Posted in

Pukul dua dini hari, suamiku membangunkanku sambil menangis dan memohon agar kuizinkan dia menemui seorang wanita sebelum wanita itu meninggalkan Indonesia untuk selamanya.**

Pukul dua dini hari, suamiku membangunkanku sambil menangis dan memohon agar kuizinkan dia menemui seorang wanita sebelum wanita itu meninggalkan Indonesia untuk selamanya.**

Aku mengizinkannya.

Bukan karena aku sudah memaafkannya.

Melainkan karena sebelum matahari terbit, aku sudah bertekad mengakhiri pernikahan yang selama ini ia kira tidak akan pernah sanggup kulepaskan.

## BAGIAN 1

Pukul dua lewat tiga puluh dini hari.

Gerimis turun pelan di luar rumah kami di **Jakarta Selatan**.

Seluruh kompleks perumahan sunyi. Yang terdengar hanya suara rintik hujan yang menghantam atap serta sesekali deru kendaraan yang melintas di jalan.

Aku terbangun saat merasakan seseorang menarik selimutku dengan pelan.

Begitu membuka mata, kulihat suamiku, **Marco**, duduk di lantai di samping tempat tidur.

Ia tak sanggup menatapku.

Wajahnya basah oleh air mata.

Kedua tangannya mencengkeram erat sisi ranjang, seolah hanya itulah yang menahannya agar tidak benar-benar terjatuh.

“Celina…”

Suaranya sangat lirih.

Hampir tak terdengar di balik suara hujan.

“Aku harus pergi menemui seseorang.”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku hanya menatapnya.

Kami telah menikah selama delapan tahun.

Dua belas tahun telah berlalu sejak pertama kali kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil dekat **Universitas Indonesia**.

Saat itu, ia belum memiliki usaha sendiri.

Ia hanyalah seorang insinyur sipil biasa yang setiap hari naik transportasi umum dan hidup hemat demi membeli laptop bekas.

Sementara aku bekerja sebagai akuntan di kawasan bisnis **Sudirman, Jakarta**.

Akulah yang membantunya ketika ia ingin mendirikan perusahaan konsultan konstruksi miliknya sendiri.

Akulah yang menggunakan seluruh tabunganku untuk membayar sewa kantor pertamanya.

Akulah yang membayar biaya perizinan, membeli peralatan kerja, serta menggaji dua karyawan pertamanya.

Peut être une image de une personne ou plus

Saat tidak ada proyek dan kami bahkan kesulitan membayar tagihan listrik, akulah yang berkata kepadanya,

“Kita pasti bisa melewati semua ini.”

Dan ketika klien mulai berdatangan, akulah orang pertama yang benar-benar percaya bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi pengusaha sukses.

Selama bertahun-tahun, aku mengira kami membangun kehidupan ini bersama.

Sampai **Andrea Villanueva** datang.

Usianya dua puluh enam tahun.

Seorang arsitek.

Cerdas.

Cantik.

Dan menjadi koordinator proyek baru di perusahaan Marco.

Awalnya, tidak ada alasan bagiku untuk curiga.

Marco sering menyebut namanya saat kami makan malam.

“Andrea hebat saat presentasi desain.”

“Andrea yang berhasil menyelesaikan masalah izin proyek.”

“Andrea yang berhasil mengambil hati klien di **Bekasi**.”

Pada awalnya aku justru ikut senang.

Kupikir ia hanya bangga memiliki karyawan yang kompeten.

Namun perlahan aku menyadari, cara Marco menyebut nama wanita itu mulai berubah.

Bukan lagi sekadar soal pekerjaan.

“Andrea ternyata suka mendaki gunung.”

“Andrea takut anjing.”

“Kue favorit Andrea adalah strawberry cake.”

Suatu malam, ia pulang membawa sekotak kue mahal dari toko roti terkenal di Jakarta.

“Ini buat kamu,” katanya.

Aku membuka kotaknya.

Strawberry cake.

Aku menatapnya.

Aku tidak pernah menyukai stroberi.

Bahkan aku alergi terhadap buah itu.

Tetapi itu adalah kue favorit Andrea.

Malam itu aku tidak mengonfrontasinya.

Aku hanya berkata,

“Terima kasih.”

Lalu kusimpan kue itu di dalam kulkas.

Keesokan harinya, kubawa kue itu ke kantor dan kubagikan kepada rekan-rekan kerjaku.

Sejak saat itulah firasat buruk mulai tumbuh.

Setelah itu aku menyadari ponselnya selalu diletakkan dalam posisi terbalik setiap kali berada di rumah.

Laptopnya memakai kata sandi baru.

Kadang ia baru pulang pukul sebelas malam, padahal tidak ada proyek aktif yang harus diawasi.

Setiap kali kutanya, jawabannya selalu sama.

“Tadi rapat.”

“Macet.”

“Ada masalah di lokasi proyek.”

Hingga pada suatu sore, aku datang ke kantornya tanpa memberi tahu lebih dulu.

Aku membawakan makanan karena sebelumnya ia mengatakan belum sempat makan siang…

Berikut adalah kelanjutan dan babak akhir dari kisah tersebut:

… Aku membawakan makanan karena sebelumnya ia mengatakan belum sempat makan siang.

Namun, pemandangan di ruang kerjanya meruntuhkan seluruh dunia yang kubangun bersamanya. Melalui celah tirai yang sedikit terbuka, aku melihat Marco sedang duduk di kursinya, sementara Andrea berdiri di belakangnya, memijat bahunya dengan keintiman yang tidak bisa disangkal. Marco memejamkan mata, wajahnya dipenuhi kedamaian yang sudah lama hilang dari rumah kami. Di atas meja kerjanya, ada sebuah buket bunga kecil dan dua cangkir kopi dari kedai yang sama dengan tempat kami pertama kali bertemu dua belas tahun lalu.

