Bau pengap gudang belakang rumah menyengat hidungku, tapi itu tidak sebanding dengan rasa mual saat melihat Siska berdiri di sana.
Dia tampak kontras dengan latar gudang yang berdebu, menggunakan blus merah ketat yang sedikit terbuka dan kacamata hitam bertengger di kepalanya. Di tangannya, dia memegang buku besar yang selama ini kucari.
“Kamu pikir kamu sudah menang hanya karena Adrian teru sir, Mbak?”
Siska tersenyum si nis, memutar-mutar pemantik api di tangan satunya.
“Tanpa buku ini, semua laporanmu ke polisi cuma jadi dongeng sebelum tidur.”
Aku melipat tangan di depan da da, tetap berdiri tegak di ambang pintu.
“Jadi itu har ga dirimu sekarang, Siska? Jadi pesuruh Adrian untuk mencu ri barang di rumah yang bahkan kamu tidak berhak in jak?”
“Aku tidak bekerja untuk Adrian. Aku bekerja untuk diriku sendiri,” sahutnya ta jam.
“Adrian itu bo d0h. Dia pikir aku mencur i ini untuk menyelamatkannya. Padahal, buku ini adalah tiketku untuk mendapatkan uan g tutup mulut dari vendor-vendor yang selama ini dia per as. Dan kamu … Mbak Arini yang ma lang, kamu tidak punya apa-apa untuk menahanku.”
Aku tertawa kecil, tawa yang membuat langkah Siska tertahan.
“Kamu yakin?”
“Kenapa Mbak tertawa? Aku bisa memba kar ini sekarang juga!”
“Ba kar saja,” tantangku tenang.
“Silakan. Bak ar buku itu, dan kamu akan memba kar satu-satunya bukti yang bisa meringankan huku manmu nanti. Kamu pikir aku seb0d oh Adrian yang menyimpan dokumen sepenting itu di gudang berdebu tanpa pengawasan?”
Siska mengernyit. Tangannya yang memegang peman tik sedikit bergetar.
“Apa maksudmu?”
“Coba periksa halaman tengahnya, Siska. Itu hanya sa linan. Buku yang asli sudah ada di tangan Gilang sejak dua jam yang lalu. Yang kamu pegang itu cuma umpan agar kamu muncul di sini.”
Aku melirik ke arah sudut atas gudang.
“Dan terima kasih sudah menatap tepat ke arah kamera CCTV tersembunyi itu. Sekarang aku punya bukti tambahan, percobaan pencu rian dan masuk tanpa izin.”
Wajah Siska mendadak puc at. Dia memban ting buku itu ke lantai.
“Baj!ngan! Kalian sengaja menje bakku!”
“Namanya stra tegi bis nis, Siska. Sesuatu yang tidak akan kamu pahami karena kamu terlalu sibuk mengurus strategi di tempat tidur orang,” kataku pedas.

“Sekarang keluar. Sebelum aku berubah pikiran dan memanggil satpam komplek untuk menye retmu.”
Siska berjalan melewatiku dengan bahu yang menab rak lenganku keras.
“Ini belum selesai, Arini! Kamu akan bu suk dengan katering kecilmu itu!”
“Kita lihat saja siapa yang bu suk lebih dulu,” balasku tanpa menoleh.
Dua hari kemudian, suasana dapur rumahku berubah total. Tidak ada lagi aroma parfum Adrian yang tertinggal, berganti dengan wangi rempah dan uap nasi yang mengepul.
Gilang datang membawa beberapa kotak peralatan katering profesional.
“Semua sudah siap, Rin. Pesanan pertama untuk acara syukuran kantor mitraku sudah masuk. Lima puluh kotak sebagai tes awal,” ujar Gilang sambil meletakkan daftar menu di meja dapur.
Aku memeriksa catatan itu.
“Menu tradisional dengan sentuhan premium. Aku akan pastikan mereka tidak akan lupa rasa masakan ‘Dapur Arini’.”
“Aku percaya itu. Tapi, apa kamu sanggup? Kamu baru saja melewati badai dengan Adrian.”
“Justru ini obatnya, Gilang. Bekerja membuatku lupa kalau aku pernah seb0doh itu mencintai pria seperti dia.”
Aku mulai memotong bawang dengan gerakan lincah.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Adrian di rumah lamanya?”
