Saat Kubuka Hadiah Valentine yang Dikirim Sekretaris Suamiku, Hatiku Langsung Hancur… Tapi yang Dilakukannya Malam Itu Jauh Lebih Kejam—Dia Menyeretku ke Rumah Sakit Demi Membuktikan Bahwa Dia Tidak Menyentuh Istrinya Sendiri.
BAGIAN 1
Hari itu adalah Hari Valentine.
Saat aku pulang ke rumah, sebuah kotak hadiah mewah sudah menungguku di ruang tamu.
Aku sempat berpikir…
Akhirnya suamiku, Adrian, masih mengingatku.
Namun ketika kubuka kotak itu…
Duniaku seolah berhenti berputar.
Bukan perhiasan.
Bukan bunga.
Melainkan…
Satu kotak penuh kondom dengan berbagai rasa.
Ada rasa stroberi.
Anggur.
Cokelat.
Mint.
Dan masih banyak lagi.
Aku bahkan belum sempat mencerna semuanya…
Ponsel Adrian tiba-tiba berdering.
Panggilan itu menggunakan mode speaker.
Aku mendengar suara sekretarisnya, Angela.
Ia menangis tersedu-sedu.
“Adrian…”
“Rasa stroberinya kurang satu.”
“Jangan bilang…”
“…kamu memakainya dengan istrimu?”
Sebelum Adrian sempat menjawab…
Angela sudah lebih dulu histeris.
“Aku tidak percaya!”
“Buktikan padaku!”
“Kalau tidak…”
“Jangan pernah sentuh aku lagi!”
Adrian hanya diam.
Kemudian…
Ia menarik napas panjang.
Lalu menoleh ke arahku.
“Ganti pakaian.”
Aku terkejut.
“Untuk apa?”
“Kita harus pergi.”
Ia tidak menjelaskan apa pun.
Beberapa menit kemudian…
Ia menyeretku masuk ke dalam mobil.
Kami langsung menuju sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.
Sesampainya di sana…
Ia membawaku ke Poli Obstetri dan Ginekologi (Obgyn).
Dokter tampak kebingungan.
“Maaf, ada masalah apa?”
Dengan nada dingin Adrian menjawab,
“Saya membutuhkan pemeriksaan medis.”
“Dan surat keterangan resmi.”
Aku menatapnya bingung.
“Surat keterangan untuk apa?”
Ia menatapku lurus.
“Untuk membuktikan…”
“…bahwa selama beberapa hari terakhir…”
“…aku tidak menyentuhmu.”
Rasanya seperti disiram air es.
Aku tidak mampu berbicara.
Bahkan tubuhku tak sanggup bergerak.
Pria yang kucintai sejak usia tujuh belas tahun.
Pria yang kemudian menjadi suamiku.
Hari ini…
Membawaku ke rumah sakit.
Bukan untuk merawatku.
Bukan untuk melindungiku.
Melainkan demi membuktikan kepada wanita simpanannya…
Bahwa ia tidak berhubungan dengan istrinya sendiri.
Air mataku akhirnya jatuh.
“Adrian…”
“Meskipun kamu sudah tidak mencintaiku…”
“…aku tetap istrimu.”
“Kita bersama sejak usia tujuh belas tahun.”
“Serendah ini kah harga diriku di matamu?”
Ekspresinya sama sekali tidak berubah.
Bahkan…
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis.
“Baru sekarang kamu tahu malu?”
“Dulu waktu umurmu tujuh belas tahun…”
“…dan kamu rela tidur denganku…”
“…kamu tidak malu, kan?”
Kalimat itu menghantam dadaku seperti pisau.
Tangisku pecah.
Sebenarnya…
Aku sudah lama tahu dia memiliki wanita lain.
Namun aku tak pernah menyangka…
Akan datang hari…
Saat harga diriku sendiri…
Ia korbankan hanya demi menyenangkan selingkuhannya.
Mungkin…
Ia melihat aku sudah hampir sesak karena terus menangis.
Untuk pertama kalinya…
Terlihat sedikit penyesalan di wajahnya.
Dengan suara pelan ia berkata,
“Aku benar-benar tidak punya pilihan malam ini.”
“Tolong bantu aku.”
“Rumah liburan kita akan kubaliknamakan atas namamu.”
“Anggap saja itu sebagai gantinya.”
Aku tertawa.
Tawa yang pahit.
Begitu menyakitkan.
Jadi…
Beginilah harga kehormatanku.
Sebuah rumah.
Ia membungkuk.
Mengambil pakaian yang terjatuh ke lantai.
Lalu perlahan mendekat.
“Ayo.”
“Jangan menangis lagi.”
“Biar kubantu kamu berpakaian.”
Namun sebelum tangannya menyentuhku…
Aku segera menepisnya.
Lalu mundur beberapa langkah.
“Jangan sentuh aku!”
Ia langsung membeku.
Ia tidak terbiasa…
Ditolak olehku.
Perlahan wajahnya berubah dingin.
Dengan kesal ia melemparkan pakaianku kembali ke lantai.
“Kalau saja kamu tidak mengambil kondom rasa stroberi yang memang untuk Angela…”
“…dia tidak akan curiga.”
Di luar jendela…
Hujan turun sangat deras.
Tiba-tiba aku teringat malam hujan bertahun-tahun yang lalu.
