Triño berdiri di depan pintuku dengan jas yang masih rapi meski hujan deras mengguyur di belakangnya.

Triño berdiri di depan pintuku dengan jas yang masih rapi meski hujan deras mengguyur di belakangnya.

Tangannya membawa map hitam.

Wajahnya tegang.

“Ma’am Sofia…” suaranya pelan. “Pak Rafael ingin bertemu.”

Aku tertawa kecil.

Sudah malam.

Dan baru sekarang Rafael mulai panik.

“Aku sudah blok nomor dia.”

“Saya tahu, Ma’am.”

Triño menunduk sedikit.

“Karena itu saya disuruh datang langsung.”

Aku membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Dia masuk dengan hati-hati seperti sedang memasuki rumah orang sakit.

Matanya sempat melihat kaleng bir di meja.

Lalu melihatku.

Mungkin untuk pertama kalinya sejak bekerja denganku, dia sadar…

Aku benar-benar meninggalkan perusahaan itu.

“Apa Rafael menyuruhmu merebut file proyek itu?” tanyaku sambil duduk kembali di sofa.

Triño terdiam beberapa detik.

“Tidak, Ma’am.”

“Lalu?”

Dia menarik napas panjang.

“Investor dari proyek 6 miliar dolar itu baru saja menelepon kantor.”

Aku tidak bicara.

“Mereka bilang…” suaranya makin kecil, “mereka membatalkan seluruh kerja sama dengan Cruz Group.”

Hening.

Suara hujan di luar terdengar semakin jelas.

Aku menyesap bir hangatku perlahan.

“Cepat juga.”

Triño menatapku dengan rumit.

“Pak Rafael marah besar di kantor. Semua direksi panik.”

Tentu saja panik.

Proyek itu bukan sekadar proyek biasa.

Itu proyek reklamasi dan pengembangan pelabuhan terbesar di Surabaya.

Nilainya hampir Rp96 triliun.

Dan lebih penting lagi…

Itu satu-satunya alasan harga saham Cruz Group tetap stabil selama setahun terakhir.

Tanpa proyek itu…

Perusahaan mereka akan terlihat kosong.

Rapuh.

Triño akhirnya duduk pelan di kursi seberangku.

“Ma’am…” katanya hati-hati, “kenapa Anda tidak pernah bilang kalau investor itu sebenarnya mengikuti Anda, bukan perusahaan?”

Aku tersenyum tipis.

“Karena tidak ada yang pernah benar-benar peduli bagaimana aku bekerja.”

Selama bertahun-tahun…

Mereka hanya melihatku sebagai “istri CEO.”

Bukan orang yang diam-diam membangun separuh fondasi perusahaan.

Triño menunduk.

Lalu perlahan berkata,

“Pak Rafael sekarang sedang mencari Bu Bianca.”

Aku mengangkat alis.

“Untuk apa?”

“Karena tadi sore…” Triño berhenti sejenak. “Bu Bianca bilang proyek itu pasti tetap aman walaupun Anda pergi.”

Aku tertawa.

Kali ini benar-benar tertawa.

Suara tawaku memenuhi ruang tamu yang dingin.

Bianca.

Perempuan itu terlalu sibuk merebut jabatan…

Sampai lupa memikirkan apakah dia mampu mempertahankannya.

“Lalu?” tanyaku.

Triño menatapku lurus.

“Investor meminta satu syarat.”

Aku diam.

“Mereka hanya akan lanjut jika Anda kembali memimpin proyek.”

Hening lagi.

Aku memandang hujan di luar jendela.

Lima tahun.

Aku mengorbankan lima tahun hidupku untuk Cruz Group.

Begadang.

Masuk rumah sakit karena lambung.

Membangun koneksi.

Meyakinkan investor asing.

Dan hasil akhirnya?

Aku dipecat di depan tiga puluh orang oleh selingkuhan suamiku sendiri.

Lucu.

Benar-benar lucu.

“Apa Rafael menyuruhmu membujukku pulang?” tanyaku akhirnya.

Triño tidak langsung menjawab.

Karena dia tahu…

Jawabannya memalukan.

Beberapa detik kemudian, dia mengangguk pelan.

Aku meletakkan kaleng bir.

Lalu berdiri.

