Posted in

GAUN SAYA DIPAKAI WANITA LAIN, DAN SUAMIKU MENGGANDENGNYA DI PESTA, SEMENTARA AKU HANYA TERDIAM MENONTON DARI SUDUT YANG GELAP**

GAUN SAYA DIPAKAI WANITA LAIN, DAN SUAMIKU MENGGANDENGNYA DI PESTA, SEMENTARA AKU HANYA TERDIAM MENONTON DARI SUDUT YANG GELAP**

Giselle mengenakan gaunku, kalungku melingkar di lehernya, dan ia menggandeng lengan suamiku, Alejandro, saat mereka melangkah dengan anggun memasuki aula pesta.

Gaun itu adalah karya *haute couture* yang dibuat khusus—hanya ada satu di seluruh dunia.

Kalung itu adalah hadiah yang kuterima pada hari pernikahanku.

Kilauan berlian di bawah lampu kristal begitu menyilaukan hingga membuat mataku terasa perih.

Ia tersenyum penuh kebanggaan, bak seekor merak yang memamerkan keindahannya.

Kepada setiap orang yang ditemuinya, ia memperkenalkan diri.

“Aku istri Alejandro.”

Aku berdiri di sudut ruangan yang gelap, menggenggam segelas anggur merah, diam-diam menyaksikan sandiwara yang ia mainkan.

Cairan merah tua di dalam gelas bergoyang pelan, tetapi tak seorang pun mampu membaca perasaanku.

Alejandro melihatku.

Ada sedikit kebingungan di matanya, namun ia segera menguasai diri.

Bahkan ia mengangkat gelasnya ke arahku, seolah menyapa seorang asing.

Aku tidak bereaksi.

Pandanganku beralih darinya kepada Giselle.

Ia juga menyadari kehadiranku.

Senyumnya langsung berubah menjadi tatapan penuh tantangan.

Ia sengaja merapatkan tubuhnya dan memeluk lengan Alejandro lebih erat.

Bibirnya bergerak pelan, seakan berkata tanpa suara,

“Lihat? Akulah pemenangnya.”

Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan.

Semua mata bergantian memandang kami bertiga—aku, Alejandro, dan Giselle.

Ada yang merasa iba.

Ada yang memandang rendah.

Namun sebagian besar justru menikmati situasi itu karena mereka menyukai skandal.

Alejandro adalah pengusaha muda ternama yang sedang naik daun di dunia bisnis.

Sementara aku adalah istrinya yang selama ini selalu berada di balik layar dan hampir tak pernah tampil di depan publik.

Sedangkan Giselle adalah artis baru di perusahaan miliknya, masih muda dan cantik.

Pertemuan langsung antara istri sah dan wanita simpanan sudah cukup menjadi bahan gosip selama berminggu-minggu.

Alejandro jelas merasakan ketegangan itu.

Ia membisikkan sesuatu kepada Giselle, berniat mengajaknya pergi ke tempat lain.

Namun Giselle menolak.

Sebaliknya, ia justru semakin menarik perhatian semua orang.

Ia berbicara kepada seorang sutradara.

“Pak Surya, Alejandro bilang proyek berikutnya aku yang akan menjadi pemeran utama.”

Suaranya cukup keras hingga terdengar jelas olehku.

Aku menyesap sedikit anggur.

Rasa pahit di ujung lidahku cukup untuk menahan rasa sesak yang memenuhi dadaku.

Tiga tahun menikah.

Aku mengurus seluruh keluarganya.

Aku menjaga semua hubungan sosial.

Bahkan aku menggunakan relasiku sendiri untuk membantu kariernya.

Namun inilah balasan yang kuterima.

Tepat pada saat itu…

Pintu besar aula kembali terbuka.

Seluruh ruangan langsung terdiam.

Bahkan musik latar seolah berhenti sesaat.

Yang datang adalah **Tuan Fernando**.

Pemilik sebenarnya dari pesta investasi malam itu.

Seorang tokoh berpengaruh di dunia keuangan yang mampu mengguncang pasar hanya dengan satu keputusan.

Usianya sudah lebih dari lima puluh tahun.

Ia mengenakan setelan hitam bergaya Tionghoa.

Meski wajahnya tenang, auranya begitu mengintimidasi.

