Posted in

AKU DIRAMPOK OLEH IBUKU SENDIRI. DIA MENGHABISKAN TABUNGANKU, MENGANGKUT SEMUA BARANG BERHARGA DI RUMAH, DAN BAHKAN MENGIRIM EMAIL UNTUK PAMER BAHWA DIA DAN ADIKKU AKAN TERBANG KE BALI

AKU DIRAMPOK OLEH IBUKU SENDIRI. DIA MENGHABISKAN TABUNGANKU, MENGANGKUT SEMUA BARANG BERHARGA DI RUMAH, DAN BAHKAN MENGIRIM EMAIL UNTUK PAMER BAHWA DIA DAN ADIKKU AKAN TERBANG KE BALI. Mereka pikir aku akan panik. Tapi mereka tidak tahu… semua rekeningku sudah dibekukan. Dan beberapa menit kemudian, ponselku mulai berdering. Kali ini, mereka yang memohon-mohon.

Tepat saat pesawatku mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, email itu masuk.

Subjek: Nikmati rumah kosongmu.

Aku berdiri di jet bridge sambil menggenggam koper erat-erat, membaca kalimat pertama berulang kali sampai suara di sekelilingku terasa menghilang.

Dari: Aurora Santos (Ibuku)
Untuk: Althea Santos (Aku)

Aku dan adikmu sedang dalam perjalanan ke Bali. Nikmati hidup sendirian dan bangkrut. Kami sudah mengambil tabunganmu sebesar Rp7,2 miliar serta semua barang berharga di rumahmu. Yang kami sisakan untukmu cuma tembok.

Aku mendengar suara tawa di belakangku—tawa para turis yang antusias pergi liburan—sementara perutku terasa seperti dibekukan es.

Ibuku tidak pernah tahu cara membuat kekacauan secara diam-diam. Dia selalu ingin semuanya terasa dramatis dan megah. Dan kalau adik bungsuku, Bea, ikut terlibat, kekejaman mereka berubah jadi semacam seni yang mereka banggakan.

Aku berjalan melewati bandara seperti orang linglung, email itu masih terbuka di layar ponselku. Aku ingin membalas. Aku ingin menelepon. Tapi aku tidak melakukannya. Aku tetap tenang, karena kepanikanku adalah makanan favorit mereka.

Di dalam mobil online menuju rumahku di Jakarta, aku hanya menatap langit mendung bulan Maret. Aku memikirkan timing mereka. Sembilan hari aku pergi menghadiri konferensi kerja di Surabaya. Sembilan hari yang cukup bagi mereka untuk “membantu diri sendiri” mengambil semua milikku.

Sebenarnya aku sudah menduga ini akan terjadi. Bukan soal emailnya—ibuku memang haus drama—tapi soal pencurian itu sendiri.

Karena tiga bulan sebelumnya, Bea sempat keceplosan saat kami makan malam bersama. Dia tersenyum licik sambil menyesap wine:

—“Enak kali ya hidup kalau punya Rp7 miliar lebih cuma nganggur di rekening.”

Aku tidak pernah memberitahu nominal tepatnya padanya. Hanya Ibu yang tahu. Dan selama beberapa minggu terakhir, ibuku terus memaksa:

—“Jadikan rekening kita joint account saja buat keadaan darurat.”
—“Biar Mama saja yang urus tagihan dan surat-suratmu saat kamu traveling.”
—“Kamu terlalu sibuk kerja, Althea. Kamu butuh keluarga yang bisa dipercaya.”

Keluarga yang bisa dipercaya. Hah.

Itulah kenapa selama beberapa minggu itu, diam-diam aku mulai mengatur ulang semua sistem keamanan dan akses yang mereka tidak tahu.

Mobil berhenti di depan rumahku. Lampu teras mati. Gorden depan terbuka dengan cara yang tidak pernah kulakukan.

Aku berjalan ke pintu sambil memegang kunci… lalu berhenti.

Silinder kuncinya penuh goresan, seperti dipaksa dibobol. Perutku langsung mual, tapi pikiranku justru semakin jernih. Bahkan sebelum masuk, aku sudah menerima apa yang akan kulihat.

Udara di dalam rumah terasa dingin. Kosong.

Meja di pintu masuk sudah hilang. Foto-foto di lorong… semuanya lenyap.

Di ruang tamu, TV sudah tidak ada. Rak-rak kosong. Bahkan karpet pun mereka angkut.

Kursi makan di dapur juga hilang. Yang tersisa hanya bekas posisi kaki kursinya di lantai.

Yang paling parah adalah kamarku.

Semua laci terbuka dan kosong. Kotak perhiasanku… raib.

Lemariku terlihat seperti diterjang badai yang hanya memilih pakaian mahal untuk dicuri.

Lalu di atas meja dapur, aku melihat sticky note tulisan tangan ibuku:

Jangan telepon kami lagi. Kami memilih kebahagiaan kami sendiri.

Aku berdiri di tengah rumah yang sudah dijarah itu, membaca ulang emailnya, lalu merasakan sesuatu “klik” di dalam diriku.

