Posted in

SELINGKUHAN SUAMIKU MEMESAN KONSULTASI OPERASI PLASTIK PADAKU… DIA TIDAK TAHU BAHWA AKULAH “ISTRI TUA” YANG INGIN IA GANTIKAN

SELINGKUHAN SUAMIKU MEMESAN KONSULTASI OPERASI PLASTIK PADAKU… DIA TIDAK TAHU BAHWA AKULAH “ISTRI TUA” YANG INGIN IA GANTIKAN

BAGIAN 1

“Aku ingin lebih cantik daripada istri tua pacarku.”

Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya saat dia duduk di depanku.

Di klinikku.

Di ruang konsultasiku.

Di depan mejaku.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa “wanita tua” yang sedang dia hina…

adalah aku sendiri.

Namaku Dr. Mariana Robles.

Aku adalah salah satu dokter bedah plastik paling terkenal di Manila. Klinikku di Makati bersifat privat, mahal, dan cukup tenang untuk para wanita kaya yang ingin terlihat seolah mereka “cantik alami”.

Pagi itu aku mengenakan jas putih, masker operasi, penutup kepala, dan kacamata pembesar.

Bagi pasienku, aku hanyalah seorang profesional.

Bagi dia, aku hanya layanan berbayar.

Seorang wanita yang dibayar untuk membuatnya lebih cantik.

Namanya Renata.

Dua puluh empat tahun.

Kuku merah panjang.

Kacamata hitam besar.

Tas desainer.

Dan rasa percaya diri yang hanya dimiliki orang-orang yang belum pernah menghadapi konsekuensi nyata dalam hidup.

Dia menyilangkan kaki, meletakkan ponselnya di meja kaca di depanku, lalu mendorongnya ke arahku.

“Nih,” katanya. “Dia.”

Aku melihat ke layar.

Dan darahku langsung terasa dingin.

Itu fotoku.

Bukan dari media sosial.

Bukan dari website profesional klinikku.

Itu foto pribadi.

Aku berdiri di taman rumah kami di Quezon City tanpa makeup, rambut diikat seadanya, sambil membawa kantong belanja.

Seseorang mengambil foto itu diam-diam.

Seseorang yang cukup dekat untuk melihatku dengan jelas.

Seseorang yang seharusnya melindungiku.

Renata mengetuk layar dengan kuku merahnya.

“Pacarku bilang dia sudah tidak tahan melihatnya,” katanya sambil meringis jijik. “Dia lebih mirip tante-tante daripada istri.”

Aku tidak bergerak.

Tidak berkedip.

Aku hanya menatap wajahku sendiri di ponsel wanita lain sambil mendengar detak jantungku berdentum di telinga.

Padahal pagi itu juga, suamiku Alejandro mencium keningku sebelum pergi dari rumah.

Katanya dia ada meeting di BGC.

Katanya dia mencintaiku.

Katanya aku tidak perlu menunggunya pulang malam ini.

Dan sekarang…

selingkuhannya duduk di kantorku sambil menunjukkan foto curianku.

Renata membungkuk ke depan.

“Aku mau facial structure seperti dia,” katanya. “Tapi lebih muda. Lebih fresh. Lebih seksi. Aku mau dia melihatku lalu lupa kalau wanita itu pernah ada.”

Dunia di sekelilingku seperti menghilang sesaat.

Bukan karena aku terkejut Alejandro selingkuh.

Perempuan selalu tahu lebih dulu sebelum benar-benar tahu.

Kami merasakan perubahan dalam keheningan.

Ciuman yang semakin dingin.

Ponsel yang selalu dibalik.

Meeting mendadak.

Parfum baru.

Senyum yang tidak lagi sampai ke mata.

Tapi mendengar wanita lain berbicara tentangku seolah aku barang tua yang harus diganti?

Itu berbeda.

Lebih menyakitkan.

Aku menatap Renata.

Dia tidak mengenaliku.

Tentu saja tidak.

Masker menutupi setengah wajahku. Penutup kepala menyembunyikan rambutku. Kacamata mengubah bentuk mataku. Dan Renata terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri untuk benar-benar memperhatikan orang lain.

“Pacarmu yang akan membayar semuanya?” tanyaku tenang.

Dia tersenyum.

Lalu mengeluarkan kartu kredit hitam dari tasnya.

