SETIAP BULAN, SUAMIKU MEMBERIKAN SELURUH GAJINYA KEPADA SAHABAT WANITA TERDEKATNYA

Sementara aku yang menanggung seluruh pengeluaran dan membiayai seluruh keluarganya.

Sampai pada hari aku pergi membawa koperku, sebuah rahasia yang mereka sembunyikan selama delapan tahun akhirnya terungkap.

Bab 1

“Aku yang menghasilkan uang ini! Aku berhak memberikannya kepada siapa pun yang aku mau!”

Marco Wijaya membanting gelas di atas meja makan dengan keras.

Air tumpah ke mana-mana.

Beberapa tetes bahkan mengenai punggung tanganku.

Namun aku tidak bergerak sedikit pun.

Aku hanya menatap tagihan listrik yang tergeletak di tengah meja.

Alih-alih marah, aku justru ingin tertawa.

Karena tagihan itu sudah menunggak selama tiga bulan.

Pria yang duduk di depanku adalah suamiku, Marco Wijaya.

Di mata orang lain, dia adalah pria yang baik.

Dermawan.

Suka membantu.

Selalu rela berkorban demi orang lain.

Begitulah pendapat semua orang.

Setiap bulan, dia menerima gaji lebih dari seratus lima puluh juta rupiah.

Tetapi tidak satu rupiah pun dia bawa pulang untuk keluarga kami.

Semua uang itu dikirimkannya kepada Angela Pratama.

Wanita yang selama bertahun-tahun dia sebut sebagai “adik perempuan yang seperti keluarga sendiri.”

Seorang wanita yang telah bercerai dua tahun lalu.

Menurut Marco, hidup Angela sangat sulit.

Dia membesarkan anaknya sendirian.

Dan masih mencicil apartemen barunya.

Karena itu, Marco merasa sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membantu.

Setiap bulan.

Tanpa pernah terlambat.

Tanpa menyisakan apa pun.

Sementara seluruh pengeluaran rumah tangga berada di pundakku.

Tagihan listrik.

Air.

Internet.

Biaya sekolah anak kami.

Obat-obatan ibu mertuaku.

Makanan.

Dan semua kebutuhan sehari-hari.

Aku yang membayar semuanya.

Dulu, aku berpikir ini hanya sementara.

Dulu, aku percaya suatu hari Marco akan mengerti pengorbananku.

Tapi aku salah.

Sangat salah.

“Hidup Angela sangat berat!”

teriak Marco lagi.

“Apakah salah kalau aku membantunya?”

“Kenapa kamu selalu menghitung-hitung uang?”

Aku tetap diam.

Karena aku tahu, apa pun yang kukatakan, jawabannya akan tetap sama.

Dan benar saja.

Ibu mertuaku, Lourdes Wijaya, langsung ikut berbicara.

“Marco benar.”

“Dia pria yang sangat baik.”

“Pria seperti dia sekarang sudah sangat langka.”

“Kamu saja yang terlalu memikirkan uang.”

“Pikiranmu terlalu sempit.”

Dia menggelengkan kepala sambil menatapku dengan penuh penilaian.

Seolah-olah akulah yang bersalah.

Aku melirik ke ruang tamu.

Putra kami, Joshua, sedang duduk di sana.

Usianya sepuluh tahun.

Anak yang selama bertahun-tahun kubesarkan dengan penuh pengorbanan.

Namun pada saat itu, dia memandangku dan berkata,

“Mama, jangan marah lagi.”

“Tante Angela lebih baik daripada Mama.”

“Dia selalu membelikanku hadiah.”

“Kalau Mama, isinya cuma belajar dan belajar.”

Dadaku terasa sesak.

Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

Ibu mertuaku tertawa.

Marco pun ikut tertawa.

Tidak seorang pun menyadari bahwa wajahku sudah pucat.

Tidak ada yang tahu bahwa tadi malam aku baru tidur pukul tiga dini hari demi menyelesaikan laporan penting.

Tidak ada yang tahu bahwa tiga kartu kreditku hampir mencapai batas maksimum.

Dan terlebih lagi…

Tidak ada yang tahu bahwa seminggu yang lalu aku menerima tawaran pekerjaan di Singapura.

Gajinya sepuluh kali lipat lebih besar.

Saat itu aku menolaknya.

Karena keluarga.

Karena Marco.

Karena anakku.

Karena aku pikir aku tidak sanggup meninggalkan mereka.

Tetapi pada saat itu…

Aku sadar bahwa semua ini sungguh menggelikan.

Aku berdiri perlahan.

“Baiklah.”

kataku dengan tenang.

“Sekarang aku mengerti.”

Marco mengernyit.

“Apa maksudmu?”

Aku tersenyum.

Senyum yang terasa sangat ringan.

“Tidak ada.”

Lalu aku berbalik dan masuk ke ruang kerjaku.

Menutup pintu.

