Tiga hari setelah pulang dari perjalanan bisnis ke Surabaya, aku langsung menyadari ada yang aneh.

Tangki bensin Mercedes milikku yang kutinggalkan di garasi rumah berkurang hampir setengah.

Awalnya aku berniat menelepon Ardi untuk menanyakan apa yang terjadi.

Namun sebelum sempat melakukannya, aku melihat sebuah unggahan di media sosial.

Yang mengunggah adalah Rizky Santoso, calon adik iparku.

Di foto itu, dia sedang mengemudikan Mercedes milikku sambil membawa pacarnya berjalan-jalan di Tol Jakarta–Cikampek.

Caption-nya berbunyi:

“Mobil lebih dari Rp1,2 miliar ternyata rasanya biasa saja.”

Ardi menyukai unggahan itu.

Kedua orang tuanya juga menyukai unggahan itu.

Aku menatap layar selama beberapa detik.

Lalu aku ikut menekan tombol suka.

Dan meninggalkan komentar.

“Coba lakukan sekali lagi. Aku benar-benar akan melaporkannya ke polisi.”

Kurang dari sepuluh menit kemudian, teleponku berdering.

Nama yang muncul di layar:

Bu Ratna Santoso.

Begitu kuangkat, suara marah langsung terdengar dari seberang sana.

“Nadia, apa maksud komentar itu?”

“Kamu tahu tidak gara-gara komentarmu itu Rizky bertengkar hebat dengan pacarnya?”

“Pacarnya bilang keluarga kami mencuri mobil hanya untuk pamer dan jalan-jalan. Memalukan sekali!”

Aku menggenggam ponsel erat-erat.

Nada suaraku tetap tenang.

“Bu Ratna, mobil itu saya beli dengan uang saya sendiri.”

“Rizky tidak pernah meminta izin.”

“Dia mengambil mobil saya tanpa sepengetahuan saya.”

Beberapa detik hening.

Namun bukannya tenang, Bu Ratna justru semakin marah.

“Mengambil tanpa izin apa?”

“Kenapa cara bicaramu begitu kasar?”

“Dia calon adik iparmu.”

“Dia hanya meminjam mobil yang sedang terparkir di garasi untuk mengajak pacarnya jalan-jalan.”

“Lagipula mobilnya sudah dikembalikan, kan?”

Aku menjawab singkat.

“Itu bukan meminjam.”

“Itu menggunakan barang orang lain tanpa izin.”

Bu Ratna langsung meninggikan suara.

“Dan karena hal kecil seperti itu kamu mengancam akan memanggil polisi?”

“Kamu sedang menakut-nakuti siapa?”

“Aku hanya mengatakan fakta.”

kataku dingin.

“Kalau terjadi lagi, saya benar-benar akan melapor.”

“Kamu ini!”

Napas Bu Ratna terdengar memburu.

Kemudian kalimat berikutnya keluar dari mulutnya.

Kalimat yang membuat seluruh sisa rasa hormatku menghilang.

“Nadia, dengarkan baik-baik.”

“Kamu sudah tidak punya ayah dan ibu.”

“Sebentar lagi kamu menikah dengan keluarga Santoso.”

“Harta milikmu juga harta keluarga Santoso.”

“Kita sudah akan menjadi keluarga, tapi kamu masih pelit seperti ini.”

“Nanti Ardi berpikir apa tentangmu?”

“Bagaimana kami bisa menerimamu sebagai keluarga?”

Aku terdiam.

Lalu perlahan menjawab.

“Bu Ratna.”

Nada suaraku menjadi dingin.

“Bahkan kalau saya sudah menikah dengan Ardi pun, barang pribadi saya tetap milik saya.”

“Selama saya tidak mengizinkan, tidak ada siapa pun yang berhak menggunakannya.”

“Itu prinsip saya.”

“Apa-apaan prinsip seperti itu?!”

teriaknya.

