Setelah tiga bulan perjalanan dinas, aku pulang… dan istriku turun 12 kilo.

Setelah tiga bulan perjalanan dinas, aku pulang… dan istriku turun 12 kilo.
Tapi yang membuat darahku benar-benar membeku… adalah siapa yang kini tinggal di rumahku sendiri.

Namaku Raka Pratama.

Tiga bulan lalu aku berangkat dari Jakarta ke Singapura untuk proyek besar pemasangan sistem keamanan gedung pintar. Kontraknya bernilai hampir Rp2,4 miliar, dan itu proyek terbesar dalam karierku.

Saat aku pergi, istriku—Maya Prasetyo—sehat, ceria, dan selalu tersenyum.

Tapi ketika aku kembali…

aku hampir tidak mengenalinya.

Ia berdiri di luar Bandara Soekarno-Hatta.
Memakai kaus lama yang warnanya sudah pudar.
Tulang lehernya terlihat jelas.
Matanya… seperti sudah lama tidak tidur.

Ia tersenyum.

— Kamu sudah pulang…

Pelan. Dipaksakan.

Dadaku terasa sesak.

— Maya… apa yang terjadi?

— Nggak apa-apa… cuma capek akhir-akhir ini…

Aku tidak percaya.

Tapi saat kami sampai di rumah kami di BSD, Tangerang Selatan

di situlah tubuhku benar-benar terasa dingin.

Ada orang-orang yang tidak kukenal di dalam rumah.

Tiga anak kecil berlarian di ruang tamu.
Seorang pria berbaring di sofa, kakinya dinaikkan ke meja kopi milikku, memegang remote seolah dia pemilik rumah.
Seorang wanita dengan makeup tebal duduk sambil mengamati interior rumah seperti sedang menilai properti.

Aku berhenti di pintu.

— Masuklah… — kata Maya pelan, lalu bergegas ke dapur.

Di dapur, empat kompor menyala bersamaan.
Asap. Panas. Ribut.

Di sana ada ibuku.

— Maya! Mana kecapnya?! Sudah berapa kali Ibu bilang—!

Aku memejamkan mata.

Ibuku tidak pernah memanggil istriku dengan namanya.

Sekarang… ia memanggilnya.

Aku mendekati ayahku.

— Mereka siapa?

Ia menyeruput teh.

— Saudara jauh. Dari kampung.

Tubuhku membeku.

Kami tidak punya saudara seperti itu.

Tapi aku tidak berkata apa-apa.

Malam itu, sembilan orang makan di meja.
Maya… duduk di bangku kecil dekat dapur.

Di piringnya hanya nasi dan sayur.
Lauk utama—tidak disentuhnya.

Seorang anak menggigit ayam, lalu membuangnya.

— Nggak enak!

Wanita itu meringis.

— Supnya keasinan.

Ibuku langsung berteriak:

— Maya! Kamu dengar?!

— Iya… — jawabnya lirih.

Aku mencicipi supnya.

Tidak asin.

Aku menatapnya.

Dan di situlah aku melihat… ketakutan di matanya.

Aku mengambil lauk dari piringku.
Memindahkannya ke piringnya.

— Makan.

Ia terkejut.

Seperti takut.

Aku tidak berkata apa-apa lagi.

Malam itu… aku tidak bisa tidur.

Bukan karena aku tidak ingin memeluknya.

Tapi karena… aku takut merasakan betapa kurusnya tubuhnya sekarang.

Saat ia akhirnya tertidur…

aku pergi ke ruang kerja.

Sistem keamanan rumah ini… aku sendiri yang merancangnya.

8 kamera.
Penyimpanan 180 hari.
Semua terenkripsi.

Aku memutar rekaman hari aku berangkat.

05:10 pagi.

Maya di dapur.
Sendiri.
Lelah.
Tapi sudah memasak.

Hari ke-3.

“Saudara jauh” itu datang.

Pria itu langsung mengamati rumah.
Berhenti di depan brankas.
Menatap kamera.

Wanita itu tersenyum.

— Rumah ini pasti mahal sekali ya.

Sejak hari itu…

semuanya berubah.

Setiap hari Maya:

Bangun pukul 5 pagi.
Memasak.
Membersihkan.
Mencuci baju dengan tangan.
Mengurus anak-anak mereka.
Menjalankan perintah ibuku.
Menjalankan perintah wanita itu.

Tanpa istirahat.

Aku terus menonton.

Hari ke-18.

Maya ditelepon ibunya.

— Bu, aku baik-baik saja… mereka baik kok…

Setelah menutup telepon…
ia menunduk.

Memeluk pakaian basah.

Menangis.

Tanpa suara.

Tapi aku bisa merasakannya meski layar tanpa audio.

Tanganku mengepal.

Lalu adegan berikutnya… menghancurkanku.

Hari ke-25.

Aku menelepon.

Di layar tertulis:
“SUAMI”.

Ia hampir meraih ponsel…

tapi—

ibuku merebutnya.

Mematikan panggilan.

— Jangan diangkat dulu. Dia pasti sibuk.

— Tapi itu Raka…

— Jangan ganggu dia!

Lalu…

ibuku membawa ponselnya.

Aku membeku.

Aku lanjutkan rekaman.

Hari ke-26. 27. 28.

