Posted in

Aku baru saja melunasi penuh sebuah unit apartemen di Jakarta Selatan, bahkan belum sempat pindah, tiba-tiba keluarga suamiku memaksaku untuk memindahkan kepemilikan unit itu kepada sepupunya yang akan menikah.

Adrian mematung. Wajahnya yang tadi merah padam karena amarah, kini berubah sepucat kertas. Carla, yang biasanya piawai bersandiwara dengan air mata, mendadak berhenti terisak. Ia menatap ponsel Adrian yang tergeletak di lantai seperti menatap bom waktu.

“Notice… resmi?” suara Carla mencicit. “Adrian, apa maksudnya? Ini kan cuma urusan keluarga! Kenapa bawa-bawa kementerian?”

Aku melangkah maju, mengambil map yang didekap Carla dengan sekali sentakan kuat. Dia terlalu kaget untuk melawan. Aku membuka map itu, memastikan sertifikatnya masih utuh, lalu menatap mereka berdua dengan tatapan paling dingin yang pernah kumiliki.

“Kalian pikir ini properti swasta biasa?” tanyaku retoris. “Apartemen itu disubsidi negara untuk peneliti dan staf ahli. Ada klausul pakta integritas yang kutandatangani di atas meterai. Percobaan pemindahan tangan secara ilegal atau pemalsuan dokumen dalam program ini dianggap sebagai upaya korupsi dan penipuan terhadap aset negara.”

Aku menunjuk ke arah ponsel Adrian.

“Pengacara yang baru meneleponmu itu? Dia bukan sekadar pengacara properti. Dia bagian dari tim hukum kementerian yang memantau sistem. Begitu ada aktivitas mencurigakan atau laporan masuk, sistem langsung mengunci status unit itu. Dan karena namamu tadi sempat disebut-sebut sebagai ‘penjamin’ di sistem oleh kenalanmu di kantor notaris, namamu kini masuk dalam daftar hitam.”

“Luna… tolong…” Adrian mencoba meraih tanganku, suaranya kini bergetar memohon. “Aku tidak tahu kalau dampaknya bakal seburuk ini. Aku cuma mau membantu Kevin…”

“Membantu Kevin dengan cara menghancurkan karier dan namaku?” potongku tajam. “Atau sebenarnya, kamu sedang mencoba menutupi utangmu pada Carla?”

Mendengar itu, Adrian tersentak. Carla juga tampak tegang.

“Jangan kaget,” kataku sambil berjalan menuju laptop yang masih menyala. “Aku tidak hanya menyiapkan berkas apartemen. Aku juga sudah memeriksa mutasi rekening bersama kita yang selama ini kamu katakan ‘kosong’ karena biaya hidup. Ternyata, setiap bulan ada aliran dana tetap ke rekening Carla. Totalnya hampir menyentuh angka setengah miliar rupiah selama tiga tahun terakhir.”

Inilah rahasia yang membuat mereka benar-benar bungkam.

Rahasia yang kutemukan semalam saat aku mencoba mencari slip pelunasan apartemen. Adrian bukan sekadar ‘kakak yang baik’. Dia sedang mencuci uang dari proyek kantornya melalui rekening kakaknya, dan apartemenku hendak dijadikan ‘hadiah’ sekaligus jaminan agar Carla tetap tutup mulut soal penggelapan dana yang dilakukan Adrian di perusahaannya.

“Jadi, Kevin mau menikah atau kalian sedang butuh aset untuk dicarikan uang tunai demi menutupi lubang di kantor?” cecarku.

Carla jatuh terduduk di lantai. “Luna… kami hanya…”

“Kalian hanya parasit,” potongku.

Aku mengambil ponselku dan menekan tombol panggil cepat.

“Halo, Pak Rahman? Ya, saya Luna. Suami saya ada di sini. Dia sudah mengakui semuanya secara lisan. Silakan lanjutkan prosedur pembatalan status keluarga dalam tunjangan perumahan saya. Saya juga akan mengirimkan bukti-bukti transaksi keuangan mencurigakan yang saya temukan.”

“Luna! Kamu mau menghancurkanku?!” Adrian berteriak frustrasi.

“Tidak, Adrian,” jawabku tenang sambil mengemas tas kecilku. Aku tidak akan tinggal di sini malam ini. “Aku hanya sedang melakukan apa yang kamu katakan tadi: Keluarga adalah nomor satu. Bedanya, aku baru sadar kalau aku tidak punya keluarga di ruangan ini.”

Aku berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, aku berhenti dan menatap Carla yang masih memegang perut buncitnya—entah kehamilan itu asli atau hanya senjatanya yang lain.

“Hapus postingan Facebook itu dalam tiga menit. Atau aku akan memastikan kolom komentarnya dipenuhi dengan foto surat panggilan kepolisian.”

Pintu kututup dengan dentuman yang jauh lebih pelan dari yang dilakukan Adrian tadi, tapi aku tahu, bunyinya jauh lebih mematikan bagi masa depan mereka.

Aku melangkah keluar menuju lobi, menghirup udara malam Jakarta Selatan yang lembap. Apartemen itu tetap milikku. Dan mulai besok, hidupku juga akan sepenuhnya menjadi milikku kembali, tanpa ada satu pun Wijaya yang tersisa di dalamnya.