Tiga hari kemudian, suaminya datang ke depan apartemenku sambil membawa pisau, berusaha mati-matian membunuhku karena katanya akulah penyebab kematian anak mereka.
Namun sebuah telepon dari rumah sakit tiba-tiba mengungkap rahasia yang jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.
Di tengah badai hebat yang mengguyur Jakarta, tetanggaku yang sedang hamil mengetuk kaca mobilku dengan panik dan memohon agar aku mengantarnya ke rumah sakit.
Hampir satu jam kami terjebak banjir dan kemacetan di sepanjang Jalan Sudirman.
Bahkan sebelum sampai ke rumah sakit, ia sudah melahirkan di dalam mobilku.
Seorang bayi dengan tubuh membiru.
Tidak bernapas.
Tiga hari kemudian, tepat tengah malam, suaminya menerobos masuk ke apartemenku dan menusukku berkali-kali.
Ia menindih kepalaku ke lantai sambil berteriak seperti binatang yang kehilangan akal.
“Kalau saja kau tidak menyetir terlalu lambat, anak laki-lakiku tidak akan mati!”
Darah mengalir memenuhi ruang tamu.
Saat kesadaranku perlahan menghilang, aku masih sempat melihat istrinya berdiri di depan pintu sambil memeluk jasad bayi mereka yang dingin.
Matanya penuh kebencian saat menatapku.
“Kau pantas mati, Arga.”
…
Ketika aku membuka mata lagi, suara hujan masih menggema di luar jendela.
Aku berada di dalam mobilku di area parkir basement apartemen.
Seseorang mengetuk kaca mobil dengan keras.
BANG! BANG! BANG!
“Arga! Buka pintunya!”
Aku langsung menoleh.
Wanita yang berdiri di bawah hujan itu adalah Clara Wijaya.
Gaun hamil kuning yang dikenakannya sudah basah kuyup, wajahnya pucat karena menahan rasa sakit.
“Aku akan melahirkan!”
“Tolong antar aku ke rumah sakit!”
Tanganku mencengkeram setir erat.
Aku kembali ke masa lalu.
Inilah malam yang menjadi awal neraka dalam kehidupanku sebelumnya.
Aku menatapnya diam-diam melalui kaca mobil yang dipenuhi tetesan hujan.
Ia memegangi perutnya sambil hampir berlutut karena kesakitan.
“Arga… tolong…”
“Aku tidak sanggup lagi…”
Di kehidupan sebelumnya, aku membuka pintu karena kasihan.
Dan karena kata “tolong” itu, aku mati seperti anjing di apartemenku sendiri.
Perlahan aku mengambil botol kecil wiski dari kompartemen mobil.
Kubuka tutupnya.
Lalu aku minum langsung dari botol.
Setelah itu aku menurunkan kaca jendela sedikit.
Aroma alkohol langsung menyebar di udara dingin.
“Aku sudah minum.”
“Aku tidak boleh menyetir.”
Clara terdiam.
Ia jelas tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Apa?”
“Aku akan melahirkan!”
“Aku tahu.”
Aku mengusap lengan bajuku yang basah.
“Panggil ambulans.”
“Atau hubungi suamimu.”
Saat aku menyebut suaminya, ekspresi Clara langsung berubah.
“Dia ada di kasino…”
“Aku tidak bisa menghubunginya…”
Aku hampir tertawa.
Kasino.
Di kehidupan sebelumnya, ia bilang suaminya sedang shift malam di Pelabuhan Tanjung Priok.
Namun sebelum aku mati, aku mengetahui bahwa suaminya sebenarnya berjudi di Jakarta Barat bersama teman-temannya yang berandalan.
“Baterai ponselku habis…”
“Boleh pinjam ponselmu?”
Aku mengangkat ponselku yang dalam keadaan mati.
“Maaf.”
“Ponselku juga mati.”
Tatapan Clara langsung berubah tajam.
“Arga…”
“Kau akan membiarkanku mati?”
“Kalau terjadi sesuatu padaku, kau tidak akan bisa tidur nyenyak seumur hidupmu!”
Aku menatapnya cukup lama.
Di kehidupan sebelumnya, ketika suaminya menusukku sampai mati, dialah yang memegang tanganku agar aku tidak bisa melarikan diri.
Sambil menangis, ia terus berteriak:
“Kalau bukan karena kau mengemudi terlalu lambat, anak kami pasti masih hidup!”
Suara itu masih terngiang jelas di telingaku.
Aku tersenyum dingin.
“Cari orang lain saja untuk menolongmu.”
Lalu aku menutup kaca jendela.
Mengunci pintu.
Dan menjalankan mobil.
Di belakangku, Clara mulai mengamuk sambil memukul kaca mobil.
“ARGA!”
“DASAR MANUSIA TAK BERPERASAAN!”
“KAU AKAN MENYESAL!”
Aku tidak menoleh sedikit pun.
Sesampainya di apartemen lantai empat belas, aku langsung mengunci semua pintu.
Lalu menyalakan sistem CCTV baru yang baru kupasang.
Empat layar muncul.
Koridor.
Lift.
Tangga darurat.
Area parkir.
Semua sudut terlihat jelas.
Aku duduk di sofa sambil menuangkan minuman ke dalam gelas.
Dan tiba-tiba—
BOOM!!!
Petir besar menggelegar.
Seluruh gedung kehilangan listrik.
Apartemenku tenggelam dalam kegelapan.
Namun CCTV tetap menyala berkat baterai cadangan.
Aku menatap layar.
Karena aku tahu—
Jika semuanya terulang seperti kehidupan sebelumnya…
Kurang dari satu jam lagi suami Clara akan datang.
Membawa pisau lipat hitam miliknya.