“Obviously.”

Dia meletakkannya di mejaku.

Namanya langsung memantul di bawah cahaya lampu.

Alejandro Robles.

Suamiku sendiri.

Selama beberapa detik aku tidak mendengar apa pun.

Bukan suara AC.

Bukan langkah kaki di luar ruangan.

Bukan suara jalanan.

Hanya detak jantungku.

Renata tertawa kecil.

“Katanya uang bukan masalah. Dia cuma ingin aku jadi sempurna.”

Sempurna.

Aku mengambil kartu itu dengan tangan yang tetap tenang.

“Kalau begitu,” kataku pelan, “kita akan membuat konsultasi ini benar-benar tak terlupakan.”

Renata tersenyum puas.

“Bagus. Aku ingin penyihir tua itu menangis saat melihatku.”

Di balik maskerkku, aku tersenyum tipis.

“Aku yakin akan ada seseorang yang menangis.”

Dia menandatangani semua dokumen tanpa membaca.

Formulir persetujuan.

Riwayat medis.

Izin penggunaan foto.

Dokumen aesthetic planning.

Dia menandatangani semuanya dengan percaya diri seperti seseorang yang yakin kecantikan adalah kekuatan terbesar di ruangan itu.

Dia tidak tahu…

bahwa dia baru saja memberiku bukti pertama.

Saat perawat membawanya ke ruang persiapan untuk foto dan scan wajah, dia sempat menoleh.

“Dok,” katanya sambil tersenyum, “buat aku cukup cantik untuk merebut suami wanita lain.”

Aku menunggu pintu tertutup.

Lalu duduk sendirian di ruang konsultasi sambil menatap fotoku yang masih menyala di layar ponselnya.

Sebuah pesan masuk di ponselku.

Dari Alejandro.

Love, aku pulang terlambat malam ini. Jangan tunggu aku.

Aku melihat namanya.

Lalu kartu hitam itu.

Lalu wanita di ruangan sebelah yang tertawa seolah dia sudah menang.

Dan saat itu juga…

aku mengerti satu hal.

Ini bukan lagi konsultasi biasa.

Karena Renata datang untuk mendapatkan wajah baru.

Tapi dia akan pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Kebenaran.

Dan Alejandro sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang dia khianati telah menghabiskan bertahun-tahun membangun reputasi yang cukup kuat untuk menghancurkan hidupnya… tanpa perlu meninggikan suara.

Sore itu, aku menelepon seseorang.

Bukan suamiku.

Bukan selingkuhannya.

Tapi pengacaraku.

Dan saat Renata kembali sambil tersenyum dan bertanya kapan prosedurnya dimulai…

aku sudah tahu bagaimana semuanya akan berakhir.

Dia pikir dia memesan operasi plastik.

Padahal sebenarnya…

dia baru saja berjalan masuk ke balas dendam paling bersih dalam hidupku.

BAGIAN 2

Renata menatap cermin di ruang periksa dengan penuh damba. “Kapan kita bisa melakukan prosedur v-line dan rhinoplasty-nya, Dok? Aku ingin memberikan kejutan saat hari ulang tahun perusahaannya minggu depan.”

Aku berdiri di belakangnya, mencatat setiap detail “aset” yang ia pamerkan. “Minggu depan? Itu waktu yang sangat singkat untuk pemulihan, Renata. Tapi, karena Alejandro adalah klien prioritas, aku akan memberikan prosedur khusus. Tanpa sayatan besar, pemulihan instan, tapi hasilnya… permanen.”

Renata memekik kegirangan. “Tuh kan, Alejandro benar. Anda memang penyihir di bidang ini!”

“Oh, kau tidak tahu seberapa benarnya ucapan itu,” jawabku dalam hati.


Perangkap di Atas Meja Operasi

Dua hari kemudian, Alejandro mengirimkan pesan singkat: “Luv, aku harus ke Singapura untuk urusan logistik selama tiga hari. Jaga kesehatanmu.”

Aku tahu persis di mana dia. Dia berada di sebuah hotel butik di Tagaytay, menunggu Renata yang katanya sedang “perawatan spa” sebelum kejutan besar mereka.

Di klinik, Renata sudah berbaring di meja operasi. Di bawah pengaruh anestesi ringan, dia tampak begitu rapuh dan bodoh. Aku mengambil ponselnya yang tergeletak di meja samping—ponsel yang tidak ia kunci karena dia merasa begitu aman di sini.

