Suara suamiku, Daniel Pratama, terdengar pelan dari ruang tamu, seolah tidak ada yang aneh.
Aku menunduk memandangi bayi laki-lakiku yang tertidur di pelukanku.
Baru saja ia berhenti menyusu setelah menangis sepanjang sore karena perut kembung. Bahkan sejak pagi, aku hampir tidak sempat minum seteguk air.
Perutku terasa perih karena lapar.
Dengan hati-hati, aku membaringkan bayiku di ayunan kayu tua di samping tempat tidur, lalu keluar dari kamar.
Aroma ikan goreng dan sup asam masih memenuhi udara.
Namun ketika melihat meja makan, langkahku langsung terhenti.
Yang tersisa hanyalah piring-piring kotor.
Sebuah mangkuk terbalik, beberapa irisan bawang mengambang di kuah yang sudah dingin.
Selain itu…
Tidak ada apa-apa lagi.
Aku berdiri membeku.
Mataku beralih ke dapur kecil.
Mungkin mereka masih menyisakan sesuatu untukku.
Bagaimanapun juga, aku baru melahirkan dua bulan lalu.
Bagaimanapun juga, akulah yang begadang setiap malam mengurus cucu mereka.
Aku bergegas ke dapur.
Kubuka rice cooker.
Tak ada sebutir nasi pun.
Kubuka panci sup.
Kosong.
Bahkan semua wadah di kulkas bersih seperti baru dicuci.
Tanganku mengepal erat.
Terdengar suara sandal diseret dari belakang.
Mertuaku, Bu Sulastri, berdiri di pintu dapur dengan tangan bersedekap dan wajah tanpa ekspresi.
“Kamu cari apa?”
Aku berusaha tetap tenang.
“Bu… memang tidak ada makanan yang disisakan untuk saya?”
Dia mengernyit seolah pertanyaanku sangat aneh.
“Hah? Memangnya kamu makan banyak?”
“Lagipula perempuan habis melahirkan harus diet supaya cepat langsing lagi.”
Setelah berkata begitu, matanya melirik perutku.
“Badanmu jadi lebar sekali sejak melahirkan.”
Rasanya seperti disiram air es.
Aku tak bisa berkata apa-apa.
Saat itu, adik iparku, Rina, masuk sambil mengunyah biji semangka.
“Ibu benar.”
“Kalau perempuan gemuk, suami cepat bosan.”
“Lihat saja ibu-ibu di internet. Baru beberapa minggu melahirkan, sudah kurus lagi.”
Aku hanya memandangi mereka.
Yang satu nenek dari anakku.
Yang satu lagi bibinya.
Tapi mereka memperlakukanku seperti orang asing yang numpang tinggal.
Tak lama kemudian Daniel masuk dari luar.
Dia baru pulang minum bersama tetangga dan tubuhnya masih berbau alkohol.
“Ada masalah apa lagi?”
Aku menatapnya.
“Kamu lihat masih ada makanan untukku?”
Dia melirik meja makan lalu mengangkat bahu.
“Habis.”
“Besok pagi saja makan.”
Aku tertawa.
Tapi tawa yang dingin.
“Kamu tahu aku sedang menyusui, kan?”
“Kamu tahu dari pagi aku hampir belum makan apa pun?”
Dia mulai kesal.
“Ya Tuhan, cuma sekali nggak makan, dibesar-besarkan.”
“Ibu sudah capek masak seharian, malah kamu mengeluh.”
“Kamu kan cuma di rumah ngurus anak.”
Ada sesuatu yang hancur di dalam hatiku.
“Cuma di rumah”?
Aku teringat empat kali terbangun semalam untuk mengganti popok.
Aku teringat rasa sakit jahitan operasi setiap kali menggendong anak kami.
Aku teringat demam yang kutahan sambil tetap menyiapkan susu karena tak seorang pun membantuku.
Dan di matanya…
Semua itu hanya “mengurus anak”.
Aku memandang lelaki yang dulu kuperjuangkan melawan keluargaku.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku merasa tak mengenalnya lagi.
Bab 2
Aku mengenal Daniel saat masih bekerja di minimarket di Jakarta.
Dulu dia pendiam, rajin, dan selalu berjanji tidak akan meninggalkanku.
