TIGA TAHUN SETELAH DIA MENGUSIR ISTRINYA, SEORANG TYCOON TANPA BELAS KASIH MENEMUKAN SEBUAH TES KEHAMILAN YANG TERSEMBUNYI DI DALAM DINDING—DAN SATU PANGGILAN MEMBUKTIKAN DIA BUKAN YANG DIKHIANATI
Tiga tahun setelah menandatangani perceraian, Rafael Dela Cruz kembali ke penthouse yang menghadap Manila Bay di Bonifacio Global City.
Dia tidak kembali karena rindu.
Dia kembali untuk menghapus semuanya.
— Bersihkan semuanya sebelum matahari terbenam. Aku tidak mau ada satu pun yang tersisa.
Tidak ada foto.
Tidak ada aroma parfum.
Tidak ada kenangan.
Hanya keheningan yang dingin.
Tiga tahun yang lalu, dia mengusir Isabella Santos dari tempat itu.
Tanpa penjelasan.
Tanpa kesempatan untuk berbicara.
— Kamu mengkhianatiku.
Isabella berdiri.
Dengan satu koper kecil.
Tanpa mantel.
Matanya merah, tapi tidak menangis.
— Rafael… kamu tidak mengerti…
— Cukup.
Dan di situlah semuanya berakhir.
Selama tiga tahun, Rafael percaya dia benar.

Seorang pengusaha kuat di Metro Manila tidak mungkin salah.
Tidak mungkin salah percaya.
Apalagi jika bukti datang langsung dari Don Esteban Navarro, penasihat tertua keluarga mereka.
Email.
Transaksi.
Koneksi rahasia dengan pesaing di Makati.
Jelas.
Terlalu jelas.
Dan dia tidak pernah bertanya lagi.
…
— Pak! Kami menemukan sesuatu!
Rafael menoleh.
Di kamar mandi.
Seorang pekerja membuka panel di bawah wastafel.
Ada ruang tersembunyi kecil.
Di dalamnya: debu, kuitansi lama… dan sebuah benda putih kecil.
— Mau saya buang, Pak?
Rafael tidak menjawab.
Dia mendekat.
Mengambilnya.
Sebuah tes kehamilan.
Lama.
Kotor.
Tapi hasilnya masih jelas.
Dua garis.
Positif.
Dunia seakan berhenti.
Dadanya sesak.
Dia membaliknya.
Ada tulisan di sebuah tisu.
Tulisan tangan yang sangat dia kenal.
“Aku akan memberitahunya setelah makan malam. 12 Juni.”
Tubuh Rafael membeku.
Perceraian diajukan… 13 Juni.
Artinya…
Satu malam sebelum dia menghancurkan semuanya…
Isabella sedang hamil.
Hamil.
Dan dia tidak pernah mendengarkannya.
Tangannya semakin gemetar saat melihat tulisan lain di bagian belakang.
“Kalau dia tersenyum… aku akan bilang aku sudah mencintai bayi kita.”
Seolah ada sesuatu yang meledak di dalam dadanya.
Satu kalimat.
Tapi cukup untuk menghancurkannya.
Jika dia hamil…
Dia tidak mungkin selingkuh.
Jika dia tidak berkhianat…
Siapa yang merancang semuanya?
— Semua keluar.
— Pak?
— SEMUA ORANG, KELUAR!
Dalam satu menit, seluruh penthouse menjadi sunyi.
Dia sendirian.
Bersama kebenaran yang tidak lagi bisa dia hindari.
Teleponnya berdering.
Dia melihat nama di layar.
Don Esteban Navarro.
Dia mengangkatnya.
— Kamu di mana? Pengacara sudah menunggu—
— Kamu tahu?
Hening sejenak.
Sangat singkat.
Tapi cukup.

— Maksudmu?
Rafael menatap tes kehamilan itu.
— Dia hamil.
Sunyi.
Suara di ujung telepon berubah menjadi tawa rendah yang dingin—tawa yang tidak pernah Rafael dengar selama dua puluh tahun mengenal Don Esteban sebagai mentornya.
— Jadi, kamu menemukannya juga akhirnya, Rafael?
Jantung Rafael berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan amarah yang murni. — Kenapa? Dia tidak bersalah. Dia mengandung anakku, Esteban!
