Sudah tiga tahun aku menikah dengan istriku, Stella.

Hadiah Murahan

Namaku Gabriel.

Sudah tiga tahun aku menikah dengan istriku, Stella.

Stella berasal dari keluarga sangat kaya di Indonesia—keluarga Imperial Group, pemilik jaringan hotel dan resort mewah di Bali, Jakarta, dan Singapura. Saat kami menikah, aku pikir dia mencintaiku dengan tulus. Tetapi semakin lama, dia dan keluarganya membuatku merasa seperti pria miskin yang hanya menumpang hidup di rumah mereka.

Kami tinggal di mansion keluarga mereka di kawasan elite Jakarta Selatan.

Setiap malam, aku yang membersihkan rumah.
Aku yang disuruh mengangkat barang.
Aku yang selalu dipermalukan di depan tamu.

Mereka tidak tahu…

aku sebenarnya sedang menjalani “Three-Year Test of Humility” yang ditetapkan almarhum kakekku sebelum aku resmi mengambil alih Vanguard Global Empire—konglomerasi terbesar di Asia.

Selama tiga tahun…
aku hidup seperti pria biasa.

Dan malam ini adalah malam terakhir ujian itu.


Malam itu adalah ulang tahun ke-60 mertuaku, Tuan Arturo Imperial.

Mansion dipenuhi tamu-tamu miliarder.
Para pejabat.
Pemilik bank.
Investor asing.

Satu per satu mereka memberikan hadiah mewah:
jam tangan Swiss,
emas,
mobil sport,
bahkan lukisan senilai miliaran rupiah.

Saat giliranku tiba…

aku maju sambil membawa kotak kayu kecil.

“Selamat ulang tahun, Papa,” kataku sopan.

Tuan Arturo membuka kotak itu.

Di dalamnya ada sebuah pena kayu buatan tangan.

Aku membuatnya sendiri selama dua minggu.

Tetapi begitu melihatnya…

wajahnya langsung berubah merah karena marah.

“Apa ini?!”

Suara bentakannya menggema di aula.

Ia mengangkat pena itu tinggi-tinggi di depan semua tamu.

“Orang-orang memberiku Rolex dan berlian, lalu kau memberiku kayu murahan begini?!”

“Pa… saya membuatnya sendiri…”

“SAMPAH!”

Ibu mertua, Dona Carmela, langsung melempar pena itu ke lantai dan menginjaknya dengan sepatu hak tingginya.

“Kamu benar-benar memalukan!”

Semua tamu mulai tertawa kecil.

Aku menoleh pada Stella.

Aku berharap… setidaknya istriku akan membelaku.

Tetapi ia justru memandangku jijik.

“Kamu merusak pesta ulang tahun Ayah,” katanya dingin. “Tamu kita semua orang penting. Dan kamu datang membawa barang seperti pengemis.”

Saat itu…

sesuatu di dalam diriku mati.


Karena marah besar, Dona Carmela mengambil nampan sisa makanan:
tulang steak,
kulit ayam,
dan nasi sisa tamu.

“Kalau kelakuanmu seperti anjing, makan saja di luar bersama anjing!”

Ia melempar nampan itu ke taman belakang.

“Stella! Keluarkan suamimu dari rumah!”

Tanpa ragu…

istriku sendiri mendorongku keluar mansion.

Hujan malam itu sangat deras.

Petir menyambar langit Jakarta.

Pintu kaca besar ditutup dan dikunci dari dalam.

Dari luar…
aku bisa melihat mereka tertawa sambil meminum wine hangat.

Sedangkan aku…

duduk sendirian di rumput basah bersama tiga anjing besar keluarga Imperial.

Air hujan membasahi seluruh tubuhku.

Dingin.
Memalukan.
Menyakitkan.

Tetapi yang paling sakit…

adalah menyadari bahwa perempuan yang kucintai tidak pernah benar-benar menganggapku manusia.

Jam menunjukkan pukul dua belas malam.

Tepat tengah malam.

Artinya…

ujian tiga tahunku selesai.

Aku mengeluarkan ponsel tahan air dari saku.

Lalu mengirim satu pesan singkat.

