Posted in

AKU MEMBATALKAN PERJALANANKU DAN MEMERGOKI KELUARGAKU SEDANG MENGHANCURKAN APARTEMEN WARISANKU… TAPI ADA SATU HAL YANG MEREKA LUPAKAN: SEMUA KAMERA KEAMANANKU SUDAH MEREKAM

AKU MEMBATALKAN PERJALANANKU DAN MEMERGOKI KELUARGAKU SEDANG MENGHANCURKAN APARTEMEN WARISANKU… TAPI ADA SATU HAL YANG MEREKA LUPAKAN: SEMUA KAMERA KEAMANANKU SUDAH MEREKAM

BAGIAN 1

“Tiga minggu cukup untuk mengambil apartemen Mariana,” kata ayahku. “Dia bakal nangis beberapa hari, lalu move on sendiri.”

Aku berdiri di luar dapur rumah ibuku sambil memegang kotak berisi foto-foto keluarga lama ketika mendengar kalimat itu.

Aku tidak berteriak.

Aku tidak menjatuhkan kotaknya.

Aku bahkan hampir tidak bernapas.

Lalu ibuku menjawab dengan suara tenang yang langsung membuat darahku dingin.

“Kita tunggu sampai dia berangkat ke Madrid. Kita panggil tukang kunci, keluarkan semua barangnya, lalu jual apartemennya. Sofía butuh uang itu sekarang.”

Uang itu.

Apartemenku.

Apartemen di Jakarta Selatan yang diwariskan kakekku Ernesto sebelum beliau meninggal.

Satu-satunya tempat dalam hidupku di mana seseorang pernah menatapku dan berkata, “Ini milikmu.”

Ayahku menghela napas seolah mereka sedang membicarakan sofa tua, bukan kenangan terakhir yang kuterima dari cinta kakekku.

“Pasarnya bagus,” katanya. “Kalau kita cepat, apartemennya bisa terjual sebelum Mariana pulang. Mariana anak baik. Dia akan mengerti. Sofía lebih membutuhkan.”

Dan di situlah jawabannya.

Kalimat yang menjelaskan seluruh hidupku.

Sofía selalu lebih membutuhkan.

Adikku, Sofía, selalu punya kebutuhan baru.

Uang untuk kursus desain yang tidak pernah dia selesaikan.

Uang untuk healing trip ke Bali karena katanya dia “lagi memulihkan diri.”

Uang untuk tas-tas desainer demi “membangun image.”

Uang untuk butik online yang bangkrut lebih cepat daripada kuku gel yang dia pasang.

Selalu ada krisis.

Selalu ada air mata.

Selalu ada alasan bagi orang tuaku untuk menatapku dan berharap aku mengalah.

Waktuku.

Ketenanganku.

Tabunganku.

Dan sekarang, rumahku.

Perlahan aku mundur.

Aku tidak mengonfrontasi mereka.

Aku tidak memberi mereka kesempatan untuk menangis, menyangkal, atau menuduhku berlebihan.

Aku hanya keluar dari rumah keluarga kami di kawasan elite Jakarta, masuk ke mobil, lalu langsung menuju apartemenku di Jakarta Selatan.

Saat pintunya terbuka, keheningan di dalam menyambutku seperti pelukan.

Piano milik Kakek Ernesto masih berdiri di dekat jendela.

Buku-bukunya masih tertata rapi di ruang kerja.

Lampu kota berkilau di luar—gedung-gedung tinggi, jalanan macet, dan cahaya kendaraan yang tak pernah tidur.

Di tempat itu beliau mengajariku bermain catur.

Di tempat itu beliau mengajariku minum kopi pahit.

Dan di tempat itu juga beliau mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Jangan pernah memberi tahu lawan kalau kamu sudah tahu langkah mereka berikutnya.”

Hanya Kakek Ernesto yang datang saat wisuda kuliahku.

Orang tuaku katanya terlalu sibuk menghadiri makan malam Sofía.