“Kalau begitu sampaikan ini padanya.”

Aku berjalan ke meja kerja dan mengambil sebuah amplop putih.

Triño tampak bingung saat aku menyerahkannya.

“Apa ini, Ma’am?”

“Surat pengunduran diri resmiku.”

Dia membeku.

“Dan di dalamnya,” lanjutku tenang, “ada surat gugatan cerai.”

Wajah Triño langsung pucat.

Aku tersenyum kecil.

“Sekalian saja. Biar efisien.”

**

Keesokan paginya, seluruh kantor Cruz Group gempar.

Rafael langsung membanting map itu di ruang meeting begitu membaca isi amplop.

“Apa maksud dia?!”

Tak ada yang berani menjawab.

Bahkan Bianca yang biasanya paling percaya diri kini duduk diam.

Karena semalaman…

Harga saham perusahaan mereka anjlok hampir 18%.

Media bisnis mulai mencium masalah.

“Investor Asing Tarik Diri dari Cruz Group.”

“Proyek Rp96 Triliun Terancam Gagal.”

Dan rumor paling panas:

“VP Sofia keluar membawa seluruh koneksi utama perusahaan.”

Rafael akhirnya kehilangan kesabaran.

“Cari Sofia sekarang juga!”

Tetapi sudah terlambat.

Karena saat itu…

Aku sedang duduk santai di sebuah hotel di Singapura bersama investor utama proyek tersebut.

Pria tua asal Hong Kong itu tersenyum sambil memainkan cangkir tehnya.

“Sofia,” katanya dalam bahasa Inggris pelan, “aku sudah bilang sejak dulu. Kau terlalu pintar untuk hidup di bawah bayang-bayang pria bodoh.”

Aku tersenyum tipis.

“Dulu saya masih mencintainya.”

Pria tua itu tertawa kecil.

“Dan sekarang?”

Aku melihat skyline Singapura dari jendela tinggi hotel.

Lalu perlahan menjawab,

“Sekarang saya memilih mencintai diri saya sendiri.”

Tiga bulan kemudian…

Cruz Group resmi kehilangan proyek terbesar mereka.

Beberapa direksi mengundurkan diri.

Harga saham jatuh bebas.

Dan Rafael?

Untuk pertama kalinya sejak mengambil alih perusahaan ayahnya…

Dia gagal total.

Kabarnya Bianca juga diam-diam resign setelah menjadi sasaran kemarahan semua orang.

Ironis.

Dia merebut kursiku…

Hanya untuk duduk di perusahaan yang sedang tenggelam.

Sedangkan aku?

Aku mendirikan firma konsultasi sendiri di Singapura.

Dan investor yang dulu bekerja sama dengan Cruz Group…

Satu per satu pindah bersamaku.

Suatu malam, Rafael akhirnya berhasil meneleponku memakai nomor baru.

“Sofia…”

Suaranya terdengar lelah.

Aku tetap diam.

“Aku salah.”

Kalimat yang terlambat lima tahun.

“Aku cuma…” dia tertawa pahit. “Aku kira kamu tidak akan pernah pergi.”

Aku memejamkan mata beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Rafael.”

“Ya?”

“Kamu tahu kesalahan terbesarmu?”

Sunyi.

“Kamu pikir aku bertahan karena aku membutuhkanmu.”

Aku melihat pantulan diriku di kaca jendela.

Tenang.

Kuat.

Dan akhirnya bebas.

Padahal selama ini…

Yang terjadi justru sebaliknya.

Setelah telepon malam itu berakhir, Rafael duduk sendirian di ruang kerja besar miliknya.

Lampu kota Manila terlihat megah dari balik kaca gedung Cruz Group.

Tetapi untuk pertama kalinya…

Ia merasa semuanya kosong.

Di atas mejanya masih ada foto pernikahan kami.

Aku tersenyum di sana.

Memandangnya seolah dia adalah seluruh duniaku.

Rafael menatap foto itu lama sekali.

Lalu perlahan tertawa pahit.

Karena baru sekarang dia sadar—

selama ini, orang yang paling setia di sisinya justru orang yang paling ia sakiti.

**

Sebulan setelah proyek 6 miliar dolar itu resmi berpindah ke firma baruku, media bisnis terus memberitakan kejatuhan Cruz Group.

