Posted in

AKU PULANG LEBIH AWAL DARI PERJALANAN BISNIS DAN MEMERGOKI PEMBANTU RUMAH TANGGAKU MENYERET IBUKU YANG SUDAH TUA KELUAR RUMAH SEPERTI PENGEMIS—PEMBALASANKU MENGHANCURKAN DUNIA MEREKA!**

AKU PULANG LEBIH AWAL DARI PERJALANAN BISNIS DAN MEMERGOKI PEMBANTU RUMAH TANGGAKU MENYERET IBUKU YANG SUDAH TUA KELUAR RUMAH SEPERTI PENGEMIS—PEMBALASANKU MENGHANCURKAN DUNIA MEREKA!**

I. Kejutan yang Ingin Kuberikan

Selama dua minggu aku berada di Dubai untuk perjalanan bisnis yang sangat penting.

Namaku Leandro, seorang arsitek sekaligus CEO perusahaan arsitektur milikku sendiri. Karena seluruh agenda rapat selesai lebih cepat dari jadwal, aku memutuskan pulang tiga hari lebih awal untuk memberi kejutan kepada istriku, Clara, dan ibuku yang berusia tujuh puluh lima tahun, Rosa.

Ibu Rosa adalah sumber inspirasiku dalam meraih semua kesuksesan. Setelah ayah meninggal dunia, beliau menghabiskan hidupnya bekerja sebagai tukang cuci demi membiayai pendidikanku. Ketika akhirnya aku berhasil dan hidup berkecukupan, aku berjanji beliau tidak akan pernah merasakan kesusahan lagi.

Aku mengajak beliau tinggal di rumah mewahku agar dapat menikmati masa tua dengan nyaman. Aku juga mempekerjakan seorang asisten rumah tangga bernama Mylene untuk merawatnya.

Sambil membawa oleh-oleh dan tersenyum di dalam taksi menuju rumah, aku membayangkan pelukan hangat ibuku serta ciuman manis dari istriku.

Namun, aku sama sekali tidak menyangka bahwa kepulanganku kali ini justru akan membongkar wajah iblis yang bersembunyi di dalam rumahku sendiri.

### II. Pemandangan Mengerikan di Gerbang Rumah

Taksi berhenti tepat di depan gerbang besar rumahku.

Saat aku baru saja turun, pintu kecil di samping gerbang terbuka.

Senyum di wajahku langsung menghilang, berganti dengan keterkejutan dan kecemasan.

Dari dalam halaman, aku melihat Mylene, pembantu rumah tangga kami, sedang menyeret lengan ibuku dengan kasar.

Ibu Rosa, yang sudah sulit berjalan karena rematik, menangis sambil memohon ketika tubuhnya diseret menuju jalan yang terik.

“Mylene… tolong, jangan usir saya. Saya harus ke mana? Tunggu saja anak saya pulang…” pinta ibuku sambil menangis. Kedua tangannya yang kurus dan penuh keriput mencengkeram gerbang sekuat tenaga.

“Pergi dari sini, Nenek! Ibu cuma jadi beban di rumah ini!” bentak Mylene dengan wajah penuh hinaan.

Tanpa sedikit pun rasa kasihan, ia mendorong ibuku hingga terjatuh keras di atas lantai semen yang kasar.

Setelah itu, Mylene melemparkan sebuah kantong plastik tua berisi beberapa potong pakaian lama milik ibuku. Kantong itu menghantam bahu beliau.

“Pergi saja mengemis di jalan! Bau orang tua sepertimu bikin seluruh rumah jadi tidak nyaman!” katanya dengan nada mengejek.

Darahku langsung mendidih.

Rasanya seperti seluruh tubuhku disiram minyak panas.

Ibu yang selama ini kujaga, kuhormati, dan menjadi alasan aku bekerja keras, kini diperlakukan seperti sampah oleh seorang pembantu rumah tangga.

### III. Letusan Amarah

“Apa yang sedang kamu lakukan terhadap ibuku?!”

Suaraku menggema keras di sepanjang jalan.

Mylene langsung membeku dan perlahan menoleh ke arahku.

Begitu melihatku berdiri di depan gerbang, matanya membelalak lebar.

Wajahnya seketika pucat pasi.