Aku mengirimkan satu pesan dari ponsel Renata kepada Alejandro: “Sayang, datanglah ke klinik Dr. Robles sekarang. Kejutan untukmu sudah siap. Aku ingin kamu menjadi orang pertama yang melihat ‘wajah baru’ ini. Jangan lewat pintu depan, masuklah lewat akses privat dokter di belakang. Ini kuncinya.”

Aku menyertakan kode akses pintu pribadiku.


Pertunjukan Utama

Satu jam kemudian, pintu privat ruang operasiku terbuka. Alejandro masuk dengan senyum lebar, membawa sebuket bunga lili besar—bunga favoritku, yang kini terasa seperti penghinaan.

“Renata? Sayang? Di mana kau—”

Langkahnya terhenti.

Aku berdiri di samping meja operasi, perlahan membuka maskerku, melepaskan penutup kepalaku, dan membiarkan rambutku tergerai. Aku menatapnya tepat di mata.

Wajah Alejandro berubah pucat pasi. Bunga di tangannya jatuh ke lantai. “Ma… Mariana? Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa… kenapa Renata ada di meja operasimu?”

“Bukankah kau yang membayarnya, Alejandro?” tanyaku dengan suara paling tenang yang pernah kumiliki. Aku mengangkat kartu hitam miliknya. “Dia ingin menjadi ‘lebih cantik dari istri tuamu’. Dia ingin aku menghapus jejak keberadaanku dari ingatanku menggunakan tanganku sendiri.”

“Mariana, dengarkan aku… ini tidak seperti yang kamu lihat…”

“Jangan gunakan kalimat klise itu, Alejandro. Itu merendahkan kecerdasanku.” Aku berjalan mendekatinya, setiap langkah sepatuku bergema di ruangan yang steril itu. “Renata sudah menandatangani dokumen ‘aesthetic planning’. Di dalamnya, ada klausul bahwa seluruh biaya prosedur ini—termasuk denda pembatalan dan biaya malpraktik yang direkayasa—akan didebet otomatis dari rekening penjamin. Yaitu rekeningmu.”


Kehancuran yang Bersih

“Apa maksudmu?!” Alejandro gemetar.

“Aku tidak menyentuh wajahnya dengan pisau, Alejandro. Aku hanya memberinya sedikit filler yang akan larut dalam seminggu. Tapi, dokumen yang dia tanda tangani adalah pengakuan perselingkuhan yang sah secara hukum untuk proses perceraian kita. Dan kartu hitam ini? Aku baru saja menggunakannya untuk mendonasikan 50% dari limit tahunannya ke yayasan perlindungan wanita dan anak-anak atas namamu.”

Aku mengambil ponsel Renata dan menunjukkan layar yang sedang merekam pembicaraan kami.

“Renata akan bangun sebentar lagi. Dia akan sadar bahwa dia tidak mendapatkan wajah baru, melainkan tuntutan hukum karena telah mencuri foto pribadi dan pencemaran nama baik. Dan kau…” aku tersenyum tipis, “kau akan pulang ke rumah yang kuncinya sudah kuganti, dengan rekening yang sudah dibekukan oleh tim pengacaraku.”

Alejandro mencoba meraih tanganku, tapi aku melangkah mundur.

“Kau bilang aku ‘istri tua’ yang mirip tante-tante, kan?” Aku menunjuk ke arah cermin besar di ruangan itu. “Lihat dirimu baik-baik, Alejandro. Tanpa klinikku, tanpa koneksiku, dan tanpa uang yang sebenarnya berasal dari warisan orang tuaku yang kau kelola… kau hanyalah pria paruh baya yang menyedihkan.”

Renata mulai mengerang, tanda dia akan sadar.

Aku mengenakan kembali maskerku. “Suster, tolong bantu Tuan Robles keluar. Dia bukan lagi bagian dari ‘keluarga inti’ klinik ini.”

Aku meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh. Di luar, pengacaraku sudah menunggu dengan berkas perceraian yang siap ditandatangani.

Malam itu, Manila terlihat sangat cantik dari jendela kantorku. Alejandro benar tentang satu hal: akan ada seseorang yang menangis. Dan itu jelas bukan aku.