SUAMIKU MEMBERIKAN KEKUASAAN KEUANGAN KEPADA SEKRETARIS BARUNYA—HINGGA IA MENGUSIRKU DAN ANAKKU DARI RUMAH KAMI SENDIRI, DAN BARU SAAT ITU DIA TAHU SIAPA PEMILIK SEBENARNYA

Aku sedang mengantre halo-halo di SM Aura, Taguig, ketika ponselku tiba-tiba bergetar.

“Your account has been temporarily frozen.”

Aku mengira itu hanya error bank.

Sampai kasir menatapku aneh.

“Ma’am… kartu Anda ditandai transaksi mencurigakan.”

Belum sempat aku bereaksi, dua security guard sudah memegang lenganku.

“Maaf, Ma’am. Ada laporan dari bank terkait dugaan penyalahgunaan dana perusahaan.”

Darahku dingin.

Penyalahgunaan?

Aku hanya membeli halo-halo seharga 129 peso.

Saat itu juga, teleponku berdering.

Camille Reyes.

Sekretaris baru suamiku.

Begitu kuangkat, suaranya langsung terdengar dingin dan sombong.

“Sekarang semua rekeningmu sudah aku bekukan.”

“Aku sudah diberi wewenang oleh Sir Rafael.”

“Aku akan mengatur uangmu mulai sekarang.”

Aku tertawa kecil.

“Uang itu milik suamiku.”

Dia tertawa sinis.

“Mulai sekarang, kamu hanya dapat 5.000 peso per bulan.”

Aku hampir tertawa lagi.

Seorang sekretaris baru…

Mengatur hidupku?

Dia tidak tahu siapa aku.

De La Cruz Group adalah milik keluargaku.

Rafael hanya CEO yang kami tempatkan di sana.

Tapi tiba-tiba…

Aku merasakan sakit luar biasa di perutku.

“Aku hamil… delapan bulan…”

Aku dibawa ke St. Luke’s Medical Center.

Di jalan, Camille terus mengirim pesan.

“Aku sudah bekukan semua aksesmu.”

“Belajarlah menjadi wanita yang tahu tempat.”

Di rumah sakit, rekening pribadiku juga ditolak.

300 juta peso di dalamnya… tidak bisa dipakai.

Aku langsung menelepon Rafael.

Yang mengangkat justru Camille.

“Dia sedang bersama investor di Boracay.”

Boracay?

Padahal dia bilang di Cebu.

“Camille… apakah kamu bersama suamiku?”

Hening sebentar.

Lalu dia menjawab:

“Aku yang menemaninya saat dia lelah.”

“Aku yang mengerti dia.”

Dan kamu?”

“Kamu hanya wanita yang tahu menghabiskan uang.”

Aku gemetar.

Dan saat itu… aku melahirkan prematur.


Setelah Persalinan

Anakku lahir.

Kecil.

Lemah.

Di inkubator.

Pengacara keluargaku datang.

“Ma’am… Anda harus melihat ini.”

Foto-foto muncul.

Rafael di Boracay bersama Camille.

Rafael di penthouseku.

Camille memakai robe milikku.

Lalu satu foto terakhir…

Di depan nursery anakku.

Caption:

“Sebentar lagi aku akan pindah ke sini.”


KONFLIK MEMUNCAK

Pengacara kembali berbicara.

“Camille mengadakan emergency board meeting.”

“Dia mengklaim memiliki executive seal CEO Rafael.”

“Dan ingin mengalihkan seluruh saham perusahaan ke namanya.”

Di layar ponsel, pesan muncul:

“Semua urusan Elena harus lewat aku.”

Dan di bawahnya…

Foto Rafael tidur di hotel.

Diposting oleh Camille.


AKHIR BAGIAN

Ponsel pengacara berdering keras.

“DARURAT! Camille sedang mengambil alih perusahaan!”

Aku menatap layar.

Diam.

Tapi untuk pertama kalinya…

aku tidak menangis.

Aku hanya berkata pelan:

“Jadi… dia akhirnya bergerak.”

“Bagus.”

Dan di balik kaca rumah sakit itu…

Perang untuk perusahaan keluargaku akhirnya dimulai.

Ruangan NICU itu sunyi.

Hanya bunyi monitor yang terdengar—stabil, tapi rapuh, seperti hidup yang baru saja dipertahankan dengan susah payah.

Aku berdiri di balik kaca.

Menatap bayiku yang masih terlalu kecil untuk dunia yang sudah terlalu kejam baginya.

Di tanganku, ponsel terus bergetar.

Pesan.

Panggilan.

Laporan darurat dari kantor pusat.

“Camille sudah memasuki ruang dewan.”

“Dia membawa surat kuasa CEO.”

“Direksi mulai terpecah.”

Tapi semuanya terdengar jauh.

Seperti suara dari dunia yang bukan lagi milikku… atau mungkin tidak pernah benar-benar mereka miliki.

Pengacara berdiri di belakangku.

“Ma’am… kita butuh keputusan sekarang.”

Aku tidak langsung menjawab.

Mataku masih pada bayi itu.

Tangan kecilnya bergerak sedikit dalam inkubator.

