Posted in

SEPASANG SUAMI ISTRI INGIN MENYUNTIK MATI ANJING PELIHARAAN MEREKA KARENA TIBA-TIBA IA “MENGGIGIT” DAN MENARIK BAYI MEREKA KELUAR DARI KAMAR. MEREKA MENGIRA ANJING ITU CEMBURU DAN MENJADI GALAK. NAMUN MEREKA MENANGIS PENUH PENYESALAN SAAT KEMBALI KE KAMAR UNTUK MEMBERESKAN RUANGAN…

SEPASANG SUAMI ISTRI INGIN MENYUNTIK MATI ANJING PELIHARAAN MEREKA KARENA TIBA-TIBA IA “MENGGIGIT” DAN MENARIK BAYI MEREKA KELUAR DARI KAMAR. MEREKA MENGIRA ANJING ITU CEMBURU DAN MENJADI GALAK. NAMUN MEREKA MENANGIS PENUH PENYESALAN SAAT KEMBALI KE KAMAR UNTUK MEMBERESKAN RUANGAN…

Sabtu sore.

Bayi mereka yang berusia 6 bulan, Baby Arka, tertidur pulas di boks bayi di dalam kamar.

Di ruang tamu, pasangan suami istri Rian dan Salsa sedang menikmati kopi sambil berbincang santai.

Tiba-tiba—

BRAKK!

Tangisan bayi memecah keheningan.

“WAAAAH! WAAAAH!”

Disusul suara gonggongan keras dan geraman dari anjing Golden Retriever mereka yang berusia 3 tahun, Bruno.

Rian dan Salsa langsung berlari ke kamar.

Saat pintu dibuka, Salsa hampir pingsan.

Di depan mata mereka, Bruno menggigit bagian baju Baby Arka dan menyeretnya perlahan keluar dari kamar! Arka menangis histeris, ada lecet kecil di lengannya.

“BRUNO! LEPAS!” teriak Rian.

Tanpa pikir panjang, Rian menendang tubuh Bruno keras.

“Auuuu!” ringkik Bruno kesakitan. Ia langsung melepaskan bayi itu dan meringkuk di sudut ruangan dengan telinga terkulai dan tubuh gemetar.

Salsa segera mengangkat Arka dan memeluknya erat.

“Ya Allah… ada lecet! Dia menggigit anak kita, Rian! Dia cemburu!”

Wajah Rian merah padam oleh amarah. Ia mengambil sapu dan memukul Bruno.

“Kurang ajar! Sudah kami pelihara, malah menyerang anakku?! Keluar kamu!”

Bruno diseret ke luar rumah dan dikurung di kandang belakang.

Tangisnya terdengar lirih sepanjang malam.

Setelah membersihkan luka Arka yang ternyata hanya goresan ringan, Rian berkata tegas:

“Besok pagi aku bawa Bruno ke dokter hewan.”

Salsa terdiam.

“Kita suntik mati saja. Dia sudah berbahaya. Kalau nanti lebih parah bagaimana?”

Dengan air mata mengalir, Salsa mengangguk.

“Anak kita lebih penting…”

Malam semakin sunyi.

Terdengar rintihan pelan Bruno dari luar, seperti tangisan.

Beberapa jam kemudian, Rian masuk kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidur yang berantakan dan memindahkan barang-barang Arka.

Mereka memutuskan sementara pindah kamar karena trauma.

Begitu masuk, Rian mengernyit.

“Kenapa bau… seperti kabel terbakar?”

Ia menyalakan lampu.

Perlahan ia mendekati boks bayi.

Lalu tubuhnya membeku.

Di belakang boks, dinding menghitam.

Stopkontak kipas angin meleleh, kabelnya hangus.

Dan yang membuat napasnya tercekat—

Sebagian tirai terbakar dan jatuh tepat ke dalam boks.

Bantal tempat kepala Arka tadi berada kini berlubang dan gosong.

Api kecil rupanya sudah menyala diam-diam.

Jika Bruno tidak menyeret Arka keluar—

Dalam hitungan menit…

Kamar itu bisa terbakar.

Dan bayi mereka mungkin tak akan selamat.

Sapu di tangan Rian jatuh ke lantai.

Tubuhnya gemetar.

“Sa… Salsa…”

Suaranya pecah.

Salsa berlari masuk.

Melihat pemandangan itu, ia langsung terduduk lemas.

Air mata mengalir tanpa suara.

Bruno tidak menyerang.

Ia menyelamatkan.

Tanpa berpikir panjang, Rian berlari ke belakang rumah.

Bruno masih meringkuk di kandang, matanya sayu namun tetap terangkat saat melihat tuannya datang.

Rian membuka kandang dan berlutut.

Untuk pertama kalinya, pria itu menangis di depan anjingnya.

“Maafkan aku… kamu cuma mau selamatkan anakku…”

Bruno perlahan mendekat, menjilat tangan Rian yang gemetar.

Seolah berkata:
Aku hanya melakukan tugasku.

Malam itu, tak ada suntikan mati.

Yang ada hanya pelukan panjang penuh penyesalan.

Kadang, yang terlihat seperti ancaman…