Tujuh tahun lamanya aku diam-diam mencintai Lucas Ybañez.
Akhirnya, aku menikah dengannya.
Namun pada malam pernikahan kami, ia menyerahkan sebuah dokumen kepadaku: surat perjanjian pembatalan pernikahan.
“Setelah satu tahun, kita akan berpisah secara baik-baik.”
Setelah mengatakan itu, tatapannya turun ke arah gaun tidur renda yang kupakai.
Bibirnya sedikit melengkung saat ia bertanya,
“Nona Rivera, apakah kamu ingin menyiratkan sesuatu?”
Satu tahun berlalu.
“Jam berapa besok kita pergi ke pengacara untuk tanda tangan?” tanyaku.
Ia pura-pura tidak mendengar.
“Siapa pria yang tadi bersamamu?”
Aku tertawa pahit.
“Tuan Ybañez, kenapa? Apakah Anda ingin menyiratkan sesuatu?”
1
Aku baru saja lulus kuliah dan baru melewati masa probation di kantor.
Tiba-tiba Lucas muncul di hadapanku.
Ia bertanya apakah aku bersedia menikah dengannya.
Sebuah pernikahan kontrak.
Setelah satu tahun, ia akan membayarku 10 miliar rupiah.
Seperti kata orang, harga diri saja tidak cukup untuk bertahan hidup ketika uang sebanyak itu ada di depan mata.
Aku takut jika ragu sedetik saja, ia akan berubah pikiran.
2
Sejak menerima akta nikah hingga malam pernikahan, bahkan belum genap satu bulan.
Malam itu, aku sengaja berdandan dengan rapi.
Aku mengenakan gaun tidur renda tipis ketika Lucas tiba-tiba menyerahkan surat pembatalan.
“Satu tahun dari sekarang, kita akan berpisah sebagai teman.”
3
Ia jauh lebih dewasa dibanding saat kami masih SMA di sekolah swasta elite Jakarta.
Wajahnya tampak terhormat, serius, dan setiap gerakannya penuh kendali.
Aku terdiam.
“Haruskah aku menandatanganinya… sekarang?”
Lucas terlihat tergesa-gesa.
“Berikan saja padaku sebelum kontrak berakhir.”
Aku mengangguk.
“Di mana kamu akan tidur malam ini?”
Ruangan itu mendadak hening.
Aku ingin menampar diriku sendiri karena pertanyaan itu.
Ia berhenti membenarkan dasinya.
Beberapa saat kemudian, ia tersenyum tipis, hampir seperti menahan tawa.
Tatapannya perlahan turun dengan makna yang dalam.
“Nona Rivera…”
Dengan suara rendah ia bertanya,
“Apakah kamu ingin menyiratkan sesuatu?”
4
Aku mengikuti arah tatapannya dan refleks memeluk tubuhku sendiri untuk menutupinya.
“Kurang ajar!”
Ia mengangkat alis, bersandar di kusen pintu dengan ekspresi menggoda.
“Ini kan malam pernikahan kita. Kamu ingin kita tidur bersebelahan?”
Kami sudah dewasa, dan dengan penampilanku seperti ini—
pria mana yang tidak akan salah paham?
Rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu.
BRAK!
Kututup pintu dengan keras.
Kesombongannya sejak masa SMA ternyata tidak berubah sama sekali!
5
Setelah itu, aku tidak melihat Lucas lagi.
Kudengar ia pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis.
Aku tinggal di sebuah mansion mewah di kawasan elit Jakarta, tetapi tanpa suami yang pulang ke rumah—
bagiku justru terasa lebih lega.
Suatu tengah malam, terdengar suara mesin mobil di bawah.
Setelah tujuh bulan, Lucas akhirnya kembali.
Ia tidur di ruang tamu.
Dengan tenang aku kembali tidur.
Namun tiba-tiba aku terbangun dengan mata membelalak—
Aku lupa!
