Pada hari kami bertemu untuk pertama kalinya, aku berdandan habis-habisan dan mengenakan gaun termahal yang kupunya. Aku ingin memberinya kejutan.
Tapi kalimat pertama yang keluar dari mulutnya saat melihatku adalah:
“Kamu operasi plastik ya? Sekarang malah lebih cantik daripada yang dulu.”
Aku langsung membeku.
Di belakangnya, tiga truk militer berhenti di pinggir jalan. Puluhan tentara melompat turun dan berbaris rapi.
“Selamat pagi, Nona!” seru mereka sambil memberi hormat.
1
Namaku Tala Prasetya, dua puluh empat tahun, pemilik sebuah warung mie ayam kecil di Kota Bandung.
Warungku tidak besar, hanya sekitar sepuluh meja. Tapi karena lokasinya dekat kampus, penghasilannya cukup stabil.
Tiga tahun lalu, aku bertemu seseorang di forum para penggemar memancing. Nama akunnya adalah “PetaniGunung”.
Awalnya kami hanya membahas ikan, umpan, dan spot memancing.
Lama-kelamaan pembicaraan kami berubah menjadi tentang masakan, pekerjaan, kehidupan, dan mimpi masing-masing.
Dia bilang bekerja di daerah pegunungan yang sinyalnya buruk dan sering kehilangan kontak selama berhari-hari.
Aku mengira dia penjaga hutan atau guru di daerah terpencil.
Suatu hari dia bertanya seperti apa wajahku.
Saat itu aku sedang sibuk di warung.
Kebetulan Bu Nani, tetanggaku yang berjualan lauk matang, lewat sambil membawa baskom besar berisi kepala ayam.
Tanpa berpikir panjang, aku memotretnya dari belakang lalu mengirim foto itu.
Bu Nani pendek, gemuk, mengenakan daster bunga-bunga, dan rambutnya masih dipasangi rol.
Balasannya hanya dua kata:
“Cantik sekali.”
Aku hampir menjatuhkan ponselku.
Beberapa hari kemudian dia meminta foto wajahku.
Dengan nekat, aku memotret Bu Nani saat sedang memotong daging.
Dagu berlapis dua.
Mata sipit.
Pipi terkena cipratan saus.
Aku yakin tidak ada pria normal yang akan tertarik.
Namun balasannya membuatku makin bingung.
“Semakin kulihat, semakin cantik.”
Saat itu aku benar-benar berpikir dia mungkin buta.
Atau mungkin seorang santo.
Tapi aku juga merasa aman.
Setidaknya dia tidak tahu wajah asliku.
Ini hanya hubungan online.
Selama menyenangkan, itu sudah cukup.
Selama tiga tahun berikutnya kami hampir berbicara setiap hari.
Meski begitu, dia sering menghilang.
Kadang beberapa hari.
Kadang sampai berbulan-bulan.
Setiap kali kembali, alasannya selalu sama.
“Sinyal di gunung hilang lagi.”
Dan aku selalu mempercayainya.
Pernah dia menawarkan mengirim uang, tapi aku menolak.
Sebagai gantinya dia mengirim madu hutan murni dan daging asap khas pegunungan.
Rasanya luar biasa.
Aku sampai mengira dia distributor makanan.
Aku juga sering mengirim bumbu rahasia mie ayam buatanku.
Dia bilang rasanya jauh lebih enak daripada makanan di “mess hall”.
“Mess hall?” tanyaku.
“Oh, ruang makan bersama di desa. Mirip tempat makan tentara,” jawabnya.
Dan lagi-lagi aku percaya.
Sampai bulan lalu.
Tiba-tiba dia berkata:
“Aku dapat cuti dua puluh hari. Aku ingin bertemu denganmu.”
Aku langsung panik.
Orang yang dia kenal selama ini adalah “Bu Nani versi internet” yang beratnya lebih dari tujuh puluh kilogram!
Malam itu aku tidak bisa tidur sampai pukul tiga pagi.
Aku membuat beberapa rencana.
Rencana pertama: mengaku jujur.
Rencana kedua: meminta Bu Nani datang menggantikanku.
Rencana ketiga: menghilang.
Pada akhirnya aku memilih versi modifikasi dari rencana pertama.
Aku akan datang dengan wajah asliku dan mengatakan bahwa aku berhasil diet.
Turun dari tujuh puluh kilogram menjadi lima puluh tiga kilogram dalam dua puluh hari?
Memang tidak masuk akal.
Tapi siapa yang akan menyelidikinya?
Hari pertemuan tiba.
Lokasinya di Terminal Bus Pusat Bandung.
Aku bangun pukul lima pagi.
Keramas.
Skincare.
Make-up selama satu jam penuh.
