WARGA MELEMPARI SEORANG WANITA GILA DENGAN BATU KARENA DIA MEMBAKAR GUDANG TUA DI TENGAH MALAM, TAPI SEMUA ORANG LANGSUNG MEMBEKU SAAT MELIHAT APA YANG ADA DI BAWAH LANTAI YANG TERBAKAR
Malam itu awalnya sama seperti malam-malam panas lainnya di Kampung Damai.
Jam dua dini hari.
Listrik masih sering mati.
Udara pengap membuat hampir semua warga sulit tidur.
Tiba-tiba…
cahaya api besar menyala dari ujung gang.
Gudang tua milik Pak Gusti terbakar hebat.
Api menjulang tinggi seperti disiram bensin.
Asap hitam memenuhi langit.
“KEBAKARAN! KEBAKARAN!” teriak satpam kampung sambil memukul tiang listrik.
Warga langsung panik.
Para pria berlarian membawa ember dari sumur.
Ibu-ibu menggandeng anak mereka keluar rumah sambil menangis ketakutan.
Karena rumah di kampung itu berdempetan.
Satu percikan kecil saja bisa membakar seluruh lingkungan.
Dan di tengah kekacauan itu…
ada satu sosok yang hanya berdiri menatap api.
Sela.
Wanita yang selama ini dianggap gila oleh seluruh kampung.
Rambutnya kusut.
Bajunya kotor.
Sering tertawa sendiri sambil mondar-mandir di sekitar gudang tua itu.
Malam itu…
dia memegang obor.
Dan sambil tertawa menyeramkan, dia menari di depan api yang semakin membesar.
“Aku bakar mereka! Aku bakar semuanya! HAHAHA!”
Pak Gusti datang sambil marah besar.
“Itu gudangku, perempuan gila!”
Tanpa pikir panjang, dia mengambil batu dan melemparkannya ke arah Sela.
BATUK!
Batu itu menghantam bahunya hingga dia jatuh.
Tapi kemarahan warga sudah meledak.
Mereka ikut melempari Sela dengan sandal, kayu, bahkan batu.
“Dasar orang gila!”
“Kalau kampung ini habis terbakar bagaimana?!”
“Kamu pantas dibakar hidup-hidup!”
Sela hanya menangis sambil melindungi kepalanya.
Tidak melawan.
Tidak kabur.
Beberapa menit kemudian, mobil pemadam kebakaran datang.
Api akhirnya berhasil dipadamkan.
Tapi gudang itu hampir habis total.
Hanya tersisa kayu hitam hangus dan lantai yang runtuh.
Pak Gusti mengambil balok kayu besar lalu berjalan mendekati Sela dengan wajah penuh amarah.
“Aku bakal laporkan kamu ke polisi! Atau kubunuh sekalian!”
Namun tiba-tiba…
Sela berteriak.
Dan untuk pertama kalinya…
suaranya terdengar normal.
“JANGAN DEKAT-DEKAT!”
Tubuh semua orang langsung membeku.
Air mata bercampur darah mengalir di wajahnya.
“Aku cuma mau menyelamatkan kalian…”
Dia gemetar hebat sambil menunjuk gudang yang terbakar.
“Mereka lapar…”
Napasnya tersengal.
“Mereka mau keluar malam ini…”
Warga mulai saling berpandangan.
Beberapa berbisik kalau perempuan itu benar-benar sudah gila.
Tapi saat itu…
Fire Marshal yang memeriksa puing-puing tiba-tiba berteriak keras.
“SEMUA MUNDUR!”
Semua orang langsung menoleh.
Petugas itu menyorotkan senter ke bawah lantai gudang yang runtuh.
Dan detik berikutnya…
seluruh kampung langsung sunyi total.
Karena di bawah lantai kayu yang terbakar itu…
ada ruangan bawah tanah rahasia.
Dan di dalamnya…
terdapat puluhan kandang besi besar.
Kosong.
Pintu-pintunya rusak seperti baru saja dipaksa dibuka dari dalam.
Bau busuk langsung menyebar ke seluruh area.
Salah satu petugas muntah di tempat.
Di sudut ruangan…
ada tumpukan tulang hewan.
Dan beberapa di antaranya…
bukan tulang hewan.
Seorang polisi perlahan mengangkat sebuah gelang anak kecil yang hangus dari lantai.
Warga langsung mulai gemetar.
Karena dua tahun terakhir…
beberapa anak jalanan dan pengemis di sekitar terminal kota memang sering hilang tanpa jejak.
Pak Gusti mendadak pucat.
“K-kenapa ada tempat seperti ini di bawah gudangku…?”
Fire Marshal menatapnya tajam.
“Gudang ini benar-benar milik Anda?”
Pak Gusti langsung gugup.
“I-Iya… tapi saya nggak pernah turun ke bawah!”
Saat itulah…
Sela mulai tertawa sambil menangis.
“Mereka bilang aku gila karena aku dengar suara-suara dari bawah…”
Dia menunjuk tanah yang masih berasap.
“Tiap malam aku dengar mereka nangis…”
Tubuh warga mulai merinding.
Sela dulunya memang sering duduk di depan gudang sambil bicara sendiri.
Kadang dia bahkan berteriak tengah malam:
“Jangan makan anak-anak itu!”
Dan semua orang selalu menertawakannya.
Polisi akhirnya menemukan fakta yang jauh lebih mengerikan.
