Suamiku bilang dia bangkrut.Katanya perusahaannya di Surabaya kolaps. Tabungan kami hampir habis.

Suamiku bilang dia bangkrut.

Katanya perusahaannya di Surabaya kolaps. Tabungan kami hampir habis.

Hari itu juga aku memutuskan memberhentikan sopir pribadi kami—yang kami gaji Rp11.000.000 per bulan.

Namanya Rudi.

Saat ia memasukkan helm ke tasnya, ia berdiri di depan pintu dengan suara gemetar.

“Bu Alina… kalau memang lagi susah, gaji saya dipotong setengah juga nggak apa-apa…”

Aku mentransfer gaji terakhirnya.

“Bukan karena kamu nggak becus, Rud. Memang kondisi keluarga saya sudah nggak memungkinkan.”

Ia menunduk. Seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tepat saat itu, bel apartemen berbunyi.

Aku membuka pintu.

Seorang wanita berdiri di sana—gaun ketat, kacamata hitam meski sudah sore, parfum menyengat.

Dia Dewi, tetangga di lantai bawah.

Begitu melihat Rudi, ekspresinya berubah.

“Loh? Kamu kenapa di sini?”

Aku mengernyit.

“Saya memberhentikan sopir kami. Ada masalah?”

Ia langsung masuk tanpa izin.

“Diberhentikan? Terus siapa yang antar anak saya setiap hari?”

Aku merasa salah dengar.

“Kamu bilang apa?”

Ia terdiam sesaat, lalu buru-buru mengubah nada.

“Maksud saya… anak saya sudah nyaman sama Mas Rudi. Susah kalau ganti orang.”

Aku menoleh ke Rudi.

Ia tak berani menatapku.

“Rudi. Benar kamu antar anaknya tiap hari?”

Sunyi.

“Saya tanya.”

Ia menelan ludah.

“Pak Andra yang minta, Bu… tiap pagi saya antar Leo ke sekolah.”

Andra.

Suamiku.

Pria yang katanya tak punya uang lagi.

Pria yang bilang kami tak sanggup bayar sopir.

Ada sesuatu yang terasa pecah di dalam dadaku.

Aku memandang Dewi dengan suara dingin.

“Dia sopir saya. Kalau saya berhentikan, itu hak saya. Anak kamu? Cari ayah kandungnya untuk urus.”

Wajah Dewi memucat.

Satu detik.

Tapi cukup.


Malamnya aku menelepon Andra.

Ia mengangkat setelah lima dering.

“Ada apa?”

Suaranya biasa saja.

“Kamu yang suruh Rudi antar anak Dewi tiap hari. Kapan mau bilang ke saya?”

Hening.

“Kamu tahu dari mana?”

“Dari mereka.”

Sunyi lagi.

“Dengar dulu—”

“Saya cuma mau satu jawaban.”

Aku menggenggam ponsel erat.

“Anak itu… anak kamu?”

“Alina, kamu nggak masuk akal!”

Ia tidak bilang “bukan”.

Itu sudah cukup.

“Pulang malam ini. Kita bicara.”

“Saya lagi ada urusan—”

“Kalau kamu nggak pulang, besok kamu nggak akan bisa masuk rumah.”

Aku mematikan telepon.


Jam delapan malam Andra pulang.

Seolah tak terjadi apa-apa.

“Mau bahas apa?”

Aku menatapnya lurus.

“Leo umur berapa?”

“Tiga.”

Jawabannya terlalu cepat.

Lalu ia tersadar.

“Eh… saya dengar dari orang.”

Tiga tahun.

Tiga tahun lalu ia mulai sering “dinas luar kota”.

Tiga tahun lalu Dewi pindah ke apartemen ini.

Tiga tahun lalu ia memaksa menyewa sopir tetap.

Bukan kebetulan.


Keesokan harinya aku ke pengelola apartemen.

“Saya Alina Prasetyo, unit 1803. Saya mau lihat CCTV lorong dan lift.”

Setelah proses administrasi, rekaman diputar.

Setiap pagi Rudi turun ke lantai 17.

Normal.

Tapi setiap Selasa dan Jumat malam, pukul 21.00—

Andra keluar dari unit kami.

Turun satu lantai.

Masuk ke unit Dewi.

Rutin.

Aku merekam semuanya.


Suatu hari di lift, aku berpapasan dengan Dewi dan anaknya.

Anak itu menatapku.

“Mommy, itu siapa?”

Mata. Hidung. Bentuk wajah.

Persis Andra.

Itu bukan lagi dugaan.

Itu kepastian.


Malam itu aku membuka mobile banking Andra.

Saldo tersisa: Rp6.800.000.

Pesangon masuk tiga hari lalu: Rp1.300.000.000.

Hari yang sama—

Transfer keluar: Rp1.150.000.000.

Penerima: Dewi Lestari.
Catatan: “Untuk Leo.”

Dua tahun terakhir.

Transfer rutin tiap bulan.