Lalu mengenakan gaun putih baru yang kubeli khusus untuk hari itu.
Sejujurnya aku cukup cantik.
Hanya saja sehari-hari aku selalu memakai celemek, sandal, dan mengikat rambut seadanya.
Saat kuliah dulu, cukup banyak pria yang mencoba mendekatiku.
Pukul delapan tiga puluh aku sudah menunggu di terminal.
Dia bilang busnya tiba pukul sembilan.
Aku berdiri di dekat pintu keluar sambil memegang buket bunga.
Jantungku seperti ingin meledak.
Tepat pukul sembilan, para penumpang mulai berdatangan.
Aku berjinjit mencari sosok yang pernah mengirim foto buram kepadaku.
Dalam foto itu dia berdiri di bawah pohon, mengenakan pakaian loreng.
Kulitnya gelap.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Tapi dia tampak tinggi.
Aku membayangkan dia hanyalah pria desa biasa.
Lalu aku melihat seseorang.
Tingginya lebih dari 185 sentimeter.
Bahu lebar seperti tembok.
Kaos hitam yang dikenakannya menonjolkan otot-otot lengannya.
Kulitnya memang gelap, tapi wajahnya sangat tampan.
Hidung tegas.
Mata tajam.
Tatapannya seperti elang.
Dia membawa ransel loreng dan memegang ponsel.
Lalu matanya berhenti tepat padaku.
Aku hampir kabur karena gugup.
Dia berjalan lurus ke arahku.
Langkahnya besar dan mantap.
Kemudian berhenti tepat di depanku.
“Tala?”
“Iya… aku.”
Dia mengernyit.
Menatapku selama beberapa detik.
Lalu berkata:
“Kamu operasi plastik ya? Sekarang malah lebih cantik daripada yang dulu.”
Aku langsung terpaku.
Yang dulu?
Bukankah yang dia lihat selama ini Bu Nani?!
Sebelum sempat menjawab, suara mesin kendaraan tiba-tiba menggelegar dari belakang.
Aku menoleh.
Tiga truk militer hijau memasuki area terminal.
Pintunya terbuka.
Puluhan tentara melompat turun.
Seorang pria berkepala plontos berlari ke depan, memberi hormat, lalu berteriak:
“Selamat pagi, Nona!”
Sesaat kemudian semua tentara ikut berteriak:
“SELAMAT PAGI, NONA!”
Semua orang di terminal menoleh ke arah kami.
Aku hanya bisa berdiri terpaku.
Gaunku tertiup angin.
Dan hanya satu pikiran yang muncul di kepalaku.
Dia bukan penjaga hutan.
2
Selama sepuluh detik penuh aku seperti patung.
Tanganku basah oleh keringat.
“A-apa yang sedang terjadi?” tanyaku gemetar.
Namanya Miguel.
Itu satu-satunya hal yang benar-benar kuketahui selama tiga tahun terakhir.
Kini aku sadar bahwa “gunung” yang sering dia sebut ternyata bukan gunung biasa.
Miguel memberi isyarat dengan tangannya.
“Bubar. Kembali ke markas.”
Para tentara segera pergi.
Truk-truk meninggalkan terminal, menyisakan debu dan asap.
Beberapa orang mulai merekam dengan ponsel mereka.
Aku bahkan mendengar seseorang berbisik:
“Wah, dijemput tentara. Keren sekali!”
Miguel mengambil buket bunga dari tanganku.
Mengendusnya.
“Lili? Aku alergi bunga ini.”
Lalu tanpa ragu dia memberikan buket itu kepada seorang kakek yang lewat.
Kakek itu pergi dengan wajah bahagia.
“Ayo. Warungmu di mana?”
Aku mengikutinya dengan kepala penuh tanda tanya.
“Katanya kamu petani gunung.”
“Aku tidak bohong. Markasku memang di pegunungan. Di samping area latihan ada kebun sayur yang aku urus sendiri.”
“Apa sebenarnya pekerjaanmu?”
Dia berhenti dan menoleh.
“Pasukan Khusus. Komandan Batalion ke-3.”
Mulutku terbuka lebar.
“Kamu tentara?”
“Iya.”
“Perwira?”
“Iya.”
“Pasukan khusus?”
“Iya.”
Aku menarik napas panjang.
Lalu mengajukan pertanyaan paling penting.
“Kenapa kamu bilang aku operasi plastik? Aku bukan orang yang ada di foto itu.”
Dengan tenang dia menjawab:
“Di foto pertama yang kamu kirim, wajahmu terlihat di pantulan kaca rak toko.”
Keringat dingin langsung mengalir di punggungku.
“Dan video yang kamu kirim setelah itu sudah kuperjelas resolusinya.”
Aku terdiam.
