SUAMIKU MENYELAMATKAN DUA ULAR BESAR. KARENA PIHAK PENYELAMAT SATWA BELUM BISA DIHUBUNGI, UNTUK SEMENTARA KAMI MENARUH MEREKA DI BASEMENT RUMAH KAMI DI KAWASAN ELIT PONDOK INDAH.

SUAMIKU MENYELAMATKAN DUA ULAR BESAR. KARENA PIHAK PENYELAMAT SATWA BELUM BISA DIHUBUNGI, UNTUK SEMENTARA KAMI MENARUH MEREKA DI BASEMENT RUMAH KAMI DI KAWASAN ELIT PONDOK INDAH.

Sejak saat itu…

suamiku, Paolo, mulai berubah dingin padaku.

Tubuhnya selalu mengeluarkan aroma aneh—amis bercampur manis yang membuatku mual.

Awalnya aku mengabaikannya.

Sampai suatu hari, aku membawa putri kami, Dinda, ke basement untuk memberi makan ular-ular itu.

Dan saat itulah…

aku mendengar suara seorang wanita dari ular merah besar itu.

Suara lembut.

Tapi membuat bulu kudukku berdiri.

【Suamiku kerja banting tulang tiap hari, sementara perempuan miskin ini santai-santai menikmati hidupnya…】

Tubuhku langsung membeku.

Lalu suara anak kecil terdengar dari ular hitam yang lebih kecil.

【Mommy, kapan Daddy menikahi Mommy secara resmi? Aku capek pura-pura jadi anak perempuan ini!】

Jantungku hampir berhenti.

Ular merah itu mendesis pelan.

【Tenang saja, sayang. Tinggal beberapa malam lagi… tubuh perempuan ini dan anaknya akan jadi milik kita.】

Tanganku hampir menjatuhkan daging mentah yang kubawa.

Di dalam kandang kaca, ular hitam itu menatapku tajam.

【Perempuan bodoh ini bahkan nggak becus kasih makan. Aku pengen banget gigit lehernya sekarang juga.】

Ular merah melilit tubuhnya dengan manja.

【Sabar, baby. Begitu kamu masuk ke tubuh anaknya, kita balas semua penghinaan yang kita alami dulu.】

Ular hitam itu menjulurkan lidahnya.

【Kalau aku sudah jadi anaknya… aku bakal bikin dia jadi sup ular!】

Tubuhku langsung dingin.

Mereka…

bicara tentang mengambil tubuhku dan tubuh anakku.

Tiba-tiba ular hitam itu menatap lurus ke arahku.

【Mommy… kenapa perempuan itu melihatku seperti itu? Apa dia dengar?】

Ular merah tertawa kecil.

【Kata dukun itu manusia biasa tidak bisa mendengar kita. Mana mungkin mereka tahu kalau kita yang mati di kecelakaan tol Jagorawi hidup lagi di tubuh ular ini…】

Tanganku langsung menggenggam erat tangan Dinda.

“Mommy… sakit…”

Aku tersadar dan langsung melepasnya.

“Maaf sayang…”

Dinda lalu menunjuk kalung giok merah di leherku.

“Mommy, aku mau tukar kalung. Yang punya Mommy lebih cantik…”

Aku refleks memegang pendant giokku.

Di pantulan kaca kandang…

aku melihat warna giok yang dulu merah muda pucat kini berubah merah darah.

Aku memaksa tersenyum.

“Tidak boleh, sayang. Ini jimat keberuntungan pemberian Daddy dari pastor.”

Dinda tertawa polos.

“Daddy romantis banget ya…”

Dan saat itu…

ular merah kembali tertawa.

【Romantis? Lucu sekali. Kalung itu justru alat yang dipakai Paolo untuk menyerahkan jiwa mereka pada kami.】

Darahku terasa berhenti mengalir.

【Di hati Paolo, aku satu-satunya istri. Perempuan itu cuma batu loncatan untuk uang dan saham perusahaan.】

Aku langsung naik ke ruang kerja Paolo.

