Namun apa yang ia saksikan dari kamera tersembunyi di dalam mansionnya—antara tunangannya, asisten rumah tangga, dan anak-anaknya—membuat dadanya sesak dan napasnya tercekat.
BAGIAN 1
Lampu-lampu di mansion megah di kawasan elite Jakarta Selatan dipadamkan satu per satu.
Alejandro Pratama—pengusaha properti yang dijuluki “Raja Kawasan”—menutup koper hitamnya, lalu mencium kening kedua putrinya seolah semuanya biasa saja.
“Ayah cuma pergi sebentar,” ucapnya dengan senyum tenang. “Jaga rumah, ya.”
Kedua anak itu memeluknya erat.
Mereka tak tahu… ayah mereka sedang berbohong.
Tidak ada penerbangan ke Eropa.
Tidak ada rapat bisnis di Paris.
Tidak ada suite hotel mewah.
Kurang dari satu jam setelah SUV hitamnya keluar dari gerbang mansion di Menteng, pria paling berpengaruh di kota itu kembali—diam-diam—melalui pintu servis belakang, ditemani kepala keamanannya.
Ia tidak kembali untuk memberi kejutan.
Ia kembali untuk menonton.
Karena benih racun sudah ditanam.
Malam sebelumnya, tunangannya, Isabella Hartono, membungkuk di meja makan dan berbisik pelan:
“Kamu terlalu percaya pada pembantumu. Dia mencuri… dan lebih dari itu, dia memengaruhi anak-anakmu.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Alejandro.
Bukan karena ia langsung percaya.
Tapi karena ada bagian kecil dalam dirinya yang takut… kalau itu benar.
Selama bertahun-tahun, ia mempercayakan anak-anaknya pada Lestari—pengasuh muda yang setia menjaga mereka saat ia sibuk mengurus proyek dan rapat tanpa henti.
Lestari pendiam. Sopan. Tidak pernah melampaui batas.
Namun Isabella mulai menabur kecurigaan.
“Antingku hilang.”
“Anak-anak lebih dekat padanya daripada padaku.”
“Dia terlalu nyaman di rumah ini.”

“Dia tahu terlalu banyak.”
Sampai akhirnya Alejandro mengambil keputusan.
“Besok pagi aku terbang ke Eropa,” umumkannya.
Kedua anaknya hanya diam.
Tapi ada sesuatu dalam tatapan mereka yang terasa berat.
—
Di ruang monitoring tersembunyi, layar-layar menyala:
Ruang tamu.
Dapur.
Tangga.
Ruang bermain.
Taman belakang.
Semua terlihat jelas.
“Mulai rekam,” ujar Alejandro dingin.
Awalnya… semuanya normal.
Lestari membantu anak-anak sarapan.
Rumah tenang.
Hampir saja Alejandro berpikir ia telah berprasangka.
Sampai Isabella turun dari kamar.
Senyumnya hilang.
Wajahnya berubah dingin.
“Kalian belum beres-beres?” suaranya tajam pada anak-anak itu.
Alejandro menegang.
Di layar, kedua putrinya menunduk.
Bukan karena malu.
Tapi karena takut.
Lestari buru-buru mendekat.
“Maaf, Bu Isabella, anak-anak tidak melakukan kesalahan—”
“Diam kamu!” bentak Isabella.
Untuk pertama kalinya, Alejandro melihat sisi lain dari perempuan yang hampir menjadi istrinya.
Bukan elegan.
Bukan lembut.
Melainkan penuh amarah.
Isabella meraih lengan salah satu anaknya dengan kasar.
“Ayah kalian terlalu memanjakan kalian!”
Di ruang gelap itu, tangan Alejandro mengepal.
Detak jantungnya memburu.
Namun yang membuat darahnya terasa dingin bukan hanya itu.
Di sudut layar ruang kerja pribadinya, Isabella masuk sendirian.
Ia mengunci pintu.
Lalu mengeluarkan ponselnya.
“Ya, dia sudah berangkat,” katanya pelan. “Kita punya waktu.”
Alejandro membeku.
Di layar berikutnya, Isabella membuka brankas kecil di balik lukisan dinding—brankas yang hanya ia dan Alejandro yang tahu kodenya.
Tangannya bergerak lincah.
Seolah ia sudah hafal.
Alejandro menoleh pada kepala keamanan.
“Kodenya tidak pernah kuberitahu.”
Wajah kepala keamanan berubah tegang.
Di layar, Isabella mengeluarkan map dokumen.
Akta perusahaan.
Surat kuasa.
Salinan kepemilikan saham.
Dan yang paling membuat napas Alejandro tercekat—
Surat perwalian anak.
Ia memotret setiap lembar dengan cepat.
Lalu tersenyum tipis.
Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan di hadapannya.
—
Di ruang bermain, kedua anaknya berpegangan tangan erat.
Seperti kebiasaan lama.
Seperti mereka sudah terbiasa menghadapi sesuatu… tanpa ayah mereka tahu.
Dan saat itu Alejandro sadar.
Ia bukan sedang menguji seorang pembantu.
Ia sedang menyaksikan wajah asli calon istrinya.
Dan permainan ini…
baru saja dimulai.
Alejandro berdiri perlahan.
Matanya tak lagi ragu.
“Kita turun sekarang.”
Karena langkah Isabella berikutnya—
akan menghancurkan semua yang selama ini ia percaya.
Dan kali ini…
yang akan dikhianati bukan hanya dirinya.
Tapi juga anak-anaknya.