Suara alarm kebakaran langsung meraung di seluruh koridor rumah sakit militer itu.

Lampu merah berkedip-kedip seperti detak jantung yang kacau.

“Semua personel evakuasi sekarang!” teriak seseorang dari ujung lorong.

Tapi Marco tidak bergerak.

Telepon di tangannya masih menempel di telinga, wajahnya pucat seperti kehilangan semua darah.

“Nathan masih di dalam…” suaranya hampir tidak keluar.

Aku sudah bergerak lebih dulu.

Mengambil jas putihku dari kursi, lalu berlari ke arah pintu darurat tanpa menunggu siapa pun.

“Dokter Isabella! Itu area militer, sangat berbahaya!” teriak seorang perawat.

Aku tidak berhenti.

“Kalau ada anak di dalam, itu bukan lagi area militer,” jawabku singkat.

Di belakangku, Marco akhirnya mengejarku.

“Isabella! Jangan masuk sendirian!”

Tapi aku sudah memakai masker oksigen.

Dan saat itu…

aku tidak lagi melihatnya sebagai pria yang pernah meninggalkanku.

Hanya sebagai seorang ayah yang sedang kehilangan anaknya.


Gedung perumahan tentara sudah dipenuhi asap.

Api menjalar cepat di bagian atas bangunan.

Jeritan terdengar dari dalam.

“Nathan!” suara Marco pecah di tengah asap.

Dia mencoba masuk lebih dulu, tapi aku menarik lengannya.

“Kalau kamu masuk seperti itu, kamu akan mati duluan.”

Dia menatapku, matanya merah.

“Dia anakku…”

Aku melepas genggamannya.

“Kalau begitu, dengarkan aku.”

Dan tanpa menunggu jawaban, aku masuk.


Di dalam, suhu panas langsung menyengat kulit.

Asap membuat pandangan kabur.

Aku meraba dinding, mengikuti jalur evakuasi yang pernah aku hafal bertahun-tahun lalu.

Dan di ujung koridor…

aku mendengar suara kecil.

“Papa…”

Aku berlari.

Di balik pintu kamar yang hampir runtuh, seorang anak kecil terjebak di bawah meja yang jatuh.

“Nathan!” teriakku.

Matanya penuh air mata.

“Dokter… aku takut…”

Aku menahan papan kayu itu dengan seluruh tenaga.

“Dengar aku. Kamu harus tetap bernapas pelan, ya.”

Tanganku gemetar, tapi aku tidak berhenti.

Dan tepat saat aku berhasil menariknya keluar—

bagian langit-langit runtuh.

Aku menariknya ke pelukanku.

Membalikkan badan untuk melindunginya.

BRAK!

Debu dan api meledak di belakang kami.


Beberapa menit kemudian, tim penyelamat datang.

Aku keluar sambil menggendong Nathan yang sudah setengah sadar.

Marco langsung berlari ke arah kami.

“Nathan!”

Dia memeluk anak itu dengan tangan gemetar.

Tapi matanya langsung mencari aku.

Aku berdiri beberapa langkah di belakang mereka, jas dokterku penuh abu.

Marco melangkah mendekat.

“Kenapa kamu masuk sejauh itu?”

Aku melepas sarung tangan medisku.

“Karena dia pasienku.”

Dia menggeleng.

“Bukan itu maksudku…”

Aku menatapnya lama.

Lalu berkata pelan:

“Marco, jangan pernah ulangi pertanyaan yang sudah kamu jawab sendiri delapan tahun lalu.”

Dia membeku.

Karena dia tahu maksudnya.


Malam itu, setelah api berhasil dipadamkan, rumah sakit kembali sunyi.

Nathan sudah stabil di ruang observasi.

Marco berdiri di depan pintu, tidak masuk.

Aku lewat di sampingnya.

Dia memanggil pelan:

“Isabella…”

Aku berhenti, tapi tidak menoleh.

“Aku tidak pernah menikah lagi,” katanya tiba-tiba.

Hening.

Aku akhirnya menatapnya.

“Dan?”

Matanya bergetar.

“Aku tidak pernah berhenti mencari jawaban… tentang hari itu.”

Aku tersenyum kecil, tapi bukan senyum hangat.

“Jawabannya tidak berubah hanya karena kamu terlambat mencarinya.”