Sembilan kali aku menelepon.

Tak satu pun sampai ke Maya.

Aku melihat ibuku membuka ponsel Maya.
Mengubah pengaturan.

Call forwarding.

Dialihkan ke nomornya.

Artinya…

selama tiga bulan aku berbicara…

dengan orang yang salah.

Kupikir Maya bahagia.

Kupikir semuanya baik-baik saja.

Padahal kenyataannya…

dia menjadi pembantu di rumahnya sendiri.

Aku hampir mematikan monitor…

saat satu rekaman terakhir muncul.

Semalam.

23:52.

Maya membersihkan ruang tamu.
Diam.
Lelah.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Pria “saudara jauh” itu masuk.

Bukan dari kamar.

Dari luar rumah.

Ia melihat ke sekeliling.

Lalu perlahan mengeluarkan…

sebuah kunci.

Bukan kunci pintu.

Bukan kunci mobil.

Kunci brankas.

Brankasku.

Ia tersenyum pada Maya.

— Sedikit lagi saja… hampir selesai.

Aku berdiri.

Tubuhku dingin.

Karena kunci brankas itu…

hanya ada dua.

Satu di tanganku.

Dan satu lagi…

di tangan ibuku.

Aku tidak menunggu pagi.

Aku kembali ke ruang tamu.

Pria itu masih berdiri di dekat lemari pajangan. Ibuku keluar dari kamar dengan wajah tidak senang.

— Raka? Kamu belum tidur?

Aku menatap mereka satu per satu.

— Kita bicara sekarang.

Semua orang berkumpul di ruang tamu. Anak-anak sudah tidur. Ayahku duduk diam, wajahnya pucat.

Aku mengambil remote kecil dari sakuku.

Layar TV menyala.

Rekaman kamera mulai diputar.

Hari pertama.
Hari ketiga.
Hari ke-18.
Panggilan yang dialihkan.
Maya yang menangis sendirian.

Tak ada satu pun yang bisa berbicara.

Wajah ibuku perlahan kehilangan warna.

Pria itu berdiri.

— Ini cuma salah paham—

Aku memutar rekaman terakhir.

23:52.
Kunci brankas.
Senyumnya.

Ruangan menjadi sunyi.

— Mau jelaskan? — suaraku tenang. Terlalu tenang.

Ibuku mencoba berbicara.

— Ibu cuma mau bantu keluarga—

— Dengan mencuri?

Aku berjalan ke arah brankas.
Memasukkan kunci milikku.
Membukanya.

Semua isi masih utuh.

Karena ada satu hal yang mereka tidak tahu.

Kunci kedua yang kupegang ibuku…
sudah tidak aktif sejak dua bulan lalu.

Brankas itu menggunakan sistem verifikasi sidik jari tambahan.

Sidik jariku saja yang terdaftar.

Aku menoleh ke pria itu.

— Kamu sudah mencoba membukanya dua kali minggu lalu. Alarm internal langsung terkirim ke serverku di Singapura.

Matanya membesar.

— Semua bukti sudah tersimpan.

Aku mengangkat ponsel.

— Halo, Pak Arif? Silakan naik.

Dua petugas keamanan kompleks masuk.

Pria itu langsung panik.

— Tunggu! Kita bisa bicarakan—

— Bicarakan di kantor polisi.

Wanita dan anak-anaknya terdiam. Ibuku gemetar.

Saat pria itu dibawa keluar, ibuku memandangku dengan mata berkaca-kaca.

— Raka… Ibu cuma takut kamu melupakan keluarga setelah kaya…

Aku menarik napas panjang.

— Saya tidak pernah melupakan keluarga.

Aku menoleh ke arah dapur.

Maya berdiri di sana. Diam. Rapuh.

— Tapi keluarga bukan berarti boleh menyakiti orang yang saya cintai.

Malam itu juga, aku meminta semua orang yang bukan penghuni resmi rumah untuk pergi.

Ibuku dan ayahku kuberi dua pilihan:

Tinggal… tapi menghormati istriku.
Atau pindah ke rumah lama di Bekasi yang masih atas namaku.

Mereka memilih pergi.

Rumah kembali sunyi.

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.

Aku berjalan mendekati Maya.

Ia menunduk.

— Maaf… aku tidak mau kamu khawatir…

Suaranya pecah.

Aku memeluknya perlahan.

Tubuhnya benar-benar terasa ringan.

Terlalu ringan.

— Mulai hari ini, tidak ada lagi yang membuatmu takut di rumah ini.

Ia menangis. Kali ini bukan karena terpaksa.

Beberapa minggu kemudian, berat badannya mulai kembali.
Tawanya pelan-pelan kembali terdengar.

Aku mengganti semua akses rumah.
Mengganti sistem keamanan.
Mengganti pola hidup kami.

Dan yang paling penting—

aku belajar satu hal.

Rumah tidak hancur karena orang luar.

Rumah hancur ketika kita membiarkan orang salah merasa punya hak di dalamnya.

Tiga bulan aku bekerja keras demi masa depan.

Tapi malam itu aku sadar—

melindungi orang yang kita cintai…
jauh lebih penting daripada uang miliaran rupiah.

Dan kali ini,

aku tidak akan pergi terlalu lama lagi.