Sapu yang sedang dipegangnya terlepas dari tangan, sementara kedua lututnya mulai gemetar hebat…

“T-Tuan Leandro…” Mylene terbata-bata, suaranya mendadak menciut. Ia langsung melangkah mundur, berusaha memasang wajah panik yang dibuat-buat. “Ini… ini tidak seperti yang Tuan lihat! Ibu Rosa tadi mengamuk dan ingin kabur, saya hanya mencoba menahannya—”

“CUKUP!” bentakku, memotong kebohongannya dengan suara yang menggelegar.

Aku tidak memedulikan Mylene lagi. Aku langsung berlari menghampiri ibuku yang terduduk di semen kasar. Jantungku perih melihat lututnya yang lecet dan tangannya yang gemetar karena ketakutan. Aku berlutut, memeluk tubuh ringkihnya yang sangat kurus.

“Ibu… ini Leandro, Bu. Leandro sudah pulang,” bisikku dengan tenggorokan yang tercekat menahan tangis.

Ibu memandangku dengan mata kaburnya yang basah oleh air mata. Begitu mengenali wajahku, beliau langsung menangis histeris dan memeluk leherku erat-erat. “Leandro… anakku… tolong Ibu, Nak. Jangan biarkan mereka membuang Ibu…”

Mendengar kata “mereka”, firasat buruk langsung menghantam dadaku. Mereka? Siapa lagi selain Mylene?

Aku membantu ibuku berdiri dengan sangat hati-hati, memapahnya ke dalam mobil taksi yang untungnya belum pergi jauh, dan meminta sopir untuk menyalakan AC agar ibuku bisa tenang. Setelah memastikan ibuku aman, aku berbalik dan berjalan mendekati Mylene dengan tatapan mata yang siap mencabik-cabik.

“Masuk ke dalam rumah. Sekarang,” perintahku dengan nada rendah yang sangat dingin.

Mylene gemetar hebat, tidak berani membantah, dan berjalan di depanku dengan langkah gontai.

IV. Konspirasi Iblis di Rumahku

Begitu pintu utama rumah mewahku terbuka, bau parfum mahal yang menyengat langsung menyambutku. Di ruang tamu, tampak istriku, Clara, sedang bersantai di sofa sambil menyesap anggur dan membaca majalah mode. Di sampingnya, bertumpuk tas-tas belanjaan dari merek mewah.

Clara menoleh ke arah pintu dan langsung terlonjak kaget saat melihatku. “Leandro?! Kamu… kamu sudah pulang? Bukankah seharusnya masih tiga hari lagi di Dubai?”

Aku tidak menjawab. Aku menatap tajam dari Clara ke arah Mylene yang kini berdiri menunduk di sudut ruangan.

“Clara, jelaskan padaku mengapa Mylene menyeret ibuku keluar rumah seperti pengemis,” kataku, berusaha menahan ledakan amarah agar suaraku tetap datar namun mematikan.

Clara sempat gugup, namun dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin dan acuh tak acuh. Ia berdiri, melipat tangannya di dada.

“Oh, jadi kamu sudah lihat?” Clara mendengus remeh. “Baguslah kalau begitu. Aku yang menyuruh Mylene mengusirnya, Leandro. Aku sudah bosan hidup dengan wanita tua renta yang menyusahkan itu. Rumah ini terlalu mewah untuk orang tua berbau minyak angin seperti dia. Aku ingin ibumu tinggal di panti jompo pinggiran kota, tapi dia menolak dan terus menangis, jadi aku menyuruh Mylene mendepaknya keluar.”

Darahku yang semula mendidih kini terasa membeku. Aku menatap wanita yang kunikahi dua tahun lalu ini. Di mana wajah manis dan lembut yang dulu ia tunjukkan sebelum kami menikah?

“Kamu mengusir ibuku? Di rumah yang kubeli dengan uangku sendiri?” tanyaku dengan nada sangar.

“Uangmu adalah uangku juga, Leandro! Aku istrimu!” sahut Clara dengan nada tinggi. “Lagipula, Mylene hanya melakukan tugasnya. Ibumu itu sudah pikun dan mengotori karpet mahalku!”

Aku tersenyum sinis. Senyuman yang membuat Clara dan Mylene seketika merinding.

“Kalian pikir aku bodoh? Kalian pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan selama aku berada di Dubai?”

Aku mengeluarkan ponselku. Sebelum pulang, aku sempat memeriksa notifikasi dari aplikasi sistem keamanan pintar rumahku yang terhubung langsung ke ponsel. Aku sengaja memasang kamera tersembunyi berukuran mikro di kamar ibuku sebulan lalu karena ibuku mengeluh sering kehilangan uang pensiun kecilnya.

