Suasana di bawah tanah itu mendadak menjadi lebih dingin daripada es, namun keringat dingin membasahi punggung Antonio. Suara itu—serak, lembut, dengan nada khas anak kecil yang selalu bertanya “mengapa”—adalah suara Lito.
Lito seharusnya sudah tenang di bawah tanah pemakaman desa sepuluh tahun yang lalu.

1. Panggilan dari Kegelapan
Antonio gemetar. Senter di tangannya bergoyang tak keruan, cahayanya menari-nari di atas ukiran pintu yang tampak seperti urat nadi yang berdenyut.
“Lito?” bisiknya, suaranya pecah.
“Ayah… di sini gelap,” suara itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat. Bukan dari balik pintu, tapi seolah-olah bergema langsung di dalam tengkoraknya. “Kenapa Ayah membiarkan mereka menutup kotaknya?”
Antonio tidak bisa menahan diri. Logikanya mati, digantikan oleh rasa bersalah yang selama satu dekade ini menggerogoti jiwanya. Dia mendorong pintu kayu itu hingga terbuka lebar.
Pemandangan yang Mustahil
Di balik pintu itu bukan sebuah ruangan, melainkan sebuah rongga raksasa yang luasnya tak masuk akal untuk berada di bawah ladang jagung kecilnya.
- Langit-langitnya tinggi tak terlihat.
- Dindingnya bercahaya biru pucat, seperti fosfor yang sekarat.
- Di tengah ruangan, berdiri sebuah struktur yang menyerupai ayunan tua milik Lito, namun terbuat dari bahan yang terlihat seperti tulang putih yang dipoles.
Di atas ayunan itu, duduk sebuah bayangan kecil.
2. Realitas yang Terdistorsi
Antonio melangkah maju. “Lito, ini Ayah. Mari pulang…”
Bayangan itu menoleh. Tapi saat cahaya senter mengenai wajahnya, Antonio terjatuh ke tanah. Itu bukan Lito. Wajahnya menyerupai anaknya, ya, tapi matanya… mata itu tidak memiliki pupil. Hanya ada lubang hitam yang dalam, memancarkan suara ribuan bisikan yang tumpang tindih.
“Kami meminjam suaranya agar kau masuk, Antonio,” makhluk itu berkata, namun bibirnya tidak bergerak. Suara Lito kini tercampur dengan suara-suara lain—suara istrinya yang sudah tiada, suara tetangganya, bahkan suara Antonio sendiri.
Antonio melihat ke sekeliling dengan panik. Jejak kaki yang tadi dia lihat bukan berasal dari satu orang. Ada ratusan jejak kaki yang mengarah ke pintu, tapi tidak ada satu pun yang kembali keluar.
3. Rahasia Terowongan Luzon
Makhluk itu berdiri dari ayunan. Tubuhnya memanjang, meliuk-liuk seperti asap di bawah cahaya fosfor.
“Tanah ini tidak kering karena matahari,” bisik makhluk itu. “Tanah ini kering karena Kami sedang haus. Dan kau, Antonio, telah menggali sumur ke tenggorokan kami.”
Antonio menyadari kebenaran yang mengerikan:
- Terowongan ini bukan buatan manusia atau kuno secara sejarah.
- Ini adalah organ tubuh dari sesuatu yang jauh lebih besar yang hidup di bawah pulau Luzon.
- Simbol-simbol di pintu adalah segel yang tanpa sengaja dia rusak dengan cangkulnya.
4. Pelarian yang Sia-Sia?
Dengan sisa tenaganya, Antonio berbalik dan berlari. Dia tidak memedulikan senternya yang jatuh. Dia merangkak dalam kegelapan total, mengikuti dinding halus yang sekarang terasa lembab dan hangat, seolah-olah terowongan itu mulai bernapas.
Di belakangnya, suara Lito memanggil lagi, memohon agar dia tidak pergi.
“Ayah! Jangan tinggalkan aku lagi! Di sini dingin!”
Antonio terus merangkak hingga jemarinya menyentuh tanah kering dan panas di ujung terowongan. Dia keluar ke permukaan, menghirup udara Luzon yang membakar, dan segera mengambil sekopnya. Dia mulai mengurug lubang itu dengan membabi buta.
Dia bekerja sepanjang malam hingga tangannya berdarah, menutup setiap inci lubang yang dia gali.
Akhir yang Menghantui
Pagi harinya, penduduk desa menemukan Antonio duduk diam di tengah ladangnya yang gersang. Dia tidak bicara. Dia hanya menempelkan telinganya ke tanah yang retak.
Ketika seorang tetangga bertanya apa yang dia temukan, Antonio hanya menunjuk ke bawah dan berbisik:
“Jangan pernah menggali terlalu dalam… karena di bawah sana, mereka tidak hanya menunggu air. Mereka menunggu kita untuk memanggil nama mereka.”
Dan dari bawah tanah, tepat di bawah kaki Antonio, terdengar bunyi ketukan pelan.
Tok. Tok. Tok.
Seseorang—atau sesuatu—sedang mencoba untuk keluar.