Beliau datang sendirian sambil membawa bunga, bahkan sudah menangis sebelum aku naik ke panggung.

Malam itu, di ruang kerjanya, aku berhenti memohon agar keluargaku mencintaiku dengan adil.

Hari Minggu berikutnya, aku sudah siap.

Aku makan siang bersama mereka seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku tersenyum.

Aku membiarkan ibuku menyendokkan sup ke mangkukku.

Aku membiarkan ayahku bertanya soal pekerjaanku.

Aku bahkan bilang bahwa perjalanan ke Madrid tetap jadi.

“Tiga minggu,” kataku santai. “Aku berangkat Jumat.”

Ibuku menunduk terlalu cepat.

Senyum ayahku terlalu lebar.

Dan Sofía?

Dia berpura-pura senang untukku.

Tapi matanya… berkilat seperti sudah menghitung uang hasil penjualan apartemenku.

Aku tersenyum balik.

Karena mereka tidak tahu satu hal penting.

Aku tidak pernah membeli tiket pesawat.

Sebaliknya, aku memesan hotel yang hanya berjarak sepuluh menit dari apartemenku.

Aku memasang kamera tersembunyi di pintu masuk, ruang tamu, lorong, dan ruang kerja.

Aku menyimpan rekaman percakapan dari dapur ibuku.

Dan aku sudah membuat laporan polisi, kalau-kalau keluargaku memutuskan untuk menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.

Dua hari kemudian, ponselku bergetar.

Motion detected.

Aku membuka aplikasi keamanan.

Sebuah van tukang kunci berhenti di depan gedung apartemenku.

Lalu ayahku turun.

Disusul ibuku.

Dan setelah itu Sofía, memakai sunglasses, membawa beberapa kardus, sambil tersenyum seperti dia sudah menang.

Aku melihat mereka berjalan menuju apartemen warisan kakekku.

Ibuku menoleh ke kanan dan kiri dengan gugup.

Ayahku berbicara dengan tukang kunci.

Sofía memeriksa ponselnya lalu tertawa.

Kemudian aku mendengar suaranya jelas dari audio kamera:

“Mungkin sekarang Mariana lagi nangis di Madrid.”

Tanganku langsung berhenti gemetar.

Karena aku tidak berada di Madrid.

Aku cuma berjarak sepuluh menit dari mereka.

Dan setiap hal yang mereka lakukan…

Sedang direkam.

Apa yang terjadi setelah itu bukan cuma membongkar wajah asli keluargaku.

Itu menghancurkan kebohongan yang selama ini mereka sembunyikan.

Aku duduk di kursi hotel yang dingin, mataku terpaku pada layar iPad. Di layar, aku melihat tukang kunci itu berhasil membuka pintu. Ayahku memberinya beberapa lembar uang, lalu mereka masuk seolah-olah mereka adalah pemilik sah tempat itu.

“Cepat, Sofia,” suara ibuku terdengar lewat speaker kamera di ruang tamu. “Pilah barang yang bermerek. Barang-barang tua kakekmu itu singkirkan saja ke gudang atau jual ke tukang loak. Kita butuh ruang kosong supaya agen properti bisa mengambil foto besok pagi.”

Aku melihat Sofia berlari ke kamarku. Dia mulai menarik laci-laciku, melempar pakaianku ke lantai seperti sampah. Dia mengambil jam tangan pemberian kakekku dan langsung memakainya di pergelangan tangannya sendiri.

“Pas banget,” gumam Sofia sambil mengagumi dirinya di cermin. “Mariana nggak pantas punya barang sebagus ini.”

Hatiku yang tadinya sesak kini berubah menjadi batu. Aku tidak menunggu tiga minggu. Aku bahkan tidak menunggu tiga jam.

Aku menelepon manajer gedung apartemenku, Pak Danu, yang sudah kuberi tahu sebelumnya bahwa akan ada “percobaan pencurian”. Lalu, aku melakukan panggilan kedua: pihak kepolisian Jakarta Selatan.

