Tiga bulan sebelum ujian masuk universitas, dari posisi peringkat 1 seluruh angkatan, aku tiba-tiba jatuh ke luar top 100.

Semua orang bilang itu karena tekanan berlebihan.

Hanya ibu tiriku, Tante Corazon, yang setiap malam datang membawa segelas susu dingin dan dua vitamin.

Sambil tersenyum dia berkata:

“Tidak apa-apa, Tala. Kalau ujianmu tidak bagus juga tidak masalah, ada Mama dan Papa di sini…”


Malam Sebelum Ujian

Pukul dua pagi, aku masih belajar di kamar.

Otakku terasa seperti penuh lem.

Bahkan puisi yang sudah kuhafal ratusan kali, kini tidak lagi bisa kuingat.

Aku berkata pada smart speaker:

“Hey Google, putar white noise…”

Tapi yang keluar bukan white noise.


Suara ayahku.

“Tambahkan setengah tablet lagi, cukup. Jangan berlebihan. Setelah ujian, hentikan obatnya… nanti kita bisa membunuhnya tanpa sadar.”

Lalu suara Tante Corazon:

“Tenang saja. Aku sudah atur dosisnya. Sekarang dia bahkan tidak bisa mengingat buku pelajarannya. Mustahil dia lulus ujian masuk universitas. Angel akan naik peringkat… hanya dia yang lolos.”

Ayahku terdiam.

“Bagaimana dengan Tala nanti?”

“Katakan saja dia gagal. Siapa yang akan disalahkan selain dirinya sendiri?”


Aku duduk diam.

Di atas meja: botol obat dan segelas susu.

Di dalam botol itu ada dua jenis pil.

Putih—vitamin.

Dan kuning pucat—yang sudah tiga bulan ini aku minum.

Clonazepam.


01

Aku menghubungi hotline apoteker.

“Ma’am, itu kemungkinan Clonazepam… obat penenang. Efeknya bisa menyebabkan gangguan memori dan penurunan fokus…”


Gangguan memori.

Tiga bulan lalu aku bisa menghafal satu bab penuh buku sejarah.

Sekarang satu kalimat saja sulit.


Jadi… ini bukan tekanan.

Ini direncanakan.


Aku mengecek ulang rekaman smart speaker.

Dan semuanya benar.

Mereka sengaja membuatku gagal.

Untuk satu hal:

Warisan rumah besar di Forbes Park.


Aku membuang susu itu ke wastafel.

Ada residu putih di dasar gelas.


Pagi Hari Ujian

Tante Corazon datang lagi dengan susu hangat.

“Minumlah, Tala. Ini pakai madu…”

Aku hanya menahan di mulut, lalu diam-diam membuangnya.

“Terima kasih, Tante…”


Angel masuk dengan senyum cerah.

“Ayo semangat, Kak Tala!”


02 – Hari Ujian

Di ruang ujian, semuanya terasa kabur.

Aku dulu top 1.

Sekarang aku bahkan sulit mengingat satu baris puisi.


“Yang tidak mencintai bahasanya sendiri…”

Aku berhenti.

Kosong.


Baru dua menit kemudian aku ingat:

“…adalah lebih buruk dari binatang.”


Tanganku gemetar.

Bukan karena gugup.

Tapi karena marah.


Setiap kegagalanku selama tiga bulan ini… ternyata bukan kelemahan.

Tapi hasil racikan mereka.


Setelah ujian pertama, Angel menghampiri.

“Apa kamu lupa jawabannya, Kak?”

Aku diam.

Dia tersenyum… tapi matanya tidak.

Seperti sedang memastikan sesuatu berhasil.


Di ujian matematika, aku butuh 25 menit untuk soal yang biasanya selesai 10 menit.

Angel bilang dia juga tidak bisa.

Tapi aku melihat kertas jawabannya.

Lengkap.

Rapi.


Dia berbohong.


Akhir Hari

Di luar sekolah, mobil ayah sudah menunggu.

“Masuk, Tala!”

Aku duduk di kursi depan.

Mesin menyala.


“Gimana ujian hari ini?”

Aku menatap jendela.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menjawab dengan takut.


Karena aku sudah tahu sesuatu:

Mereka tidak hanya ingin aku gagal ujian.

Mereka ingin menghapus masa depanku.


Dan aku perlahan berkata:

“Papa…”

“Aku sudah ingat semuanya.”

Mobil melaju pelan di jalanan kota, tapi di dalam mobil itu… udara terasa seperti berhenti.

Ayah tidak langsung menjawab.

Jarinya yang memegang kemudi sedikit mengencang. Dari kaca spion, aku bisa melihat matanya—bukan lagi mata seorang ayah yang biasa bertanya tentang nilai ujian, tapi mata seseorang yang baru sadar bahwa sesuatu yang seharusnya terkubur… sudah tidak lagi bisa disembunyikan.

“Ingatan apa maksudmu, Tala?” suaranya akhirnya keluar, lebih pelan dari biasanya.

Aku tidak langsung menjawab.

Aku hanya menatap jalan di depan.

Tiga bulan terakhir.

Susu itu.

Pil kuning pucat itu.

Dan suara mereka di rekaman yang terus berputar di kepalaku seperti luka yang tidak mau berhenti berdarah.


“Aku ingat semuanya,” ulangku pelan.

“Obatnya. Pembicaraan kalian. Rencana tentang rumah Forbes Park.”

Nama itu membuat mobil sedikit berguncang—bukan secara fisik, tapi secara suasana.


Dari kursi belakang, suara Tante Corazon masuk melalui telepon yang belum dimatikan.

“Tala… kamu jangan bicara sembarangan ya…”

Suaranya masih lembut.

Terlalu lembut.

Seperti dulu, saat dia menuangkan susu itu ke gelas setiap malam.


Aku tersenyum kecil.

Tapi kali ini tidak ada rasa percaya di dalamnya.

“Lucu ya, Tante…”

“Selama ini kalian pikir aku gagal karena bodoh.”

Aku menoleh sedikit ke arah kaca spion.

“Ternyata aku gagal karena kalian menginginkannya.”


Ayah akhirnya menepikan mobil.

Remnya terdengar tajam.

Di jalan itu, tidak ada kendaraan lain.

Hanya kami bertiga… dan kebenaran yang akhirnya tidak muat lagi disembunyikan.


“Tala…” suara ayah berubah, kali ini lebih berat. “Kita bisa jelaskan semuanya…”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena ironi.


“Menjelaskan apa?”

“Bahwa kalian hampir menghapus masa depanku demi sebuah rumah?”

Aku membuka tas sekolahku.

Di dalamnya, bukan hanya buku.

Tapi juga flashdisk kecil.


“Aku sudah simpan semuanya.”

Rekaman.

Obat.

Percakapan.

Bukti.


Wajah Tante Corazon di telepon langsung terdiam.

Ayah tidak menoleh.

Tapi aku tahu… tangannya gemetar.


Aku menutup tas itu pelan.

“Ujian mungkin sudah hampir selesai.”

“Tapi ini… baru dimulai.”


Aku membuka pintu mobil.

Angin pagi menyentuh wajahku untuk pertama kalinya tanpa rasa kabur.

Tanpa efek obat.

Tanpa suara yang mengaburkan pikiranku.


Di belakang, suara ayah terdengar pelan sekali:

“Tala… kamu mau ke mana?”

Aku berhenti sejenak.

Lalu menjawab tanpa menoleh:

“Ke tempat di mana aku tidak lagi dijadikan alat untuk masa depan orang lain.”


Aku melangkah pergi.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan…

langkahku benar-benar milikku sendiri.