Ini bukan rasa kaget.

Ini adalah konfirmasi.

Perlahan aku menaruh koperku, membuka ponsel, lalu mulai melakukan panggilan…

Panggilan-panggilan yang sebenarnya sudah lama kupersiapkan.

Karena kalau Ibu dan Bea pikir mereka berhasil lolos…

Mereka sama sekali tidak tahu jenis “rekening” apa yang baru saja mereka coba sentuh.

Aku menarik napas panjang, aroma debu di rumah yang kosong ini memenuhi paru-paruku. Jemariku bergerak lincah di atas layar ponsel.

Panggilan pertama bukan ke polisi. Bukan juga ke pengacara. Melainkan ke nomor internal divisi Fraud & Security bank tempatku menyimpan aset utamaku.

“Halo, Pak Hendra? Ini Althea Santos. Aktifkan protokol penguncian total sekarang. Ya, termasuk akses ke joint account yang baru saja didaftarkan paksa dua minggu lalu.”

Suara di seberang sana terdengar mantap, “Siap, Bu Althea. Semua transaksi keluar di atas satu juta rupiah dalam 48 jam terakhir sudah otomatis tertahan di sistem escrow kami karena pola mencurigakan. Dana Anda aman.”

Aku menutup telepon dengan senyum tipis. Ibu dan Bea lupa satu hal: aku adalah seorang konsultan manajemen risiko. Aku tidak menyimpan Rp7,2 miliar dalam satu rekening yang mudah diakses. Uang yang mereka lihat di buku tabungan itu hanyalah “umpan”—dana yang sudah kusetting agar terlihat tersedia, padahal setiap sennya memerlukan verifikasi biometrik dari ponselku untuk benar-benar cair.

Lima menit kemudian, ponselku bergetar hebat. Nama “MAMA” berkedip di layar.

Aku membiarkannya. Satu kali, dua kali, tiga kali.

Pada panggilan kelima, aku mengangkatnya. Suara teriakan histeris langsung meledak dari speaker.

“ALTHEA! APA-APAAN INI?! KENAPA KARTUNYA DITOLAK?! KAMI SUDAH DI DEPAN KASIR HOTEL!” teriak Ibu. Suaranya pecah oleh kepanikan. Di latar belakang, aku bisa mendengar suara Bea yang merengek sambil memaki-maki petugas bandara.

“Oh, hai Ma,” kataku tenang, sambil duduk di lantai dingin rumahku yang kosong. “Sudah sampai di Bali? Bagaimana cuacanya? Di Jakarta lagi mendung.”

“JANGAN BERCANDA! Kenapa saldo di rekening itu nol? Tadi ada tujuh miliar! Kami sudah memesan private villa, kami sudah belanja di duty free memakai sistem pay-later yang terhubung ke akunmu! Kenapa semuanya dibekukan?!”

“Karena itu bukan uang kalian, Ma,” jawabku datar. “Dan soal barang-barang di rumah… kalian membawanya pakai jasa pindahan kan? Aku sudah melacak GPS truknya. Semua perhiasan, TV, dan furniturnya tidak akan sampai ke Bali. Truk itu sedang diarahkan menuju gudang kepolisian atas laporan pencurian dengan pemberatan.”

Keheningan yang mematikan menyelimuti sambungan telepon itu.

“Althea… kamu… kamu tidak mungkin melaporkan ibumu sendiri ke polisi,” suara Ibu bergetar, kali ini bukan karena marah, tapi karena ketakutan yang nyata.

“Aku tidak melaporkan ibuku,” kataku sambil berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap jalanan yang mulai basah oleh hujan. “Aku melaporkan dua orang perampok yang membobol rumahku. Siapa pun mereka, hukum tidak peduli soal hubungan darah.”

“Althea, tolong! Bea menangis, kami tidak punya uang sepeser pun untuk bayar taksi atau tiket pulang! Kami terdampar di sini!”

“Bukankah Mama bilang ingin memilih kebahagiaan sendiri? Nah, selamat menikmati kebahagiaan itu di kursi tunggu bandara. Jangan khawatir, aku sudah mengirimkan email balasan.”

Aku memutus sambungan. Sebuah notifikasi masuk di ponsel mereka di Bali sana.

Subjek: Nikmati Kebebasanmu. Isi: Aku sudah mengganti semua kunci rumah. Semua rekening yang kalian coba kuras sudah ditutup permanen. Jangan pulang ke sini, karena surat gugatan pidana akan menunggu kalian di alamat KTP masing-masing. Selamat berlibur… selamanya dari hidupku.

Aku memasukkan ponsel ke saku, menyeret koperku menuju satu-satunya kamar yang tidak sempat mereka jamah karena terkunci pintu baja tambahan—ruang kerjaku.

Tembok rumah ini mungkin kosong, tapi hatiku jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku benar-benar merasa aman di rumahku sendiri. Tanpa parasit, tanpa drama. Hanya aku, dan masa depanku yang utuh.