Tiga Tahun Menikah, Tapi Mateo Tidak Pernah Sekalipun Menyentuhku
Namaku Celine Herrera.
Sudah tiga tahun aku menikah dengan Mateo Villanueva.
Di mata orang lain, kami adalah pasangan sempurna di kalangan elite Jakarta Selatan. Tinggal di sebuah mansion mewah di kawasan Menteng, menghadiri gala dinner, tersenyum di depan kamera.
Tapi di balik pintu kamar… kami seperti dua orang asing.
Mateo tidak pernah menyentuhku.
Tidak pernah memelukku.
Bahkan jarang menatapku lama.
Aku hanyalah “pengganti”.
Bayangan dari seseorang yang dulu ia cintai.
Dan aku lelah.
1.
Kakakku sedang berada di Bali merayakan ulang tahunnya. Aku memintanya satu hal sederhana: kartu SIM tanpa registrasi.
Malam itu, di sebuah hotel di kawasan SCBD, aku memulai rencanaku.
Aku mengenakan nightgown renda tipis. Dengan tutup botol, aku membuat tanda kemerahan palsu di leherku—seolah bekas ciuman. Aku mengacak-acak rambutku, merusak lipstik, merobek sedikit tali gaunku.
Aku mengatur kamera dengan timer.
Klik.
Foto itu terlihat sempurna: seorang wanita tertidur dengan bukti “pengkhianatan”.
Tanganku gemetar saat mengirim pesan anonim ke Mateo:
“Bro, dia wangi banget. Cerai aja deh, kasih dia ke gue, boleh?”
Kulampirkan foto itu.
Pesan terkirim.
2.
Tak sampai dua detik, ia membalas:
“Siapa ini?”
Lalu pesan kedua:
“Jangan pakai AI murahan. Sebutkan maumu.”
Aku tersenyum pahit.
Ia bahkan tidak langsung marah.
Aku membalas:
“Kalau ragu, tanya saja istrimu.”
Beberapa detik kemudian, teleponku berdering.
Mateo menelepon.
Sekali. Dua kali. Lima kali.
Aku tak mengangkatnya.
Aku menambahkan pesan terakhir:
“Kami saling mencintai. Jangan bikin malu diri sendiri.”
Lalu aku mematikan SIM itu.
Kupikir, kali ini… semuanya selesai.
3.
Keesokan paginya, suara mobil berhenti mendadak di depan rumah.
Aku terbangun.
Jantungku berdebar ketika mendengar ketukan di pintu.
“Celine. Buka.”
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
Bukankah dia sedang di Singapura untuk urusan bisnis?
Mengapa dia pulang?
Aku menutupi leherku dengan turtleneck hitam, membasahi rambut agar terlihat baru mandi, lalu membuka pintu.
Mateo duduk di ruang tamu.
Kemejanya kusut. Wajahnya pucat. Tangannya berdarah di buku-buku jari—seolah baru memukul sesuatu.
Ia berdiri perlahan.
Tatapannya gelap.
“Apa yang terjadi di lehermu?” tanyanya pelan.
“Tergores kertas,” jawabku.
Ia mendekat. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan napasnya.
Tangannya menyentuh plester di leherku… tapi ia tidak menariknya.
“Apa yang kau lakukan tadi malam?”
Aku tak mampu menjawab.
Beberapa detik yang terasa seperti jam berlalu.
Lalu… ia melepaskanku.
“Aku akan kirim dua bodyguard. Kau tidak akan keluar sendirian lagi.”
Ia berbalik dan pergi.
Aku membeku.
Dia tidak marah.
Tidak menuduh.
Tidak menceraikanku.
Mengapa?
4. Kebenaran yang Terungkap
Malam itu, Mateo kembali.
Tanpa jas. Tanpa sepatu mahal. Hanya kemeja putih sederhana.
Ia berdiri di depan pintu kamarku.
“Aku tahu foto itu palsu.”
Aku terdiam.
“Aku tahu itu kamu sendiri yang membuatnya.”
Dunia seakan berhenti.
“Aku mengenali bekas luka kecil di bahumu. Dan pola seprai itu hotel milik grup kita.”
Air mata mulai mengalir tanpa bisa kutahan.
“Kenapa, Celine?” suaranya tidak lagi dingin. “Kenapa kamu harus melukai dirimu sendiri untuk membuatku marah?”
Aku tertawa pahit.
“Karena kamu tidak pernah melihatku. Tidak pernah menyentuhku. Tidak pernah mencintaiku.”
Suasana menjadi sunyi.
“Aku bukan wanita yang kamu inginkan. Jadi lepaskan saja aku.”
Mateo memejamkan mata.