Namun aku sudah tidak tertarik mendengarkan lagi.

Aku langsung menutup telepon.

Ruang tamu kembali sunyi.

Aku duduk di sofa dan memandangi bunga-bunga yang mulai layu di atas meja.

Bunga itu kubeli sebelum berangkat dinas minggu lalu.

Aku berencana menggantinya setelah pulang.

Tetapi sekarang, entah kenapa, semua yang kulihat terasa mengganggu.

Tepat pukul dua belas siang.

Pintu rumah terbuka.

Ardi pulang.

Ia mengganti sepatu dan berjalan masuk ke ruang tamu.

Wajahnya tampak muram.

Aku sudah mengenalnya cukup lama untuk tahu bahwa ia sedang tidak senang.

“Nadia.”

katanya akhirnya.

“Komentarmu kepada Ibu tadi…”

Ia menarik napas panjang.

“Bukankah itu keterlaluan?”

Aku menatapnya.

“Bagian mana yang keterlaluan?”

“Kamu mengancam akan memanggil polisi.”

katanya.

“Itu adikku.”

“Dia bukan pencuri.”

Aku tersenyum tipis.

“Adikmu memakai mobilku tanpa izin.”

“Ketika aku bertanya kepadamu, kamu bilang tidak tahu apa-apa.”

“Kalau aku tidak melihat unggahannya sendiri, sampai sekarang aku bahkan tidak tahu siapa yang mengendarainya.”

Ardi terdiam.

Beberapa saat kemudian ia menghela napas.

“Aku tahu Rizky salah.”

“Tapi cara kamu menangani masalah ini juga salah.”

“Pacarnya malu.”

“Mereka hampir putus gara-gara komentar itu.”

“Ibu juga hanya menegurmu sedikit.”

“Kita akan menjadi keluarga.”

“Tidak perlu sekaku ini.”

Ia mencoba meraih tanganku.

Namun aku tidak bergerak.

Lalu aku bertanya pelan.

“Jadi menurutmu, memakai mobilku tanpa izin bukan masalah besar.”

“Tapi aku yang mengatakan kebenaran justru menjadi pihak yang salah?”

Wajah Ardi berubah.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku mulai menyadari sesuatu.

Masalah sebenarnya bukanlah mobil.

Bukan bensin.

Bukan bahkan Rizky.

Masalahnya adalah…

Di mata keluarga Santoso, semua yang kumiliki sudah dianggap milik mereka.

Dan yang paling menyakitkan bukanlah mereka yang berpikir seperti itu.

Melainkan Ardi.

Karena sejak awal, dia tidak pernah benar-benar menentangnya.

Malam itu, aku tidak menangis.

Aku juga tidak menelepon Ardi.

Aku duduk sendirian di ruang kerja sampai hampir pukul dua dini hari, menonton ulang rekaman CCTV yang sama berulang kali.

Semakin banyak aku melihatnya, semakin jelas satu hal.

Yang menyakitkan bukanlah mobil yang dipakai tanpa izin.

Bukan parfum yang digunakan.

Bukan jam tangan atau pakaian yang disentuh orang lain.

Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa selama ini aku mengira Ardi mencintaiku karena diriku.

Padahal di mata keluarganya, aku hanyalah seseorang yang membawa rumah, mobil, dan masa depan yang nyaman.

Dan yang lebih menyakitkan lagi…

Ardi tidak pernah benar-benar membantah mereka.

Keesokan paginya aku bertemu Ethan.

Sebagai pengacara sekaligus sahabat terbaikku sejak kuliah, dia mendengarkan semuanya tanpa menyela.

Setelah selesai menonton rekaman CCTV, dia hanya bertanya satu hal.

“Nadia, kamu masih ingin menikah dengannya?”

Aku terdiam cukup lama.

Lalu menjawab pelan.

“Aku mencintainya.”

Ethan mengangguk.

“Lalu?”