Sepuluh menit kemudian, aku tiba di depan pintuku sendiri.

Di dalam, suasananya kacau. Kardus-kardus berserakan. Ayahku sedang mencoba menggeser piano Kakek Ernesto. Ibuku sedang memasukkan koleksi buku langka kakek ke dalam kantong plastik sampah hitam.

Aku tidak mengetuk. Aku menggunakan kunci cadanganku dan masuk dengan tenang.

Cklek.

Gerakan mereka membeku. Ayahku hampir menjatuhkan ujung piano. Sofia yang sedang memegang tasku, ternganga hingga kacamata hitamnya merosot ke hidung.

“Madrid suasananya beda ya sekarang?” tanyaku datar. “Sejak kapan Madrid pindah ke Jakarta Selatan?”

“Mariana!” Ibuku memucat, tangannya gemetar memegang kantong sampah. “Kamu… kenapa kamu di sini? Bukannya kamu sudah di pesawat?”

“Pesawat ke mana, Bu? Ke tempat di mana kalian menjual harga diriku?” Aku berjalan masuk, melewati Sofia yang mencoba menyembunyikan jam tanganku di belakang punggungnya. “Aku mendengar semuanya. Di dapur ibu, tiga hari lalu. Aku tahu rencana kalian.”

Ayahku mencoba berdehem, mencoba memakai suara otoritasnya yang biasa. “Mariana, dengar. Kami melakukan ini untuk keluarga. Sofia terlilit hutang pinjol dan butuh modal usaha. Kamu punya karir bagus, kamu bisa beli apartemen lagi nanti. Ini hanya soal skala prioritas…”

“Skala prioritas?” aku memotongnya, suaraku meninggi. “Prioritas kalian adalah mencuri dari anak sendiri untuk menutupi kegagalan anak yang lain? Ini warisan Kakek Ernesto. Milikku. Bukan milik ‘keluarga’.”

“Sudahlah Kak!” Sofia berteriak, wajahnya merah padam karena malu yang berubah jadi amarah. “Kamu itu egois! Kamu punya segalanya sementara aku berjuang! Warisan ini harusnya dibagi rata!”

“Dibagi rata?” Aku tersenyum tipis, lalu mengangkat ponselku. “Kalian lupa satu hal. Apartemen ini bukan cuma punya kamera. Apartemen ini punya perlindungan hukum yang sudah aku aktifkan sejak aku mendengar rencana kalian.”

Tepat saat itu, Pak Danu muncul di pintu bersama dua petugas polisi berseragam.

“Ada masalah, Bu Mariana?” tanya salah satu polisi.

Wajah ayahku berubah dari sombong menjadi abu-abu. Ibuku hampir pingsan di atas tumpukan kardus.

“Iya, Pak,” kataku sambil menatap lurus ke mata ayahku. “Orang-orang ini membobol rumah saya, merusak properti, dan mencoba mencuri aset pribadi saya. Saya punya rekaman video mereka merencanakan ini, rekaman mereka masuk secara paksa, dan bukti barang-barang yang sudah mereka kemas.”

“Mariana! Kamu gila?! Kami orang tuamu!” teriak ibuku histeris.

“Orang tua tidak merampok anaknya sendiri, Bu,” jawabku dingin. “Pak Polisi, silakan bawa mereka. Saya akan mengajukan tuntutan resmi. Semuanya.”

Saat mereka digiring keluar—Sofia yang menangis meraung-raung, ayahku yang memohon-mohon, dan ibuku yang terus menyumpahiku—aku hanya berdiri diam di samping piano Kakek.

Rumahku berantakan. Bajuku berserakan. Tapi untuk pertama kalinya, udara di apartemen ini terasa benar-benar bersih.

Kakek benar. Jangan pernah memberi tahu lawan langkahmu berikutnya. Karena saat mereka pikir mereka sudah menang, itulah saat yang paling tepat untuk menjatuhkan skakmat.