Keluargaku sempat menentang hubungan kami.
Bukan karena keluarganya miskin.
Tetapi karena ibuku pernah berkata:
“Laki-laki yang terlalu patuh pada ibunya tidak akan bisa melindungi istrinya.”
Namun waktu itu aku tidak percaya.
Kupikir cinta saja sudah cukup.
Setelah menikah, kami tinggal sendiri selama beberapa tahun.
Hidup kami memang sederhana, tapi tenang.
Sampai aku melahirkan.
Ibu mertuaku berkali-kali menelepon.
Katanya udara di kampung lebih segar dan banyak orang yang bisa membantu mengurus bayi.
Daniel pun terus membujukku.
Akhirnya aku setuju.
Tetapi sejak hari pertama kami pindah ke rumah mereka di daerah Garut, ada sesuatu yang terasa salah.
Kamar kami berdebu.
Kunci kamar mandi rusak.
Air panas sering mati mendadak.
Aku yang baru melahirkan hampir menangis saat memandikan bayiku.
Namun ibu mertuaku hanya berdiri di luar sambil berkata:
“Dulu zaman kami, perempuan tidak manja.”
Setiap kali aku menyusui, Rina lewat sambil tertawa.
“Banyak banget gaya ibu-ibu dari kota.”
Suatu malam, anakku demam ringan dan aku ingin membawanya ke klinik.
Tetapi ibu mertuaku berdiri menghalangi pintu.
“Normal itu.”
“Jangan buang-buang uang ke dokter.”
Sedikit demi sedikit, aku merasa sesak.
Namun aku tetap bertahan.
Sampai malam ini.
Sampai mereka menghabiskan semua makanan dan tidak menyisakan satu suap pun untukku.
Bab 3
Aku berdiri dengan tenang.
Lalu kembali ke kamar.
Daniel mengerutkan dahi.
“Mau ke mana?”
Aku tidak menjawab.
Aku menggendong anakku, mengenakan jaket tipis, lalu berjalan keluar rumah.
Ibu mertuaku langsung berteriak.
“Hei! Sudah malam!”
Aku menatapnya.
Dengan suara tenang, aku berkata:
“Mencari makan.”
Seluruh ruang tamu mendadak sunyi.
Daniel tertawa sinis.
“Kamu sudah gila?”
Aku tidak mempedulikannya.
Aku terus berjalan keluar rumah sambil menggendong bayiku.
Udara malam terasa hangat.
Lampu rumah-rumah di kampung masih banyak yang menyala.
Aku berhenti di rumah pertama.
Seorang nenek tua yang membuka pintu tampak terkejut melihatku membawa bayi.
Dengan suara pelan aku berkata:
“Nenek… masih ada sisa nasi?”
“Saya baru selesai menyusui… dan di rumah sudah tidak ada makanan…”
Mata wanita tua itu langsung membelalak.
“Tidak ada makanan?”
Aku menunduk sambil memaksakan senyum.
“Mungkin… mereka lupa menyisakan untuk saya.”
Sepuluh menit kemudian…
Lampu-lampu di sepanjang gang mulai menyala.
Dua puluh menit kemudian…
Seluruh kampung sudah mulai berbisik-bisik.
Dan tiga puluh menit kemudian…
Saat aku sedang diam-diam menyantap semangkuk bubur hangat di rumah nenek itu…
Tiba-tiba terdengar teriakan keras dari luar.
“BU!”
“LEMARI DI KAMAR… HILANG!”

Jeritan itu membuat seluruh kampung terdiam.
Daniel yang sedang berdiri di halaman langsung berlari masuk ke rumah.
“Apa maksudmu lemari hilang?”
Adik perempuannya, Rina, menangis histeris sambil menunjuk kamar ibu mereka.
“Lemari besi itu… semuanya hilang!”
Ibu mertuaku, Bu Sulastri, hampir pingsan.
Di dalam lemari itu tersimpan uang tunai hampir Rp380 juta, perhiasan emas, serta sertifikat tanah yang selama ini selalu ia banggakan kepada para tetangga.
“Tidak mungkin!”
“Tidak mungkin!”
Dia berlari ke kamar dan benar-benar mendapati lemari besi itu sudah tidak ada.
