Victor langsung membeku.

Wajahnya yang tadi penuh amarah perlahan berubah pucat pasi.

“A-Ana…”

Suaranya bergetar.

Matanya terpaku pada layar ponsel di tanganku—jelas terlihat bagaimana ibunya membuang obat ke toilet, bagaimana dia memaksaku meminta maaf, dan bagaimana tangannya menampar wajahku satu demi satu.

Tidak ada yang bisa dibantah.

Tidak ada yang bisa dipelintir.

Semua terekam dengan jelas.

Nyonya Wijaya mendadak panik.

“Matikan itu! Victor, suruh dia matikan!”

Dia mencoba merebut ponselku, tapi aku melangkah mundur.

Untuk pertama kalinya… aku melihat ketakutan di mata wanita itu.

Bukan takut kehilangan harga diri.

Bukan takut kehilangan anaknya.

Tapi takut kehilangan kendali.

Aku tersenyum tipis.

“Tadi Ibu bilang aku menindas orang tua, kan?”

Aku mengangkat ponselku sedikit lebih tinggi.

“Besok pagi, video ini akan dikirim ke polisi, pengacara, dan grup keluarga besar.”

“Dan kalau perlu…”
aku menatap Victor lurus-lurus,
“ke kantor tempatmu bekerja.”

Tubuh Victor langsung limbung.

Dia bekerja sebagai manajer di perusahaan properti besar di Jakarta. Selama ini dia dikenal sebagai suami sempurna—pria sopan, anak berbakti, pekerja keras.

Kalau video ini tersebar… semuanya selesai.

Kariernya.

Reputasinya.

Harga dirinya.

“ANA!” teriaknya tiba-tiba.

Lalu—

Bruk.

Dia berlutut di depanku.

Nyonya Wijaya terkejut sampai mundur selangkah.

“Victor?! Apa yang kamu lakukan?!”

Tapi Victor bahkan tidak menoleh pada ibunya.

Matanya merah.

Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh kakiku, tapi aku langsung mundur.

“Aku salah…” suaranya pecah.
“Aku… aku benar-benar salah…”

Aku menatap pria yang selama empat tahun kuanggap rumah.

Pria yang dulu rela kehujanan demi membawakanku obat.

Pria yang pernah bilang,
“Aku tidak akan pernah membuatmu menangis.”

Dan hari ini…

Dialah orang yang membuat wajahku penuh darah.

Lucu sekali.

Air mata Victor mulai jatuh.

“Ana, tolong… jangan tinggalkan aku…”

Aku diam.

Lalu perlahan membuka tas kecilku.

Aku mengeluarkan satu map putih.

Dan meletakkannya di meja.

Victor menatap map itu dengan wajah kosong.

“Apa itu…?”

“Surat cerai.”

Sunyi.

Bahkan suara hujan di luar pun terasa berhenti.

“Aku sudah menyiapkannya tiga bulan lalu.”

Napas Victor tercekat.

“Tiga… bulan?”

Aku mengangguk pelan.

“Sejak malam saat kau mencekik leherku hanya karena aku membela ibuku.”

Wajahnya langsung hancur.

“Ana… aku waktu itu mabuk…”

“Dan hari ini?” potongku tenang.
“Kau juga mabuk?”

Dia tidak bisa menjawab.

Aku menatap Nyonya Wijaya.

Wanita itu masih berdiri kaku di sudut ruangan, wajahnya pucat seperti mayat.

Dulu, aku selalu takut padanya.

Takut tidak dianggap menantu baik.

Takut membuatnya kecewa.

Takut kehilangan keluarga ini.

Tapi sekarang aku sadar…

Rumah yang membuatmu harus mengorbankan harga dirimu bukanlah rumah.

Dan keluarga yang meminta seorang perempuan diam saat disakiti bukanlah keluarga.

Aku mengambil koperku.

Victor langsung panik.

“Ana, jangan pergi… aku mohon…”

Dia mencoba memegang tanganku.

Aku menepisnya pelan.

“Tamparanmu hari ini bukan yang paling menyakitkan, Victor.”

Aku menatap matanya untuk terakhir kali.

“Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa aku pernah percaya kau akan melindungiku.”

Lalu aku membuka pintu.

Angin malam langsung menerpa wajahku yang bengkak.

Sakit.

Perih.

Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku bisa bernapas lega.

Dan di belakangku, terdengar suara tangisan Victor yang akhirnya menyadari satu hal:

Perempuan yang selalu dia pikir akan bertahan selamanya…

kini benar-benar pergi.