Posted in

Setelah satu bulan putus, aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Aku tidak menyangka bahwa dokter yang akan memeriksaku adalah mantan pacarku sendiri.

Gian membawaku masuk ke dalam mobilnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah aku adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Keheningan menyelimuti kabin mobil, hanya terdengar suara mesin yang halus.

“Gian,” panggilku pelan. “Soal anak ini…”

Dia tidak langsung menjawab. Tangannya mencengkeram kemudi dengan erat sampai buku-bukunya memutih. “Kita akan menikah,” ucapnya tegas, tanpa menoleh.

Aku terbelalak. “Apa? Tapi kita sudah putus sebulan yang lalu! Dan… dan kamu bilang kamu membenciku.”

Gian menghentikan mobil di pinggir jalan dengan mendadak. Dia memutar tubuhnya, menatapku dengan tatapan yang campur aduk—antara amarah yang tersisa dan kerinduan yang mendalam.

“Kapan aku bilang aku membencimu?” tanyanya dengan suara serak. “Kamu yang pergi, Lin. Kamu yang menghina harga diriku dan memblokir semua jalan untukku menjelaskan. Tapi setiap malam selama sebulan ini, aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar kamu kembali.”

Aku menunduk, memainkan ujung bajuku. “Tapi aku bilang kamu cuma tahan lima menit…”

Gian mendengus, sebuah tawa pahit lolos dari bibirnya. “Lima menit, ya? Kamu tahu persis itu bohong. Dan karena kebohongan itu, aku hampir gila di rumah sakit setiap kali melihat pasien yang mirip denganmu.”

Dia meraih tanganku, menempelkan telapak tanganku ke pipinya yang terasa hangat. “Soal anak ini… ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan untukku. Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi. Tidak ke Batangas, tidak ke mana pun.”


Minggu-minggu berikutnya adalah sebuah perubahan drastis. Gian yang dulu gila kerja tiba-tiba menjadi “polisi kesehatan” pribadiku. Dia mengatur jadwal makanku, melarangku minum kopi, bahkan menelponku setiap tiga jam hanya untuk memastikan aku tidak kelelahan.

Suatu malam, saat dia sedang mengoleskan krim anti-stretch mark di perutku yang masih rata, aku bertanya, “Kenapa kamu tidak membalas pesanku atau meneleponku setelah kita putus?”

Gian terhenti sejenak. “Aku takut jika aku mendengar suaramu, aku akan berlutut memohon padamu untuk kembali meskipun kamu sudah menghinaku. Aku mencoba menjaga harga diriku yang tersisa… sampai kamu muncul di kliniku dengan wajah pucat itu.”

Dia mengecup perutku dengan lembut. “Ternyata, mencintaimu jauh lebih penting daripada harga diri.”


Beberapa bulan kemudian, kami berdiri di depan orang tuaku di Batangas. Aku sudah bersiap untuk dimarahi habis-habisan, tapi Gian berdiri di depanku, menggenggam tanganku dengan protektif.

“Ayah, Ibu,” ucap Gian dengan tenang namun penuh wibawa. “Saya yang bersalah karena tidak menjaga Lin dengan lebih baik. Tapi saya datang ke sini untuk meminta izin menikahi putri kalian dan berjanji akan memberikan seluruh hidup saya untuk kebahagiaan dia dan cucu kalian.”

Ibuku menangis haru, sementara Ayah hanya menepuk bahu Gian dengan keras. Ternyata, keberanian Gian jauh melampaui ketakutanku.

Malam itu, di kamar masa kecilku, Gian memelukku dari belakang. Aroma sabun mandinya masih sama, menenangkan dan membuatku merasa pulang.

“Lin,” bisiknya di telingaku.

“Ya?”

“Tentang durasi ‘lima menit’ itu…” Dia membalikkan tubuhku, matanya berkilat penuh tantangan yang nakal. “Setelah bayi ini lahir dan kamu sudah pulih sepenuhnya, aku akan membuktikan padamu bahwa diagnosamu saat itu sangat, sangat salah.”

Aku tertawa, menyembunyikan wajahku yang memerah di dadanya. Kali ini, aku tahu bahwa detak jantungku yang kencang bukan karena ingin lari, tapi karena aku akhirnya berada di tempat yang tepat.