Tetangga yang mendengar keributan mulai berdatangan.
Dan mereka langsung melihat pemandangan yang kontras.
Di satu sisi, aku sedang duduk di rumah seorang nenek tua sambil menggendong bayiku dan memakan bubur hangat dengan mata merah karena kelaparan.
Di sisi lain, keluarga suamiku menangis karena kehilangan harta mereka.
Ketua RT segera memanggil polisi.
Setelah penyelidikan dimulai, rekaman CCTV di jalan kampung diperiksa.
Dan hasilnya membuat semua orang tercengang.
Pelakunya bukan orang asing.
Melainkan Rina sendiri.
Selama lebih dari setahun, ia diam-diam terlilit utang judi online.
Karena takut ketahuan, malam itu ia menghubungi pacarnya dan bersama-sama mereka memindahkan lemari besi menggunakan mobil pikap sewaan.
Bahkan, beberapa hari sebelumnya, Rina sudah diam-diam memfoto sertifikat tanah dan menjual sebagian perhiasan ibunya.
Ketika bukti-bukti diputar di depan semua orang, wajah Bu Sulastri berubah pucat.
“Rina…”
“Kamu… anak Mama…”
Rina jatuh berlutut sambil menangis.
Tetapi tidak ada seorang pun yang merasa kasihan.
Karena seluruh kampung sudah lebih dulu mengetahui sesuatu yang lebih memalukan.
Bahwa menantu yang baru dua bulan melahirkan…
Tidak diberi makan.
Bahwa ibu yang sedang menyusui…
Harus keluar malam-malam sambil menggendong bayi hanya untuk meminta semangkuk nasi.
Rahasia yang selama ini mereka sembunyikan akhirnya tersebar ke seluruh kampung.
Keesokan paginya, semua orang membicarakan keluarga Daniel.
“Punya uang ratusan juta, tapi tidak bisa menyisakan sepiring nasi untuk menantunya.”
“Kasihan sekali perempuan itu.”
“Kalau ibunya sendiri tahu, pasti hatinya hancur.”
Dan benar.
Ibuku datang siang itu juga dari Jakarta.
Begitu melihat tubuhku yang kurus dan wajahku yang pucat, beliau langsung menangis.
“Anakku…”
“Mama membesarkanmu bukan untuk diperlakukan seperti ini.”
Aku pun menangis untuk pertama kalinya sejak melahirkan.
Hari itu, aku pulang bersama ibu dan anakku.
Daniel mengejarku sampai ke depan mobil.
“Sayang… aku salah…”
“Aku janji akan berubah…”
Tetapi aku hanya memandangnya dengan tenang.
“Ketika aku kelaparan, yang aku butuhkan hanya sepiring nasi.”
“Kamu punya kesempatan untuk memberikannya.”
“Tapi kamu memilih membelaku? Tidak.”
“Kamu memilih ibumu.”
Daniel menangis.
Namun aku sudah tidak bisa menangis lagi.
Karena sesuatu di dalam hatiku telah benar-benar mati.
Setahun kemudian.
Aku membuka toko kue kecil di Bandung bersama ibuku.
Tidak mewah.
Tetapi cukup untuk hidup bahagia.
Anakku tumbuh sehat dan ceria.
Suatu sore, ketika dia mulai belajar berjalan, dia memeluk kakiku sambil tertawa.
Dan tanpa sadar, air mataku jatuh.
Aku teringat malam ketika aku berdiri di depan rumah orang lain sambil menggendongnya, meminta sedikit nasi karena tidak ada seorang pun di rumah suamiku yang memikirkan kami.
Malam yang paling memalukan dalam hidupku.
Tetapi justru malam itulah yang menyelamatkanku.
Karena aku akhirnya mengerti…
Kemiskinan yang paling menyakitkan bukanlah tidak memiliki uang.
Melainkan hidup bersama orang-orang yang memiliki segalanya…
Tetapi bahkan tidak mempunyai hati.
Dan sejak hari aku pergi dari rumah itu…
Aku dan anakku tidak pernah kelaparan lagi.
Bukan karena kami menjadi kaya.
Tetapi karena kami akhirnya hidup di tempat yang penuh kasih sayang.