Suasana yang tadinya penuh tawa kemenangan mendadak senyap, hanya menyisakan suara tetesan air dari ujung jas Mas Retno ke lantai marmer. Penghulu dan dua saksi yang hadir tampak kebingungan, sementara perempuan berkebaya putih itu mulai terisak karena riasannya luntur terkena air.

“Re-Refi? Kamu… kok sudah pulang?” suara Mas Retno bergetar, mencoba mencari sisa-sisa wibawanya yang sudah jatuh ke lantai.
“Kalau aku nggak pulang, aku nggak akan tahu kalau uang 300 juta yang aku kumpulkan dengan darah dan air mata itu mau kamu pakai untuk membiayai pengkhianatan ini!” teriakku, suaraku menggema di setiap sudut rumah.
Konfrontasi yang Mematikan
Mas Retno mencoba mendekat, tangannya hendak memegang bahuku, namun segera kutepis dengan kasar.
“Dengar ya, Refi! Aku ini suamimu! Kamu tidak berhak bicara kasar seperti itu di depan tamu-tamuku! Mana baktimu?” bentaknya, mencoba menggunakan kartu “senjata pamungkas” yang biasanya membuatku luluh.
Aku tertawa getir. “Bakti? Bakti itu diberikan kepada suami yang menafkahi dan menjaga kehormatan istrinya, bukan kepada benalu yang mau pesta pora di atas penderitaan istrinya! Kamu bicara soal rida suami? Ketahuilah, Mas, detik ini juga rida itu sudah tidak ada artinya karena aku yang akan menggugat cerai kamu!”
Perempuan di sampingnya, yang belakangan aku tahu bernama Sheila, mulai berteriak histeris. “Mas! Kamu bilang dia bakal kasih uangnya! Aku sudah pesan katering dan dekorasi hotel, Mas! DP-nya pakai uang tabunganku, kamu janji mau pelunasan hari ini!”
Aku menatap Sheila dengan pandangan menghina. “Oh, jadi kamu sudah tahu dia punya istri dan tetap mau menikahinya dengan uangku? Bagus. Kalian memang pasangan yang serasi. Sama-sama tidak punya urat malu.”
Pengusiran Secara Terhormat
Aku merogoh tas kerjaku, mengeluarkan ponsel, dan langsung menghubungi nomor seseorang.
“Halo, Pak RT? Bisa tolong ke rumah saya sekarang? Bawa beberapa pemuda lingkungan. Ada penyusup di rumah saya yang harus segera dikeluarkan karena mengganggu ketertiban.”
Wajah Mas Retno berubah dari pias menjadi merah padam karena malu. Para saksi dan penghulu buru-buru merapikan tas mereka dan pamit pergi, tidak ingin terseret dalam drama rumah tangga yang memuakkan ini.
“Refi, jangan gila! Ini juga rumahku!” gertak Mas Retno.
“Rumahmu?” Aku mengambil map dari laci meja yang selalu kukunci rapat—untungnya dia tak pernah berhasil membobolnya. “Lihat sertifikat ini baik-baik. Nama siapa yang tertera di sini? Dan lihat slip cicilan ini, siapa yang membayarnya tiap bulan? Kamu? Kamu bahkan tidak sanggup bayar tagihan listrik kalau aku tidak kirim uang!”
Akhir dari Sebuah Kepalsuan
Sepuluh menit kemudian, Pak RT dan beberapa warga datang. Di depan tetangga yang selama ini kukenal baik, aku membeberkan semuanya tanpa sisa. Mas Retno dan istri barunya yang malang itu diusir keluar hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh mereka dan beberapa tas berisi baju-baju Mas Retno yang kulempar asal ke halaman.
“Pergi! Dan jangan harap sepeser pun uang dari rekeningku akan mengalir ke kantongmu!” teriakku saat mereka berdiri mematung di pinggir jalan, ditonton oleh para tetangga yang berbisik sinis.
Malam itu, aku duduk sendirian di ruang tamu yang berantakan. Bau melati masih tercium, tapi tidak ada lagi rasa sedih. Yang ada hanyalah rasa lega yang luar biasa.
Tiga ratus juta itu tetap aman di rekeningku. Uang itu tidak akan jadi pesta mewah bagi mereka, melainkan akan menjadi modal awal bagiku untuk membangun hidup baru tanpa bayang-bayang lelaki parasit yang berlindung di balik kata “bakti”.
Besok, hal pertama yang akan kulakukan adalah mengganti semua kunci rumah dan pergi ke pengadilan agama. Aku telah memenangkan kembali diriku sendiri.