SETELAH PERNIKAHAN ADIK IPARKU, TIBA-TIBA ADA TUJUH KOPER ORANG ASING DI APARTEMENKU

Tiga hari setelah pernikahan adik iparku, Marissa, aku pulang larut malam ke apartemen kami di Jakarta setelah lembur di kantor.

Saat tiba di depan pintu, aku menyadari kartu aksesku tidak lagi berfungsi.

Aku terdiam beberapa detik di koridor.

Di tangan kiri ada tas laptopku, sementara di tangan kanan ada obat maag yang baru kubeli di minimarket bawah.

Lampu merah pada kunci elektronik terus berkedip.

“Akses ditolak.”

Aku mengernyit dan mencoba lagi.

Tetap tidak bisa.

Pada percobaan ketiga, alarm pintu tiba-tiba berbunyi keras hingga beberapa tetangga mengintip keluar.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.

Seorang pria yang tidak kukenal keluar. Ia hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan rambutnya masih basah.

Ia menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

“Maaf, Anda mencari siapa?”

Aku membeku.

Di belakangnya…

Itu apartemenku.

Lemari sepatu yang kupilih sendiri masih terbuka.

Sepatu-sepatuku terselip di sudut.

Dan di lantai, ada tujuh pasang sandal yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dua sandal anak-anak.

Dua sandal pria.

Satu sandal ungu bersulam bunga.

Dan dua pasang sandal hotel.

“Siapa yang saya cari?”

Suaraku terdengar dingin.

“Ini rumah saya.”

Pria itu terkejut lalu menoleh ke dalam.

“Marissa! Kakak iparmu sudah datang!”

Kakak ipar.

Aku mendorongnya dan langsung masuk.

Ruang tamu masih penuh dekorasi merah sisa pesta pernikahan.

Di meja makan berserakan kotak ayam goreng, spaghetti, dan kaleng bir.

Saus tumpah di taplak meja baruku.

Ada bekas kaki anak-anak di sofa putihku.

Anggrek peninggalan ibuku hampir patah setelah dipindahkan sembarangan ke balkon.

Pintu kamar utama sedikit terbuka.

Marissa sedang berbaring di tempat tidurku sambil memainkan ponselnya.

Dia memakai piyamaku.

Suaminya, Juno, duduk di lantai bermain video game.

Begitu melihatku, dia malah tersenyum.

“Oh, Kak Maya, ternyata sudah pulang.”

Aku menatap pakaian yang dikenakannya.

“Lepaskan itu.”

Senyumnya langsung menghilang.

“Kak, aku cuma pinjam sebentar.”

Dari dapur terdengar suara panci dan piring beradu.

Ibu mertuaku, Bu Ratna, keluar sambil membawa panci sup.

“Maya, kamu sudah pulang rupanya,” katanya seolah tidak ada yang terjadi. “Masih ada makanan di dapur.”

Aku tidak bergerak.

“Siapa yang mengganti kunci?”

“Aku,” jawabnya tegas. “Sekarang banyak orang di rumah. Password lama tidak aman.”

Aku memandang sekeliling.

Baru saat itu aku sadar ruang kerjaku telah diubah menjadi kamar tidur.

Meja kerjaku dipindahkan ke dekat balkon.

Dua kasur tergeletak di lantai.

Dua orang asing duduk di sana sambil makan camilan.

Di kamar tamu, orang tua Juno sedang menyusun pakaian mereka di lemari milikku seperti sudah lama tinggal di sana.

Tujuh koper besar menghalangi jalan.

Aku menoleh pada ibu mertuaku.

“Sudah berapa lama mereka tinggal di sini?”

“Hanya beberapa hari,” jawabnya. “Keluarga pihak pria datang dari Surabaya. Hotel di Jakarta mahal, jadi mereka tinggal di sini dulu.”

“Beberapa hari?”

Aku tertawa karena marah.

“Apartemen ini milikku. Aku membelinya sebelum menikah. Aku tidak pernah memberi izin.”

Udara di ruangan langsung terasa berat.

Juno berdiri.

“Kak Maya, jangan bicara seperti itu. Kita ini keluarga.”

Marissa mengusap perutnya.

“Kak… mungkin aku hamil. Dokter bilang aku tidak boleh kelelahan.”

Aku menatapnya.

“Hamil?”

Ia mengalihkan pandangan selama beberapa detik.

“Belum pasti…”

Ibu mertuaku langsung menyela.

“Itulah sebabnya aku menyuruh mereka tidur di kamar utama. Lebih nyaman untuk wanita hamil.”

Aku memandang tempat tidurku.

Seprai baru sudah kusut.

Bantal pemberian almarhum ibuku tergeletak di lantai.

