Tanpa sengaja aku scroll TikTok dan melihat sebuah postingan viral dari akuntan perusahaan kami yang menjadi awal dari kekacauan besar.

Tanpa sengaja aku scroll TikTok dan melihat sebuah postingan viral dari akuntan perusahaan kami yang menjadi awal dari kekacauan besar.

【Sales sialan itu, cuma mau nyelipin struk tas LV baruku ke laporan reimburse-nya saja kok nggak mau!】

【Nggak mau bantuin reimburse-ku? Oke! Biar kalian semua sengsara, nggak ada yang dapat transferan! Sekarang kalian bakal tahu apa akibatnya kalau melawan seorang akuntan!】

Di kolom komentar, dia dihujat habis-habisan. Tapi dia sama sekali tidak peduli. Nada tulisannya malah makin sombong:

【Takut? Kenapa harus takut? Akuntan itu lifeblood perusahaan!】

【Mana mungkin bos bela sales receh yang gampang diganti dibanding “aset berharga” seperti aku?】

Aku menatap lama foto profil yang sangat familiar itu. Tanpa sadar aku tersenyum tipis.

Kamu mau tahan reimburse-ku?

Baik.

Sekarang kita lihat siapa yang lebih menderita.

Kita lihat arti sebenarnya “menghambat” seorang akuntan.


1

Sudah dua minggu sejak aku menyerahkan semua struk pengeluaran, tapi sampai sekarang belum ada satu rupiah pun yang masuk ke rekeningku.

Saldo bankku hampir habis. Terpaksa aku bangkit dan pergi ke departemen accounting di kantor pusat kami di Jakarta Selatan.

“Ms. Alice, kenapa reimburse saya belum cair?”

“Uang pribadi saya sudah habis buat meeting klien dan biaya representasi. Kalau hari ini belum masuk, saya nggak bisa jalan kerja lagi.”

Alice Mercado, dengan wajah jelas-jelas sedang bad mood, langsung mengambil setumpuk struk dari lacinya dan membantingnya ke meja.

“Bagus kamu datang! Dari tadi saya cari kamu!”

“Coba lihat ini! Kamu isi form liquidation begini maksudnya apa?”

Aku mengernyit.

“Memangnya kenapa? Format saya dari dulu juga begini dan nggak pernah masalah.”

Dia memutar bola matanya, kukunya yang panjang menunjuk-nunjuk dokumen.

“Dulu itu dulu! Dulu saya toleransi supaya kamu nggak malu! Sekarang nggak ada lagi!”

Aku menarik napas panjang.

“Baik, lalu yang benar bagaimana? Saya perbaiki sekarang juga.”

“Harus pakai pulpen gel hitam, tip 0.5 saja! Tulisan harus formal, bukan seperti cakar ayam atau cursive nggak jelas!”

“Lem jangan sampai melewati garis! Kalau kertasnya rusak, siapa tanggung jawab?”

“Dan jangan ada lipatan! Saya mau semua terlihat seperti baru!”

Menahan emosi, aku kembali ke mejaku dan mengikuti semua “ritual” yang dia minta. Setelah selesai, aku kembali menyerahkan dokumen.

Alice memeriksa struk itu di bawah lampu seperti sedang eksperimen laboratorium.

Tiba-tiba dia melempar semua struk itu ke wajahku.

“Ditolak!”

Tidak sakit secara fisik, tapi harga diriku terasa diinjak-injak.

“Apa lagi yang salah sekarang?”

Dia menunjuk sudut kecil struk.

“Ini! Kamu robek sedikit waktu buka staples. Gini mau diproses?”

“Begini saja! Kamu kembali ke semua mall dan restoran tempat kamu transaksi—di SCBD, Kelapa Gading, sampai Bandara Soetta—minta certified true copy, baru balik ke saya!”

Aku terpaku melihat sobekan kecil yang hampir tak terlihat.

Struk-struk itu kukumpulkan selama setengah bulan dari berbagai lokasi di Jakarta.

Selain kecil kemungkinan mereka mau cetak ulang, macetnya Jakarta saja sudah bikin menyerah.

“Itu mustahil! Informasinya masih jelas, kenapa nggak bisa diproses?”

Alice tersenyum sinis.

