Posted in

Malam itu suamiku pulang ke rumah bersama seling kuhannya untuk meminta restuku. Sengaja kuundang kedua keluarga besar kami untuk menyaksikannya. Bagaimana kejutan dariku, Mas??

Malam itu suamiku pulang ke rumah bersama seling kuhannya untuk meminta restuku. Sengaja kuundang kedua keluarga besar kami untuk menyaksikannya. Bagaimana kejutan dariku, Mas??

Malam harinya tepat selepas maghrib Runi sudah selesai memasak. Dirinya juga sudah menata semua hidangan istimewa tersebut di meja makan. Senyum puas tercetak jelas di bi b i rnya yang pucat. Wanita ha m il itu lupa kalau dirinya belum makan sejak siang hari.

Runi berdandan malam ini. Ia memakai gamis yang bagus, memakai perhiasan ma h al hadiah dari ibu mertuanya, bahkan parfum m a h al hadiah dari adik iparnya pun dipakainya. Padahal Runi bukan tipe orang yang suka penampilan berlebihan. Namun, malam ini ia tidak boleh kalah dari calon juniornya.

Ting tong!

Suara bel berbunyi. Runi dengan hati-hati menuruni ana tangga. Sengaja hari itu ia meliburkan asisten rumah tangganya supaya peristiwa besar nanti malam tidak tersebar pada orang lain.

“Assalamualaikum, Nak!” Mahira Dananta—ibu mertuanya mengucap salam begitu pintu terbuka. Raut wajahnya tercengang melihat penampilan Runi yang cetar membahana. Selama ini sang menantu selalu berpenampilan sederhana, tetapi malam ini … Runi terlihat sangat berbeda. Bahkan perhiasan yang diberikannya juga dipakai, terlihat mencolok tetapi sangat pas dengan dandanan Runi yang agak glamour khas orang k a y a.

“Waalaikumsalam, Bu,” jawab Runi. Wanita itu membuka pintu lebih lebar, kemudian bersalaman dan men ci u m punggung tangan kedua mertuanya. Barulah salam tempel pipi dengan adik iparnya, Zanita Dananta.

“Silahkan masuk, Ibu, Bapak dan Za!” ucapnya dengan ramah. Senyum manis tersungging terus di wajahnya yang manis.

Keluarga Dananta pun masuk ke rumah a n a knya dengan batin yang bertanya-tanya. Ada apa gerangan. Bahkan, sang ayah mertua, Zidan Dananta tampak mengerutkan keningnya. Dia mengenal baik menantunya, jika Runi sampai melakukan hal yang tidak biasa, itu artinya akan ada hal besar yang akan terjadi. Namun, Zidan memilih menunggu saja. Kejutan apa yang akan diberikan oleh menantunya tersebut.

“Wah, sepertinya Kak Runi bikin acara besar, nih. Tumben-tumbenan kok pakai dandan segala,” celetuk Zanita.

Runi tidak menanggapi, menggamit lengan ibu mertuanya, masih dengan senyum malu-malu di bi bi rnya. “Bu, apa aku terlihat berlebihan?”

Mahira menghentikan langkahnya, menoleh sejenak, menatap wajah sang menantu yang terlihat sangat cantik. Wanita itu menggeleng. “Tidak, tetapi ada yang aneh. Kamu mau mengajak kami makan di luar sama Zahir?”

Runi menggeleng. “Tidak, Bu, hari ini kita makan malam di rumah. Runi sudah memasak untuk kita semua.”

“Waaah, dalam rangka apa, Runi?” Zidan yang sudah duduk di sofa menimpali.

“Nggak ada acara apa-apa, Pak. Hanya kangen aja saat berkumpul dulu. Nanti Ayah dan Ibu juga saya undang.”

“Bagus, aku bisa bertemu dengan mereka. Ha-ha-ha, kamu memang suka sekali membuat k ej u t a n. Sudah lama sejak acara pernikahan kalian, aku belum bertemu ayahmu.”

“Itu baru mau dua bulan, Pak,” sahut Mahira. Wanita itu menggelengkan kepala, merasa heran dengan sang suami yang memang selalu runtang runtung sama ayahnya Runi. Bahkan sudah setua ini pun masih suka main catur bersama, pergi mancing bersama dan kegiatan lainnya di sela-sela kesibukan mereka bekerja.

“Lha susah stelan dari sananya kok, Bu. Aku dan ayahnya Runi memang dari kecil sudah bersahabat. Sampai tua begini juga kalau ngingat masa kecil selalu saja bahagia.”

“Bapak mah gitu, bukan old m o ne y, tapi old friend. Hahahahaha!”

Candaan Zanita membuat suasana hati Runi yang tegang mulai lebih tenang. Jujur saja wanita itu sangat takut kalau Zahir akan me ng a m uk nantinya. Hatinya berdebar tidak karuan, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak akan mundur.

“Ibu dan Bapak mau minum apa?” tawarnya.