Ada sesuatu yang perlahan hancur di dalam diriku.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Daniel.

Aku menjawab dan langsung menyalakan speaker.

“Maya, berhenti membuat keributan.”

Aku tersenyum dingin.

“Kamu memasukkan seluruh keluarga adikmu ke apartemenku tanpa bertanya padaku?”

“Hanya beberapa hari.”

“Beberapa hari?” Aku melihat tujuh koper itu. “Makanya mereka sudah membawa rice cooker, kipas angin, dan selimut?”

Ia terdiam sesaat.

Lalu berkata dengan nada dingin:

“Marissa baru menikah. Keluarga suaminya sedang kesulitan. Sebagai kakak, kamu harus mengerti.”

Aku menggenggam ponsel erat.

“Daniel, dengarkan aku. Aku tidak setuju.”

Suaranya semakin dingin.

“Kamu egois. Seluruh keluargaku ada di sini dan kamu mempermalukanku.”

Mempermalukan?

Aku melihat apartemenku yang telah berubah menjadi rumah kos.

“Kalau begitu…”

kataku pelan.

Lalu aku memutuskan sambungan.

Ibu mertuaku menatapku sambil berkacak pinggang.

“Kamu sudah dengar sendiri kata suamimu.”

Aku tidak menjawab.

Aku masuk ke kamar.

Membuka laci meja rias.

Kotak perhiasanku terbuka.

Dua cincinku hilang.

Kalung peninggalan ibuku juga hilang.

Jantungku langsung berdegup keras.

“Siapa yang membuka ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Juno mengalihkan pandangan.

Marissa pura-pura sibuk dengan ponselnya.

Aku menuju ruang kerja.

Hard disk eksternalku tergeletak di lantai.

Monitor komputerku pecah.

Dan kotak kayu berisi jam tangan peninggalan ayahku yang meninggal di Makassar sepuluh tahun lalu telah menghilang.

Tubuhku terasa dingin.

Itu satu-satunya kenangan yang tersisa darinya.

Setelah beberapa detik hening, aku mengeluarkan ponsel.

Aku merekam seluruh apartemen.

Koper-koper itu.

Sandal-sandal itu.

Semua yang telah mereka sentuh.

Ibu mertuaku langsung marah.

“Maya! Apa yang sedang kamu lakukan?!”

Aku mengabaikannya.

Aku membuka tempat sampah dapur.

Di dalamnya ada struk penggantian kunci.

Tertulis waktu:

22.42 tadi malam.

Dan yang membayar adalah—

Daniel Pratama.

Aku tertawa pelan.

Ternyata mereka sudah merencanakan semuanya sejak lama.

Beberapa saat kemudian, muncul notifikasi dari kamera pintuku.

Aku membuka videonya.

Terlihat Daniel tersenyum sambil menyerahkan kunci duplikat kepada Juno.

Lalu dia berkata:

“Tinggallah di sini selama yang kalian mau. Toh pada akhirnya apartemen ini akan menjadi milik keluarga kita juga.”

Ibu mertuaku tertawa di video itu.

“Maya itu baik. Kalau sudah terpaksa, dia pasti akan menurut.”

Pada saat itu…

Semua amarahku menghilang.

Yang tersisa hanya rasa dingin yang luar biasa.

Aku perlahan mengangkat kepala dan menatap seluruh keluarga mereka yang berdiri di apartemenku.

Lalu aku menelepon seseorang.

Dia langsung menjawab.

“Halo?”

Aku melihat Daniel di video yang masih tersenyum tanpa rasa bersalah.

Kemudian aku berkata pelan:

“Pengacara Arman… siapkan surat cerai saya.”

Baca kelanjutan kisah ini di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat bagian selanjutnya…👇

Begitu telepon ditutup, seluruh ruangan mendadak sunyi.

Ibu mertua, Marissa, dan seluruh keluarganya menatapku.

Lalu mereka tertawa.

Tertawa seolah aku hanya sedang menggertak.

“Aduh, Maya,” kata Bu Ratna sambil terkekeh. “Hanya karena beberapa koper, kamu mau cerai?”

Juno ikut menyeringai.

“Pengacara? Memangnya kamu serius?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya terus merekam.

Setiap koper.

Setiap barang yang hilang.

Setiap wajah yang ada di apartemenku.

Malam itu aku pergi.

Tanpa berteriak.

Tanpa menangis.

Tanpa memohon.

Karena ada satu hal yang baru saja kusadari.

Orang-orang seperti mereka tidak pernah belajar dari kata-kata.

Mereka hanya belajar dari akibat.


Keesokan paginya.

Tepat pukul delapan.

Tiga mobil polisi berhenti di depan apartemen.

Bersama mereka datang Pengacara Arman, dua petugas pengadilan, dan manajer gedung.