Aku memejamkan mata.

“Aku tidak yakin dia mencintaiku dengan cara yang sama.”

Ruangan menjadi sunyi.

Beberapa menit kemudian aku mengeluarkan cincin pertunanganku dan meletakkannya di atas meja.

Untuk pertama kalinya sejak bertunangan, aku merasa lega.

Tiga hari kemudian, keluarga Santoso datang lagi.

Kali ini mereka datang dengan wajah penuh keyakinan.

Mereka mengira aku akan meminta maaf.

Mereka mengira aku akan mengalah seperti biasanya.

Begitu duduk di ruang tamu, Bu Ratna langsung membuka pembicaraan.

“Nadia, kita semua keluarga. Tidak perlu memperbesar masalah kecil.”

Aku tersenyum.

Lalu meletakkan sebuah flashdisk di atas meja.

“Benar, Bu.”

“Tapi sebelum bicara soal keluarga, mari kita lihat sesuatu dulu.”

Aku menyalakan televisi.

Rekaman CCTV mulai diputar.

Tidak ada yang berbicara.

Wajah Pak Hendra berubah pucat saat terdengar suaranya sendiri membagi-bagikan kamar di rumahku.

Wajah Bu Ratna membeku saat dirinya terlihat mencoba mantel dan menggunakan skincare milikku.

Rizky menunduk ketika video dirinya memakai jam tangan dan mengendarai mobilku muncul di layar.

Dan yang paling sunyi adalah Ardi.

Karena seluruh ruangan melihat satu hal yang sama.

Dia tahu semuanya.

Dia melihat semuanya.

Dan dia memilih diam.

Setelah video berakhir, tidak ada seorang pun yang berbicara selama hampir satu menit.

Akhirnya aku mengeluarkan sebuah amplop putih.

Lalu meletakkannya di depan Ardi.

“Apa itu?”

tanyanya pelan.

Aku tersenyum tipis.

“Hadiah pertunanganmu.”

Tangannya gemetar ketika membuka amplop itu.

Di dalamnya hanya ada dua lembar kertas.

Yang pertama adalah salinan rekaman CCTV.

Yang kedua adalah surat pembatalan pertunangan.

Bu Ratna langsung berdiri.

“Nadia! Kamu gila?!”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Tidak, Bu.”

“Saya baru saja sadar.”

“Saya tidak kehilangan keluarga ketika orang tua saya meninggal.”

“Saya hanya belum menemukan keluarga yang tepat.”

Wajah Ardi memucat.

“Nadia…”

Untuk pertama kalinya, aku melihat air mata di matanya.

“Aku bisa berubah.”

“Aku bisa memperbaiki semuanya.”

Aku menatap pria yang pernah menjadi orang paling penting dalam hidupku.

Lalu tersenyum.

Bukan senyum marah.

Bukan senyum dendam.

Melainkan senyum seseorang yang akhirnya bebas.

“Ardi.”

“Aku percaya kamu bisa berubah.”

“Tapi perubahan itu tidak lagi untukku.”

Aku mengambil cincin pertunangan dari tanganku.

Meletakkannya di atas meja.

Kemudian berdiri.

“Mohon keluar dari rumah saya.”

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada drama.

Satu per satu mereka pergi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, villa besar itu terasa benar-benar milikku.

Malamnya aku mengganti bunga-bunga yang layu dengan bunga baru.

Aku membuka semua jendela.

Membiarkan udara malam Jakarta masuk ke dalam rumah.

Sambil memandangi lampu-lampu kota dari balkon, aku menerima sebuah pesan dari Ethan.

“Hari ini berat?”

Aku tersenyum.

Lalu membalas.

“Sedikit.”

“Tapi untuk pertama kalinya, masa depanku kembali menjadi milikku.”

Di luar sana, lampu-lampu kota terus menyala.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Aku tidak lagi takut berjalan sendirian menuju masa depan.