Gilang menarik kursi, duduk sambil memerhatikanku.
“Kacau. Ibunya terus-menerus mengeluh karena air di sana ma ti dan Adrian tidak punya ua ng untuk bay ar teknisi. Dia mencoba meminj am u ang ke teman-temannya, tapi beritanya sudah tersebar. Tidak ada yang mau meminjamkan sepeser pun pada CEO yang jatuh misk in.”
“Bagus. Biar dia tahu rasanya berjuang dari nol tanpa fasilitas dariku,” sahutku datar.
Tiba-tiba, ponselku di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Adrian.
[Rin, Ibu sakit. Dia butuh obat dan makanan yang layak. Tolong, jangan serendah ini membalas denda m. Aku tahu kamu masih punya hati.]
Aku berhenti memotong bawang. Menatap layar itu sejenak, lalu memberikan ponsel itu pada Gilang.
“Lihat ini. Masih saja menggunakan kartu ‘Ibu’ untuk memer as simpatiku.”
Gilang membaca pesan itu dan menggeleng.
“Apa yang mau kamu lakukan?”
“Kirimkan satu rantang makanan katering kita ke alamat rumah lamanya,” kataku tegas.
“Hah? Kamu mau kasih dia makan gratis?” Gilang bingung.
“Bukan gratis. Kirimkan rantang berisi sisa-sisa potongan bahan baku yang tidak terpakai, tapi dikemas dengan sangat rapi. Di dalamnya, selipkan nota tag ihan hu tang ba nk yang harus dia tandatangani sebagai tanggung jawab pribadi. Jika dia mau makan, dia harus mengakui hut angnya secara legal.”
Gilang tersenyum lebar, hampir tertawa.
“Rin, kamu benar-benar ke jam dengan cara yang sangat elegan. Aku suka gayamu.”
“Ini bukan soal kej am, Gilang. Ini soal edukasi. Dia harus tahu bahwa di dunia ini, tidak ada lagi makanan grat is dari Arini.”
Malam harinya, sebuah video masuk ke ponselku. Itu dari kurir yang kukirim ke rumah Adrian.
Video itu memperlihatkan Adrian yang sedang membuka rantang di teras rumahnya yang gelap. Wajahnya yang semula penuh harap berubah menjadi merah padam saat melihat isinya hanya potongan pinggiran roti dan sisa sayuran, beserta selembar surat hu tang.
Dia berteriak ke arah kamera kurir, “Bilang sama Arini, aku bukan pengemis!”
Aku menonton video itu sambil menyesap teh hangat di balkon kamarku. Suasana malam Ramadhan yang tenang membuat pikiranku jernih.
Aku mengetik balasan singkat untuk pesannya tadi pagi.
[Kalau bukan pengemis, jangan meminta. Kalau merasa pria, ba yar hu tangmu. Selamat menikmati sahur dengan apa yang kamu tabur, Adrian.]
Aku meletakkan ponsel, menatap langit malam. Satu per satu beban di pundakku mulai terasa ringan.
Besok adalah hari pertama pengiriman katering besarku. Aku akan membuktikan pada dunia, dan terutama pada Adrian, bahwa aku bisa berdiri lebih tegak tanpa bayang-bayangnya.
Pagi harinya, saat aku sedang menyiapkan kotak-kotak katering, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah.
Bukan mobil Gilang.
Seseorang turun dengan membawa buket bunga besar dan sebuah amplop cokelat.
“Dari siapa?” tanyaku pada kurir bunga itu.
“Tidak ada nama, Bu. Hanya ada pesan: ‘Selamat atas bisnis barunya. Tapi hati-hati dengan mitra bisnismu sendiri. Tidak semua yang menolong itu tulus’.”
Pesan di kar tu bu nga itu seperti duri kecil yang menus uk kepercayaanku. Aku mere mas amplop cokelat itu, lalu menatap Gilang yang sedang asyik memindahkan kotak nasi ke bagasi mobilnya.
Apa benar dia cuma mau menolong? Atau dia cuma sedang “berinvestasi” padaku untuk keuntungan yang lebih besar nanti?
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang pikiran bu ruk itu.
Sekarang bukan waktunya untuk paranoid.
Judul: Setelah Badai Pengkhia natan Berlalu
Penulis: Nonnie Dyannie