Duniaku seolah runtuh saat itu juga. Pemandangan di depanku adalah jawaban paling menyakitkan dari semua pertanyaanku selama setahun ini. Mas Bagas—suami yang selalu bersikap manis namun dingin di ranjang—berdiri di hadapanku dengan kondisi yang tak bisa ditoleransi oleh nalar istri mana pun.

“Mas… apa yang kamu lakukan di sini?” suaraku bergetar, nyaris hilang tertelan sesak di dada.
Mas Bagas tampak mematung. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi. “Hanum, ini… ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Mas bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa? Kamu bilang ada klien! Klien mana yang menemuimu dalam kondisi telanjang begini di kamar penginapan?!” Teriakanku pecah. Aku tidak peduli lagi jika tamu di kamar sebelah mendengar.
Tiba-tiba, dari arah dalam kamar, terdengar suara gesekan sprei dan langkah kaki yang mendekat. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku ingin lari, tapi kakiku seolah terpaku di lantai lorong penginapan itu.
“Sayang, siapa yang datang?”
Seorang wanita muncul dari balik bahu Mas Bagas. Dia hanya mengenakan bathrobe (jubah mandi) putih. Rambutnya basah, persis seperti orang yang baru selesai membersihkan diri. Dan yang membuat hatiku hancur berkeping-keping hingga tak bersisa adalah saat aku mengenali wajah itu.
Sarah.
Wanita yang beberapa hari lalu kutemui. Wanita yang bersikap manis padaku dan mengaku sebagai teman lama Mas Bagas.
“K-kamu…” Aku menunjuk Sarah dengan tangan yang gemetar hebat. Pandanganku mengabur oleh air mata yang mendesak keluar.
“Mbak Hanum?” Sarah tampak terkejut, namun hanya sesaat. Tak lama kemudian, gurat ketakutan di wajahnya berganti menjadi tatapan datar, bahkan cenderung menantang.
“Jadi ini alasan kamu tidak pernah menyentuhku selama setahun, Mas?” tanyaku lirih, menatap Mas Bagas yang masih diam seribu bahasa. “Selama ini kamu membagi tubuh dan cintamu dengan wanita ini? Di belakangku?”
“Hanum, dengar dulu…” Mas Bagas mencoba meraih tanganku, tapi aku menepisnya dengan kasar.
“Jangan sentuh aku dengan tangan kotor itu!” bentakku. “Setahun, Mas! Setahun aku bersabar. Aku merayu, aku bersolek, aku menangis di tiap sujudku bertanya apa kekuranganku sampai suamiku sendiri merasa jijik padaku. Ternyata bukan aku yang kurang, tapi kamu yang tidak punya hati!”
“Aku mencintai Sarah jauh sebelum mengenalmu, Hanum,” suara Mas Bagas tiba-tiba merendah, tapi kalimatnya seperti belati yang menghujam jantung. “Pernikahan kita… ini hanya karena paksaan orang tua. Aku mencoba, tapi aku tidak bisa melepaskan Sarah.”
“Lalu kenapa kamu menikahiku?! Kenapa kamu menghancurkan hidupku jika kamu sudah punya dia?”
“Karena Bagas butuh status untuk kariernya, Mbak,” sahut Sarah tiba-tiba dengan nada tenang yang memuakkan. “Istri yang sah, dari keluarga baik-baik, untuk menunjang citranya di kantor. Tapi untuk urusan hati dan… biologis, dia hanya milikku.”
Plak!
Satu tamparan mendarat keras di pipi Sarah. Aku tidak sanggup lagi menahan diri. Emosiku meledak hebat.
“Hanum! Cukup!” Mas Bagas membela wanita itu, menarik Sarah ke belakang tubuhnya.
Melihat pembelaan Mas Bagas untuk selingkuhannya di depan mataku sendiri, seketika rasa cintaku menguap. Berganti menjadi rasa muak yang luar biasa. Aku menghapus air mata dengan kasar dan mundur beberapa langkah.
“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya hari ini,” ujarku dengan suara yang kini terdengar dingin dan tajam. “Jangan pulang ke rumah lagi. Barang-barangmu akan kukirim ke sini atau ke kantor. Dan jangan harap aku akan diam.”
“Hanum, tunggu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Jangan sampai orang tua kita tahu,” cegah Mas Bagas, wajahnya kembali diliputi kecemasan. Dia takut karier dan nama baiknya hancur.
Aku tersenyum sinis, sebuah senyuman yang paling pahit yang pernah kulakukan.
“Selama setahun aku menjaga kehormatanmu sebagai suami meski aku menderita. Sekarang, aku tidak punya alasan lagi untuk melindungimu. Kita selesai, Mas Bagas. Kita benar-benar selesai.”
Aku berbalik, berjalan cepat menyusuri lorong tanpa menoleh lagi. Di belakangku, aku mendengar Mas Bagas memanggil namaku berkali-kali, tapi aku terus melangkah. Di depan penginapan, taksi yang membawaku tadi masih menunggu.
Begitu pintu mobil kututup, pertahananku runtuh. Aku terisak sejadi-jadinya. Sakitnya pengkhianatan ini jauh lebih perih daripada setahun diabaikan. Namun di balik rasa sakit itu, ada secercah rasa lega. Teka-teki itu sudah terjawab. Kini, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk membebaskan diriku dari penjara pernikahan tanpa cinta ini.