Bank mulai menekan.

Investor menarik diri.

Para direktur yang dulu menjilat Rafael mulai menyelamatkan diri masing-masing.

Dan Bianca?

Wanita itu akhirnya menghilang tanpa suara.

Kabarnya dia pindah ke Dubai bersama pria baru.

Lucu sekali.

Dia menghancurkan rumah tangga orang demi mengejar posisi “Ratu Perusahaan”…

hanya untuk melarikan diri saat kapal mulai tenggelam.

Sedangkan Rafael…

tetap tinggal sendirian di tengah reruntuhan yang ia ciptakan sendiri.

**

Suatu malam di Singapura, aku sedang menyelesaikan presentasi ketika sekretarisku masuk.

“Ms. Sofia,” katanya pelan. “Ada seseorang ingin bertemu Anda.”

“Siapa?”

Dia ragu sejenak.

“Mr. Rafael Cruz.”

Tanganku berhenti di atas keyboard.

Beberapa detik kemudian, aku menghela napas pendek.

“Suruh dia masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Dan di sanalah Rafael berdiri.

Bukan lagi CEO muda penuh percaya diri yang dulu selalu tampil sempurna.

Tubuhnya lebih kurus.

Matanya lelah.

Bahkan rambutnya mulai dipenuhi uban tipis.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Dia berdiri canggung beberapa langkah dariku.

Lalu berkata pelan,

“Kamu kelihatan jauh lebih bahagia.”

Aku tersenyum tipis.

“Karena memang begitu.”

Sunyi.

Rafael melihat ruangan kantorku.

Sederhana.

Elegan.

Dan hidup.

Tidak seperti kantornya yang megah tapi dingin.

“Aku baru sadar…” katanya lirih, “selama ini aku tidak pernah benar-benar mengenalmu.”

Aku menutup laptop perlahan.

“Karena kamu terlalu sibuk menganggapku milikmu.”

Kalimat itu menghantamnya tepat di wajah.

Dia menunduk.

Lama sekali.

Lalu akhirnya berkata,

“Sofia… kalau waktu bisa diputar ulang…”

“Tapi tidak bisa,” potongku lembut.

Dia terdiam.

Aku berdiri dan berjalan mendekati jendela besar di belakangku.

Lampu-lampu Singapura berkilau seperti lautan bintang.

“Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri, Rafael.”

Suaraku tenang.

Tanpa amarah.

Tanpa tangisan.

Karena semua lukanya sudah sembuh.

“Dan itu kesalahan terbesar dalam hidupku.”

Matanya memerah.

Aku bisa melihat penyesalan yang akhirnya benar-benar menghancurkannya.

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Ada luka yang bisa dimaafkan…

namun tidak bisa diulang.

“Aku kehilangan Papa,” katanya pelan. “Lalu perusahaan. Dan sekarang… aku juga kehilangan kamu.”

Aku tersenyum kecil.

“Tidak.”

Dia mengangkat kepala.

“Kamu tidak kehilangan aku malam ini.”

Aku menatapnya lurus.

“Kamu kehilangan aku… saat memilih diam ketika wanita lain mempermalukan istrimu sendiri.”

Hening.

Rafael memejamkan mata.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

pria itu menangis.

Bukan karena uang.

Bukan karena perusahaan.

Tetapi karena akhirnya dia mengerti:

Ada orang yang sekali pergi…

tidak akan pernah kembali lagi.

**

Setelah Rafael pergi malam itu, aku berdiri sendirian cukup lama.

Memandang pantulan diriku di kaca.

Dulu aku berpikir kebahagiaan adalah menjadi “istri CEO.”

Memiliki rumah besar.

Mobil mahal.

Nama keluarga ternama.

Tetapi ternyata…

kebahagiaan yang sebenarnya jauh lebih sederhana.

Bangun pagi tanpa rasa takut.

Bekerja tanpa diremehkan.

Dan hidup tanpa harus memohon dihargai.

Teleponku berbunyi.

Pesan dari investor utama:

“Welcome to the new beginning, Sofia.”

Aku tersenyum.

Lalu mematikan lampu kantor.

Dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Karena kali ini…

aku tidak lagi berjalan di belakang nama besar siapa pun.

Aku berjalan membawa namaku sendiri.