Posted in

Aku berjalan masuk ke rumah dengan sisa-sisa wibawa komandan yang masih menempel di pundak. Keadaan rumah sudah jauh lebih terang dari sebelumnya. Inggit rupanya berhasil mengakali beberapa kabel lampu yang kendor. Rumah yang ge lap seperti han tu, kini jauh lebih temaram dengan sinar yang lebih kuat.

Di sudut ruang tengah, ia duduk di kursi kayu, kepalanya menunduk tekun. Jemarinya bergerak ritmis dengan ja rum dan benang.
Awalnya aku tidak peduli, paling-paling dia sedang menjahit kancing kemeja flanelnya yang lepas. Namun, saat jarakku makin dekat, mataku membelalak. Warna hijau doreng itu … itu celana lapangan milikku!
“Apa-apaan ini?!” bentakku sambil mera mpas celana itu dari pangkuannya.
Inggit tersentak, jarinya hampir tertu suk ja rum. Aku menatap bagian pan tat celana yang tadinya ro bek besar terkena kawat berduri saat patroli minggu lalu. Sekarang, ro bekan itu tertutup jahitan yang sangat rapi—hampir tak kasat mata jika tidak dilihat dari dekat.
“Jangan lancang pe gang barang-barangku sembarangan!” Suaraku meninggi, lebih karena ma lu daripada ma rah. Rasanya har ga diriku sebagai lelaki sekaligus per wira ja tuh karena urusan celana bo long diurus oleh wanita yang terus kuremehkan.
“Maaf, Kapten,” jawab Inggit tenang, ia berdiri dan merapikan sisa benang. “Tadi saya ambil cucian ko tor di kamar. Saya lihat ada yang ro bek, jadi saya inisiatif perbaiki supaya lu bang nya tidak semakin lebar saat dipakai lagi.”
“Aku tidak butuh inisiatifmu! Aku bisa mengurus celanaku sendiri! Aku tidak butuh bantuanmu.” Aku membuang muka, menyembunyikan rona merah di pipi.
Inggit tidak membalas. Ia hanya mengangguk kecil lalu berjalan ke dapur. Tak lama, ia kembali membawa secangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng yang masih mengepul panas. Aroma manisnya memenuhi ruangan yang biasanya hanya berbau apek.
“Pisang goreng? Dapat dari mana?” tanyaku ke tus, meski perutku mendadak keroncongan.
“Tadi Ibu yang tinggal di sebelah rumah mampir. Beliau membagi sesisir pisang karena katanya suaminya baru panen di kebun belakang,” Inggit meletakkan piring itu di meja. “Mau saya siapkan makan malam sekarang?”
“Nanti saja.” Aku mencegahnya dengan lambaian tangan. “Duduk dulu sini. Ada hal penting yang harus kubahas.”
Inggit menurut. Ia duduk di depanku dengan sikap sempurna, tangan terlipat di atas pangkuan. Sangat kontras dengan penampilannya yang hanya memakai kaos rumahan.
“Sudah satu minggu kamu di sini.” Aku memulai sambil menyesap kopi buatannya. Si al, rasanya pas sekali di lidah. “Bagaimana? Masih betah? Atau sudah mulai merasa bosan karena tidak ada hiburan dari ponsel atau layanan belanja online?”
Inggit menatapku datar. “Saya tidak merasa kekurangan apa pun di sini, Kapten.”
Aku berdeham, mencoba mengalihkan pembicaraan ke poin utama. “Besok ada acara Arisan Rutin dan Bakti Sosial di Balai Desa. Aku berencana mengenalkanmu secara resmi kepada Persit dan seluruh anggota.”
Aku memajukan tubuh, menatap matanya dalam-dalam. “Aku akan beri kesempatan tera khir. Kalau kamu ragu untuk tinggal seterusnya di sini, aku akan mengantarmu pulang sekarang,” tegasku.
Inggit tidak menjawab. Sudah pasti dia tak akan bisa memberikan jawaban langsung.
“Dengar baik-baik, Inggit. Begitu aku mengenalkanmu sebagai istriku di depan publik, jalan pulangmu tertutup. Aku tidak akan mengizinkanmu ka bur lagi. Aku beri kamu pilihan sekarang. Ce rai dan balik ke Jakarta malam ini juga, atau besok ikut denganku dan resmi jadi Ibu Persit?”
Aku berhenti sejenak, memberikan penekanan pada setiap kata. “Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu mendadak minta pulang setelah semua orang tahu kamu istriku. Mau ditaruh mana mukaku kalau Komandan Kompi punya istri yang la ri karena tidak tahan hidup di hutan? Ini alasanku belum mengenalkanmu sejak hari pertama. Aku yakin kamu cuma bisa tahan dua hari. Tapi ternyata kamu keras kepala dan bertahan sampai satu minggu.”
Inggit masih diam, menyimak setiap kata yang terucap dari mulutku.
“Jadi istri pra jurit itu berat, Inggit. Bukan cuma soal masak dan cuci baju,” lanjutku dengan nada menceramahi. “Kamu harus berkontribusi buat negara. Kamu harus terjun ke masyarakat, jadi teladan, bantu warga lokal. Dan yang terpenting, kamu harus jaga nama baikku, nama baik kamu sebagai istri Kapten. Banyak karir per wira hebat yang hancur cuma karena tingkah laku istrinya. Aku harap kamu tidak jadi penghalang karirku atau menco reng namaku dengan kelakuan man ja khas orang kotamu.”
Setelah pidato panjang lebarku yang penuh inti midasi, aku menunggu ledakan ama rah atau setidaknya bantahan darinya. Namun, Inggit hanya mengangguk pelan.
“Saya setuju untuk dibawa ke acara Persit besok,” jawabnya singkat.
Aku sedikit terperangah. “Jangan buru-buru ambil keputusan! Pertimbangkan lagi pilihanmu matang-matang. Kalau besok pagi kamu berubah pikiran dan minta pulang, aku sendiri yang akan mengantarmu sampai ke tangga pesawat. Tapi kalau besok kakimu melangkah ke Balai Desa, tidak ada kata ‘pulang’ lagi bagimu selain ke rumah ini. Mengerti?”
“Saya mengerti, Kapten,” ucapnya tegas, tanpa keragu-raguan.
Aku berdiri, membawa piring pisang goreng itu ke kamarku sendiri tanpa pamit. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.
Si al! Kenapa justru aku yang merasa ce mas saat ini? Padahal dia yang seharusnya ta kut.
Wanita ini … dia seperti me dan pe rang yang tidak terdeteksi ra dar. Tenang di luar, tapi penuh jeba kan di dalam.
Tapi aku tidak akan ter je bak dengan mudah, Inggit! Jangan harap kamu bisa menje bak Kapten dengan sikap sok tenangmu itu.
Malam itu aku tidak bisa tidur.