Dan di sanalah…

Keputusan terpenting dalam hidupku dimulai…

Bagian selanjutnya dari kisah ini ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca kisah lengkapnya… Semoga harimu menyenangkan! 👇

Bab Terakhir

Malam itu, setelah menutup pintu ruang kerjaku, aku langsung menghubungi perusahaan di Singapura.

“Apa tawaran itu masih berlaku?”

Suara di seberang langsung menjawab.

“Tentu saja, Bu Samantha. Kami sudah menunggu keputusan Anda.”

Aku tersenyum.

“Baik. Saya menerima.”

Dua minggu kemudian, aku pergi.

Aku tidak menangis.

Aku tidak berdebat.

Aku bahkan tidak memberi tahu siapa pun.

Aku hanya meninggalkan surat perceraian di atas meja makan.

Dan pergi membawa satu koper.


Hari pertama aku pergi, Marco tidak terlalu peduli.

Dia mengira aku akan kembali seperti biasanya.

Hari ketiga, listrik rumah diputus.

Hari kelima, kartu kredit keluarga diblokir.

Hari ketujuh, tagihan rumah sakit ibunya jatuh tempo.

Hari kesepuluh, sekolah Joshua mengirim pemberitahuan tunggakan.

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Marco baru menyadari…

Bahwa wanita yang selama ini dianggapnya “hanya seorang istri” sebenarnya adalah penopang seluruh keluarga.

Panik, dia meneleponku lebih dari seratus kali.

Namun semuanya langsung masuk ke voicemail.


Sebulan kemudian, Angela mulai menjauh.

Tidak ada lagi kiriman uang.

Tidak ada lagi hadiah.

Tidak ada lagi pria bodoh yang membayar semua kebutuhannya.

Bahkan cicilan apartemennya mulai menunggak.

Suatu hari, Marco diam-diam mengikuti Angela.

Dan di situlah dunia yang selama ini dia percayai runtuh.

Angela tidak tinggal sendirian.

Di dalam apartemen itu, ada seorang pria.

Dan seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun.

Begitu melihat Marco, anak itu langsung berlari memeluk pria tersebut.

“Ayah!”

Marco membeku.

Sedangkan Angela langsung pucat.

Pria itu menatap Marco dengan dingin.

“Terima kasih sudah membiayai kami selama bertahun-tahun.”

“Kami hampir bisa melunasi apartemen ini berkat uangmu.”

Saat itu juga, Marco baru sadar…

Selama delapan tahun.

Dia bukan pahlawan.

Dia hanyalah seorang ATM berjalan.


Namun pukulan terbesar datang dari Joshua.

Anaknya sendiri.

Suatu malam, Joshua menangis sambil memeluk foto lama kami.

“Nenek…”

“Ayah…”

“Aku ingin Mama pulang…”

“Aku kangen Mama…”

Barulah Marco melihat buku gambar putranya.

Di halaman pertama tertulis:

“Orang yang paling aku sayangi adalah Mama.”

Dan di halaman terakhir…

Ada gambar seorang wanita yang berdiri sendirian sambil menangis.

Dengan tulisan kecil di bawahnya:

“Maafkan aku, Mama.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Marco menangis.

Menangis seperti anak kecil.

Karena akhirnya dia mengerti.

Orang yang paling setia padanya.

Orang yang diam-diam memikul semua beban.

Orang yang tidak pernah mengeluh.

Dan orang yang paling mencintainya…

Justru adalah wanita yang dia sakiti selama delapan tahun.


Setahun kemudian.

Aku telah menjadi direktur regional di Singapura.

Kehidupanku tenang.

Aku membeli rumah baru.

Aku mempunyai teman-teman baru.

Dan yang terpenting…

Aku kembali menemukan diriku sendiri.

Suatu sore, saat menghadiri konferensi bisnis di Jakarta, aku melihat seseorang berdiri di luar gedung.

Marco.

Dia tampak jauh lebih kurus.

Rambutnya mulai dipenuhi uban.

Di tangannya ada map berisi surat perceraian yang sudah ditandatanganinya.

Begitu melihatku, matanya memerah.

“Samantha…”

“Aku tidak datang untuk memintamu kembali.”

“Aku tahu aku tidak pantas.”

“Aku hanya ingin mengatakan…”

“Terima kasih.”

“Dan maaf.”

Aku tersenyum pelan.

Bukan karena masih mencintainya.

Melainkan karena akhirnya…

Aku sudah tidak membencinya lagi.

Aku menerima map itu.

Lalu menatap langit senja Jakarta yang berwarna keemasan.

Beberapa luka memang meninggalkan bekas.

Tetapi bukan berarti kita harus hidup di dalam rasa sakit selamanya.

Karena terkadang…

Meninggalkan seseorang yang salah…

Adalah cara Tuhan mengantar kita menuju kehidupan yang lebih baik.

Dan untuk pertama kalinya setelah delapan tahun…

Aku benar-benar merasa bahagia.

TAMAT