Mertuaku Menamparku di Depan Seluruh Keluarga Besar, Menyebutku Tidak Berguna Karena Belum Punya Anak. Aku Tersenyum dan Berbisik Bahwa Tanah di Bawah Mansion Mereka Lebih Dulu Ditandatangani Atas Nama Kakekku Sebelum Menjadi Kerajaan Keluarga Chua
Bagian 1: Pada Makan Malam Tahun Baru, Secangkir Salabat Panas, Sebuah Tamparan, dan Seorang Suami yang Menunduk Menatap Ponselnya Menghancurkan Harapan Terakhirku
—Berlututlah.
Itulah kata pertama yang kudengar dari ibu mertuaku pada malam pertama Tahun Baru.
Bukan ucapan selamat.
Bukan pertanyaan apakah aku sudah makan.
Bahkan bukan, “Mara, Nak, apa kamu baik-baik saja?”
Hanya sebuah perintah.
Dingin.
Berat.
Seolah aku adalah pembantu yang tertangkap mencuri di rumahnya sendiri.
Doña Corazon Chua berdiri di tengah ruang tamu dengan gaun sutra merah yang selalu ia kenakan saat ada tamu. Anting mutiara besar berkilauan di telinganya. Di lehernya tergantung kalung emas yang nilainya hampir setara dengan setengah tahun gaji seorang pegawai kantoran.
Di tangannya, ia memegang semangkuk salabat yang direbusnya sejak pagi.
Itu bukan salabat biasa.
Menurutnya, ada campuran berbagai bubuk dari tabib desa.
Katanya untuk menghangatkan tubuh.
Untuk memperkuat rahim.
Untuk membantu seorang wanita yang sudah lama “kering keberuntungan” agar bisa hamil.
Wanita itu adalah aku.
Aku yang dimaksudnya.
Sudah tiga tahun aku menjadi istri Enzo Chua.
Dan selama tiga tahun itu pula aku disebut kurang, dingin, tidak berguna, dan bukan wanita sejati di rumah ini.
Awalnya tidak secara langsung.
Hanya sindiran.
Tatapan.
Desahan setiap kali tetangga mendapat cucu baru.
Senyum penuh iba saat anak-anak berlari di acara keluarga.
Sampai akhirnya sindiran berubah menjadi kata-kata.
Dan kata-kata berubah menjadi perintah.
—Ma, sudahlah.
Itu suara Enzo.
Ia duduk di sofa, satu tangan memegang ponsel, satu tangan memegang remote AC. Bahkan saat berbicara, ia tidak menoleh kepadaku.
—Ini Tahun Baru. Jangan dibesar-besarkan.
Dibesar-besarkan.
Baginya, apa yang terjadi padaku hanyalah hal kecil.
Gangguan.
Kebisingan.
Adegan yang harus segera selesai agar semuanya kembali normal.
Ibu mertuaku menunjuk ke arahku.
—Tiga tahun aku menerimanya di keluarga ini. Tiga tahun aku memberinya makan. Tiga tahun aku menunggu dia memberiku cucu. Sekarang, bahkan semangkuk salabat saja dia tidak mau minum.
Aku menarik napas panjang.
—Ma, bukan karena saya tidak mau. Saya sudah memeriksakan diri ke dokter. Campuran seperti ini tidak aman. Obat seperti ini tidak boleh diminum sembarangan.
Dia tertawa.
Bukan tawa keras.
Bukan tawa bahagia.
Tawa kering yang lebih menyakitkan daripada teriakan.
—Dokter? Sekarang kamu mau mengajariku? Memangnya kamu anak dokter? Keturunan orang kaya? Kalau bukan karena anakku, mungkin sampai sekarang kamu masih berjualan kue tradisional di pasar bersama kakekmu yang berbau asap.
Jari-jariku langsung menegang.
Kakekku.
Kakek Amando.
Orang yang membesarkanku setelah ibuku meninggal.
Orang yang bangun pukul empat pagi untuk menyiapkan sarapanku saat sekolah.
Orang yang memakai sandal yang sama selama lima tahun agar bisa membelikanku buku.
Orang yang tidak pernah meminta balasan apa pun.
Aku tidak menjawab.
Aku menunduk hendak mengambil mangkuk itu.
Namun sebelum tanganku menyentuh meja, ibu mertuaku sudah melemparkannya ke lantai.
Prang!
Salabat panas memercik ke kakiku.
Pecahan porselen menggores telapak tanganku.
Kulitku robek.
Garis merah tipis perlahan muncul.
Diam.
Tenang.
Seolah darahku sendiri takut membuat keributan di rumah keluarga Chua.
—Lihat itu.
Dia menunjuk tanganku.
—Begitulah kamu. Sedikit panas, sedikit sakit, langsung merasa tertindas. Bagaimana kamu bisa menjadi ibu kalau tubuhmu saja lemah?
Di ujung ruang tamu, kakak iparku Bianca duduk memperhatikan.

Istri kakak Enzo.
Ia memiliki dua anak laki-laki.