Tatapan tajamnya menyapu seluruh ruangan.

Semua orang menahan napas.

Alejandro buru-buru melepaskan tangan Giselle, memasang senyum paling sopan, lalu menghampirinya.

“Selamat malam, Tuan Fernando. Anda sudah datang.”

Namun Tuan Fernando bahkan tidak meliriknya.

Tatapannya justru terpaku pada Giselle.

Lebih tepatnya…

Pada kalung yang dikenakannya.

Alisnya langsung berkerut.

Suasana aula menjadi sangat sunyi.

Seolah seluruh ruangan membeku.

Akhirnya, Tuan Fernando mengangkat pandangannya dan menatap Alejandro.

Suaranya tidak keras.

Namun setiap katanya terasa seperti palu berat yang menghantam dada semua orang.

“Alejandro.”

“Y-ya, Tuan Fernando.”

Alejandro segera menundukkan kepala.

Tuan Fernando menunjuk ke arah Giselle.

Setiap katanya terdengar dingin.

“Barang-barang milik putriku…”

“Kenapa bisa dipakai wanita seperti itu?”

Kelanjutan dan Akhir Cerita

Aula pesta yang megah itu seketika berubah menjadi senyap seolah-olah seluruh pasokan udara baru saja disedot keluar.

Kalimat pendek Tuan Fernando bergema di antara pilar-pilar marmer, menghantam kesadaran Alejandro dan Giselle seperti petir di siang bolong.

Alejandro membeku. Wajahnya yang semula penuh percaya diri langsung memucat, menyisakan tatapan kosong yang penuh kepanikan. Ia menoleh perlahan ke arah Giselle, lalu kembali menatap Tuan Fernando dengan bibir yang gemetar.

“T-Tuan Fernando… apa maksud Anda? Putri Anda?” suara Alejandro mencicit, nyaris tak terdengar.

Giselle tak kalah terkejut. Tangan yang semula memeluk lengan Alejandro kini tergantung kaku di udara. Senyum angkuh di wajahnya runtuh seketika, digantikan oleh rasa ngeri yang menjalar cepat.

Tuan Fernando tidak menjawab pertanyaan Alejandro. Beliau tidak sudi membuang kata-kata untuk pria itu. Tatapannya yang tajam dan sedingin es beralih perlahan dari aula yang terang benderang, menyapu kerumunan orang, hingga akhirnya berhenti tepat pada sudut yang gelap.

Tempat di mana aku berdiri.

“Alethea,” panggil Tuan Fernando. Suaranya melunak, penuh kehangatan seorang ayah yang tak pernah ditunjukkannya kepada dunia bisnis. “Kemari, Nak.”

Langkah di Bawah Cahaya

Bisik-bisik yang semula tertahan kini pecah menjadi gemuruh keterkejutan. Semua pasang mata mengikuti arah pandang Tuan Fernando.

Aku meletakkan gelas anggur merahku di atas meja pelayan yang lewat. Dengan tenang, aku melangkah keluar dari bayang-bayang sudut ruangan. Gaun hitam sederhana yang kukenakan—yang sengaja kupilih untuk menyembunyikan diri—justru membuat auraku terlihat begitu elegan dan berkelas saat melangkah di bawah sorot lampu kristal.

Alejandro menatapku dengan mata membelalak hampir keluar. Selama tiga tahun pernikahan kami, dia hanya tahu bahwa aku adalah wanita yatim piatu dari keluarga biasa yang diadopsi oleh wali kaya. Dia tidak pernah tahu—karena aku sengaja merahasiakannya untuk menguji ketulusannya—bahwa wali kaya yang membesarkanku dan memberiku kalung pernikahan itu adalah Fernando Lin, penguasa tunggal konglomerasi keuangan terbesar di negeri ini.

“Papa,” sapaku lembut sambil meraih tangan Tuan Fernando.

Tuan Fernando mengusap punggung tanganku, lalu beralih menatap Alejandro dengan pandangan menghina.

“Tiga tahun lalu, saat kamu memohon restu untuk menikahi putriku, aku memberikan kalung berlian pusaka keluarga Lin ini sebagai simbol bahwa kamu harus menjaga kehormatannya,” kata Tuan Fernando, setiap kata berdentum berat. “Tapi malam ini, aku melihat kalung itu—dan gaun yang dirancang khusus untuk putriku—melekat pada tubuh seorang wanita murahan yang mengaku sebagai istrimu.”