— Justru karena itu, — suara Don Esteban kini terdengar tajam seperti belati. — Darah Santos tidak boleh bercampur dengan kekayaan Dela Cruz. Ayahnya menghancurkan saudaraku puluhan tahun lalu. Aku tidak akan membiarkan cucunya mewarisi kerajaan yang aku bantu bangun untukmu.
Rafael meremas tes kehamilan itu hingga jarinya memutih. — Kamu memalsukan bukti perselingkuhan itu. Kamu menjebaknya.
— Aku hanya memberimu alasan untuk melakukan apa yang sebenarnya ingin kau lakukan: menjadi penguasa tanpa celah. Dan lihat dirimu sekarang, Rafael. Kamu adalah raja Manila. Bukankah itu yang kamu inginkan?
— Aku menginginkan keluargaku! — raung Rafael, suaranya bergema di dinding penthouse yang kosong.
— Sayang sekali, — Esteban memutus kalimatnya dengan nada dingin. — Isabella sudah hilang sejak malam itu. Jangan habiskan waktumu mencarinya. Dia sudah hancur, sama seperti reputasinya.
Klik.
Sambungan terputus.
Perburuan Dimulai
Rafael tidak memanggil pengacaranya. Dia memanggil kepala keamanannya, seorang mantan agen intelijen.
— Cari Isabella Santos. Jangan berhenti sampai ke ujung Filipina. Periksa semua klinik bersalin, panti asuhan, dan daftar keberangkatan kapal tiga tahun lalu.
Malam itu, Rafael tidak tidur. Dia duduk di lantai kamar mandi, tempat tes kehamilan itu ditemukan. Dia membayangkan Isabella yang ketakutan, berdiri di depan pintu ini tiga tahun lalu, mencoba memberitahunya bahwa ada kehidupan baru di dalam dirinya, sementara dia justru melemparkan surat cerai ke wajahnya.
Tiga hari kemudian, sebuah berkas mendarat di mejanya.
— Kami menemukannya, Pak. Tapi… Anda mungkin tidak akan menyukainya.
Kebenaran di Antipolo
Rafael mengemudikan mobilnya sendiri menuju perbukitan di Antipolo. Di sebuah rumah kecil dengan atap seng yang mulai berkarat, dia melihat seorang wanita sedang menjemur pakaian.
Tubuhnya lebih kurus. Wajahnya yang dulu ceria kini tampak layu dan waspada.
Isabella.
Rafael keluar dari mobil, kakinya terasa berat. Saat Isabella berbalik dan melihatnya, wanita itu tidak berteriak. Dia hanya terdiam, matanya yang merah menunjukkan luka yang tidak pernah sembuh.
— Pergilah, Rafael, — bisiknya. — Kamu sudah mengambil segalanya. Jangan ambil kedamaianku yang tersisa.
— Isabella… aku tahu. Aku menemukan tes itu. Aku tahu Esteban yang menjebakmu.
Isabella tertawa getir, air mata akhirnya jatuh. — Kamu baru tahu sekarang? Setelah tiga tahun aku hidup seperti sampah karena namaku dihancurkan olehmu?
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki berusia sekitar dua tahun berlari keluar dari rumah. Rambutnya hitam legam, dan matanya… matanya adalah cermin dari mata Rafael sendiri.
— Mama? Siapa dia? — tanya anak itu sambil memeluk kaki Isabella.
Dunia Rafael seakan runtuh dan bangkit kembali dalam sekejap. Penyesalan yang luar biasa menghantamnya hingga dia jatuh berlutut di atas tanah berdebu.
— Maafkan aku… — suara Rafael pecah. — Aku akan menghancurkan Esteban. Aku akan mengembalikan namamu. Aku akan memberikan dunia untukmu dan dia.
Isabella memeluk putranya erat-erat, menatap Rafael dengan tatapan yang tidak lagi penuh cinta, melainkan peringatan.
— Kamu bisa menghancurkan Esteban, Rafael. Tapi jangan harap kamu bisa masuk kembali ke hidup kami dengan mudah. Kamu bukan lagi seorang suami atau ayah di sini. Kamu hanyalah orang asing yang pernah mengusir kami ke dalam kegelapan.
Rafael menunduk, mencium tanah di depan kaki wanita yang pernah dia hancurkan. Dia tahu, merebut kembali takhta bisnisnya dari Esteban akan mudah. Namun, merebut kembali hati Isabella akan menjadi perjuangan seumur hidupnya—dan dia bersumpah tidak akan berhenti sampai dia layak disebut seorang ayah.