Dua anak yang selalu dipamerkannya di depanku seperti medali kemenangan.
Ia menutup mulut seolah tidak sedang tertawa.
Tetapi aku melihat matanya.
Dia senang.
Ada kebahagiaan kecil yang hanya dimiliki orang yang aman karena kali ini bukan dirinya yang menjadi sasaran.
—Mara, minumlah saja.
Kata Bianca.
—Tidak ada ruginya. Siapa tahu berhasil. Sulit lho hidup tanpa anak. Apalagi kalau suamimu anak laki-laki dalam keluarga.
Enzo bahkan bukan anak sulung.
Dia anak kedua.
Tetapi di rumah ini, setiap masalah tentang anak selalu menjadi kesalahanku.
Semua rasa malu milikku.
Semua sikap diam Enzo harus kupahami.
Aku menatapnya.
Dia mengenakan polo biru.
Rapi.
Harum.
Pria yang dulu berjanji tidak akan meninggalkanku kini duduk di sana seperti tamu dalam pernikahannya sendiri.
—Enzo.
Suaraku pelan.
Namun di dalam hati, aku masih berharap.
Sekali saja.
Aku berharap dia berdiri.
Menggenggam tanganku.
Mengatakan cukup.
Mengatakan bahwa aku adalah istrinya.
Tetapi yang dia lakukan hanyalah mengunci layar ponselnya.
Lalu menghela napas.
—Mara, turuti saja Mama. Biar semuanya selesai.
Biar semuanya selesai.
Itulah nilainya diriku.
Aku tidak perlu dibela.
Aku hanya perlu dibungkam.
—Saya tidak akan meminumnya.
Mereka terkejut.
Bahkan aku sendiri terkejut mendengar suaraku.
Tidak keras.
Tetapi tegas.
Ibu mertuaku berdiri.
Perlahan berjalan mendekat.
Hak sepatunya mengetuk lantai marmer.
Tok.
Tok.
Tok.
Seperti hitungan mundur menuju hancurnya sisa rasa hormatku kepada keluarga ini.
—Apa yang kamu katakan?
—Saya tidak akan meminumnya.
Tangannya terangkat.
Hanya sekejap.
Lalu rasa sakit meledak di pipi kiriku.
Plak!
Kepalaku terlempar ke samping.
Seluruh ruang tamu terdiam.
Bahkan anak-anak yang bermain di dekat tangga berhenti bergerak.
Pipiku terasa terbakar.
Panas.
Seolah bara api ditempelkan ke kulitku.
Tetapi itu bukan bagian yang paling menyakitkan.
Yang paling menyakitkan adalah ketika aku menoleh kepada Enzo.
Dia melihatku.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu kembali menatap ponselnya.
Tanpa marah.
Tanpa iba.
Tanpa rasa malu.
Seolah yang dilihatnya hanya piring pecah.
Bukan istrinya yang baru saja ditampar di depan semua orang.
Aku memegang pipiku.
—Ma…
Kata Enzo dengan nada lelah.
—Ini sudah keterlaluan.
Aku sempat berpikir akhirnya dia akan membelaku.
Tetapi kalimat berikutnya menghancurkan semuanya.
—Nanti tetangga bisa dengar.
Bukan karena aku terluka.
Bukan karena ibunya salah.
Tetapi karena takut tetangga mendengar.
Takut mereka dipermalukan.
Ibu mertuaku tersenyum.
Dia menang.
—Pergilah ke kamarmu, Mara. Pikirkan apa gunamu di rumah ini. Besok pagi kamu akan minum salabat itu. Setelah itu kamu akan diperiksa dokter pilihan saya.
Aku tidak menjawab.
Aku memungut pecahan mangkuk dari lantai.
Satu.
Dua.
Tiga.
Darah mulai menetes dari jariku.
Tetapi aku tidak menangis di depan mereka.
Bukan di sana.
Bukan di lantai marmer yang mereka banggakan.
Bukan di bawah lampu kristal yang lebih mahal daripada rumah lama kakekku.
Bukan di depan orang-orang yang hanya menunggu saat aku jatuh.
Aku berbalik.
Naik ke lantai atas.
Di setiap langkah, aku masih mendengar suara Bianca dari bawah.
—Kasihan sekali Enzo. Dia begitu baik, tapi mendapatkan istri seperti itu.
Tidak ada yang menegurnya.
Tidak ada yang mengatakan dia salah.
Saat pintu kamar tertutup, barulah air mataku jatuh.

Bukan karena tamparan itu.
Tetapi karena keheningan.
Ada luka yang hanya berlangsung satu detik.
Ada keheningan yang membunuhmu perlahan selama bertahun-tahun.
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir dari cerita tersebut:
Bagian 2: Lembaran Kertas yang Menguning dan Senyum di Balik Air Mata
Aku mengunci pintu kamar rapat-rapat. Air mata yang kutahan di bawah tangga akhirnya tumpah, membasahi pecahan porselen dan darah yang masih menggumpal di telapak tanganku. Namun, rasa perih di kulit tak sebanding dengan dinginnya sikap Enzo. Pria yang malam ini memilih menjaga reputasi keluarganya dibanding harga diri istrinya.
