Suasana di dalam gereja membeku.

Suasana di dalam gereja membeku.

Bu Sari berdiri gemetar di depan altar megah itu. Para tamu menunggu dengan tatapan penuh hinaan, siap menyaksikan penghinaan terbesar hari itu.

Adrian menatapnya lama.

Lalu…

Ia tiba-tiba berlutut.

Seluruh ruangan tersentak.

“Apa yang dia lakukan?!” bisik para tamu panik.

Adrian menggenggam tangan keriput wanita tua itu, lalu dengan suara yang bergetar namun jelas, ia berkata:

“Ibu… maafkan Adrian.”

Gasps terdengar di seluruh gereja.

“Ibu?” ibu mertua hampir pingsan.

Air mata Bu Sari jatuh tanpa suara.

“Saya tidak pernah lupa,” lanjut Adrian.
“Dua puluh lima tahun lalu, ketika saya masih anak jalanan yang kelaparan di depan gereja ini… Ibu yang memberi saya makan. Ibu yang membelikan saya seragam sekolah pertama saya. Ibu yang berkata, ‘Nak, sekolah yang tinggi supaya hidupmu berubah.’”

Para tamu mulai saling berpandangan.

Adrian berdiri, lalu membuka jas mahalnya dan menyelimutkannya ke tubuh Bu Sari yang basah kuyup.

“Hari ini, saya berdiri di sini bukan karena keluarga kaya calon istri saya. Bukan karena warisan. Tapi karena doa seorang penjual melati yang semua orang hina.”

Ia menoleh ke arah calon istrinya yang wajahnya pucat.

“Seseorang yang merasa jijik pada orang miskin… tidak pantas berdiri di samping saya.”

Suasana pecah.

Ibu sang mempelai wanita berteriak histeris. Para tamu politikus buru-buru mematikan kamera. Reputasi yang mereka banggakan runtuh dalam hitungan detik.

Adrian mengambil mikrofon.

“Hari ini, pernikahan ini dibatalkan.”

Hening.

“Tapi bukan karena aib. Melainkan karena saya akhirnya memilih untuk tidak melupakan dari mana saya berasal.”

Ia menggenggam tangan Bu Sari.

“Saya ingin orang yang saya sebut Ibu… duduk di kursi kehormatan.”

Tangis pecah di antara para tamu yang tersisa.

Beberapa bulan kemudian…

Bukan pesta pernikahan yang menjadi berita utama.

Melainkan pembangunan sebuah yayasan pendidikan senilai Rp200 miliar atas nama Yayasan Melati Sari, yang memberikan beasiswa bagi anak-anak jalanan di seluruh Indonesia.

Bu Sari tidak lagi duduk di trotoar menjual melati.

Ia tinggal di rumah kecil yang nyaman, dengan kebun bunga melati yang luas di halaman belakang.

Dan setiap kali Adrian datang berkunjung, ia selalu mencium tangan wanita tua itu sebelum masuk ke rumah.

Karena di balik tuxedo seharga ratusan juta rupiah…

Ia tetaplah anak kecil yang pernah diberi makan oleh seorang nenek penjual melati.

Dan hari itu, seluruh negeri belajar satu hal:

Kemewahan bisa dibeli dengan uang.

Tapi harga diri…
dibangun oleh hati.