Dia menunduk.

Untuk pertama kalinya, seorang Captain Reyes tidak terlihat seperti tentara.

Hanya seperti seorang pria yang kehilangan terlalu banyak waktu.


Aku berjalan pergi.

Lampu lorong rumah sakit panjang membentang di depanku.

Dan di belakangku, suara Marco terdengar sangat pelan:

“Kalau waktu bisa diulang…”

Aku tidak berhenti berjalan.

Tapi aku menjawab tanpa menoleh:

“Di dunia medis, kita tidak punya izin untuk mengulang waktu.”

Langkahku terus menjauh.

Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun…

aku tidak lagi merasa hancur karena dia kembali.

Karena sekarang aku tahu—

tidak semua orang yang datang kembali… benar-benar datang untuk memperbaiki semuanya.

Beberapa hari setelah kebakaran itu, rumah sakit militer kembali ke rutinitasnya yang dingin dan teratur.

Nathan sudah dipindahkan ke ruang perawatan umum. Luka-lukanya ringan, tapi traumanya masih terlihat dari caranya selalu mencari-cari Marco setiap kali terbangun.

Marco sendiri tidak lagi kembali ke status “Captain Reyes” yang biasanya tegas dan tak tersentuh.

Dia hanya duduk di kursi lorong rumah sakit setiap malam.

Diam.

Seperti seseorang yang sedang menunggu hukuman yang tidak pernah diumumkan.


Suatu sore, aku baru selesai melakukan visit pasien ketika seorang perawat menghampiriku.

“Dokter Isabella… ada surat untuk Anda.”

Aku menerimanya tanpa banyak reaksi.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya amplop putih sederhana.

Di dalamnya, hanya satu lembar kertas.

Tulisan tangan Marco.

“Aku sudah mengajukan pengunduran diri dari dinas militer.”

“Aku tidak datang untuk meminta kamu kembali.”

“Aku hanya ingin memastikan… kamu baik-baik saja.”

“Dan Nathan akan kutanggung penuh, tanpa melibatkanmu.”

“Terima kasih sudah menyelamatkannya. Dan… terima kasih karena dulu pernah mencintaiku.”

Tanganku berhenti di tengah membaca.

Tapi wajahku tetap tenang.

Aku melipat surat itu kembali.


Malam itu, aku berdiri di atap rumah sakit.

Angin dingin menyapu jas putihku.

Dari kejauhan, lampu kota berkedip seperti sesuatu yang terus hidup meski manusia di dalamnya sudah lama berubah.

Langkah kaki terdengar di belakangku.

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.

Marco.

Dia berdiri beberapa meter di belakangku, tidak mendekat.

“Kamu tidak perlu pergi,” katanya pelan.

Aku tetap memandang ke depan.

“Aku tidak pergi karena kamu.”

Hening.

Dia menelan napas.

“Kalau begitu… kenapa?”

Aku akhirnya menoleh sedikit.

“Karena delapan tahun lalu, kamu menghilang tanpa menutup apa pun.”

Aku berhenti sebentar.

“Dan sekarang kamu kembali… tapi bukan untuk membuka kembali, hanya untuk memastikan semuanya tetap tertutup.”

Marco diam.

Tidak membantah.

Karena dia tahu itu benar.


Aku melangkah melewatinya.

Tapi sebelum pergi, aku berhenti sejenak.

“Marco.”

Dia langsung menoleh.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat tentara, bukan juga mantan kekasih.

Hanya manusia yang terlalu terlambat.

“Mulai sekarang,” kataku pelan, “jangan lagi cari aku di masa lalu.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan langkahku.

“Karena aku sudah tidak tinggal di sana.”


Di bawah, lampu rumah sakit tetap menyala seperti biasa.

Nathan tertawa kecil di ruang rawat ketika perawat memberinya susu hangat.

Dan Marco berdiri sendirian di atap itu, tidak mengejarku.

Tidak memanggil lagi.

Karena akhirnya dia mengerti—

tidak semua cerita yang kembali… punya tempat untuk dilanjutkan.

Dan aku pun melangkah pergi, bukan sebagai seseorang yang ditinggalkan lagi,

tapi sebagai seseorang yang akhirnya memilih dirinya sendiri.