Saat usiaku baru tujuh belas tahun.
Ayahku menghabiskan seluruh uang sekolahku di meja judi.
Aku tidak punya siapa pun untuk dimintai bantuan.
Karena itu…
Aku mendatangi Adrian.
Pemuda yang diam-diam telah lama menyukaiku.
Aku berkata kepadanya,
“Aku butuh uang.”
Saat itu ia tersenyum.
Lalu berkata pelan,
“Jangan cintai uang.”
“Cintailah aku.”
“Apa pun yang kamu butuhkan…”
“Aku akan memberikannya.”
Aku masih terlalu muda saat itu.

Aku tidak tahu…
Bahwa ada hadiah yang tampak seperti anugerah pada pandangan pertama…
Padahal…
Sejak awal hanyalah sebuah jebakan.
BAGIAN 2 (TAMAT)
Di dalam ruang periksa yang dingin itu, dokter kandungan tersebut menatap kami dengan tatapan ngeri sekaligus kasihan. Adrian kembali mendesak, “Dokter, cepat periksa dia dan keluarkan suratnya. Saya tidak punya banyak waktu.”
Aku menghapus sisa air mata di pipiku. Rasa sakit yang luar biasa di dadaku tiba-tiba menguap, digantikan oleh mati rasa dan tekad yang bulat. Kilatan cinta yang kupelihara sejak usia tujuh belas tahun runtuh menjadi abu.
“Tidak perlu, Dokter,” kataku dengan suara yang sangat tenang dan lantang.
Adrian mengerutkan kening, wajahnya menegang. “Linh, jangan membuat drama di sini. Ingat kesepakatan kita, rumah liburan itu akan menjadi milikmu!”
Aku menatapnya, lalu tersenyum tipis—senyuman pertama yang kuberikan sejak kotak hadiah itu kubuka. Aku merogoh tas tanganku, mengeluarkan sebuah pulpen perekam suara digital berbentuk elegan yang selalu kubawa untuk keperluan rapat perusahaan, lalu mematikan tombol rekamannya.
“Kamu benar, Adrian. Aku tidak perlu malu atas apa yang kulakukan saat usia tujuh belas tahun demi menyambung hidup. Tapi kamu… kamulah yang harusnya malu.”
Aku melangkah mendekati dokter tersebut, membungkuk pelan meminta maaf karena telah membuat kegaduhan, lalu kembali menatap suamiku.
“Semua ucapanmu sejak di rumah, percakapan histeris Angela di telepon tentang kondom itu, hingga paksaanmu di rumah sakit ini… semuanya sudah terekam dengan sangat jelas di sini,” ujarku sambil mengangkat pulpen tersebut.
Wajah Adrian seketika berubah pucat pasi. “Linh! Berikan itu padaku!” Ia mencoba meredam suaranya agar tidak memancing perhatian orang di luar ruangan, lalu melangkah maju untuk merebutnya.
Aku langsung mundur dua langkah, tepat di belakang beberapa petugas keamanan rumah sakit yang masuk setelah mendengar keributan.
“Adrian, kamu lupa siapa yang memegang kendali atas saham mayoritas peninggalan almarhum ayahmu di perusahaan?” tanyaku dingin. “Selama ini aku diam dan memberikan hak suaramu karena aku menghormatimu sebagai suami. Tapi malam ini, kamu sendiri yang menginjak-injak harga diriku.”
Aku mengeluarkan ponselku, menekan satu tombol, dan mengirimkan file rekaman audio tersebut langsung ke grup obrolan seluruh dewan direksi dan investor utama perusahaan, lengkap dengan draf gugatan cerai yang sudah disiapkan oleh pengacaraku sejak sebulan lalu.
“File ini sudah terkirim ke semua kolegammu. Besok pagi, seluruh dunia bisnis akan tahu bahwa CEO mereka adalah pria amoral yang menyeret istrinya ke rumah sakit demi membuktikan kesetiaannya pada seorang selingkuhan,” lanjutku. “Dan soal rumah liburan itu? Jangan khawatir, lewat sidang perceraian nanti, aku tidak hanya akan mengambil rumah itu, tapi juga mendepakmu dari kursi CEO atas klausul pencemaran nama baik perusahaan.”
Tepat saat itu, ponsel Adrian berdering hebat. Layarnya menampilkan nama salah satu investor terbesar mereka. Wajah Adrian kini tidak lagi pucat, melainkan abu-abu seperti mayat. Ia menyadari dalam sekejap bahwa karier, reputasi, dan kekayaannya telah hancur berantakan.
“Linh… tolong, jangan lakukan ini. Aku minta maaf, aku khilaf!” Adrian jatuh berlutut di lantai rumah sakit, mencoba menggapai ujung gaungku dengan tangan gemetar.
Aku melangkah mundur, menghindari sentuhannya seolah ia adalah sampah yang menjijikkan.
“Jebakanmu selama bertahun-tahun ini sudah selesai, Adrian. Terima kasih atas hadiah Valentine terbaik ini. Aku akhirnya bebas.”
Aku membalikkan badan dan berjalan keluar dari rumah sakit. Di luar, hujan deras masih mengguyur Jakarta, tetapi di dalam hatiku, badai itu telah berlalu. Aku melangkah masuk ke dalam taksi yang sudah menungguku, siap menyongsong hidup baru yang sepenuhnya milikku sendiri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.