Posted in

AKU MENANGIS SAAT MENGANTAR SUAMIKU KE BANDARA KARENA KATANYA DIA AKAN “DUA TAHUN” DI TORONTO—TAPI BEGITU AKU PULANG, AKU MEMINDAHKAN USD 650.000 KE REKENING PRIBADIKU DAN MENGAJUKAN PERCERAIAN.

AKU MENANGIS SAAT MENGANTAR SUAMIKU KE BANDARA KARENA KATANYA DIA AKAN “DUA TAHUN” DI TORONTO—TAPI BEGITU AKU PULANG, AKU MEMINDAHKAN USD 650.000 KE REKENING PRIBADIKU DAN MENGAJUKAN PERCERAIAN.

Namaku Sarah Dela Cruz. Sudah lima tahun aku menikah dengan James. Aku adalah tulang punggung keluarga—seorang eksekutif korporat di bank multinasional, dengan penghasilan miliaran rupiah setiap tahun. James? Freelance graphic designer, tapi sering tidak punya klien. Tabungan bersama kami sebesar USD 650.000? Hampir semuanya berasal dari warisan almarhum kakekku serta bonus dan investasiku. Katanya, uang itu untuk “masa depan kami” di Kanada.

Tiga minggu sebelum “keberangkatannya”, aku mulai curiga. Dia sering pulang larut malam, tubuhnya berbau parfum wanita lain. Suatu malam, saat dia tertidur, aku membuka ponselnya. Aku menemukan chat dengan Erica—katanya dulu hanya mantan rekan kerja.

“Sayang, aku nggak sabar memulai hidup baru kita di condo. Bayi kita juga sehat.”

Ada foto USG.

Dan yang paling menyakitkan: dia berencana berpura-pura bekerja di Toronto selama “dua tahun” supaya bisa tinggal bersama Erica tanpa hambatan. Tabungan kami akan dipakai untuk bayar sewa, obat-obatan, dan semua kebutuhan hidup mereka.

Aku mulai mengumpulkan bukti.

Aku menemukan booking condo mewah 2 kamar di BGC, Taguig, dengan harga sewa sekitar Rp57 juta per bulan.

Tidak ada tiket ke Toronto.

“Visa” yang dia tunjukkan padaku ternyata palsu.

Aku berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Diam-diam aku menyusun rencana:

Aku menghubungi pengacaraku untuk mengurus surat perceraian.

Aku membuka rekening offshore di Cayman Islands yang hanya bisa kuakses sendiri.

Aku juga menyiapkan semua bukti perselingkuhan mereka.

Hari “keberangkatan” pun tiba.

Jam lima pagi, aku mengantarnya ke NAIA Terminal 3.

Dia memakai jas rapi, membawa koper penuh pakaian musim dingin.

Di area keberangkatan, dia memelukku erat.

“Jangan menangis, Sayang,” bisiknya sambil mengusap rambutku. “Cuma dua tahun. Semua ini demi kita. Aku akan menghasilkan banyak uang di Toronto, lalu kamu menyusul bersama anak-anak kita nanti.”

Aku menangis di dadanya.

“Aku pasti sangat merindukanmu… Jaga diri baik-baik ya? Telepon aku setiap hari. I love you.”

Dia tersenyum lembut.

Mencium dahiku.

Lalu berjalan masuk ke terminal…

tanpa tahu bahwa hidupnya akan hancur beberapa jam lagi.

Begitu mobilku keluar dari area bandara, aku langsung menelepon bank pribadiku.

“Transfer seluruh saldo joint account ke rekening baru atas nama saya.”

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit…

USD 650.000 lenyap dari akses James.

Lalu aku menelepon pengacaraku.

“Ajukan gugatan cerai hari ini juga.”

Tapi itu belum semuanya.

Karena aku sudah menyewa investigator pribadi.

Dan tepat pukul sembilan pagi…

James keluar dari lift sebuah condo mewah di BGC.

Bukan di Toronto.

Dia memeluk Erica.

Dan mencium perut wanita itu.

Mereka tertawa.

Masuk ke unit yang dibayar dari uangku.

Aku duduk di dalam mobil sambil melihat semua foto yang dikirim investigator.

Tidak ada air mata lagi.

Hanya rasa dingin.

Jam sebelas siang, aku mengirim satu paket ke condo mereka.

Di dalamnya ada:

— fotokopi semua chat mereka
— bukti transfer uang
— surat gugatan cerai
— dan satu foto USG yang sudah kuberi tulisan merah besar:

“SEMOGA KALIAN BAHAGIA DENGAN UANG CURIAN.”

Tiga puluh menit kemudian…

teleponku berdering tanpa henti.

James.

James.

James.

Aku tidak mengangkat.

Lalu masuk pesan suara.

