Suamiku menerapkan sistem “Bayar Sendiri-Sendiri” dalam pernikahan kami.
Satu teguk air panas: Rp500.
Satu kali pakai mesin cuci: Rp20.000.
Hari itu kandunganku sudah delapan bulan. Aku mengeluarkan semua uang receh yang kukumpulkan dari membuat keset dan kerajinan tangan.
“Ardi… aku ingin makan apel. Setengah saja tidak apa-apa. Dua puluh ribu cukup?” tanyaku pelan.
Alis Ardi langsung berkerut.
“Harus lima puluh ribu. Kalau tidak punya uang, tahan saja. Siapa suruh berhenti kerja dan tidak menghasilkan?”
Aku hanya bisa menelan ludah. Dengan dua puluh ribu itu, akhirnya aku membeli sebungkus kecil sambal terasi supaya air putih yang kuminum ada rasanya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Notifikasi dari kartu tambahan yang ia berikan pada orang lain:
Transaksi: Rp30.000.000 di restoran Michelin-star Jakarta.
Catatan: Traktir adik sepupuku biar dia senang.
Baru saat itu aku sadar—
sistem “bayar sendiri” itu hanya berlaku untukku, istrinya.
Sore itu juga, ketika perutku mulai terasa nyeri, aku keluar rumah. Seorang sopir bus antarkota berhenti dan bertanya apakah aku ingin diantar ke rumah sakit.
Dengan malu-malu aku bertanya,
“Berapa ongkosnya ke rumah sakit, Pak?”
Sopir itu terdiam, lalu berkata pelan,
“Gratis.”
Aku naik tanpa tahu ke mana tujuan akhirnya, yang penting menjauh dari kota itu.
Aku duduk di kursi depan.
Sopirnya seorang wanita berisi, namanya Bu Rini.
Ia melirik perutku.
“Mbak, sudah mau melahirkan ya?”
Aku mengangguk. Kontraksi mulai terasa berulang.
“Ke rumah sakit mana?”
Aku menggenggam ujung bajuku.
“Saya… tidak punya uang.”
Bu Rini langsung menginjak rem dan menepikan bus.
“Tidak punya uang? Suamimu di mana?”
“Dia… sangat perhitungan. Semua harus bayar sendiri.”
Mata Bu Rini membesar.
“Apa?! Melahirkan juga bayar sendiri? Gila itu orang?”
Aku menunduk.
“Sudah kontrol ke dokter? USG?”
“Belum.”
Ia memukul setir pelan karena marah.
“Delapan bulan tidak pernah periksa?!”
Aku menggeleng.
“Katanya dokter cuma cari uang. Kalau mau periksa, pakai uang sendiri.”
Bu Rini terdiam beberapa detik, lalu memutar setir.
“Kita ke rumah sakit di Bandung. Saya antar.”
Di jalan, ia berhenti di sebuah warung roti. Membeli dua roti hangat dan memberikannya padaku.
“Makan. Kamu butuh tenaga.”
Tangisku jatuh di atas plastik roti itu.
Roti gratis.
Dan masih hangat.
Di rumah itu, bahkan nasi sisa suamiku pun harus kubayar Rp5.000 sebagai “biaya pemborosan makanan”.
Bus melaju di jalan tol, menjauh dari rumah yang dingin itu.
Di sisi lain…
Ardi pulang bersama sepupunya, Maya. Mereka membawa kue mahal.
“Mas, kok Mbak Nina nggak nyambut?” tanya Maya.
Rumah gelap.
Sepi.
Ardi mengernyit.
“Nina! Kamu di mana?!”
Tak ada jawaban.
Di meja makan hanya ada setengah gelas air.
Ardi kesal.
“Berani-beraninya dia tidak masak!”
Ia menelepon Nina.
Nomor tidak aktif.
Lewat tengah malam, Ardi mulai gelisah.
Ia membuka lemari.
Koper tua dan pakaian lama Nina sudah tidak ada.
Di meja ada secarik kertas dengan uang Rp5.000 di atasnya.
Isinya:
Air panas: Rp500
Tidur malam ini: Rp50.000
Nasi sisa kemarin: Rp5.000
Total: Rp55.500
Uangku tinggal Rp5.000. Masih utang Rp50.500 padamu.
Di kehidupan berikutnya saja kita hitung.
Surat cerai ada di laci. Sudah kutandatangani.
Tangan Ardi gemetar membuka laci.
Benar.
Sudah ditandatangani.
Saat itu juga, ponselnya berbunyi.
Notifikasi bank:
Transaksi kartu tambahan: Rp20.000.000 untuk tas baru.
Ia melihat uang Rp5.000 di meja…
lalu notifikasi jutaan rupiah itu.
Baru kali ini ia sadar—
Selama tiga tahun, Nina tidak pernah meminta hadiah lebih dari Rp50.000.
Bahkan saat hamil, ia hanya meminta setengah apel.
Di dalam bus.
Wajah Nina pucat.
Keringat membasahi dahinya.
“Mbak, sebentar lagi sampai!” teriak Bu Rini.
Nina menatap lampu-lampu kota yang makin jauh.
“Ate… kalau terjadi apa-apa… tolong jangan kembalikan anak saya pada ayahnya…”
Air mata Bu Rini jatuh.