Seluruh keluarga Daniel masih sarapan ketika pintu diketuk.

Tok.

Tok.

Tok.

Saat pintu dibuka, wajah mereka langsung pucat.

“Ada apa ini?” teriak Bu Ratna.

Pengacara Arman mengeluarkan dokumen.

“Apartemen ini terdaftar atas nama Ibu Maya Pratama sebelum pernikahan. Tidak ada hak kepemilikan maupun hak tinggal dari pihak lain.”

Juno langsung berdiri.

“Kami keluarga!”

“Secara hukum,” jawab Arman dingin, “Anda adalah tamu yang masuk tanpa izin.”

Wajah Marissa berubah putih.

Apalagi ketika polisi mulai mencatat laporan kehilangan barang.

Kalung emas.

Dua cincin berlian.

Jam tangan warisan.

Kerusakan properti.

Penggantian kunci tanpa izin.

Perusakan perangkat kerja.

Satu per satu.

Tidak ada yang terlewat.

“Kami bisa jelaskan!” teriak Bu Ratna.

“Tentu,” jawab petugas. “Silakan menjelaskan di kantor polisi.”


Daniel pulang satu jam kemudian.

Wajahnya masih santai.

Sampai dia melihat tujuh koper berjejer di lobi apartemen.

Dan seluruh keluarganya berdiri di sana dengan wajah ketakutan.

“Apa yang terjadi?”

Belum sempat siapa pun menjawab.

Aku keluar dari lift.

Mengenakan setelan kerja hitam.

Tenang.

Dingin.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah dengannya…

Aku tidak lagi melihat Daniel sebagai suamiku.

Aku melihatnya sebagai orang asing.

“Maya…” katanya pelan.

“Kamu keterlaluan.”

Aku tersenyum tipis.

“Keterlaluan?”

Lalu aku menyerahkan tablet kepadanya.

Di layar terlihat video dari kamera pintu.

Suara Daniel terdengar jelas.

“Tinggallah di sini selama yang kalian mau. Toh apartemen ini akan jadi milik keluarga kita.”

Senyum Daniel langsung hilang.

Aku menatap matanya.

“Apartemenku.”

“Tabunganku.”

“Barang-barangku.”

“Kenangan orang tuaku.”

Suaraku tetap tenang.

Namun setiap kata terasa seperti pisau.

“Dan kamu menyerahkannya kepada mereka tanpa bertanya padaku.”

Dia mencoba mendekat.

“Maya, dengarkan dulu—”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya selama pernikahan kami.

Aku memotong perkataannya.

“Selama ini aku selalu mendengarkanmu.”

“Sekarang giliran kamu yang mendengar.”

Seluruh lobi menjadi sunyi.

“Aku tidak menceraikanmu karena tujuh koper.”

“Aku menceraikanmu karena hari ini aku sadar bahwa dalam hidupmu, aku tidak pernah menjadi keluarga.”

Yang menjadi keluargamu…

adalah semua orang yang kau lindungi selain aku.”

Daniel membeku.


Enam bulan kemudian.

Perceraian kami resmi selesai.

Aku memenangkan seluruh gugatan.

Apartemen tetap menjadi milikku.

Kerugian akibat barang hilang dan kerusakan properti juga harus diganti.

Sementara Daniel?

Ia terpaksa menjual mobilnya untuk membayar sebagian utang keluarganya.

Marissa dan suaminya kembali ke Surabaya.

Hubungan keluarga mereka hancur karena saling menyalahkan.

Dan Bu Ratna?

Orang yang dulu berkata aku pasti akan menurut…

Kini bahkan tidak berani menatap mataku ketika bertemu.


Satu tahun kemudian.

Aku duduk di balkon apartemen yang sama.

Anggrek peninggalan ibuku kembali berbunga.

Meja kerjaku sudah diperbaiki.

Foto ayahku kembali berada di tempatnya.

Angin sore Jakarta berembus lembut.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Pengacara Arman.

“Selamat, Bu Maya. Kontrak kerja sama baru Anda sudah disetujui.”

Aku tersenyum.

Hari itu aku menandatangani proyek terbesar dalam karierku.

Tanpa Daniel.

Tanpa keluarganya.

Tanpa orang-orang yang menganggap kebaikanku sebagai kelemahan.

Aku menatap langit senja.

Lalu teringat sesuatu.

Dulu aku takut kehilangan pernikahanku.

Takut kehilangan keluarga.

Takut hidup sendirian.

Namun ternyata…

Hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku adalah ketika mereka mengira aku tidak akan berani pergi.

Karena pada hari aku akhirnya memilih diriku sendiri…

Aku tidak kehilangan rumah.

Aku menemukan rumah itu kembali.

Tamat.