“Saya cuma ikuti kebijakan keuangan perusahaan. Mau lapor ke siapa pun, saya nggak salah.”

“Kalau mau dibayar, perbaiki. Kalau nggak, keluar dari depan saya.”

Darahku mendidih.

“Baik. Kita lihat saja.”

“Saya akan ke Pak Budi sekarang juga dan tanya apakah memang nggak bisa dibayar.”

Dia malah tertawa.

“Silakan! Sales seperti kamu harusnya sudah lama dipecat!”

“Kita lihat bos bela kamu atau bela ‘urat nadi’ perusahaan!”


2

Aku langsung menuju kantor Pak Budi, direktur kami.

Belum sempat masuk, aku sudah mendengar tangisan Alice dari dalam.

“Astaga…” gumamku.

Begitu aku masuk, Pak Budi langsung berkata dengan nada kesal:

“Ada apa lagi ini? Kalian nggak bisa bicara baik-baik?”

Alice dengan mata merah pura-pura menangis.

“Pak Budi… Bapak bilang bulan lalu kita harus ketat soal expense…”

“Saya cuma jalankan aturan…”

Aku menyerahkan semua struk ke meja.

“Pak, saya sudah ikuti semua yang dia minta. Tapi cuma karena sobekan kecil, dia suruh saya keliling Jakarta minta cetak ulang.”

Belum selesai aku bicara, Pak Budi membentak.

“Cukup!”

“Mante, perusahaan mana yang terima struk robek? Minta duplikat kan gampang?”

“Jangan-jangan kamu pakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadi?”

Rasanya seperti disiram air es.

Sales memang bebas, tapi selalu dicurigai.

Pak Budi menoleh pada Alice dengan senyum bangga.

“Bagus, Alice! Accounting memang harus tegas!”

“Mulai sekarang kamu punya full authority. Semua reimburse yang nggak sesuai standar, tolak!”

“Di monthly assembly nanti, kamu jadi Employee of the Month.”

Mata Alice berbinar.

Aku berdiri terpaku.

Saat keluar, Alice mendekat dengan senyum meremehkan.

“Gimana? Puas?”

“Kita lihat sekarang kamu bisa sok hebat lagi atau nggak.”


3

Aku kembali ke mejaku dengan mata sembab.

Tiba-tiba notifikasi TikTok muncul.

Judulnya membuatku berhenti scrolling.

【Sales sialan itu, cuma mau nyelipin struk tas LV baruku ke laporan reimburse-nya saja kok nggak mau!】

Foto profilnya jelas—Alice Mercado.

Baru saat itu semuanya masuk akal.

Jadi selama ini bukan soal aturan.

Tapi karena bulan lalu aku menolak menyelipkan struk pribadi tas Louis Vuitton senilai Rp 48.000.000 miliknya ke laporan reimburse perusahaan.

Di kolom komentar, netizen marah besar.

Tapi dia malah makin angkuh:

【Sales itu disposable!】

【Accounting itu arteri utama perusahaan!】

【Kalian pikir bos bakal bela sales miskin yang saldo rekeningnya sudah Rp 0?】

Aku tertawa kecil.

Kalau accounting adalah arteri…

Lalu apa jadinya kalau “jantung” berhenti memompa?

Baiklah.

Aku berhenti semua field work.

Tidak ada meeting klien.

Tidak ada closing deal.

Setiap hari aku hanya datang, duduk, dan membuka internet.

Akhir bulan pun tiba.

Tiba-tiba sistem Internal Management System (IMS) mengirim notifikasi dari Accounting.

Karena sudah end of month, Accounting membutuhkan semua kontrak penjualan dan invoice dari departemen sales untuk proses monthly closing dan financial reporting.

Aku melihat layar komputerku.

Semua kontrak terbesar bulan ini—

Kontrak Rp 3,2 miliar dengan klien manufaktur di Bekasi.

Kontrak Rp 1,8 miliar proyek distribusi di Surabaya.

Invoice Rp 950 juta dari klien retail nasional.

Semuanya masih ada di laptopku.

Belum ku-submit.

Aku tersenyum pelan.

Sekarang…

Kita lihat siapa sebenarnya yang “lifeblood” perusahaan.

Aku menatap layar laptopku cukup lama.