“I am ready.”


Keesokan paginya…

seluruh mansion Imperial gempar.

Suara sirene dan deru mesin memenuhi jalan depan rumah.

Puluhan mobil mewah hitam berhenti berjejer:
Rolls-Royce,
Maybach,
Bentley.

Lalu…

sebuah helikopter mendarat di lapangan depan mansion.

Semua orang keluar rumah dengan panik.

Tuan Arturo bahkan masih memakai piyama mahalnya.

Pintu mobil tengah terbuka.

Seorang pria tua berjas hitam turun.

Begitu melihatku berdiri di taman…

pria itu langsung berjalan cepat ke arahku.

Dan di depan seluruh keluarga Imperial…

ia berlutut.

“Selamat datang kembali, Tuan Gabriel.”

Seluruh wajah keluarga Stella langsung pucat.

Dona Carmela mundur selangkah.

“A-apa maksud semua ini…?”

Pria tua itu menatap mereka dingin.

“Saya Alexander Wijaya. Direktur utama Vanguard Global Empire.”

Ia lalu menunjuk ke arahku.

“Dan pria yang kalian hina semalam…”

suaranya berubah tegas,

“adalah pemilik tunggal seluruh grup perusahaan kami.”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Stella menatapku seolah tidak mengenaliku.

“Gabriel… ini lelucon, kan?”

Aku memandangnya lama.

Lalu perlahan tersenyum.

Tetapi kali ini…

tanpa cinta.

“Kamu bilang aku memalukan?”

Aku melangkah mendekatinya.

“Hari ini aku akan menunjukkan seperti apa rasanya dipermalukan.”


Dalam waktu dua minggu…

semuanya runtuh bagi keluarga Imperial.

Bank menghentikan kerja sama.
Investor menarik saham.
Media membongkar utang tersembunyi mereka.

Dan yang paling parah—

seluruh hotel mereka ternyata berdiri di atas pinjaman dari perusahaan milikku.

Karena selama ini…

Vanguard diam-diam adalah penyokong utama bisnis mereka.

Tanpa bantuanku…

mereka hancur.


Suatu malam, Stella datang ke penthouse-ku di Jakarta.

Ia menangis.

Benar-benar menangis.

“Aku salah, Gabriel…”

Ia berlutut di depanku.

“Please… aku masih cinta kamu…”

Aku menatap perempuan itu lama sekali.

Perempuan yang dulu membiarkanku makan bersama anjing di tengah hujan.

Lalu aku mengambil sebuah kotak kecil dari meja.

Kotak itu berisi pena kayu yang dulu diinjak ayahnya.

Sudah kuperbaiki sendiri.

Aku menyerahkannya padanya.

“Tahu kenapa hadiah ini murah?”

Stella menangis sambil memegang pena itu.

Aku tersenyum tipis.

“Karena cinta yang tulus tidak pernah membutuhkan harga mahal.”

Aku berjalan melewatinya menuju jendela besar kota Jakarta.

Dan tanpa menoleh lagi, aku berkata pelan:

“Tetapi kalian terlalu sibuk menghitung uang… sampai tidak bisa melihat hati seseorang.”

Malam itu Stella pergi sambil menangis.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku merasa benar-benar bebas.

Tiga bulan setelah malam itu…

nama keluarga Imperial benar-benar tenggelam.

Hotel-hotel mereka dijual satu per satu.
Para sahabat kaya yang dulu selalu datang ke pesta mereka menghilang tanpa jejak.
Dan orang-orang yang dulu tertawa saat aku dipermalukan…
sekarang pura-pura tidak mengenal mereka.

Tetapi anehnya…

aku tidak merasa puas.

Balas dendam ternyata tidak sehangat yang dibayangkan orang.

Suatu malam, aku kembali ke mansion lama keluarga Imperial untuk terakhir kalinya.

Rumah itu jauh lebih sunyi sekarang.

Tidak ada musik.
Tidak ada pesta.
Tidak ada tawa sombong.

Hanya suara angin malam dan lampu taman yang sebagian sudah mati.

Saat aku berjalan melewati taman belakang…

aku berhenti.