Aku memutar sebuah video dan melemparkan ponselku ke atas meja kaca di depan Clara.

Di layar, terlihat rekaman tiga hari lalu. Clara dan Mylene sedang menggeledah kamar ibuku. Mylene menemukan perhiasan emas peninggalan almarhum ayahku yang disimpan ibuku di bawah kasur. Clara mengambil perhiasan itu sambil tertawa, lalu memberikan sebagian uang tunai kepada Mylene. Tidak hanya itu, ketika ibuku masuk dan memergoki mereka, Mylene tanpa ragu menampar pipi ibuku hingga beliau terjatuh, sementara Clara hanya menonton sambil tersenyum puas.

“Itu… itu palsu! Itu editan!” teriak Clara dengan wajah yang kini pucat pasi.

Mylene langsung berlutut di lantai. “Tuan Leandro, maafkan saya! Saya hanya menuruti perintah Ibu Clara! Beliau yang menjanjikan bonus jika saya berhasil membuat Ibu Rosa tidak betah dan pergi!”

V. Pembalasan yang Menghancurkan

“Diam kalian berdua,” desisku. Suaraku membuat ruangan luas itu mendadak senyap seperti kuburan.

Aku mengambil kembali ponselku dan menekan sebuah tombol. Aku langsung menghubungi pengacara pribadiku dan kepala kepolisian setempat yang merupakan salah satu klien besar di perusahaan arsitekturku.

“Halo, Pak Polisi? Saya ingin melaporkan tindakan penganiayaan berat terhadap lansia, pencurian dengan pemberatan, dan konspirasi kejahatan di rumah saya. Saya memiliki bukti rekaman video yang sangat jelas. Mohon kirimkan tim sekarang juga.”

Clara langsung panik. Ia berlari menghampiriku dan mencoba meraih lenganku. “Leandro, jangan! Aku istrimu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik! Aku minta maaf, oke? Aku akan membawa ibumu kembali ke kamar terbaik!”

Aku mengibaskan tanganku dengan kasar hingga Clara terhempas kembali ke sofa.

“Istri? Mulai detik ini, hubungan kita selesai,” kataku dengan penuh penekanan. “Pengacaraku akan mengirimkan surat cerai besok pagi. Dan jangan harap kamu mendapatkan sepeser pun harta gono-gini. Berdasarkan perjanjian pranikah yang kita tanda tangani, tindakan kriminal atau kekerasan dalam rumah tangga otomatis membatalkan seluruh hakmu atas asetku!”

Clara menjerit histeris. Ia tahu betul bahwa tanpa kekiraanku, dia bukanlah siapa-siapa. Semua tas mewah, gaya hidup sosialita, dan kemewahan yang ia banggakan akan lenyap dalam sekejap.

“Dan untukmu, Mylene,” aku menatap pembantu kejam itu. “Kamu tidak hanya dipecat tanpa pesangon, tapi aku akan memastikan rekam jejak kriminalmu tersebar luas di seluruh agen penyalur tenaga kerja. Kamu tidak akan pernah bisa bekerja lagi di kota ini.”

Sepuluh menit kemudian, sirine mobil polisi terdengar meraung-raung di depan gerbang rumahku. Petugas masuk dan langsung memborgol Mylene yang menangis meraung-raung, serta Clara yang terus berteriak histeris, mencoba mencakar petugas karena menolak diseret keluar. Para tetangga berdatangan dan menyaksikan dengan pandangan menghina saat kedua wanita berhati iblis itu dimasukkan ke dalam mobil tahanan.

Setelah rumah kembali sunyi, aku berjalan keluar menuju taksi. Aku membuka pintu mobil dan memeluk ibuku kembali dengan penuh kasih sayang.

“Semua sudah selesai, Bu. Orang-orang jahat itu tidak akan pernah bisa menyakiti Ibu lagi,” bisikku lembut.

Ibu mengangguk perlahan, tersenyum dengan sisa-sisa air mata di pipinya. Malam itu, aku membawa ibuku pergi dari rumah yang telah ternoda itu untuk tinggal sementara di hotel bintang lima milikku, sebelum kami memulai lembaran baru di rumah yang baru. Aku bersumpah dalam hati, selama sisa hidupku, aku akan menjadi perisai terkuat bagi wanita yang telah melahirkanku.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.