Entah kenapa bayangan Inggit yang duduk tenang sambil menjahit celanaku terus muncul di kepala. Padahal selama ini aku sudah berusaha keras menjaga jarak dengannya. Pernikahan kami jelas bukan karena cinta. Aku menikahinya demi memenuhi permintaan terakhir ibuku sebelum meninggal. Sedangkan Inggit? Aku bahkan yakin dia menerima pernikahan ini karena tekanan keluarganya.

Kami dua orang asing yang dipaksa tinggal di rumah dinas sempit di tengah hutan perbatasan.

Seharusnya hubungan kami dingin dan sederhana.

Tapi wanita itu…

Selalu bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.

Aku mengusap wajah kasar sambil mendengus pelan. Dari luar kamar terdengar suara langkah kecil. Aku membuka pintu sedikit.

Inggit ternyata belum tidur.

Ia duduk di meja makan kecil sambil menulis sesuatu di buku lusuh.

“Kamu belum tidur?” tanyaku datar.

Ia menoleh sebentar lalu menutup bukunya.

“Belum ngantuk.”

Aku mendekat tanpa sadar. “Nulis apa?”

“Catatan pengeluaran rumah.”

Aku mengernyit. “Hah?”

Inggit berdiri lalu menyerahkan buku itu padaku.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah dengannya, aku benar-benar kehabisan kata.

Di dalam buku itu tertulis sangat rapi:

Beras — sisa 4 kilogram.

Minyak goreng — cukup untuk 8 hari.

Sabun cuci — tinggal setengah.

Kabel dapur longgar — sudah diperbaiki sementara.

Lampu kamar mandi redup — perlu diganti minggu depan.

Aku menatapnya lama.

“Kamu bikin beginian?”

“Supaya pengeluaran lebih teratur,” jawabnya tenang. “Saya lihat gaji Kapten banyak habis untuk kebutuhan mendadak.”