Di tempat yang sama.

Tempat aku dulu duduk di tengah hujan bersama anjing-anjing mereka.

Rumputnya masih sama.

Dan untuk sesaat…

aku bisa melihat bayangan diriku yang dulu:
basah kuyup,
lapar,
dipermalukan,
tetapi tetap diam menahan sakit.

Aku menutup mata pelan.

Lalu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.

“Gabriel…”

Aku menoleh.

Stella berdiri di sana.

Tetapi dia bukan Stella yang dulu.

Tidak ada gaun mahal.
Tidak ada berlian.
Tidak ada wajah arogan.

Ia terlihat kurus.
Matanya sembab.
Dan untuk pertama kalinya…

ia terlihat seperti manusia biasa.

“Aku dengar mansion ini akan dijual,” katanya lirih.

Aku mengangguk.

“Besok.”

Ia tersenyum kecil sambil menunduk.

“Lucu ya… dulu aku pikir rumah sebesar ini membuat kita lebih tinggi dari orang lain.”

Aku diam.

Lalu Stella perlahan duduk di bangku taman yang basah.

“Aku sering mimpi tentang malam itu,” katanya sambil menahan tangis. “Malam waktu aku mendorongmu keluar.”

Dadaku terasa berat.

“Setiap kali hujan turun…” suaranya mulai pecah, “aku selalu ingat kamu duduk di luar sendirian.”

Aku menatap langit gelap lama sekali.

Kemudian aku bertanya pelan:

“Kenapa kamu tidak menghentikan mereka waktu itu?”

Stella menangis.

Karena ternyata…

ia juga tidak punya jawabannya.

“Aku dibesarkan untuk percaya kalau uang adalah segalanya,” bisiknya. “Aku pikir orang miskin memang pantas diperlakukan rendah.”

Ia menatapku dengan mata penuh penyesalan.

“Sampai aku kehilangan semuanya… dan sadar orang paling miskin malam itu sebenarnya adalah aku.”

Air mata jatuh di pipinya.

Tetapi kali ini…

aku tidak marah lagi.

Karena kebencian yang terlalu lama disimpan hanya akan membuat luka terus hidup.

Aku duduk di sampingnya.

Hening cukup lama.

Lalu aku mengeluarkan sesuatu dari saku jas.

Pena kayu itu.

Hadiah yang dulu diinjak ayahnya.

Aku menaruhnya di atas bangku.

“Ayahmu pernah bilang benda ini tidak berharga,” kataku pelan.

Stella menggigit bibirnya menahan tangis.

“Tapi tahukah kamu…”

Aku melihat ukiran kecil di pena itu.

Di sana tertulis satu kalimat:

“Kehormatan manusia tidak ditentukan oleh harga yang ia bawa.”

Stella langsung menangis semakin keras.

Karena akhirnya…

ia mengerti.

Yang membuat seseorang terlihat mulia bukan uangnya.
Bukan mobilnya.
Bukan nama keluarganya.

Tetapi cara dia memperlakukan orang yang tidak punya apa-apa.

Aku berdiri perlahan.

“Selamat tinggal, Stella.”

Ia langsung memegang lenganku.

“Gabriel… apakah kamu pernah benar-benar mencintaiku?”

Aku tersenyum kecil.

Lalu menjawab jujur:

“Dengan seluruh hatiku.”

Tangis Stella pecah.

“Kalau begitu… kenapa rasanya lebih sakit sekarang?”

Aku menatap mansion besar di depan kami.

Rumah mewah yang dulu terasa seperti penjara.

Kemudian aku berkata pelan:

“Karena baru sekarang kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang mencintaimu dengan tulus.”

Aku melepaskan tangannya perlahan.

Lalu berjalan pergi meninggalkan mansion itu untuk terakhir kali.

Di belakangku…

aku mendengar Stella menangis sendirian di tengah suara hujan malam.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku tidak lagi merasa miskin.

Karena orang yang paling kaya di dunia bukan yang punya segalanya—

melainkan yang masih mampu menjaga harga dirinya…
bahkan saat seluruh dunia mencoba menginjaknya.