“Kapan kamu tahu itu aku?”
“Bulan pertama.”
“Lalu kenapa tidak bilang?”
…
(Bersambung)

Miguel menatapku selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Kenapa aku harus mengatakannya?”
“Aku ingin melihat apakah wanita yang setiap malam menemaniku berbicara selama tiga tahun itu benar-benar tulus… atau hanya menyukai seseorang karena penampilannya.”
Aku terdiam.
Jantungku berdebar semakin kencang.
“Tapi aku sudah membohongimu,” kataku pelan.
“Aku mengirim foto orang lain.”
Miguel mengangguk.
“Aku tahu.”
“Sejak awal aku tahu.”
“Lalu kenapa tetap bertahan selama tiga tahun?”
Untuk pertama kalinya, ekspresi wajahnya berubah lembut.
“Karena setiap kali aku pulang dari operasi militer, orang pertama yang kutunggu pesannya adalah kamu.”
“Karena saat anak buahku terluka, kamu yang selalu mengingatkanku untuk makan.”
“Karena ketika aku kehilangan seorang rekan dalam tugas, kamu satu-satunya orang yang duduk menemaniku semalaman tanpa bertanya apa pun.”
“Aku jatuh cinta pada orang di balik layar itu, Tala.”
Air mataku langsung menggenang.
Tiga tahun.
Tiga tahun aku hidup dengan rasa takut kalau suatu hari kebohonganku terbongkar.
Ternyata…
Dia sudah mengetahui semuanya sejak lama.
Sesampainya di warung mie milikku, Miguel duduk di meja paling pojok.
Ia memesan satu mangkuk mie ayam.
Lalu dua.
Lalu tiga.
Sampai akhirnya seluruh pelanggan memperhatikannya.
“Enak?”
tanyaku.
Miguel mengangguk serius.
“Lebih enak daripada makanan markas.”
Beberapa mahasiswa di meja sebelah tertawa.
Tak lama kemudian, seorang prajurit datang tergesa-gesa membawa map.
“Komandan, rapat darurat.”
Miguel bahkan tidak membuka map itu.
“Aku sedang cuti.”
“Tapi, Komandan—”
“Aku sedang kencan.”
Seluruh warung langsung sunyi.
Aku hampir tersedak minuman.
Wajah prajurit itu juga langsung memerah sebelum buru-buru pergi.
Malam itu, saat kami menutup warung bersama, Miguel tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
Aku membeku.
“Ini bukan lamaran,” katanya.
“Aku belum mendapat izin untuk mencuri kamu dari warung ini.”
Aku tertawa sambil menangis.
Ketika kubuka kotaknya, di dalamnya ada sebuah cincin perak sederhana.
Bukan berlian.
Bukan perhiasan mahal.
Di bagian dalam cincin hanya ada ukiran kecil:
Untuk wanita yang membuat seorang tentara selalu ingin pulang.
Air mataku langsung jatuh.
“Miguel…”
“Aku masih punya satu rahasia lagi,” kataku.
“Apa?”
Aku menarik napas panjang.
“Foto-foto yang kukirim itu bukan foto nenek-nenek biasa.”
“Itu foto Bu Nena, tetangga sebelah.”
Miguel menatapku beberapa detik.
Lalu tertawa keras untuk pertama kalinya sejak kami bertemu.
“Kalau begitu aku harus berterima kasih kepada Bu Nena.”
“Karena tanpa beliau, mungkin aku tidak pernah mengenalmu.”
Enam bulan kemudian, seluruh warga di lingkungan kami heboh.
Bukan karena batalyon Miguel datang lagi.
Bukan karena aku memperluas warung mie.
Melainkan karena Komandan Pasukan Khusus yang terkenal galak itu berdiri gugup di depan warung kecilku, membawa bunga matahari, lalu melamar di hadapan semua pelanggan.
Dan ketika aku menjawab “ya”, puluhan prajurit yang ternyata bersembunyi di sekitar jalan langsung keluar sambil bertepuk tangan.
Bu Nena bahkan menangis paling keras.
Sambil menunjuk Miguel, ia berkata,
“Untung kamu tidak benar-benar jatuh cinta sama fotoku!”
Seluruh jalan pecah oleh tawa.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menyadari satu hal:
Cinta yang benar tidak pernah dimulai dari wajah yang sempurna.
Cinta yang benar dimulai dari seseorang yang tetap memilih tinggal, bahkan setelah mengetahui semua kekurangan dan kebohongan kecilmu.
Dan sejak hari itu, setiap kali Miguel berangkat bertugas, ia selalu mengatakan kalimat yang sama sebelum pergi:
“Aku akan kembali.”
“Karena ada seseorang yang menungguku pulang dengan semangkuk mie hangat.”