Aku tersedak harga diri sendiri.

Wanita ini baru seminggu tinggal di sini, tapi dia sudah mengurus rumah lebih serius daripada aku yang tinggal bertahun-tahun.

Aku buru-buru mengembalikan buku itu.

“Jangan sok jadi istri sempurna.”

Inggit diam beberapa detik.

“Saya memang istri Kapten.”

Jawaban itu membuatku mendadak salah tingkah.

Aku langsung berbalik masuk kamar sebelum dia melihat wajahku yang panas.

Sial.

Kenapa setiap kali bicara dengannya aku selalu kalah telak?


Pagi harinya aku bangun lebih awal dari biasanya. Udara perbatasan masih dingin menusuk. Dari dapur sudah tercium aroma nasi goreng dan kopi.

Aku keluar kamar sambil menyisir rambut dengan tangan.

Dan lagi-lagi langkahku terhenti.

Inggit berdiri di dapur memakai gamis sederhana warna hijau sage. Rambutnya disanggul rapi. Tidak berlebihan, tapi entah kenapa… dia terlihat berbeda.

Cantik.

Aku buru-buru membuang muka.

“Kamu siap terlalu pagi.”

“Takut merepotkan Kapten.”

Nada datarnya itu lagi.

Aku duduk di meja makan sambil mengambil kopi. Rasanya pas. Selalu pas.

“Kamu gugup?” tanyaku tiba-tiba.

Inggit menggeleng pelan.

“Harusnya kamu gugup,” lanjutku. “Persit di sini beda sama ibu-ibu sosialita Jakarta. Mereka tegas. Kalau mereka tahu kamu manja atau nggak becus, kamu bakal jadi bahan omongan satu kompi.”

“Saya mengerti.”

Aku mendecak pelan.

Wanita ini benar-benar tidak punya ekspresi takut.

Setelah sarapan, kami berangkat menggunakan jeep dinas menuju balai desa. Jalan berbatu membuat mobil berguncang keras. Biasanya perempuan kota pasti sudah mengeluh dari tadi.

Tapi Inggit cuma diam sambil memegang pegangan pintu.

Sampai tiba-tiba…

BRAK!

Mobil berhenti mendadak.

Aku langsung turun. Ban belakang bocor terkena paku besar.

“Bagus,” gerutuku pelan. “Lengkap sudah.”

Aku mengambil dongkrak dari belakang mobil. Saat sedang jongkok mengganti ban, tiba-tiba terdengar suara anak kecil menangis dari pinggir jalan.

Aku menoleh.

Seorang bocah laki-laki jatuh dari sepeda bambunya dan lututnya berdarah.

Sebelum aku bergerak, Inggit sudah lebih dulu berlari.

Ia jongkok di depan anak itu tanpa jijik sedikit pun.

“Adik sakit?”

Anak itu mengangguk sambil menangis.

Inggit mengeluarkan sapu tangan dari tasnya lalu membersihkan luka si bocah perlahan.

“Cowok hebat nggak nangis keras-keras, kan?”

Anak kecil itu langsung berusaha menahan tangis.

Aku memandangi mereka diam-diam.

Beberapa warga sekitar mulai mendekat.

“Itu istri Kapten baru, ya?”

“Cantik dan ramah ternyata…”

Aku langsung salah tingkah sendiri.

Kenapa malah aku yang merasa bangga?


Sesampainya di balai desa, acara Persit sudah ramai.

Begitu aku turun dari mobil bersama Inggit, beberapa anggota langsung memperhatikan kami.

Aku bisa merasakan tatapan penasaran mereka.

Maklum.

Selama ini aku dikenal dingin dan anti membawa urusan pribadi ke lingkungan dinas.

“Kapten!” seru Letnan Arga sambil tertawa. “Akhirnya istrinya dibawa juga!”

Aku menarik napas panjang.

Inilah saatnya.

Aku menatap Inggit sebentar.

Wanita itu membalas tatapanku tenang.

Lalu aku melangkah masuk bersamanya.

“Ibu-ibu Persit,” ucapku tegas. “Perkenalkan, ini istri saya. Inggit Maheswari.”

Semua orang tersenyum ramah.

Namun beberapa detik kemudian, salah satu istri anggota bernama Bu Rina mulai membuka mulut.

