassandra,” katanya hati-hati. “Pak Marco akan menikah minggu depan.”

Aku hanya mengangguk kecil.

“Dengan wanita itu?”

“Iya, Bu.”

Aku tersenyum tipis sambil kembali membaca laporan.

Tidak sakit.

Tidak marah.

Tidak juga cemburu.

Karena beberapa hubungan memang harus hancur supaya seseorang bisa kembali menemukan dirinya sendiri.

Saat sekretarisku hampir keluar, dia ragu-ragu berkata:

“Oh ya, Bu… katanya keluarga calon istrinya meminta perjanjian pranikah yang sangat ketat.”

Aku tertawa kecil.

Sangat kecil.

Lalu berbisik pelan sambil menandatangani dokumen di depanku:

“Bagus.”

Karena akhirnya…

ada perempuan lain yang belajar dari kesalahanku.

Dan kali ini,
Marco bukan lagi pria yang memegang segalanya.

Dia hanyalah laki-laki yang pernah menghancurkan seorang wanita…

lalu terlambat menyadari bahwa wanita itu adalah fondasi seluruh dunianya.