Gudang tua itu ternyata pernah disewa diam-diam oleh sindikat perdagangan ilegal bertahun-tahun lalu.
Ruangan bawah tanah digunakan untuk menyimpan hewan liar dan tempat penyiksaan.
Bahkan diduga menjadi lokasi penahanan korban penculikan.
Dan malam itu…
Sela membakar gudang karena dia melihat sesuatu bergerak lagi di bawah lantai.
Sesuatu…
yang menurutnya “bangun kembali.”
Saat ambulans datang menjemputnya, warga hanya diam.
Tak ada lagi yang melempar batu.
Tak ada lagi yang menghina.
Karena perempuan yang mereka sebut gila selama bertahun-tahun…
ternyata satu-satunya orang yang cukup berani untuk membuat semua orang melihat kebenaran.
Dan saat mobil ambulans pergi perlahan meninggalkan kampung…
Sela menatap keluar jendela sambil tersenyum kecil.
Lalu berbisik pelan:
“Akhirnya… suara mereka berhenti menangis.”

Malam setelah gudang itu terbakar…
seluruh Kampung Damai tidak ada yang berani tidur.
Polisi memasang garis kuning di sekitar puing-puing gudang.
Mobil forensik keluar masuk sampai subuh.
Dan semakin mereka menggali…
semakin mengerikan yang mereka temukan.
Di bawah ruang bawah tanah itu ternyata masih ada lorong sempit lain.
Gelap.
Lembap.
Penuh bekas rantai di dinding.
Salah satu polisi senior bahkan langsung terduduk saat menemukan coretan kecil di tembok:
“Tolong kami.”
Tulisan tangan anak kecil.
Warga mulai menangis.
Karena mereka akhirnya sadar…
selama bertahun-tahun mereka hidup di atas mimpi buruk tanpa mengetahuinya.
Dan orang yang mereka hina sebagai perempuan gila…
ternyata adalah satu-satunya yang mendengar jeritan para korban.
Keesokan paginya, berita tentang gudang itu viral di seluruh Indonesia.
Pak Gusti langsung ditangkap polisi untuk diperiksa.
Meski terus bersumpah tidak tahu apa-apa…
fakta bahwa gudang itu miliknya membuat semua orang mencurigainya.
Tapi yang paling membuat warga ketakutan adalah pengakuan Sela.
Sebelum dibawa ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa…
dia sempat berkata sesuatu pada polisi:
“Mereka belum semuanya pergi…”
Kalimat itu menyebar cepat ke seluruh kampung.
Dan sejak malam itu…
beberapa warga mulai mendengar suara aneh dari arah puing gudang.
Tangisan kecil.
Suara rantai diseret.
Kadang ada yang melihat bayangan anak-anak berdiri di dekat lokasi kebakaran lalu menghilang begitu saja.
Tak ada lagi yang berani lewat sendirian setelah magrib.
Namun bagian paling menyakitkan baru terungkap seminggu kemudian.
Seorang polisi datang ke rumah Ketua RT membawa sebuah kotak kecil berisi barang-barang korban yang ditemukan di bawah tanah.
Di dalamnya ada:
gelang anak-anak…
sepatu kecil…
boneka lusuh…
dan sebuah kalung kupu-kupu berwarna biru.
Saat melihat kalung itu…
Bu Ratna langsung menjerit histeris.
Karena kalung itu milik putrinya yang hilang enam tahun lalu.
Anaknya hilang saat pulang mengaji.
Dan selama ini…
semua orang mengira anak itu diculik orang luar kota.
Ternyata…
dia tidak pernah benar-benar pergi jauh.
Tangisan Bu Ratna membuat seluruh kampung ikut hancur.
Satu per satu warga mulai sadar bahwa beberapa orang hilang selama ini mungkin berakhir di tempat mengerikan itu.
Malam harinya…
warga kampung berkumpul diam-diam di depan rumah sakit tempat Sela dirawat.
Tak ada yang membawa batu lagi.
Tak ada hinaan.
Yang mereka bawa adalah makanan, pakaian, dan bunga.
Ketua RT sendiri datang sambil menangis.
“Sela… maafkan kami…”
Perempuan itu duduk diam di sudut ruangan sambil memeluk lututnya.
Tatapannya kosong.
Lalu perlahan dia tersenyum kecil.
“Aku tidak marah…”
Air matanya jatuh pelan.
“Aku cuma sedih… waktu mereka menangis minta tolong… tidak ada yang percaya padaku…”
Semua orang langsung menunduk.
Karena itu benar.
Bertahun-tahun mereka memilih menertawakan Sela daripada mendengarkannya.
Beberapa bulan kemudian…
lokasi gudang itu dihancurkan total dan diubah menjadi taman kecil dengan monumen sederhana.
Di tengah taman itu tertulis:
“Untuk jiwa-jiwa yang tidak sempat pulang.”
Dan di pojok bawahnya…
ada satu nama tambahan yang diminta sendiri oleh warga kampung:
SELA.
Bukan sebagai perempuan gila.
Tapi sebagai wanita yang berani menghadapi api demi menghentikan mimpi buruk yang tak mampu dilihat orang lain.
Kadang-kadang…
anak-anak kecil di kampung masih suka melihat seorang wanita duduk diam di taman itu saat malam.
Rambutnya panjang.
Bajunya sederhana.
Tersenyum sambil memandangi langit.
Dan anehnya…
sejak gudang itu terbakar…
tak pernah ada lagi suara tangisan misterius dari ujung kampung.