“Aku tidak menyentuhmu… bukan karena aku tidak menginginkanmu.”
Aku menatapnya.
“Tiga tahun lalu, saat kita menikah, dokter memberitahuku bahwa kondisiku membuatku sulit memiliki anak.”
Aku terdiam.
“Aku tahu kamu mencintai keluarga. Aku takut kamu akan menyesal menikah denganku. Aku pikir… menjaga jarak akan membuatmu lebih mudah pergi suatu hari nanti.”
Air mataku jatuh semakin deras.
Selama ini… kami sama-sama menyiksa diri.
“Aku bukan menikah denganmu untuk anak,” bisikku. “Aku menikah karena aku mencintaimu.”
Mateo mendekat.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia memelukku.
Bukan dengan nafsu.
Bukan dengan kemarahan.
Tapi dengan ketakutan… dan cinta yang lama terpendam.
“Aku tidak akan menceraikanmu,” katanya pelan.
“Kalau kamu ingin pergi, itu pilihanmu. Tapi jangan pernah berpikir kamu hanya pengganti.”
Malam itu, tidak ada drama.
Tidak ada teriakan.
Hanya dua orang dewasa yang akhirnya belajar berbicara dengan jujur.
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan kami dimulai…
Aku merasa benar-benar menjadi istrinya.

Setelah malam itu, tidak ada lagi kamar yang terkunci dari dalam.
Mateo tidak langsung berubah menjadi pria yang romantis seperti di film. Ia tetap pendiam. Tetap serius. Tapi kini ia tidak lagi menjauh.
Ia mulai menjemputku sendiri sepulang kerja.
Menggenggam tanganku di dalam mobil.
Duduk di sampingku saat makan malam — bukan di ujung meja yang jauh.
Hal-hal kecil.
Tapi bagi kami… itu segalanya.
Suatu sore, aku menemukan sesuatu di ruang kerjanya.
Sebuah map tebal bertuliskan namaku.
Di dalamnya ada hasil konsultasi dokter, jurnal medis, dan rencana terapi terbaru dari klinik di Swiss. Ia sudah mencari kemungkinan pengobatan selama dua tahun — diam-diam.
Tanganku gemetar saat membaca catatan kecil di halaman terakhir:
“Kalau suatu hari Celine tahu, aku ingin dia tahu bahwa aku sudah mencoba. Bukan karena aku ingin anak. Tapi karena aku ingin melihat dia tersenyum.”
Air mataku jatuh di atas kertas itu.
Selama ini aku berpikir aku sendirian.
Ternyata… ia juga berjuang dalam diam.
6. Pilihan Kami
Beberapa bulan kemudian, kami duduk di balkon rumah kami di Menteng. Langit Jakarta sore itu berwarna jingga.
“Aku tidak peduli kita punya anak atau tidak,” kataku pelan.
“Aku hanya ingin kita tidak lagi saling menyakiti karena ketakutan.”
Mateo mengangguk.
“Kita bisa adopsi. Atau tidak sama sekali. Tapi kali ini… kita memutuskan bersama.”
Ia menggenggam tanganku dan menempelkannya ke dadanya.
“Aku tidak ingin kamu pergi. Bukan karena status. Bukan karena kewajiban. Tapi karena aku mencintaimu.”
Untuk pertama kalinya, ia mengucapkan kata itu tanpa ragu.
Aku tersenyum di antara air mata.
“Aku juga mencintaimu.”
7. Bukan Lagi Bayangan
Beberapa minggu setelah itu, kami menghadiri sebuah acara amal. Banyak orang masih berbisik bahwa aku hanyalah “istri yang beruntung”.
Tapi kali ini, Mateo berdiri di sampingku.
Ketika seorang tamu bertanya, “Istri Anda terlihat berbeda sekarang.”
Mateo menjawab dengan tenang:
“Dia bukan berbeda. Saya saja yang akhirnya belajar melihatnya.”
Tangannya merangkul pinggangku dengan bangga.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti bayangan siapa pun.
Bukan pengganti.
Bukan proxy.
Bukan pilihan kedua.
Aku adalah istrinya.
Dan lebih dari itu — aku adalah wanita yang memilih untuk tetap tinggal bukan karena terpaksa, tapi karena cinta yang akhirnya diperjuangkan bersama.
Malam itu, saat kami pulang, Mateo mematikan lampu kamar dan berbisik pelan di telingaku:
“Terima kasih sudah tidak menyerah pada kita.”
Aku tersenyum.
Karena kadang, akhir yang indah bukan tentang perpisahan yang dramatis…
Tapi tentang dua orang yang berhenti lari, lalu memilih untuk saling menggenggam lebih erat dari sebelumnya.