Tadi malam aku mabuk dan tertidur di ruang tamu juga.
Dan yang lebih parah… aku mengeluarkan semua surat cinta lama yang kutulis untuknya saat remaja.
Surat-surat itu masih tergeletak di atas meja ruang tamu.

Timur belum benar-benar menyala ketika aku berlari turun ke ruang tamu.
Jantungku berdegup tak karuan.
Lucas sudah duduk di sofa, masih mengenakan kemeja putihnya. Di tangannya… selembar surat berwarna kekuningan, lipatannya sudah usang.
Ia membacanya dengan tenang.
Tanganku gemetar.
“Jangan dibaca.”
Terlambat.
Ia mengangkat pandangan. Tidak ada ejekan. Tidak ada senyum menyebalkan seperti biasanya.
Hanya tatapan yang… asing. Lembut.
“Jadi selama tujuh tahun,” katanya pelan, “kamu menulis semua ini untukku?”
Aku menegakkan bahu, berusaha mempertahankan harga diri yang tersisa.
“Itu masa lalu. Sekarang kita hanya pasangan kontrak.”
Hening.
Lucas menatap surat terakhir. Itu surat yang tak pernah kukirim. Surat yang kutulis sehari sebelum ia tiba-tiba menghilang dari hidupku dulu.
Di sana aku menulis:
Kalau suatu hari kamu meminta aku menikah, bahkan sebagai lelucon pun, aku akan tetap berkata ya.
Tanganku terasa dingin.
“Aku tidak tahu,” suaranya serak, “bahwa orang yang selama ini kucari… ternyata ada tepat di depanku.”
Aku tertawa kecil, getir.
“Tidak perlu drama. Besok kita tetap ke pengacara. Kontraknya sudah hampir selesai.”
Ia berdiri.
Langkahnya mendekat, tapi kali ini tidak ada kesan menggoda. Tidak ada permainan kata.
“Kontrak itu,” katanya, “aku buat karena aku pikir kamu tidak mungkin mau menikah denganku kalau bukan karena uang.”
Aku terpaku.
“Sepuluh miliar rupiah itu,” lanjutnya, “bukan harga untuk membeli satu tahun pernikahanmu. Itu alasan agar kamu punya jalan keluar kalau kamu menyesal.”
Sunyi menelan ruang tamu.
“Tapi ternyata…”
Ia menatap tumpukan surat di meja.
“Yang paling tulus justru kamu.”
Dadaku terasa sesak.
“Aku tidak pernah menganggap ini kontrak,” kataku lirih. “Sejak hari pertama.”
Untuk pertama kalinya, Lucas terlihat kehilangan kata-kata.
Ia mengambil map berisi surat pembatalan pernikahan itu dari laci meja.
Perlahan.
Tanpa ragu.
Disobeknya tepat di tengah.
Suara kertas robek terdengar jelas di antara detak jantungku.
“Kalau kamu masih mau,” katanya pelan, “kita mulai lagi. Bukan sebagai Tuan dan Nona dalam kontrak. Tapi sebagai Lucas… dan perempuan yang sudah mencintaiku sejak SMA.”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Dan kalau aku bilang tidak?” tanyaku, berusaha terakhir kali menjaga gengsi.
Ia tersenyum tipis, kali ini tanpa kesombongan.
“Aku akan mengejarmu. Tanpa kontrak. Tanpa uang. Sampai kamu percaya bahwa kali ini, aku yang lebih mencintaimu.”
Pagi itu, matahari Jakarta menyinari ruang tamu mansion yang selama ini terasa kosong.
Aku melangkah mendekat.
Bukan karena sepuluh miliar rupiah.
Bukan karena status.
Tapi karena untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, kami berdiri di tempat yang sama.
Dan kali ini—
bukan sebagai dua orang asing dalam pernikahan kontrak.
Melainkan dua hati yang akhirnya berhenti berpura-pura.