Aku berjalan ke arah lemari tua di sudut kamar—satu-satunya barang dari rumah kakekku yang kuizinkan dibawa ke mansion ini. Dari bagian paling bawah, di bawah tumpukan kain tenun lama, aku mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang terkunci.
Di dalamnya ada sebuah map kulit usang. Aku membukanya. Di sana terbaring selembar sertifikat tanah kuno berbahasa Belanda dan Melayu tua, lengkap dengan segel resmi pemerintahan masa lalu.
“Tanah ulayat dan kepemilikan mutlak atas nama Amando Saputra.”
Aku mengusap air mataku. Kakek Amando bukan hanya seorang penjual kue tradisional. Dia adalah pria yang memilih hidup sederhana demi melindungiku dari ketamakan dunia. Sebelum dia meninggal, dia membisikkan satu rahasia: “Mansion megah yang dibangun keluarga Chua itu berdiri di atas tanah yang disewa dari keluarga kita selama 99 tahun. Dan tahun ini, masa sewa itu habis.”
Selama ini aku diam. Aku bertahan karena aku mencintai Enzo, berharap ketulusanku bisa melunakkan hati ibunya. Namun malam ini, tamparan itu dan pandangan Enzo yang tak beralih dari ponselnya telah membangunkan aku dari mimpi buruk.
Aku membersihkan lukaku, memakai riasan tipis untuk menyamarkan bekas tamparan di pipi, lalu berjalan turun kembali ke ruang makan dengan map kulit di pelukanku.
Bagian 3: Runtuhnya Kerajaan Keluarga Chua
Suasana di bawah masih ramai. Gelak tawa Bianca dan suara denting gelas mewah berdenting di udara. Begitu langkah kakiku terdengar, keheningan kembali merayap.
Doña Corazon menatapku dengan jijik dari ujung meja makan panjangnya. “Untuk apa kamu turun lagi? Belum cukup mempermalukan diri sendiri?”
Enzo menghela napas berat, akhirnya meletakkan ponselnya. “Mara, tolonglah. Masuk kamar. Jangan buat drama baru.”
Aku tidak menangis. Aku justru melangkah maju dengan kepala tegak, mendekati kursi kebesaran Doña Corazon. Aku meletakkan map kulit usang itu tepat di atas piring porselen mahalnya, menutup sisa makanan mewah yang ada di sana.
“Apa ini? Kamu mau pamer sampah dari kakekmu yang miskin itu?” sinis Doña Corazon, hendak menepis map tersebut.
“Buka saja, Ma,” kataku, suaraku begitu tenang hingga membuat Bianca menghentikan tawanya. “Itu adalah surat kepemilikan tanah ini. Tanah di bawah lantai marmer yang Mama banggakan, di bawah lampu kristal yang Mama pamerkan.”
Doña Corazon mengerutkan kening, lalu dengan enggan membuka map itu. Kerutan di dahinya perlahan berubah menjadi ekspresi tegang. Wajahnya yang semula kemerahan karena amarah mendadak pucat pasi saat membaca nama yang tertera di sana, lengkap dengan tanggal kedaluwarsa hak guna bangunan yang jatuh tepat pada bulan ini.
“I-ini tidak mungkin… Ini palsu!” tangan Doña Corazon mulai gemetar.
Enzo yang menyadari perubahan wajah ibunya segera berdiri dan merebut kertas itu. “Mara… apa-apaan ini? Kakekmu… Amando?”
Aku tersenyum—senyuman paling tulus dan paling merdeka yang pernah kulayangkan di rumah ini. Aku membungkuk sedikit, mendekatkan wajahku ke telinga Doña Corazon yang kini membeku, lalu berbisik dengan nada yang sangat lirih namun tajam:
“Mama menyebut saya tidak berguna karena belum punya anak. Tapi tahukah Mama? Tanah di bawah mansion mewah ini lebih dulu ditandatangani atas nama kakek saya jauh sebelum tempat ini menjadi kerajaan keluarga Chua. Kontrak sewa kalian habis bulan ini. Dan sebagai ahli waris tunggal, saya tidak akan memperpanjangnya.”
Aku menegakkan tubuh, menatap Enzo yang kini memandangku dengan mata terbelalak, penuh rasa bersalah dan ketakutan yang terlambat. Ponselnya yang sedari tadi ia agungkan kini tergeletak tak berarti di lantai.
“Besok, pengacara saya akan mengirimkan surat pengosongan lahan,” kataku sambil berbalik arah, melangkah mantap menuju pintu keluar. “Selamat Tahun Baru, keluarga Chua. Silakan nikmati malam terakhir kalian di rumah saya.”
Aku pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan jeritan histeris Doña Corazon dan panggilan panik Enzo yang menggema di dalam mansion yang sebentar lagi akan runtuh bersama kesombongan mereka.