Suara Maria menggema di seluruh rumah.
Juan dan Elena langsung terdiam. Bahkan Roberto yang tadi hendak maju ikut berhenti di tempatnya.
Aku melangkah ke depan, menatap mereka satu per satu.
“Sejak hari ini, tidak ada yang boleh menyentuh barangku tanpa izin.”
Elena langsung menyahut, “Hah? Gaya banget kamu! Ini kan rumah kakak Roberto juga!”
Aku tersenyum dingin.
“Rumah ini dibeli dengan uang siapa, kamu tahu?”
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka catatan transfer.
₱850,000 — Renovasi rumah
₱420,000 — Biaya hidup keluarga Roberto selama 3 tahun
₱310,000 — Uang sekolah Lani
Total: ₱1,580,000
Ruangan langsung sunyi.
Aku menatap Roberto.
“Semua ini dari aku.”
Wajahnya berubah, tapi dia masih keras kepala.
“Terus kenapa? Kamu istri, itu sudah kewajiban!”
Aku tertawa kecil.
“Kewajiban?”
Aku menunjuk dapur, kamar, dan ruang tamu.
“Ini bukan rumah tangga. Ini kerja paksa yang tidak dibayar.”
Ibu Roberto langsung berteriak, “Kamu jangan kurang ajar!”
Aku menatapnya tajam.
“Kurang ajar?”
“Yang duduk diam sambil disuapi itu siapa?”
Suasana makin panas.
Roberto maju satu langkah, wajahnya merah.
“Maria, kamu jangan keterlaluan!”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Keterlaluan?”
“Yang setiap hari memukul, menyuruh, dan memperlakukan istrinya seperti pembantu itu siapa?”
Dia terdiam.
Untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban.
—
Aku menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas.
Sebuah map dokumen.
“Ini surat pengajuan cerai.”
Ruangan langsung membeku.
Elena tertawa kecil, “Hah? Cerai? Kamu nggak punya apa-apa, siapa yang mau kamu?”
Aku menatapnya.
“Justru itu.”
“Aku tidak punya apa-apa… karena semuanya sudah aku pindahkan sejak tiga bulan lalu.”
Wajah Roberto langsung pucat.
“Apa maksudmu?!”
Aku membuka ponsel lagi.
“Aset rumah sudah atas nama Lani.”
“Tabungan sudah aku pindahkan ke rekening pribadiku.”
“Dan laporan KDRT… sudah masuk ke polisi kemarin.”
Ibu Roberto langsung berteriak panik.
“Kamu tidak bisa begitu!”
Aku tersenyum tenang.
“Bisa.”
Aku menatap Roberto untuk terakhir kalinya.
“Selama ini kamu pikir aku tidak bisa hidup tanpamu.”
“Padahal…”
“Aku hanya tidak pernah mencoba hidup tanpa kalian.”
Aku menggandeng tangan Lani.
“Ayo.”
Lani menatapku bingung, lalu mengangguk kecil.
Kami berjalan menuju pintu.
Di belakang, Roberto akhirnya berteriak.
“MARIA! KAMU PASTI AKAN MENYESAL!”
Aku berhenti sejenak.
Tidak menoleh.
Hanya menjawab pelan:
“Yang menyesal itu kamu… karena terlambat sadar bahwa aku bukan milikmu.”
Lalu aku melangkah keluar.
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Maria…
rumah

Angin sore Quezon City menyentuh wajah kami saat aku dan Lani melangkah menjauh dari rumah itu.
Di belakang kami, suara Roberto masih terdengar samar—teriakan, benturan pintu, dan kepanikan yang mulai pecah jadi kekacauan.
Tapi aku tidak berhenti.
Tidak sekali pun.
Lani menggenggam tanganku erat.
“Ma, kita mau ke mana sekarang?”
Aku menatap langit yang mulai berubah jingga.
“Kita mulai hidup baru.”
—
Beberapa bulan kemudian
Aku pindah ke apartemen kecil di pusat kota.
Tidak mewah.
Tapi sunyi.
Dan yang paling penting… milik kami sendiri.
Aku kembali bekerja sebagai desainer grafis, tapi kali ini aku memilih proyek yang aku suka, bukan yang membuatku begadang sampai mati pelan-pelan.
Lani mulai tersenyum lebih sering.
Tidak ada lagi suara bentakan pagi.
Tidak ada lagi perintah tanpa henti.
Tidak ada lagi rasa takut di dalam rumah.
—
Suatu hari, aku menerima surat.
Dari pengadilan.
Kasus: Roberto vs Maria — Penolakan hak dan tuntutan balik harta
Aku hanya tersenyum kecil saat membacanya.
Aku sudah menduganya.
Di akhir surat, ada catatan:
“Pihak tergugat memiliki bukti transfer, rekaman kekerasan, dan saksi keluarga.”
Aku menutup surat itu pelan.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada rasa marah.
Hanya lega.
—
Hari sidang
Roberto duduk di seberang ruangan.
Kali ini, dia tidak lagi berteriak.
Dia terlihat jauh lebih kecil dari ingatanku.
Tidak lagi dominan.
Tidak lagi berkuasa.
Ketika hakim membacakan putusan, ruangan menjadi sunyi:
“Semua aset sah milik Maria dan anaknya, Lani.”
“Gugatan ditolak sepenuhnya.”
Palu diketuk.
Tok.
Selesai.
—
Roberto menatapku dengan mata yang kosong.
“Maria…”
Aku berdiri.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut pada suaranya.
“Aku sudah tidak ada di hidupmu lagi,” kataku pelan.
“Dan kamu… juga sudah tidak ada di hidupku.”
Aku berbalik.
Tidak ada drama.
Tidak ada air mata.
Hanya langkah yang pasti.
—
Epilog
Malam itu, aku pulang bersama Lani.
Kami makan mie instan di meja kecil.
Sederhana.
Tapi hangat.
Lani tersenyum sambil berkata, “Ma, sekarang kita lebih bahagia ya?”
Aku mengusap rambutnya.
“Bukan lebih bahagia.”
“Kita baru benar-benar hidup.”
Di luar jendela, lampu kota menyala.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Maria…
dia tidak lagi bertahan.
Dia benar-benar bebas.