Posted in

BARU SAJA AKU SELESAI MEMBERSIHKAN IBU MERTUAKU YANG LUMPUH, SAAT SUAMIKU—RICHARD—PULANG SETELAH TIGA TAHUN BEKERJA DI LUAR NEGERI.

Aku melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, mengabaikan teriakan Richard yang masih memaki tentang “hutang” yang ia karang sendiri. Malam itu, aku tidur di mess kecil milik keluarga Nyonya Santoso. Kasurnya keras, tapi jauh lebih empuk daripada rumah yang penuh hinaan itu.

Keesokan paginya, teleponku meledak dengan panggilan dari Richard. Aku mengabaikan semuanya sampai sebuah pesan singkat masuk:

“Ibu jatuh dari tempat tidur karena tidak ada yang mengurusnya! Cepat pulang atau aku lapor polisi atas penelantaran!”

Aku tersenyum kecut. Dia pikir aku masih bisa diancam? Aku membalas singkat:

“Ibu itu ibumu. Kamu punya tangan dan kaki, kan? Urus sendiri. Oh, dan gugatan cerai akan segera sampai.”


4. Realita yang Menghantam

Seminggu kemudian, kekacauan di rumah Richard dimulai.

Tanpa aku, rumah itu berubah menjadi neraka. Lisa, yang biasanya hanya tahu berdandan, dipaksa Richard untuk membersihkan kotoran ibu mereka. Tentu saja, Lisa menolak mentah-mentah dan malah kabur ke rumah temannya.

Richard terpaksa mengambil cuti. Dia yang terbiasa dilayani, kini harus bangun jam 5 pagi untuk memasak, mencuci, dan mengurus ayahnya yang rewel. Dalam tiga hari, wajahnya yang sombong itu tampak kuyu dan berantakan.

Di sisi lain, hidupku berubah drastis. Nyonya Santoso ternyata bukan sekadar wanita tua biasa. Anaknya, Pak Hendra, adalah pemilik perusahaan properti raksasa. Melihat ketelatenanku dalam mengurus ibunya, Pak Hendra menawariku posisi yang lebih baik: Manajer Operasional di salah satu yayasan panti jompo elit miliknya.

“Kamu punya hati yang tulus dan pengalaman lapangan yang luar biasa, Dianne. Sayang jika hanya jadi asisten rumah tangga,” ucap Pak Hendra.


5. Tagihan yang Sesungguhnya

Satu bulan berlalu. Richard mendatangi kantor baruku dengan wajah memelas. Pakaiannya lusuh, tidak ada lagi kesan pria sukses dari luar negeri.

“Dianne, tolong… Ibu sakit sakitan. Tidak ada yang mau merawatnya. Perawat infal sangat mahal, aku tidak sanggup bayar,” rintihnya di lobi.

Aku menatapnya datar dari balik meja kerjaku yang rapi.

“Mana buku hitammu, Richard? Masih mau menagihku delapan puluh juta?”

Dia menunduk. “Aku salah. Aku… aku sudah putus dengan Candy. Dia pergi setelah tahu aku tidak sekaya yang dia kira. Uangku habis untuk biaya pengobatan Ibu sebulan ini.”

Aku mengeluarkan sebuah map dari laci. Bukan surat damai, melainkan rincian biaya jasaku selama tiga tahun.

“Selama 1.095 hari aku merawat orang tuamu tanpa gaji. Jika dihitung dengan tarif perawat profesional 24 jam, biayanya adalah 10 juta per bulan. Totalnya 365 juta. Belum termasuk uang tabunganku yang kamu pakai untuk sekolah anak kita.”

Aku menggeser dokumen itu ke arahnya.

“Bayar dulu hutang jasaku, baru kita bicara soal maaf.”


6. Akhir dari Kesabaran

Richard gemetar melihat angka itu. Dia tidak punya uang sebanyak itu. Semua tabungannya sudah habis dihambur-hamburkan untuk pamer dan untuk sekretarisnya.

“Aku tidak punya uang, Dianne…”

“Kalau begitu, jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi. Hak asuh anak akan jatuh ke tanganku karena kamu terbukti tidak menafkahi selama tiga tahun.”

Saat dia berjalan gontai keluar, aku melihat Lisa di parkiran, sedang berdebat dengan penagih hutang karena tas “mewah” yang diberikan Richard ternyata barang KW alias palsu yang dibeli di pasar gelap.

Aku menarik napas dalam, menghirup aroma kebebasan yang sesungguhnya. Aku bukan lagi menantu yang bisa diinjak. Aku adalah Dianne, wanita yang akhirnya tahu cara menghargai dirinya sendiri.

Masa lalu itu seperti parfum pecah di lantai rumah mereka: baunya menyengat sebentar, tapi perlahan akan menguap dan hilang, meninggalkan ruangan yang jauh lebih bersih untukku tinggali.