Rp20 juta.
Rp25 juta.
Rp30 juta.

Aku tertawa kecil.

Tawa yang dingin.


Aku menelepon sahabatku yang pengacara.

“Sinta, saya mau cerai.”

“Kamu mau dia kehilangan semuanya?”

Aku menatap layar penuh bukti.

CCTV.

Riwayat transfer.

Tanggal dan jam.

“Bukan cuma cerai.”

Suaraku pelan tapi tegas.

“Saya mau dia tidak punya apa-apa.”


Bel berbunyi.

Aku membuka pintu.

Dewi berdiri di sana. Tak lagi angkuh.

Wajahnya pucat.

Di belakangnya—Andra.

Matanya penuh ketakutan.

“Kita perlu bicara,” kata Dewi pelan.

Aku tersenyum.

Senyum yang tak bisa mereka baca.

“Kebetulan sekali.”

Aku mengangkat ponselku.

Semua bukti terpampang jelas.

“Saya sudah siapkan gugatan. Penggelapan aset, penipuan dalam pernikahan, dan pengalihan dana tanpa persetujuan pasangan.”

Wajah Andra runtuh.

“Alina, kita bisa selesaikan baik-baik…”

“Seperti kamu menyelesaikan ‘perjalanan dinas’ kamu?”

Sunyi.

Aku melangkah sedikit mendekat.

“Kamu bilang bangkrut.”

“Kamu bilang kita nggak punya uang.”

“Ternyata yang bangkrut bukan rekening kita.”

Aku menatapnya tajam.

“Yang bangkrut itu kesetiaan kamu.”

Ruangan terasa dingin.

Dan rahasia yang mereka sembunyikan selama tiga tahun—

Akhirnya siap terbongkar sepenuhnya.

Carla mundur satu langkah.

Miguel pucat.

Tapi kali ini… aku tidak menangis.

Aku sudah selesai menjadi wanita yang memohon penjelasan.

Aku sudah selesai menjadi istri yang percaya tanpa bukti.

Aku menatap mereka berdua dengan tenang.

— Kalian tahu apa yang paling menyakitkan?

Tidak ada yang menjawab.

— Bukan karena kamu selingkuh, Miguel. Tapi karena kamu membuatku merasa miskin… padahal kamu hanya memindahkan uang ke keluarga rahasiamu.

Miguel mencoba mendekat.

— Ana, dengarkan dulu—

— Sudah cukup.

Aku mengangkat ponselku.

Rekaman CCTV.
Transfer bank.
Pesan suara Jun yang akhirnya mengaku semuanya.

Aku sudah punya lebih dari cukup.

Carla tiba-tiba berbicara, suaranya gemetar:

— Aku tidak pernah memaksanya meninggalkanmu…

Aku tersenyum tipis.

— Tapi kamu tidak pernah menolaknya juga.

Sunyi.

Leo berdiri di belakangnya, memegang tangan ibunya. Anak itu tidak bersalah. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa… bukan marah.

Aku merasa bebas.

**

Seminggu kemudian.

Miguel menerima surat resmi dari pengadilan.

Gugatan cerai.
Tuntutan pembagian aset.
Laporan penggelapan dana pernikahan.

Maria bekerja cepat.

Karena semua properti terdaftar atas namaku.
Karena transfer besar tanpa persetujuan pasangan bisa dianggap pelanggaran hukum.
Karena aku tidak pernah sebodoh yang mereka kira.

Miguel datang memohon.

Menangis.
Berjanji.
Mengatakan dia masih mencintaiku.

Aku hanya bertanya satu hal:

— Saat kamu melihatku setiap malam, apakah kamu pernah merasa bersalah?

Dia tidak bisa menjawab.

Dan itu sudah cukup.

**

Tiga bulan kemudian.

Perceraian selesai.

Miguel kehilangan apartemen.
Mobil.
Dan hampir seluruh tabungannya.

Carla pindah dari gedung itu.

Katanya mereka akan memulai hidup baru di kota lain.

Aku tidak peduli lagi.

**

Sore itu, aku duduk di balkon unit 1803.

Angin terasa berbeda.

Jun datang berkunjung. Bukan sebagai sopir.

Sebagai seseorang yang ingin mengucapkan terima kasih.

Dia sudah bekerja di perusahaan transportasi besar sekarang.

— Ma’am… maksud saya… Mbak Ana… terima kasih karena tidak menyalahkan saya waktu itu.

Aku tersenyum.

— Terima kasih karena kamu jujur.

Kadang, pengkhianatan membuka mata kita.

Tapi kejujuran… menyelamatkan kita.

**

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…

Aku tidur tanpa menunggu siapa pun pulang.

Tanpa bertanya-tanya di mana dia berada.

Tanpa merasa kurang.

Aku tidak kehilangan suami.

Aku kehilangan kebohongan.

Dan ketika semuanya runtuh…

Aku justru menemukan diriku sendiri.

Tamat.