Aku tidak masuk. Aku meletakkan kotak makanan itu di meja resepsionis, berbalik, dan pulang dalam diam. Sejak sore itu, aku berhenti bertanya. Aku berhenti menunggunya pulang.

BAGIAN 2

Kini, di kamar yang dingin ini, Marco masih bersujud di lantai. Waktu menunjukkan pukul dua lewat empat puluh lima menit.

“Dia akan pergi ke Kanada, Celina. Penerbangannya jam enam pagi ini. Dia memutuskan resign dan meninggalkan Indonesia untuk selamanya karena… karena dia tahu aku tidak bisa meninggalkanmu,” isak Marco, suaranya parau, dipenuhi rasa bersalah sekaligus keputusasaan yang egois. “Tolong, izinkan aku mengantarnya ke Bandara Soekarno-Hatta untuk terakhir kali. Hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Setelah itu, aku bersumpah akan memperbaiki semuanya denganmu.”

Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin Jakarta Selatan menembus dadaku. Hatiku tidak lagi sakit. Rasa sakit itu sudah mati sejak aku melihat mereka di kantor hari itu. Yang tersisa sekarang hanyalah kehampaan yang jernih.

“Pergilah,” kataku datar.

Marco mendongak. Matanya yang sembap memancarkan binar kelegaaan yang menjijikkan. “Kamu… kamu mengizinkanku?”

“Ya. Pergilah. Temui dia.”

Marco meraih tanganku, mencoba menciumnya dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Celina. Demi Allah, aku akan langsung pulang setelah ini. Aku mencintaimu.”

Aku hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang salah ia artikan sebagai keikhlasan.

Begitu deru mobil Marco meninggalkan pekarangan rumah, aku langsung beranjak dari tempat tidur. Tidak ada waktu untuk menangis. Jam dinding berdetak, dan aku punya waktu kurang dari tiga jam sebelum matahari terbit.

BAGIAN 3

Aku berjalan ke ruang kerja di lantai bawah. Di dalam laci meja yang terkunci, aku mengeluarkan sebuah map te berkas tebal yang sudah kusiapkan selama tiga minggu terakhir dengan bantuan seorang pengacara perceraian dan akuntan forensik.

Marco lupa satu hal penting.

Dia mengira perusahaan konsultan konstruksi itu adalah miliknya seutuhnya karena namanya yang tertera sebagai Direktur Utama. Namun, dia lupa bahwa aku adalah akuntan yang merancang struktur legalitas perusahaan itu sejak awal.

Sebesar 60% saham perusahaan terdaftar atas namaku sebagai komisaris utama dan investor awal. Aset rumah ini, mobil yang ia kendarai, serta beberapa bidang tanah hasil keuntungan proyek di Bekasi, semuanya dibeli menggunakan rekening bersama yang alur dananya di bawah kendaliku.

Selama tiga minggu ini, aku telah memindahkan seluruh dana cair dari rekening bersama ke rekening pribadi yang tidak ia ketahui. Aku juga telah menandatangani surat pengalihan kuasa bisnis karena Marco terbukti menyalahgunakan dana operasional perusahaan untuk membelikan Andrea sebuah apartemen sewa di Jakarta Pusat—bukti mutlak penyelewengan aset yang sudah kudokumentasikan dengan rapi.

Pukul empat pagi, aku menandatangani surat gugatan cerai di atas meja makan. Di samping surat itu, diletakkan kunci serep apartemen Andrea yang berhasil kudapatkan, beserta laporan audit keuangan perusahaan yang menunjukkan coretan tinta merah pada setiap rupiah yang ia gunakan untuk berselingkuh.

Aku mengemas dua koper besar. Isinya hanya pakaianku, dokumen penting, dan laptop. Aku meninggalkan perhiasan pemberiannya. Aku meninggalkan rumah ini. Aku meninggalkan delapan tahun pernikahan yang ternyata hanyalah sebuah investasi bodoh.

BAGIAN AKHIR

Pukul lima lewat tiga puluh pagi. Langit Jakarta mulai berubah warna menjadi ungu kebiruan, mengusir sisa-sisa gerimis semalam.

Aku duduk di kursi belakang taksi yang membawaku menuju bandara yang sama, namun untuk tujuan yang berbeda. Aku tidak akan mengejar siapa pun. Aku pergi ke Singapura, tempat di mana sebuah tawaran kerja dari firma akuntansi internasional telah menungguku sejak minggu lalu.

Di dalam taksi, ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Marco.

“Aku sudah di bandara, Celina. Aku melihatnya masuk ke gerbang keberangkatan. Semuanya sudah selesai antara aku dan dia. Aku sedang jalan pulang sekarang. Tunggu aku, kita mulai lembaran baru.”

Aku membaca pesan itu tanpa gejolak emosi apa pun. Aku mengetik balasan terakhirku:

“Aku juga sudah di jalan, Marco. Lembaran barumu sudah kusiapkan di meja makan. Rumah, perusahaan, dan seluruh aset yang kamu bangun dari uangku, sudah beralih tangan. Nikmati sisa hidupmu dengan penyesalan, karena saat kamu tiba di rumah, istrimu yang ‘tidak akan pernah sanggup melepaskanmu’ ini, sudah pergi menembus awan.”

Aku mematikan ponsel, mencopot kartu SIM-nya, dan melemparkannya ke dalam tas. Saat taksi melaju membelah jalan tol menuju bandara, matahari pagi akhirnya terbit, menyinari wajahku yang kini benar-benar bebas.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.