Wanita itu adalah Larasati Kusuma, pendiri sekaligus pimpinan dari Kusuma & Partners, firma hukum paling ditakuti yang menangani kasus-kasus konglomerat dan pejabat tinggi negara.
Hakim menundukkan kepala sedikit, sebuah tanda hormat yang jarang diberikan kepada siapa pun di ruang sidang itu. “Ibu Larasati… suatu kehormatan. Apakah Anda hadir di sini untuk memantau kasus ini?”

Larasati berjalan dengan anggun, suara tumit sepatunya memecah kesunyian yang mencekam. Ia berhenti tepat di sampingku, merangkul bahuku, lalu menatap tajam ke arah Arman dan tim pengacaranya yang kini tampak seperti tikus kecil yang terpojok.
“Saya di sini bukan untuk memantau, Yang Mulia,” suara Larasati terdengar tenang namun penuh otoritas. “Saya di sini untuk mewakili putri kandung saya, Dina Kusuma, yang selama ini dicurangi oleh pria yang tidak tahu berterima kasih ini.”
Kekacauan di Meja Seberang
Arman ternganga. Wajahnya yang tadi merah karena tawa kini berubah sepucat kertas. Atty. Budi Santoso, pengacara “papan atas” yang ia bayar mahal, tiba-tiba gemetar. Tangannya yang memegang dokumen mulai berkeringat. Budi tahu betul siapa Larasati—wanita itu adalah mentor dari hampir semua hakim senior dan telah memenangkan kasus-kasus yang dianggap mustahil.
“Ma-maaf, Nyonya Larasati… Kami tidak tahu kalau Dina adalah…” suara Budi tercekat.
“Tentu saja kamu tidak tahu, Budi,” potong Larasati dengan senyum dingin. “Karena kamu terlalu sibuk membantu klienmu memalsukan laporan keuangan dan menyembunyikan aset di rekening luar negeri untuk menceraikan istri yang telah menemaninya dari nol.”
Larasati memberi isyarat kepada asistennya. Sebuah koper dibuka, dan setumpuk dokumen diletakkan di meja hakim.
Serangan Balik
“Yang Mulia,” Larasati memulai argumentasinya. “Klien saya, Dina, bukan sekadar ibu rumah tangga. Dia adalah pemegang saham diam-diam sebesar 60% di perusahaan Arman melalui dana awal yang merupakan warisan sah dari keluarga Kusuma. Kami memiliki bukti aliran dana sejak tahun pertama pernikahan mereka.”
“Dan mengenai Celine,” Larasati melirik wanita muda di samping Arman yang kini menutupi perutnya dengan tas mahal, tampak ketakutan. “Kami memiliki bukti rekaman bahwa kehamilan tersebut telah direncanakan untuk memeras harta klien saya. Bahkan, apartemen yang mereka tempati sekarang… adalah atas nama salah satu perusahaan cangkang milik keluarga kami.”
Arman berdiri dengan kasar. “Ini tidak mungkin! Dina, kamu menipuku! Kamu bilang kamu yatim piatu!”
Aku berdiri, menatapnya lurus ke mata untuk pertama kalinya hari itu. “Aku memang dibesarkan di panti asuhan karena kejahatan orang lain yang menculikku, Arman. Tapi hari ini, keadilan tidak lagi buta. Kamu tidak hanya akan kehilangan rumah itu, kamu akan kehilangan segalanya.”
Akhir dari Kesombongan
Hanya butuh waktu kurang dari satu jam bagi hakim untuk merubah seluruh jalannya persidangan. Dengan bukti tak terbantahkan dari tim Larasati, hakim memutuskan:
- Seluruh aset yang diklaim Arman disita sementara karena terbukti adanya tindak pidana pencucian uang.
- Hak asuh penuh atas segala sisa bisnis jatuh ke tangan Dina.
- Laporan pidana akan segera diproses atas pemalsuan dokumen yang dilakukan Arman dan pengacaranya.
Saat sidang ditutup, Arman jatuh terduduk di lantai. Celine, melihat suaminya hancur, langsung beranjak pergi meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun.
Di luar ruang sidang, di bawah rintik hujan yang mulai mereda, Larasati memegang tanganku erat. “Ayo pulang, Nak. Rumah yang sebenarnya sudah menunggu.”
Aku masuk ke dalam mobil limosin hitam yang sudah menunggu. Dari kaca jendela, aku melihat Arman digiring oleh petugas keamanan karena mencoba membuat keributan. Dia terus berteriak memanggil namaku, tapi bagiku, dia hanyalah orang asing yang pernah aku kenal di kehidupan yang lain.
Hari ini aku bukan lagi gadis panti asuhan yang malang. Aku adalah putri dari Larasati Kusuma, dan permainannya baru saja dimulai.