Begitu pintu tertutup…

kakiku lemas hingga jatuh berlutut di lantai.

Selama ini aku percaya Paolo mencintaiku.

Aku bahkan mengangkatnya dari peneliti biasa menjadi direktur di perusahaan investasiku.

Saat aku hampir mati dalam kebakaran mall di Jakarta bertahun-tahun lalu…

dialah yang menyelamatkanku.

Atau setidaknya…

itulah yang kupikirkan.

Aku membuka laptopnya.

Tidak ada password.

Di balik rak buku, aku menemukan ponsel rahasia.

Tanganku gemetar saat membuka aplikasi chat.

Lalu aku mencari kata:

“sayang”

“baby”

Dan namanya muncul.

Rina.

Tetangga kami sendiri.

Percakapan mereka dimulai delapan tahun lalu.

【Paolo, kapan kamu menceraikan perempuan miskin itu? Aku dan Celine capek tinggal di kontrakan sempit!】

【Sabar, sayang. Aku menikahinya cuma demi uang dan saham perusahaan. Begitu semua aset berpindah ke tanganku, kita pindah ke condo mewah.】

Nafasku tercekat.

Ternyata selama ini…

aku hanya alat.

Aku terus membaca sambil gemetar.

Paolo memakai dana riset perusahaan untuk membeli condo mewah bagi Rina.

Bahkan apartemen itu berada tepat di depan rumah kami sendiri.

Dua bulan lalu, Rina dan putrinya meninggal dalam kecelakaan mobil di jalan tol.

Aku pikir Paolo hanya depresi karena pekerjaan.

Aku tidak pernah tahu…

dia justru menggunakan ilmu hitam untuk menghidupkan mereka kembali memakai tubuhku dan Dinda.

Malam itu juga…

aku pergi menemui seorang ahli spiritual terkenal di Bogor.

Aku mengganti kalung giok kami dengan yang palsu.

Kalung asli milikku dan Dinda kubawa ke peternakan pamanku di Jawa Barat.

Kalung milik Rina kupasangkan di leher seekor induk babi besar yang sedang hamil.

“Paman,” kataku pelan, “jangan pernah sembelih babi ini sampai aku bilang.”

Pamanku bingung.

“Tentu saja tidak. Ini indukan terbaik di peternakan.”

Aku menyerahkan koper berisi uang hampir satu miliar rupiah.

“Rawat baik-baik.”

Karena kali ini…

aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil hidup anakku.

Tiga malam setelah itu…

Paolo mulai bertingkah semakin aneh.

Dia sering berdiri diam di depan kamar Dinda tengah malam.

Matanya kosong.

Mulutnya komat-kamit seperti berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.

Dan setiap kali kalung palsu di leher kami bersinar redup…

ular-ular di basement akan mengamuk hebat.

Mereka membenturkan tubuh ke kaca sampai seluruh rumah bergetar.

Paolo panik.

“Ada yang salah…” gumamnya malam itu.

Aku pura-pura tidak tahu apa-apa.

Sampai akhirnya…

malam bulan mati itu tiba.

Aku terbangun karena suara langkah kaki di depan kamar.

Saat membuka mata…

Paolo berdiri di sana.

Matanya merah.

Tangannya memegang pisau kecil.

“Sayang…” suaranya pelan dan aneh. “Saatnya ritual terakhir.”

Tubuhku langsung dingin.

Dinda masih tidur di sampingku.

Aku menggenggam tangannya erat.

Paolo berjalan mendekat perlahan.

“Aku cuma butuh sedikit darah kalian…”

Suaranya bukan lagi suara Paolo sepenuhnya.

Ada nada perempuan di dalamnya.

Suara Rina.

“Agar kita bisa jadi keluarga lagi…”

Air mataku hampir jatuh.

Bukan karena takut.

Tapi karena pria yang pernah kucintai ternyata sudah lama hilang.

Aku menekan tombol kecil di balik bantal.