Marcus berdiri di depan pintu apartemen Adrian dengan pisau di tangan.
Air hujan masih menetes dari rambut dan pakaiannya. Matanya merah dipenuhi amarah.
Di dalam apartemen, Adrian menatap layar CCTV tanpa berkedip.
Semua ini pernah terjadi.
Dalam kehidupan sebelumnya, tepat malam itulah ia dibunuh.
Namun kali ini berbeda.
Kali ini, ia sudah siap.
Telepon masih menempel di telinganya.
Suara perawat terdengar gemetar.
— Pak Adrian… sebelum tidak sadarkan diri, Carla juga mengatakan satu hal lagi.
— Apa?
— Dia berkata… bayi itu bukan hanya bukan anak Marcus.
Jantung Adrian seakan berhenti.
— Maksud Anda?
Beberapa detik hening.
Lalu perawat itu berkata pelan:
— Bayi itu adalah satu-satunya saksi.
— Saksi untuk apa?
— Untuk pembunuhan.
Dunia Adrian terasa berputar.
Di saat yang sama, terdengar suara keras dari luar apartemen.
BRAK!
Marcus menendang pintunya.
— ADRIAN! KELUAR!
— AKU AKAN MEMBUNUHMU!
Namun sebelum Adrian sempat bergerak, ponselnya kembali bergetar.
Kali ini dari nomor yang tidak dikenal.
Saat diangkat, suara wanita tua terdengar di seberang sana.
— Jangan buka pintu.
— Siapa Anda?
— Ibunya Carla.
Tubuh Adrian menegang.
Wanita itu menangis.
— Tolong dengarkan saya.
— Anak saya melakukan banyak kesalahan.
— Tapi dia tidak membunuh bayinya.
— Dia juga tidak pernah berniat menyalahkan Anda.
Adrian terdiam.
Lalu wanita itu mengirimkan sebuah video.
Dengan tangan gemetar, Adrian membukanya.
Video itu direkam beberapa jam sebelum badai datang.
Di layar terlihat Carla sedang menangis.
Wajahnya penuh memar.
Dan di depannya berdiri Marcus.
Mabuk.
Marah.
Berteriak.
— Kalau kau berani meninggalkanku, aku akan menghancurkan hidupmu!
Carla memegang perutnya yang besar sambil terisak.
Lalu suara Marcus kembali terdengar:
— Jangan pernah bilang siapa ayah sebenarnya dari anak itu!
Video berakhir.
Adrian membeku.
Kini semuanya masuk akal.
Bayi itu bukan anak Marcus.
Dan Marcus sudah mengetahui hal itu jauh sebelum malam kelahiran.
Ia hanya mencari kambing hitam.
Seseorang untuk dipersalahkan.
Seseorang untuk dilampiaskan kemarahannya.
Dan orang itu adalah Adrian.
BRAK!
Pintu apartemen kembali diguncang dari luar.
Namun beberapa detik kemudian, suara sirene polisi terdengar mendekat.
Marcus terkejut.
Ia menoleh ke arah lift.
Pintu lift terbuka.
Beberapa petugas polisi langsung berlari ke arahnya.
— Marcus Mendoza!
— Anda ditangkap atas dugaan kekerasan dalam rumah tangga dan percobaan pembunuhan!
Wajah Marcus berubah pucat.
— Tidak! Kalian salah!
— Dia yang membunuh anakku!
Namun polisi sudah memborgol kedua tangannya.
Saat dibawa pergi, Marcus terus berteriak seperti orang kehilangan akal.
Dan untuk pertama kalinya…
Adrian tidak merasa takut.
Tiga hari kemudian.
Hujan telah berhenti.
Langit Jakarta kembali cerah.
Adrian berdiri di halaman rumah sakit ketika seorang dokter menghampirinya.
— Kami punya kabar.
Jantungnya berdegup kencang.
— Bayinya…
Dokter tersenyum tipis.
— Dia selamat.
Mata Adrian membelalak.
— Apa?
— Bayi itu sempat berhenti bernapas saat lahir.
— Tapi kami berhasil menyelamatkannya.
Air mata langsung memenuhi mata Adrian.
Dalam kehidupan sebelumnya, bayi itu meninggal.
Dan kematiannya menjadi awal dari semua tragedi.
Namun kini…
Takdir telah berubah.
Beberapa minggu kemudian, Carla pulih dan memutuskan bekerja sama dengan polisi.
Semua rahasia Marcus terbongkar.
Utang judi.
Kekerasan.
Pemerasan.
Dan berbagai kejahatan lain yang selama ini tersembunyi.
Ia dijatuhi hukuman penjara bertahun-tahun.
Sedangkan Carla memilih memulai hidup baru bersama putranya.
Sebelum pergi ke kota lain, ia menemui Adrian untuk terakhir kalinya.
Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata:
— Terima kasih.
— Karena kali ini… kau tidak menyelamatkanku.
Adrian terkejut.
Carla tersenyum pahit.
— Karena kalau malam itu kau membawaku ke rumah sakit seperti dulu…
— Kau yang akan mati lagi.
Angin sore berhembus pelan.
Adrian menatap langit.
Baru saat itulah ia benar-benar mengerti.
Kadang-kadang, menyelamatkan seseorang bukan berarti selalu mengorbankan diri sendiri.
Dan kadang-kadang…
Kesempatan kedua yang diberikan kehidupan bukan untuk mengubah masa lalu.
Melainkan untuk akhirnya memilih diri sendiri.
Saat Carla pergi sambil menggendong bayinya, Adrian tersenyum untuk pertama kalinya.
Bukan karena semua luka telah hilang.
Tetapi karena akhirnya…
Ia berhasil keluar dari takdir yang pernah membunuhnya.