Setelah malam itu, tidak ada lagi kamar yang terkunci dari dalam.
Mateo tidak langsung berubah menjadi pria yang romantis seperti di film. Ia tetap pendiam. Tetap serius. Tapi kini ia tidak lagi menjauh.
Ia mulai menjemputku sendiri sepulang kerja.
Menggenggam tanganku di dalam mobil.
Duduk di sampingku saat makan malam — bukan di ujung meja yang jauh.
Hal-hal kecil.
Tapi bagi kami… itu segalanya.
Suatu sore, aku menemukan sesuatu di ruang kerjanya.
Sebuah map tebal bertuliskan namaku.
Di dalamnya ada hasil konsultasi dokter, jurnal medis, dan rencana terapi terbaru dari klinik di Swiss. Ia sudah mencari kemungkinan pengobatan selama dua tahun — diam-diam.
Tanganku gemetar saat membaca catatan kecil di halaman terakhir:
“Kalau suatu hari Celine tahu, aku ingin dia tahu bahwa aku sudah mencoba. Bukan karena aku ingin anak. Tapi karena aku ingin melihat dia tersenyum.”
Air mataku jatuh di atas kertas itu.
Selama ini aku berpikir aku sendirian.
Ternyata… ia juga berjuang dalam diam.
6. Pilihan Kami
Beberapa bulan kemudian, kami duduk di balkon rumah kami di Menteng. Langit Jakarta sore itu berwarna jingga.
“Aku tidak peduli kita punya anak atau tidak,” kataku pelan.
“Aku hanya ingin kita tidak lagi saling menyakiti karena ketakutan.”
Mateo mengangguk.
“Kita bisa adopsi. Atau tidak sama sekali. Tapi kali ini… kita memutuskan bersama.”
Ia menggenggam tanganku dan menempelkannya ke dadanya.
“Aku tidak ingin kamu pergi. Bukan karena status. Bukan karena kewajiban. Tapi karena aku mencintaimu.”
Untuk pertama kalinya, ia mengucapkan kata itu tanpa ragu.
Aku tersenyum di antara air mata.

“Aku juga mencintaimu.”
7. Bukan Lagi Bayangan
Beberapa minggu setelah itu, kami menghadiri sebuah acara amal. Banyak orang masih berbisik bahwa aku hanyalah “istri yang beruntung”.
Tapi kali ini, Mateo berdiri di sampingku.
Ketika seorang tamu bertanya, “Istri Anda terlihat berbeda sekarang.”
Mateo menjawab dengan tenang:
“Dia bukan berbeda. Saya saja yang akhirnya belajar melihatnya.”
Tangannya merangkul pinggangku dengan bangga.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti bayangan siapa pun.
Bukan pengganti.
Bukan proxy.
Bukan pilihan kedua.
Aku adalah istrinya.
Dan lebih dari itu — aku adalah wanita yang memilih untuk tetap tinggal bukan karena terpaksa, tapi karena cinta yang akhirnya diperjuangkan bersama.
Malam itu, saat kami pulang, Mateo mematikan lampu kamar dan berbisik pelan di telingaku:
“Terima kasih sudah tidak menyerah pada kita.”
Aku tersenyum.
Karena kadang, akhir yang indah bukan tentang perpisahan yang dramatis…
Tapi tentang dua orang yang berhenti lari, lalu memilih untuk saling menggenggam lebih erat dari sebelumnya.