Tiga detik kemudian…

lampu seluruh rumah langsung menyala terang.

Pintu kamar terbuka keras.

Seorang ustaz spiritual, dua asistennya, dan beberapa petugas keamanan masuk bersamaan.

Paolo langsung menjerit marah.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”

Tapi sebelum dia bergerak…

suara ledakan keras terdengar dari basement.

BRAK!

Kaca kandang ular pecah.

Dua ular itu merayap keluar sambil mengamuk.

Tubuh mereka bergerak liar seperti kesakitan.

Karena ritual perpindahan jiwa gagal.

Dan saat itulah…

ustaz itu mengangkat tasbihnya sambil membaca doa keras-keras.

Seluruh rumah terasa dingin.

Ular merah itu tiba-tiba menatapku penuh kebencian.

Lalu—

suara Rina terdengar jelas dari mulut ular itu.

“KAMU MENIPU KAMI!”

Aku berdiri sambil memeluk Dinda.

“Bukan aku yang menipu,” kataku pelan sambil menatap Paolo. “Suamiku sendiri yang menghancurkan kalian semua.”

Paolo langsung panik.

“Rina… dengarkan aku…”

Tapi ular merah itu justru menyerang Paolo.

Gigitan pertama tepat di lengannya.

Paolo menjerit keras.

“AKH! RINA! AKU SUAMIMU!”

Suara tawa mengerikan terdengar dari ular merah.

【Kau gagal menjaga kami hidup kembali!】

Ular hitam juga mulai menggigit tubuh Paolo berkali-kali.

Dia jatuh ke lantai sambil berteriak histeris.

Dan untuk pertama kalinya…

aku melihat ketakutan nyata di matanya.

Bukan takut kehilangan uang.

Bukan takut kehilangan jabatan.

Tapi takut mati.

Ustaz itu segera memercikkan air doa ke arah kedua ular.

Tubuh mereka langsung kejang hebat.

Suara perempuan dan anak kecil menggema memenuhi ruangan.

Lalu perlahan…

kedua ular itu berhenti bergerak.

Diam total.

Sunyi.

Dan di saat bersamaan…

kalung palsu di leherku retak sendiri lalu hancur menjadi debu.

Paolo dibawa ke rumah sakit malam itu.

Tapi racun ular dan gangguan mental akibat ritual membuat kondisinya tidak pernah benar-benar pulih.

Kadang dia tertawa sendiri.

Kadang menangis sambil memanggil nama Rina.

Kadang berteriak ketakutan saat melihat bayangan ular di dinding.

Polisi akhirnya menemukan bukti penggelapan dana perusahaan dan praktik ilegal yang selama ini dia sembunyikan.

Semua aset atas namanya disita.

Dan beberapa bulan kemudian…

aku resmi mengambil alih seluruh saham perusahaan.

Rumah besar di Pondok Indah itu kujual.

Basement tempat semua mimpi buruk itu terjadi dihancurkan total.

Aku dan Dinda pindah ke rumah yang lebih kecil di Bandung.

Tidak mewah.

Tapi hangat.

Dan yang paling penting—

aman.

Suatu sore, saat hujan turun pelan, Dinda duduk di pangkuanku sambil menggambar.

“Mommy…”

“Hmm?”

“Daddy masih sayang sama kita nggak?”

Dadaku langsung terasa sesak.

Aku membelai rambutnya pelan.

“Daddy pernah sayang sama kita.”

Dinda mengangkat wajah kecilnya.

“Terus sekarang?”

Aku tersenyum tipis sambil memeluknya lebih erat.

“Sekarang Mommy cuma mau melindungi Dinda.”

Dia tersenyum polos lalu kembali menggambar pelangi.

Aku melihat hujan di luar jendela.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

aku bisa bernapas lega tanpa rasa takut.

Karena aku akhirnya sadar…

monster paling berbahaya bukan yang berbisa.

Tapi manusia yang rela mengorbankan orang yang mencintainya demi ambisi dan obsesi.