“Wah, cantik sekali. Pasti dulu kerja kantoran ya, Bu?”

“Saya dulu desain interior,” jawab Inggit sopan.

“Oh…” Bu Rina tertawa kecil. “Berarti belum biasa kerja lapangan dong? Di sini beda sama kota, lho.”

Aku langsung tahu nada sindirannya.

Beberapa orang ikut tertawa kecil.

Aku menunggu Inggit tersinggung.

Namun wanita itu malah tersenyum lembut.

“Karena belum biasa, makanya saya harus belajar dari ibu-ibu semua.”

Hening.

Jawaban itu terlalu halus untuk dibalas sinis.

Aku sampai meliriknya diam-diam.

Dan lebih mengejutkannya lagi…

Dalam waktu kurang dari satu jam, Inggit sudah duduk membantu ibu-ibu membungkus sembako untuk bakti sosial.

Tangannya bergerak cepat.

Ia bahkan hafal nama beberapa warga hanya setelah dikenalkan sekali.

Aku berdiri jauh sambil memperhatikannya tanpa sadar.

“Kapten.”

Aku tersentak saat Mayor Bram tiba-tiba berdiri di sampingku.

“Itu istri kamu?”

“Siap.”

Mayor Bram mengangguk pelan.

“Kamu beruntung.”

Aku terdiam.

“Jarang ada perempuan kota mau hidup di tempat kayak gini tanpa banyak tuntutan,” lanjut beliau. “Jangan terlalu keras sama dia.”

Dadaku mendadak terasa aneh.

Apa aku terlalu keras?

Belum sempat kupikirkan, tiba-tiba terdengar keributan dari luar balai desa.

Seorang ibu tua panik sambil berteriak.

“Anak saya kejang! Tolong!”

Semua orang langsung heboh.

Aku refleks bergerak cepat ke luar.

Seorang anak perempuan sekitar lima tahun terbaring lemas di pangkuan ibunya.

Wajahnya pucat.

Beberapa ibu panik tak tahu harus berbuat apa.

Dan lagi-lagi…

Inggit maju lebih dulu.

“Kasih ruang!” suaranya tegas untuk pertama kalinya.

Aku sampai terdiam.

Ia memeriksa napas anak itu lalu segera memiringkan tubuh si anak.

“Jangan dikerubungi!”

“Bu, anak saya kenapa?!” ibunya menangis histeris.

“Demam tinggi.”

Inggit menoleh cepat padaku.

“Kapten, di mobil ada air minum?”

Aku langsung bergerak mengambilnya.

Entah kenapa tubuhku otomatis mengikuti instruksinya.

Inggit mengompres anak itu dengan tenang sambil terus menenangkan si ibu.

“Tarik napas dulu, Bu. Anak ibu masih sadar.”

Semua orang memperhatikan dengan kagum.

Termasuk aku.

Aku baru tahu…

Di balik sikap kalemnya, wanita ini ternyata sangat sigap.

Tak lama kemudian kejang si anak berhenti.

Ibunya langsung menangis sambil memeluk Inggit.

“Terima kasih, Bu… terima kasih…”

Inggit hanya tersenyum kecil.

“Sebaiknya langsung dibawa ke puskesmas.”

Saat itulah aku sadar.

Semua orang mulai memandang Inggit dengan hormat.

Bukan karena dia istriku.

Tapi karena dirinya sendiri.

Dan anehnya…

Ada rasa hangat mengembang di dadaku.

Perasaan yang selama ini mati-matian kutolak.


Malam harinya setelah acara selesai, kami pulang dalam keadaan lelah.

Namun suasana mobil berbeda.

Tidak secanggung biasanya.

“Aku baru tahu kamu bisa menangani anak kejang.”

“Saya pernah ikut pelatihan P3K waktu kerja dulu.”

Aku mengangguk pelan.

Hening beberapa saat.

Lalu tanpa sadar aku berkata—

“Kamu tadi keren.”

Inggit menoleh cepat.

Mungkin karena selama ini aku lebih sering menghina daripada memuji.

Aku langsung berdeham canggung.

“Maksudku… lumayan.”

Dan untuk pertama kalinya…

Aku melihat Inggit tersenyum kecil.

Senyum yang sangat tipis.

Tapi entah kenapa berhasil membuat jantung seorang Kapten yang biasa menghadapi medan perang… justru jadi kacau balau.