“P-Papa… ini kesalahpahaman!” Alejandro langsung menjatuhkan lututnya ke lantai. Dia bersujud di depan Tuan Fernando, tidak memedulikan lagi harga dirinya di depan ratusan rekan bisnis. “Saya dijebak! Giselle yang mengambilnya sendiri dari ruang pakaian Alethea! Saya bersumpah!”

“Alejandro! Apa yang kamu katakan?!” Giselle berteriak panik, wajahnya pias. “Kamu yang bilang gaun dan kalung di lemari itu sudah tidak dipakai lagi oleh mantan pengasuh rumahmu! Kamu yang menyuruhku memakainya agar aku terlihat berkelas malam ini!”

Topeng cinta dan kesetiaan yang mereka pamerkan beberapa menit lalu hancur berkeping-keping. Mereka saling melempar kesalahan, berteriak panik seperti tikus yang terperangkap di dalam kapal yang karam.

Runtuhnya Sebuah Ambisi

Aku menatap Alejandro yang bersujud di dekat sepatuku. Tidak ada air mata di mataku. Rasa sakit hati yang kupendam selama berbulan-bulan telah mengkristal menjadi ketegasan yang mutlak.

“Alejandro,” panggilku pelan.

Pria itu mendongak dengan mata kemerahan, penuh harap. “Alethea, maafkan aku… Tolong beri aku kesempatan…”

“Giselle benar. Dia adalah pemenangnya,” kataku sambil tersenyum tipis, meniru kalimat yang diucapkan Giselle tanpa suara tadi. “Dia memenangkan seorang pria pengkhianat, pecundang yang rela membuang istrinya demi ambisi. Ambillah dia, Giselle. Dia sepenuhnya milikmu sekarang.”

Aku memberi isyarat kepada dua pengawal berbadan tegap yang berdiri di belakang Papaku.

“Lepaskan kalung itu dari lehernya. Kulitnya tidak pantas menyentuh warisan ibuku,” perintah Tuan Fernando dingin.

Pengawal maju tanpa ragu. Dengan kasar namun efisien, mereka melepas kalung berlian itu dari leher Giselle hingga wanita itu terpekik ketakutan.

“Dan untukmu, Alejandro,” Tuan Fernando menatap pria yang masih bersujud itu. “Mulai detik ini, seluruh investasi dari konsorsium Lin ditarik dari perusahaanmu. Besok pagi, pengacara kami akan mengirimkan surat sita aset dan gugatan cerai. Perusahaan konstruksi yang kamu banggakan itu? Aku akan memastikan namanya hilang dari bursa saham sebelum minggu ini berakhir.”

Mendengar hal itu, Alejandro lemas. Dia terduduk di lantai dengan tatapan kosong. Dia tahu betul bahwa tanpa suntikan dana dari keluarga Lin, perusahaannya hanyalah cangkang kosong yang akan bangkrut dalam hitungan hari. Proyek utama yang dijanjikannya pada Giselle kepada Pak Surya malam ini berubah menjadi lelucon terbesar.

Pulang yang Sesungguhnya

“Ayo pergi, Alethea. Tempat ini terlalu kotor untukmu,” kata Papa sambil menawarkan lengannya.

Aku tersenyum dan menyambut lengan Papaku. Kami berbalik, berjalan meninggalkan aula pesta tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di belakang kami, sayup-sayup terdengar suara histeris Giselle yang diciduk oleh petugas keamanan karena tuduhan pencurian barang mewah, serta tangisan penyesalan Alejandro yang terlambat.

Saat pintu besar aula tertutup di belakang kami, aku menghirup udara malam yang segar.

Selama tiga tahun, aku memilih berada di balik layar, mengorbankan diriku demi mendukung seorang pria yang salah. Namun malam ini, di bawah saksikan ratusan mata, aku tidak hanya keluar dari sudut yang gelap.

Aku telah kembali ke tempat yang seharusnya—sebagai seorang putri yang merdeka, siap menulis babak baru dalam hidupku tanpa ada lagi bayang-bayang kebohongan.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.