Enrico berusaha menahan lenganku, wajahnya sepucat kertas. “Gabriel, jangan gila! Ini hanya kebetulan! Anak itu hanya pengemis, kau mempermalukan dirimu sendiri!”

Aku mengabaikannya. “Jika kau tidak mau ikut, pergilah. Tapi jika kau berani menghalangi langkahku, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari terbit besok.”
Aku mengikuti langkah kecil Maya menembus gang-gang sempit yang kumuh, bau selokan, dan kebisingan pasar yang perlahan menjauh. Enrico terpaksa mengekor di belakang, mondar-mandir dengan gelisah, terus berbicara di telepon—mungkin memberikan instruksi pada anak buahnya untuk datang.
Kami sampai di sebuah gubuk reyot di ujung gang buntu. Di depan pintu, seorang wanita kurus dengan pakaian lusuh sedang menjemur sisa cucian. Rambutnya kusam, wajahnya tertutup kain penutup kepala, namun postur tubuhnya… itu dia.
“Ibu! Ada pria kaya datang, dia menolong Maya!” seru anak itu.
Wanita itu berbalik. Saat kain penutup kepalanya tersingkap, jantungku berhenti berdetak. Itu Clara. Wajahnya memang lebih tua, ada guratan lelah dan luka parut kecil di pelipisnya, tapi mata hazel yang pernah menjadi duniaku itu masih sama.
“Gabriel?” bisiknya, suaranya parau. Dia menjatuhkan baskom cuciannya.
Aku melangkah maju, kakiku gemetar. “Clara? Bagaimana… bagaimana ini mungkin?”
Sebelum dia bisa menjawab, suara langkah berat mendekat. Tiga mobil hitam berhenti di ujung gang. Pengawal-pengawal Enrico bersenjata lengkap keluar.
“Cukup sandiwaranya, Gabriel!” suara Enrico berubah dingin dan penuh kebencian. Dia tidak lagi menyembunyikan wajahnya yang manipulatif. “Ya, itu dia. Istrimu yang seharusnya mati tujuh tahun lalu.”
Clara memeluk Maya, melindunginya di balik tubuhnya. “Jangan sakiti anak ini, Enrico! Kau sudah mengambil segalanya dariku!”
Aku menoleh ke arah Enrico, kemarahan membakar dadaku hingga aku hampir tidak bisa bernapas. “Kau… kau yang melakukan semua ini? Kau yang meledakkan kapal itu?”
Enrico tertawa sinis, matanya berkilat penuh ambisi. “Kapal itu tidak meledak secara kebetulan, Gabriel. Aku yang memasang bomnya. Aku butuh kau hancur agar aku bisa mengambil alih kendali perusahaan dan memiliki segalanya—termasuk wanita yang seharusnya menjadi milikku sejak awal.”
Duniaku benar-benar hancur. Sahabat yang selama tujuh tahun ini kupeluk, orang yang selalu ada di sampingku saat aku meratapi kematian Clara, adalah monster yang merenggut istri dan anakku.
“Dia menyekapku, Gabriel,” isak Clara, air matanya membasahi pipi. “Dia mengancam akan membunuh Maya jika aku berani muncul. Dia menyembunyikanku di tempat terpencil, membiarkanku hidup dalam kemiskinan agar kau tidak pernah mencariku, agar aku dianggap sudah mati.”
Enrico menarik pistol dari balik jasnya, mengarahkannya tepat ke dada Maya. “Sayang sekali, Gabriel. Reuni ini harus berakhir dengan tragedi. Lagi.”
Namun, Enrico meremehkanku. Dia lupa bahwa selama tujuh tahun aku tidak hanya diam berkabung. Aku membangun kekuatan, aku melatih instingku, dan aku memiliki pengawal pribadi yang jauh lebih setia daripada antek-antek bayarannya.
Dor!
Bukan suara pistol Enrico yang terdengar, melainkan suara tembakan presisi dari penembak jitu yang sejak tadi kuinstruksikan untuk memantau situasi dari jarak jauh. Pistol Enrico terpental jauh, tangannya bersimbah darah.
“Habisi dia,” perintahku dingin.
Dalam sekejap, situasi berbalik. Pengawalku melumpuhkan anak buah Enrico dan menyeret sahabat pengkhianat itu ke tanah. Enrico menjerit saat mereka menginjak punggungnya, menekan wajahnya ke lumpur yang dia benci.
Aku tidak mempedulikan Enrico lagi. Aku melangkah mendekati Clara dan Maya. Perlahan, aku berlutut di hadapan mereka, menyentuh pipi Clara dengan lembut, memastikan ini bukan mimpi.
“Aku pulang,” bisik Clara sambil menangis.
Aku menarik mereka berdua ke dalam pelukanku. Tujuh tahun kegelapan akhirnya berakhir. Enrico akan membusuk di penjara—atau lebih buruk lagi, di tangan hukum yang akan kupastikan berjalan seadil-adilnya.
Aku menatap Maya yang menatapku dengan rasa ingin tahu yang polos. Aku bukan lagi pria yang kesepian. Aku adalah seorang ayah, seorang suami, dan pria yang telah mendapatkan kembali dunianya yang sempat hilang.
“Ayo pulang,” kataku tegas, menatap masa depan yang kini cerah. “Ke tempat kalian seharusnya berada.”
Dan di balik sana, di dalam mobil, aku tahu bahwa kehidupan kami yang sebenarnya, yang penuh cinta dan kebenaran, baru saja dimulai.