“Tidak usah minum dulu, kita tunggu orang tuamu dan Zahir pulang saja baru makan malam.”

“Iya, biar seru, ramai-ramai kayak dulu kalau main ke rumah Kak Runi,” sahut Zanita.

“Baiklah, Runi mau menghubungi Mas Zahir dulu, ya. Udah jalan pulang apa belum.”

“Iya, jangan sampai dia terlalu lama, membuat kita lama juga menunggunya.” Mahira tersenyum lembut. Merasa lega ternyata Runi begitu perhatian pada Zahir. Padahal awalnya mereka pesimis, Runi akan berbesar hati menerima per jo do h a n nya.

Runi mengeluarkan ponselnya, alih-alih menelepon, Runi mengirim pesan untuk suaminya.

Mas, jangan lama-lama keburu dingin makanannya.

Dalam sekejap pesannya sudah centang biru. Sebuah balasan pun masuk.

Tidak sabaran banget sih, Mbak. Mas Zahir lagi nyetir. Bentar lagi juga sampai kok.

Runi menarik napas dalam-dalam. Mencoba menenangkan hatinya yang berg e m u ruh. Dia yang istri sah saja tidak diperbolehkan menyentuh barang pribadi Zahir, ini si p e l a k o r terlalu berani menyentuh ponsel milik Zahir.

Baiklah. Aku tunggu.

“Ada apa, Runi? Zahir belum bisa pulang?”

“Masih di jalan, Bu.”

Mahira menatap raut wajah menantunya yang tidak bersemangat, ia juga mendengar Runi menghela napas panjang. Sebagai seorang ibu ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Runi. “Kamu serius nggak ada apa-apa?”

Runi mengangguk. Mem ak s akan senyum di bibirnya.

Pertanyaan Mahira barusan membuat Zidan ikut memperhatikan sang menantu. Keningnya berkerut dalam melihat perubahan raut wajah Runi yang menurutnya menjadi lebih m u r u ng.

“Apa Zahir tidak memperlakukanmu dengan ba—“

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam, Runi buka pintu dulu. Sepertinya Ayah dan Ibu sudah datang.”

Runi buru-buru bangkit dari duduknya. Membuat ketiga orang itu saling berpandangan.

“Bu, Runi aneh sekali malam ini.”

“Iya, Za juga merasa Kak Runi aneh.”

“Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Runi. Kita ikut merasa bersalah kalau Zahir tidak memperlakukannya dengan baik.”

Zidan menghela napas panjang. Meredam kegelisahan yang muncul tiba-tiba.

Sementara itu, Runi bersemangat menyambut kedatangan orang tuanya. Berhubung Runi a n a k satu-satunya, mereka membawakan banyak oleh-oleh.

“Runi di sini nggak kekurangan apapun, Ayah. Kenapa harus bawa banyak barang sih?” Omel Runi.

Ayahnya terkekeh. “Mumpung ayah ke sini. Eh, itu ada Zidan juga to?”

“Iya, Ayah.”

Mardika bersemangat. Pria itu masuk bersama istrinya dan menyalami sang besan. Mereka berempat kemudian tenggelam dalam obrolan para orang tua.

Zanita bangkit dan membantu Runi membawa barang-barang ke belakang. Dalam kesempatan itu ia bertanya dengan hati-hati. “Kak, Kakak nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari kita, kan?”

Runi menoleh, memasang wajah teduh seperti biasa. “Kau ini terlalu banyak baca novel, Za. Lagian aku bisa nyembunyiin apa dari kalian.”

“Hubungan Kak Runi dengan Kak Zahir. Apakah sudah mencair?”

“Kami baik-baik saja, hanya saja … ada hal yang ingin kami bicarakan pada keluarga besar. Jadi malam ini kita akan meminta pendapat kalian semua,” jawab Runi dengan senyum yang tidak pudar sedikitpun. Meyakinkan Zanita bahwa semua memang baik-baik saja.

Zanita lega dan kecurigaannya hilang seketika. Keduanya pun kembali ke ruang tamu, bertepatan dengan suara bel berbunyi.

Runi melangkah mendekati pintu dengan ja n t u ng yang berdebar-debar. Ia menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Bismillah. Semoga ini menjadi yang terbaik untuk kita, Mas. Tangan Runi sedikit gemetar ketika membuka pintu.

Begitu pintu terbuka sempurna, Zahir langsung terbelalak. Tubvhnya mene g ang sempurna. Apalagi Nadia terus saja me ng g a mit lengannya dan bersikap me s ra di depan Runi. Namun, bukan itu yang membuat Zahir ter ke jut. Di depan sana, keluarga Dananta dan keluarga Runi duduk bersama, menatap ke arahnya.

“Apa-apan ini, Runi?”

“Bukankah malam ini Mas Zahir ingin meminta restu untuk menikah lagi. Jadi aku sengaja mengundang mereka,” jawab Runi dibuat sesantai mungkin.

Duaaaaarr!!