Hanya sedikit.

Tapi cukup untuk menghancurkan semua kebisingan di kepalaku.

“Apa Rafael sudah dihubungi?” tanyaku akhirnya.

Pengacara ragu.

“Nomornya tidak aktif sejak pagi. Kami menduga dia bersama Camille.”

Aku tersenyum kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena ironinya terlalu sempurna untuk disesali.

“Jadi dia benar-benar memilih diam,” kataku pelan.

Saat itu juga—

telepon di tangan pengacara berdering lagi.

Dia mengangkat.

Wajahnya langsung berubah.

“Ma’am…”

“Camille sudah mengumumkan dirinya sebagai Acting CEO.”

“Dia memerintahkan penguncian semua akun pribadi Anda di sistem perusahaan.”

Aku menutup mata sebentar.

Lalu menghela napas panjang.

Ketika aku membuka mata lagi, sesuatu di dalam diriku sudah berubah.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Tapi selesai.

“Aku mengerti,” kataku tenang.

Aku menatap bayiku sekali lagi.

“Aku tidak akan lari.”

Pengacara terdiam.

Aku berbalik.

“Siapkan mobil.”

“Aku akan ke kantor pusat.”


GEDUNG DE LA CRUZ GROUP – MAKATI

Langit malam Makati penuh cahaya, tapi di dalam gedung itu, suasananya seperti badai yang belum meledak.

Lift naik perlahan.

Setiap lantai terasa seperti langkah menuju perang yang sudah lama menungguku.

Pengacara berdiri di sampingku.

“Ma’am… begitu Anda masuk ruang dewan, tidak ada jalan mundur.”

Aku mengangguk.

“Aku memang tidak pernah berniat mundur.”


Pintu lift terbuka.

Ruang dewan sudah penuh.

Direksi duduk tegang.

Beberapa memegang dokumen.

Beberapa tidak berani menatapku.

Di ujung meja panjang itu…

Camille duduk di kursi utama.

Seolah-olah kursi itu sudah menjadi miliknya.

Dia tersenyum saat melihatku masuk.

“Oh,” katanya ringan.

“Akhirnya kamu datang juga.”

Aku melangkah masuk.

Sepatu hakku tidak lagi terdengar seperti langkah wanita yang disingkirkan.

Tapi seperti keputusan yang tidak bisa dibatalkan.

“Aku dengar kamu mengambil alih perusahaan,” kataku tenang.

Camille tersenyum lebih lebar.

“Bukan mengambil alih.”

“Memperbaiki.”

Dia berdiri, mengangkat dokumen.

“Rafael sendiri yang memberikan aku otoritas ini.”

Aku menatap dokumen itu lama.

Lalu berkata pelan:

“Menarik.”

Aku mengeluarkan satu folder dari tasku.

Menaruhnya di meja.

“Kalau begitu, mari kita lihat.”

Camille mengernyit.

“Apa itu?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku membuka folder itu perlahan.

Dan saat halaman pertama terlihat…

beberapa direktur langsung berubah wajah.

Nama.

Stempel.

Struktur kepemilikan asli.

Dan satu hal yang selama ini tidak pernah mereka lihat di ruang ini:

Nama pemilik sebenarnya.

Aku.

Hening.

Satu per satu orang mulai berdiri.

“Apa ini…?” suara seseorang bergetar.

Camille menatap dokumen itu, lalu tertawa kecil.

“Tidak mungkin.”

“Kamu hanya istri CEO.”

Aku menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum.

“Aku bukan istri CEO.”

Aku berhenti sejenak.

“Aku adalah pemilik CEO.”

Ruangan langsung membeku.

Pintu ruang dewan tiba-tiba terbuka lagi.

Semua orang menoleh.

Seorang pria masuk.

Rafael.

Wajahnya pucat.

Matanya langsung mencari Camille… lalu jatuh ke arahku.

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai…

Dia tidak tersenyum.

Dia hanya berbisik pelan:

“Elena…”

Aku menatapnya balik.

Dingin.

Tenang.

Dan sangat pasti.

“Sudah terlambat, Rafael.”

Aku menoleh ke layar besar di ruang dewan.

Menekan satu tombol di ponselku.

Dan di detik berikutnya…

seluruh sistem perusahaan berubah status.

ACCESS REVOKED – CEO PRIVILEGES TERMINATED

Camille berdiri mendadak.

“APA YANG KAMU LAKUKAN?!”

Aku menatapnya.

“Menutup sementara sesuatu yang kamu kira bisa kamu curi.”

Lalu aku menatap Rafael.

Dan suara ku menjadi lebih pelan.

“Tapi yang paling penting…”

Aku berhenti.

“Aku tidak lagi bertanya siapa yang kamu pilih.”

“Aku hanya ingin memastikan satu hal.”

Aku menghela napas.

“Siapa yang akan bertanggung jawab atas kehancuran ini.”

Di luar gedung, sirene keamanan mulai terdengar.

Di dalam ruangan itu…

tidak ada lagi pernikahan.

tidak ada lagi kekuasaan palsu.

hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih dingin:

akhir dari semua kebohongan.