Semua kontrak itu tinggal satu klik untuk di-upload ke sistem.

Tapi jariku berhenti di atas touchpad.

Notifikasi dari Accounting terus berdatangan.

URGENT – Sales belum submit dokumen closing.
Reminder ke-2.
Reminder ke-3.

Lima menit kemudian, telepon kantor berdering.

“Apa ini maksudnya, Mante? Kenapa kontrak belum masuk?” suara Pak Budi terdengar tegang.

Aku menjawab dengan tenang.

“Maaf, Pak. Saya sedang memastikan semua dokumen sesuai standar Accounting.”

“Habis itu, saya takut ada lipatan. Atau mungkin tulisan saya kurang formal.”

Hening.

Di ujung sana, napasnya terdengar berat.

“Jangan bercanda di situasi seperti ini!”

“Saya tidak bercanda, Pak,” jawabku pelan.
“Bukankah aturan harus ditegakkan tanpa toleransi?”

Sepuluh menit kemudian, suasana kantor berubah.

Alice yang tadi siang masih tersenyum sinis, kini wajahnya pucat. Departemen accounting panik.

Tanpa kontrak dan invoice dari sales, mereka tidak bisa tutup buku.

Tanpa laporan keuangan, tidak ada presentasi ke investor.

Tanpa laporan, bonus manajemen bisa tertunda.

Jam menunjukkan pukul 5 sore.

Biasanya pada akhir bulan, kantor penuh semangat closing.

Hari itu, hanya ada kegelisahan.

Pak Budi akhirnya keluar dari ruangannya dan langsung menuju mejaku.

“Apa yang kamu mau?” tanyanya singkat.

Aku berdiri.

“Saya hanya mau keadilan, Pak.”

Aku membuka TikTok di depan beliau dan memutar video Alice.

Suara sombong itu memenuhi ruang kerja.

【Sales itu disposable.】

【Kita lihat siapa yang lebih butuh siapa.】

Wajah Pak Budi mengeras.

Alice yang berdiri tak jauh dari sana mulai gemetar.

“Pak… itu cuma bercanda…” suaranya nyaris tak terdengar.

Aku menatapnya.

“Bercanda?” aku tersenyum tipis.
“Kalau saya yang menyelipkan struk pribadi Rp 48 juta ke laporan perusahaan, apakah itu juga dianggap bercanda?”

Ruangan menjadi sunyi.

Untuk pertama kalinya, Alice tidak punya kata-kata.

Pak Budi menoleh padanya dengan tatapan berbeda—bukan lagi bangga, tapi kecewa.

“Alice, mulai sekarang kamu nonaktif sementara sampai audit internal selesai.”

Wajahnya langsung pucat pasi.

“T-tapi Pak—”

“Cukup.”

Beliau kemudian menatapku.

“Mante, saya salah menilai.”

Aku tidak merasa menang.

Tidak ada rasa puas.

Hanya rasa lega.

Aku mengangguk pelan.

“Pak, saya tidak pernah menolak aturan. Saya hanya menolak ketidakadilan.”

Aku membuka laptopku.

Satu klik.

Semua kontrak dan invoice langsung ter-upload ke sistem.

Dalam hitungan menit, departemen accounting kembali bernapas.

Closing berjalan.

Laporan selesai.

Perusahaan selamat.

Seminggu kemudian, hasil audit keluar.

Alice terbukti mencoba memasukkan pengeluaran pribadi ke reimbursement perusahaan dan menyalahgunakan wewenang.

Dia resmi diberhentikan.

Pada monthly assembly, bukan Alice yang dipanggil ke depan panggung.

Pak Budi berdiri di podium dan berkata:

“Hari ini saya belajar satu hal. Perusahaan bukan hanya tentang aturan, tapi tentang integritas.”

Namaku disebut.

Aku melangkah ke depan.

Bukan sebagai pemenang.

Bukan sebagai orang yang membalas dendam.

Tapi sebagai seseorang yang memilih untuk tidak tunduk pada kesewenang-wenangan.

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Dan saat itu aku sadar—

Accounting mungkin adalah arteri.

Tapi tanpa jantung yang memompa—

Tidak ada darah yang mengalir.

Dan seorang sales sejati…

adalah detak yang membuat perusahaan tetap hidup.