Posted in

 Kesal karena ibuku dihina di depan umum kusumpal saja mulut Bude dengan sambal. Menyala gak, tuh

BAB 2: Hukum Karma Tidak Menunggu Nanti

“Berhenti! Kamu pikir bisa lari setelah mempermalukan keluarga saya?”

Suara berat dan penuh otoritas itu berasal dari Pak RT, yang ternyata adalah adik kandung Bude Sumi. Di belakangnya, beberapa pemuda desa yang tadi sedang asyik merokok di sudut tenda mulai mendekat, membentuk pagar betis yang menghalangi jalan keluar kami.

Aku merasakan bahu Ibu bergetar hebat. Mas Danu segera maju, berdiri di depanku seolah ingin menjadi tameng.

“Pak RT, mohon maaf, tapi Bude Sumi yang memulai duluan. Dia menghina Ibu dan almarhum Bapak dengan kata-kata yang tidak pantas,” Mas Danu mencoba bernegosiasi dengan nada rendah.

“Saya tidak peduli siapa yang mulai! Lihat itu!” Pak RT menunjuk ke arah Bude Sumi yang sedang disiram air minum oleh warga, wajahnya sudah bengkak dan air mata mengalir deras bercampur sambal merah. “Istri saya punya hajat, dan menantumu ini datang membuat keributan. Ini penghinaan bagi tuan rumah!”

Aku maju selangkah, menyampingkan Mas Danu. Aku menatap Pak RT tepat di matanya. “Penghinaan? Pak RT, sejak kapan sumbangan beras dua liter dan tempe dicatat sebagai dosa besar di kampung ini? Bukankah inti dari hajatan adalah berbagi kebahagiaan? Kalau Bude Sumi hanya ingin menerima ‘investasi’ berupa uang atau emas, jangan buat hajatan, buat saja bank!”

“Kurang ajar!” Pak RT mengangkat tangannya, hendak menamparku.

“Pukul saja, Pak,” tantangku tenang sambil mengangkat ponselku yang ternyata sudah dalam mode merekam sejak Bude Sumi memaki Ibu tadi. “Satu sentuhan fisik darimu, rekaman hinaan Bude Sumi dan kekerasan ini akan langsung sampai ke meja polisi di kota. Saya punya pengacara yang siap membuat keluarga kalian tidak bisa tidur nyenyak seumur hidup.”

Tangan Pak RT tertahan di udara. Dia ragu. Orang desa mungkin berani secara massa, tapi mereka paling takut dengan hukum formal dan pengacara dari kota.


Perlawanan yang Elegan

Aku melirik ke arah meja prasmanan. Dengan tenang, aku mengambil tas plastik besar yang tadi dibawa Mbak Sari untuk wadah berkat. Aku mengambil beberapa potong ayam goreng dari nampan yang tadi dilarang oleh Bude Sumi.

“Ini hak Ibu saya sebagai tamu,” kataku sambil memasukkan ayam-ayam itu ke dalam plastik.

“Riana, sudah nak… ayo kita pergi,” bisik Ibu, suaranya parau karena malu.

“Sebentar, Bu. Ada yang kurang.” Aku merogoh dompet di tas selempangku, mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan, lalu melemparnya tepat di depan Bude Sumi yang masih megap-megap.

“Ini bayaran untuk sambal dan ayamnya. Sisa kembaliannya tolong pakai untuk beli etika, ya, Bude. Sepertinya Bude sangat kekurangan barang itu.”

Gumam kaget terdengar dari para tamu. Lima ratus ribu untuk sekadar sambal dan ayam adalah penghinaan balik yang telak bagi orang yang membanggakan materi seperti Bude Sumi.


BAB 3: Menantu dari Kota Bukan Kaleng-Kaleng

Kami berjalan menembus kerumunan. Tidak ada yang berani menghalangi lagi. Mbak Sari berjalan dengan kepala tegak untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sementara Mas Danu tampak masih syok dengan keberanian istrinya.

Sesampainya di rumah kayu Ibu yang sederhana, suasana mendadak hening. Ibu duduk di kursi rotan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Riana… kenapa kamu nekat begitu? Kita ini orang kecil, nanti kita dikucilkan,” tangis Ibu pecah.

Aku berlutut di depan Ibu, menggenggam tangannya yang kasar karena bertahun-tahun bekerja di sawah. “Ibu, mendiamkan orang jahat itu bukan sabar, tapi membiarkan mereka tambah berdosa. Selama Riana ada di sini, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menginjak harga diri Ibu.”

Aku menoleh ke arah Mas Danu. “Mas, maaf kalau caraku kasar. Tapi aku tidak bisa melihat Ibu dan Mbak Sari dihina seperti itu.”

Mas Danu menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis sambil mengusap kepalaku. “Awalnya aku takut, tapi sejujurnya… aku merasa lega. Selama ini kami hanya diam karena tidak mau ribut. Ternyata diam kita justru jadi makanan bagi mereka.”

Mbak Sari mendekat, ia memelukku erat. “Terima kasih, Riana. Tadi itu… benar-benar memuaskan. Kamu hebat!”


Kejutan Tengah Malam

Malamnya, kampung mendadak heboh. Rupanya, video Bude Sumi yang kena “sumpal sambal” sudah tersebar di grup WhatsApp warga. Tapi bukan aku yang menyebarkannya, melainkan anak muda yang tadi menonton dan merasa muak dengan kelakuan sombong Bude Sumi selama ini.

Bukannya dihujat, aku malah mendapat banyak pesan dari ibu-ibu lain lewat DM media sosialku yang entah mereka dapat dari mana. Mereka mengaku senang karena ada yang berani memberi pelajaran pada “Singa Kampung” itu.

Namun, ketenangan kami terusik saat suara gedoran pintu terdengar keras sekitar jam sembilan malam.

“Keluar! Danu, suruh istrimu keluar! Bude Sumi masuk puskesmas karena lambungnya perih! Kalian harus tanggung jawab!” teriak suara laki-laki dari luar.

Aku bangkit dari tempat tidur, mengikat rambutku tinggi-tinggi. Aku melirik ke arah dapur, melihat masih ada sisa sambal tadi siang yang sengaja kubawa pulang sedikit.

“Mas, temani aku ke depan,” kataku pada Mas Danu. “Sepertinya ada yang minta jatah sambal ronde kedua.”

Menyala gak, tuh?