“Jangan bicara begitu! Saya tidak akan biarkan kalian disakiti lagi!”
Bus melaju menembus malam.
Menuju kehidupan baru—
tanpa hitungan setiap rupiah.
EPILOG
Dua bulan kemudian.
Nina melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.
Ia bekerja sebagai pengrajin online, dibantu Bu Rini yang kini seperti ibu sendiri.
Namanya mulai dikenal.
Pesanan datang dari berbagai kota.
Sementara itu…
Ardi bangkrut.
Maya menghilang ketika kartu tambahannya diblokir.
Rumah besar itu dijual untuk menutup utang.
Suatu sore, Ardi berdiri di depan rumah kontrakan kecil tempat Nina tinggal.
Ia membawa sekantong apel.
Tangannya gemetar.
Pintu terbuka.
Nina berdiri di sana, menggendong bayi mereka.
Wajahnya tidak lagi pucat.
Tatapannya tenang.
“Maafkan aku… Aku salah,” suara Ardi serak.
Nina menatap apel di tangannya.
Lalu tersenyum tipis.
“Aku tidak butuh apel lagi.”
Ia menutup pintu perlahan.
Bukan karena benci.
Tapi karena ia sudah tidak lagi lapar—
baik pada makanan,
maupun pada cinta yang pelit.
Di dalam rumah kecil itu,
tidak ada sistem bayar sendiri.
Tidak ada hitungan per rupiah.
Hanya ada seorang ibu
yang akhirnya memilih menghargai dirinya sendiri.
Dan itu…
adalah kebebasan yang paling mahal.

Tiga tahun kemudian.
Suatu pagi di musim hujan, sebuah mobil tua berhenti di depan toko kerajinan kecil bernama “Nina Craft & Home.”
Seorang pria turun dari mobil itu. Tubuhnya lebih kurus dari dulu. Kemejanya kusut, sepatunya sudah aus, dan tidak ada lagi kesombongan di matanya.
Itu Ardi.
Ia berdiri lama menatap papan nama kayu di depan toko.
Di dalam, Nina sedang mengajari beberapa ibu tunggal membuat tas anyaman dan kerajinan tangan. Tawa hangat terdengar sampai ke luar.
Tak ada lagi yang mengingat perempuan yang dulu memohon setengah apel.
Kini Nina memberi pekerjaan bagi lebih dari dua puluh perempuan. Ia membayar mereka dengan layak. Tidak ada yang harus membayar untuk segelas air hangat. Tidak ada yang dikenakan “biaya makanan sisa.”
Ardi melangkah masuk.
Ruangan seketika hening.
Nina mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang, setenang danau setelah badai.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Suaranya tidak lagi gemetar.
Ardi mengepalkan tangan.
“Aku… aku hanya ingin melihat anakku.”
Seorang gadis kecil berusia tiga tahun berlari dari belakang dan memeluk kaki Nina.
“Mama, om ini siapa?”
Pertanyaan polos itu terasa seperti tamparan keras.
Ardi terdiam.
Nina membelai rambut putrinya.
“Dia orang yang dulu mengajarkan Mama pelajaran yang sangat mahal.”
Ia menatap Ardi.
“Terima kasih.”
Ardi terkejut.
“Terima kasih?”
“Karena berkat kamu, aku belajar bahwa seorang perempuan tidak boleh menunggu orang lain memberinya nilai. Kita harus menciptakan nilai kita sendiri.”
Ardi menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berkata apa.
Sejak perusahaannya bangkrut, semua orang yang dulu mendekat karena uangnya menghilang. Sementara perempuan yang dulu ia hitung biaya air panasnya… kini hidup bersinar seperti matahari.
“Aku salah…” bisiknya. “Aku kehilangan semuanya.”
Nina menatapnya lama.
“Tidak. Kamu hanya kehilangan sesuatu yang tidak pernah kamu hargai.”
Ia berbalik.
“Kami sedang bekerja. Kalau tidak membeli apa-apa, silakan keluar.”
Nada suaranya tidak keras — hanya tegas, penuh batas.
Ardi berdiri beberapa detik, lalu perlahan pergi.
Hujan mulai turun.
Di dalam toko, gadis kecil itu menarik tangan Nina.
“Mama, kenapa om itu sedih?”
Nina tersenyum dan mencium kening putrinya.
“Karena dia belajar berhitung terlalu terlambat.”
“Terlambat itu apa, Ma?”
“Itu ketika seseorang baru sadar…
ada hal-hal yang tidak bisa dibagi dua,
tidak bisa dihitung dengan uang,
dan kalau sudah hilang…
tidak bisa dibeli kembali.”
Di luar, hujan turun deras.
Di dalam, lampu kuning hangat tetap menyala.
Nina menggendong putrinya dan memandang para perempuan yang sedang bekerja dengan penuh semangat.
Dulu ia pergi hanya dengan lima ribu rupiah di saku.
Hari ini, ia punya rumah, anak, usaha, dan kedamaian.
Tidak ada lagi KKB.
Tidak ada lagi daftar hitungan.
Tidak ada lagi angka-angka dingin.
Hanya satu hal yang ia simpan dari pernikahan itu—
Pelajaran bahwa
harga diri seorang perempuan
tidak pernah boleh dihitung dengan uang.