“Sarah PLEASE! Dengar dulu penjelasanku! Hindi ganito—”

Aku langsung menghapusnya.

Beberapa jam kemudian, ibu James menelepon sambil menangis.

“Anak… totoo bang wala talagang Toronto?”

Aku hanya menjawab pelan:

“Tanya anak Ibu… di condo mana dia natutulog ngayon.”

Malam itu, James akhirnya muncul di depan rumah kami.

Memukul pintu.

Berteriak.

Memohon.

Tapi saat aku membuka pintu…

dia membeku.

Karena semua barangnya sudah ada di luar.

Dalam kardus.

Termasuk framed photo pernikahan kami…

yang sudah kugunting tepat di bagian wajahnya.

Dia langsung berlutut.

“Please… patawarin mo ako…”

Aku menatapnya tanpa emosi.

Lalu menyerahkan satu amplop terakhir.

Dia membukanya dengan tangan gemetar.

Dan wajahnya langsung pucat.

Karena di dalam amplop itu bukan cuma surat cerai…

tapi juga hasil DNA test.

Aku tersenyum kecil.

Lalu mengatakan satu kalimat…

yang membuat dunia James runtuh seketika.

“Bayi itu… bukan anakmu.”

James terbelalak. Dia menatap kertas hasil tes DNA itu, lalu menatapku, lalu kembali ke kertas itu lagi. Mulutnya menganga, tapi tak ada kata yang keluar.

“Erica bermain sangat rapi, James,” kataku tenang, sambil bersandar di kusen pintu. “Dia mencari ‘pria bodoh’ yang punya akses ke uang USD 650.000 untuk membiayai hidupnya dan anak dari pria lain. Dan kamu? Kamu adalah target yang sempurna.”


Kehancuran Sang “Eksekutif” Palsu

Investigasi pribadiku tidak hanya berhenti pada perselingkuhannya. Aku menemukan bahwa pria yang menghamili Erica sebenarnya adalah mantan kekasihnya yang masih sering ia temui di kondominium yang aku bayar.

James merosot ke lantai teras, memegangi kepalanya. “Tidak mungkin… dia bilang itu anakku. Aku mengorbankan pernikahan kita untuk anak itu!”

“Kamu mengorbankan pernikahan kita karena kamu serakah dan malas, James,” balasku tajam. “Kamu tidak mau bekerja keras bersamaku, jadi kamu memilih jalan pintas dengan mencuri uangku untuk membangun istana pasir dengan wanita lain.”

Tiba-tiba ponselnya berdering. Itu pasti Erica, atau mungkin pihak manajemen kondominium.

“Oh, sekadar informasi,” aku menambahkan dengan nada bicara seperti sedang membahas cuaca, “aku sudah membatalkan sewa unit BGC itu secara sepihak. Karena kontraknya atas namaku dan pembayarannya menggunakan kartuku, aku punya hak penuh. Security akan mengeluarkan Erica dan semua barangnya dalam satu jam ke depan.”


Penutup yang Dingin

James mulai menangis histeris. Dia mencoba meraih kakiku, memohon kesempatan kedua. “Sarah, tolong… aku tidak punya uang, aku tidak punya tempat tinggal. Uang itu… tolong kembalikan sedikit saja untukku bertahan hidup.”

Aku menatapnya dari atas ke bawah. Jas rapi yang ia kenakan untuk ke “Toronto” kini tampak kusut dan menyedihkan.

“Uang USD 650.000 itu sudah aman di Cayman Islands. Kamu bilang kamu akan menghasilkan banyak uang di Toronto, kan? Sekarang saatnya membuktikan ucapanmu. Anggap saja ini simulasi hidup mandiri yang sangat nyata.”

Aku mengambil satu langkah mundur dan mulai menutup pintu.

“James,” panggilku terakhir kali.

Dia mendongak dengan sisa harapan di matanya.

“Tiket pesawat ke Toronto musim ini sedang murah. Mungkin kamu bisa benar-benar pergi ke sana… untuk mencari pekerjaan cuci piring. Karena di Filipina, namamu sudah masuk dalam daftar hitam seluruh jaringan bank relasiku. Tidak akan ada perusahaan yang mau mempekerjakan pencuri sepertimu.”

BRAK!

Aku mengunci pintu rapat-rapat. Aku berjalan menuju dapur, menuangkan segelas anggur mahal, dan menikmati kesunyian rumahku yang kini terasa jauh lebih bersih.

Di luar, suara tangis James perlahan menghilang digantikan suara sirine mobil polisi yang kupanggil karena ada “orang asing” yang membuat keributan di depan rumahku.

Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak. Tanpa pengkhianatan, tanpa kebohongan, dan dengan USD 650.000 yang kembali ke tangan pemilik aslinya.